Suara burung yang berkicau di atas pepohonan seketika terdiam mendengar suara amukan Agustus yang menggema dari dalam istana. Sontak saja sang burung langsung terbang di udara menjauh dari istana.
Agustus menarik napas panjang sambil mengepalkan tangan erat. Mendengar kabar bahwa Aurora pulang bersama Sargon dan terlihat mesra membuat emosi Agustus tak dapat dibendung. Wanita itu membuatnya selalu ingin meledak-ledak.
Terlebih Agustus tidak mengerti kenapa dirinya selalu panas dan tidak bisa dikontrol jika itu menyangkut tentang Aurora. Ia menatap ke depan tepatnya ke arah mata-mata yang ia kirim untuk mengikuti Aurora dan menjaga wanita itu.
Laki-laki tersebut tidak akan menghukum sang pengawal karena ia sudah menjalankan tugasnya dengan baik. Namun ia tak akan pernah lepas dari amarah Agustus.
Pengawal itu mendapatkan bentakan dan juga tamparan yang sangat kuat di mana Agustus sangat marah padanya karena membiarkan Aurora pulang bersama Sargon. Seharusnya pengawal itu mengambil sebuah tindakan bukan membiarkan mereka pulang bersama.
Agustus tidak terima setelah mendengar cerita detail yang bagi pengawalnya itu adalah merupakan kisah yang indah bagi sebuah percintaan sedangkan bagi Agustus itu adalah cerita terburuk yang tidak ingin didengarnya dari mulut pria tersebut.
"KELUAR KAU!!" teriak Agustus dan kemudian menyentuh keningnya yang sedikit berdenyut saat ia berteriak tadi.
Kemudian pengawal itu berjalan mundur dan pamit kepada Agustus sambil menyentuh wajahnya yang masih merah karena tamparan dari sang pangeran.
"Sialan," umpat Agustus sambil menendang pilar istana. Ia berkacak pinggang seraya menggigit bibir bagian bawahnya.
Tak lama seseorang masuk ke dalam istananya sambil menundukkan kepala. Itulah pelaku yang membuat kemarahan Agustus.
Pria itu menarik napas panjang dan menatap mata Aurora dengan penuh amarah dan juga intimidasi. Tak lebih dari itu Aurora juga sangat ketakutan ketika Agustus seakan ingin memarahinya.
Namun Aurora berusaha berani berjalan pelan mendekati sang pria tanpa rasa takut di wajahnya. Hal itu membuat Agustus semakin gemas dan berhasrat ingin membunuh Aurora.
"Kau masih bisa-bisanya memasang wajah tenang di saat posisi mu tidak tenang." Aurora mengangkat alisnya. Ia berusaha mencerna apa yang dikatakan oleh Agustus.
Namun wanita itu sama sekali masih tidak mengerti alasan yang lebih jelas ketika Agustus mengatakan hal tersebut.
"Maksud Pangeran?"
Plakk
Tamparan keras dihadiahi Agustus ketika menyambut kedatangan Aurora yang sudah menyampaikan pesan yang ia berikan kepada seseorang. Hal itu mengejutkan Aurora. Perlakuan tiba-tiba yang membuat dirinya terluka tanpa tahu kesalahan dirinya.
"Kau!! Dasar budak rendahan tidak terdidik."
Ucapan dari Agustus membuat amarah di hati Aurora. Wanita itu merasa tidak terima disebut demikian. Ia adalah wanita yang sangat berharga dan martabatnya sangat terjaga. Namun diuji dengan hal yang semacam ini membuat Agustus tak bisa mengendalikan dirinya dan berakhir melepaskan kata-kata tersebut.
"Pangeran apa yang kau katakan? Apakah pangeran pernah mendidik mulut Pangeran? Apakah Pangeran sadar dengan ucapan Pangeran sendiri?" tanya Aurora dengan perasaan sakit.
