Part 5

Para pelayan dan tabib berusaha mengobati Aurora dan membersihkan luka-luka di tubuhnya. Untungnya Aurora masih belum sadarkan diri, jika ia akan ditangani dengan mata terbuka pasti seisi ruangan ini penuh dengan pekikan wanita itu.

Para tabib dan pelayan merasa keheranan dengan sikap yang diambil ketiga pangeran tersebut. Baru kali ini mereka memperdulikan seorang budak yang statusnya jauh di bawah mereka bahkan status paling rendah.

Sebenarnya mereka tidak mau menangani orang yang di bawah mereka, namun karena ancaman dari tiga pangeran tersebut membuat mereka merasa takut dan berusaha mengerjakan semuanya dengan baik.

"Apa kau tidak merasa aneh dengan sikap pangeran?"

"Tentu sangat aneh. Bahkan pangeran sama sekali tidak pernah memperdulikan nasib budak," ujar salah satu pelayan yang membantu tabib menangani Aurora.

"Status kita terasa terhina melayani orang yang jauh di bawah kita."

"Jika tidak begitu maka kita yang akan dipenggal."

"Kalian! Kerjakan pekerjaan kalian!" marah tabib.

Sejujurnya orang yang ada di dalam ruangan itu merasa terhina. Namun banyak di antara mereka hanya diam saja sebelum malapetaka menjumpai mereka.

"Beruntung sekali budak ini."

"Karena dia cantik, aku pernah mendengar orang cantik selalu diutamakan." Kecantikan Aurora memang tak bisa terbantahkan. Dia adalah bukti nyata perwujudan seorang Dewi.

Bagi mereka yang sudah berjumpa dengan Aurora tidak bisa menyangkal wanita itu adalah wanita tercantik yang pernah mereka jumpai di Engrasia.

Aurora belum bebas keluar dari istana. Dia akan merasakan betapa irinya orang ketika ia nanti berjalan di tengah pasar.

Mungkin banyak para wanita bangsawan akan membenci dirinya.

"Pangeran Oceanus tiba!!" lapor prajurit yang berjaga dan membukakan pintu untuk pangeran Oceanus.

Oceanus masuk ke dalam ruangan Aurora dirawat. Jubah pangerannya menyapu lantai dan ia melangkah penuh dengan wibawa.

Oceanus menatap wanita yang terbaring di ranjang dalam keadaan tidak berdaya. Kemudian Oceanus mendekatinya dan mengamati Aurora.

Ia menarik napas panjang dan kemudian menatap tabib yang menunduk hormat.

"Bagaimana kondisinya?"

"Kondisi Aurora dalam keadaan lemah. Nyawanya hampir tidak tertolong...." Seketika pedang berada di leher tabib itu saat Oceanus mendengar Aurora hampir kehilangan nyawanya. "Pa... pangeran... Aurora selamat dan dia sedang berada di kondisi kritis."

Oceanus belum menurunkan pedangnya sama sekali. Pria itu menatap dingin tabib tersebut.

"Ingat, jika Aurora tidak selamat maka kalian semua yang ada di di sini juga tidak akan selamat," ancam Oceanus.

"Kami mengerti Pangeran."

Oceanus menarik pedangnya dan memasukkan ke dalam sarung. Pria itu menatap tubuh Aurora dengan pandangan datar.

Ia menyentuh kepala wanita itu. Rambut Aurora terasa sangat kusut. Ia menghela napas kecewa dan menatap para pelayan.

"Jangan lupa untuk menyisir rambutnya."

"Baik Pangeran," jawab para pelayan.

Oceanus tersenyum tipis. Orang yang di sekitar pun tidak akan menyangka pangeran kaku tersebut sedang tersenyum.

Pria tersebut menatap wajah Aurora yang tidak hilang cantiknya meski dia dalam kondisi lemah.

"Pastikan dia baik-baik saja."

Oceanus pun memutuskan untuk pergi setelah memastikan Aurora tetap selamat dan dapat ditangani. Melihat wanita itu mulai membaik ia pun bisa tenang.

Sebelum pergi, Oceanus memperhatikan Aurora dengan lekat. Ia teringat