Air matanya berkumpul mungkin hanya membutuhkan waktu beberapa detik lagi dan akan membuat Aurora menangis deras karena pria itu.
"Kau menangis heh ***.*** kecil? Dan kau juga berani menghina ku si.alan!!" marah Agustus dan kemudian mencekik leher Aurora.
"Pangeran hiks, sakit," lirih Aurora sambil berusaha melepas cekikan Agustus di lehernya. Wanita itu menelan ludahnya sambil menahan rasa sakit yang ia terima dari cekikan tersebut.
Agustus bak orang yang sudah kesetanan dan tak bisa dikontrol lagi. Ia menjatuhkan Aurora hingga Aurora tersungkur di lantai sambil terbatuk-batuk.
Wanita itu menatap ke arah Agustus. Ia masih bertanya-tanya kenapa Agustus cepat sekali berubah.
"Pangeran..."
"Kau!! Siapa yang menyuruh mu pulang bersama Sargon?"
Aurora mengerjapkan matanya. Wanita itu tersentak ternyata karena itu Agustus marah kepadanya. Lantas hak apa untuk Agustus marah?
"Maafkan saya."
"Yang tuan mu di sini itu adalah aku bukan Sargon!!!"
"Iya Pangeran."
"Sudah aku katakan jauhi mereka dan kau pulang bersamanya tanpa memakai cadar mu."
Sebenarnya Agustus juga sudah menyadari jika wanita penari balet pada saat malam perjamuan itu adalah Aurora. Ia pertamakali menyadari ketika wanita tersebut memakai cadar dan ia persis dengan wanita penari balet tersebut.
Memang sempat ragu tetapi keyakinan Agustus semakin bertambah ketika ia pernah melihat Aurora berlatih balet diam-diam.
"Pangeran Sargon hanya menolong saya."
"Kau berani membantah!! Kau ingin mendekati mereka, kan? Dasar murahan..... Kau pikir kau siapa? Kau hanya seorang budak dan kau tidak pantas untuk bersanding dengan salah satu di antara kami." Percayalah saat ini Aurora ingin berkata kasar karena dituduh dengan hal yang tak pernah ia pikirkan.
Wanita itu menatap ke arah mata Agustus. Di dalam netra indahnya tersirat sebuah kebencian yang sangat mendalam. Hanya saja Agustus tidak menyadari hal itu.
Aurora jika memiliki daya yang lebih, mungkin ia akan melawan Agustus saat ini juga.
Sedangkan Agustus tahu jika Sargon tergila-gila kepada penari balet di malam perjamuan itu. Agustus yakin saat Sargon mengetahui bahwa Aurora adalah penari balet tersebut pasti laki-laki itu tidak akan tinggal diam dan ingin merebut Aurora darinya.
Namun Agustus tidak akan pernah membiarkan siapapun membawa Aurora darinya. Aurora hanya miliknya dan hanya ia seoranglah yang boleh menjadikan wanita itu budak pribadi. Tidak ada yang bisa menentangnya terlebih itu saudara-saudaranya sendiri.
"Pangeran.... Sungguh maafkan saya."
Agustus memejamkan mata. Ia berusaha mengontrol dirinya namun ternyata usahanya tersebut tidaklah menciptakan sebuah hasil. Bahkan saat ini Agustus ingin menghukum wanita itu seberat-beratnya.
Ia mengeluarkan cambuk dari balik bajunya lalu menendang tubuh Aurora sehingga kemudian wanita itu bersimpuh dan tampak sangat rapuh.
Aurora terhenyak. Wanita itu merasakan sejujur tubuhnya bergetar. Ia menatap ujung cambuk itu yang akan memukul tubuhnya.
Tiba-tiba Aurora merasakan sebuah pukulan yang sangat hebat dari benda yang sangat kasar tersebut. Aurora langsung memuntahkan darah satu kali cambukan. Wanita itu merasa lemas karena Agustus memukulnya dengan kekuatan penuh milik pria itu.
Sargon datang ke kediaman Agustus. Niat awal Sargon adalah untuk mengunjungi Aurora. Namun langkah laki-laki tersebut berhenti berjalan ketika melihat Aurora dihukum berat oleh Agustus.
Tiba-tiba naluri sargon membawa pria itu untuk menghentikan Agustus. Ini adalah kali pertamanya Sargon bertentangan dengan Agustus. Pria tersebut maju dan mendorong Agustus.
"Apa yang kau lakukan ba.jingan?!!" seru Sargon marah melihat Aurora diperlukan buruk.
Agustus menatap Sargon yang baru datang. Bahkan Sargon mengumpati dirinya. Sangat berbeda dengan Sargon yang dikenalnya beberapa hari ini.
"Kau lihat Aurora karena diri mu dia sampai mengatai ku?!! Kau hebat. Kau memang pela.cur. Berapa harga tubuhmu kau jual kepada Sargon?"
"Pangeran..."
"Apa yang kau katakan Agustus?"
"Katakan dia sudah menggodamu, bukan?"
"Jika iya kenapa? Apa peduli mu dia seorang budak dan dia bisa aku kendalikan."
"Tapi dia adalah budak ku!!"
"Ingat perjanjian di awal dia adalah budak kita bersama-sama!!"
"Kau!!!" Agustus pun mengeluarkan pedang dari sarungnya dan menghunuskan ke arah Sargon.
Sargon tidak ingin kalah dan kemudian membalas serangan yang ia dapatkan dari Agustus. Perkelahian antara persepupuan pun tidak bisa dicegah.
Aurora yang pertama kali melihat peperangan di depan matanya berteriak keras. Wanita itu berusaha tak ingin melihat adegan yang sangat berbahaya, namun suara pedang saling bergesekan membuat nyilu dada Aurora.
Apalagi dari kedua belah pihak memiliki kekuatan yang sama besarnya. Mereka sama-sama seorang yang terlatih. Tidak ada di antara mereka satupun yang kalah. Kekuatan seimbang dan mereka menang sama-sama dan kalah bersama-sama.
Agustus menebaskan pedangnya ke arah leher Sargon. Kemudian ditangkis oleh Sargon sebelum pedang tajam itu memutuskan lehernya. Sargon pun melakukan penyerangan balik dan menggesekkan pedangnya ke tangan Agustus.
Lantas saja tangan Agustus terluka dan mengeluarkan darah yang cukup banyak.
Agustus menarik nafas panjang.
"Kau pikir dengan begini bisa mengalahkan ku?" Agustus pun lantas mengayunkan pedangnya dan menyabit kaki Sargon.
Perkelahian itu berakhir ketika keduanya sama-sama merasa lelah dan juga terluka parah. Di mulut keduanya sudah mengeluarkan darah.
Namun tiba-tiba Raja datang dan raja Alirik langsung terkejut melihat kedua Pangeran tengah berkelahi.
"APA YANG TELAH KALIAN LAKUKAN?" Semuanya mengarah kepada teriakan tersebut. Aurora memejamkan mata merasa beruntung raja datang tepat waktu. "MEMALUKAN!! BAWA MEREKA KE TEMPAT PENGOBATAN DAN KEMUDIAN BAWA KE PENGADILAN."
Raja Alirik melirik Aurora yang masih tersungkur di lantai. Dia menyipitkan matanya dan kemudian melirik Agustus bersama Sargon.
_________
Tbc
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
saljutantaloe
wah hebat aurura bisa bikin dua pangeran berkelahi
2022-08-11
1
✨ Canddy MinSuga😼
nanti kmu bkal bucin agustus sma aurora jdi jngan ksar" nanti aurora mkin bnci loh sma kmu
lanjut thor
2022-08-11
1
Uswatun Khasanah
waduh gimana nasib Au setelah ketahuan jadi biang masalah😰
2022-08-11
1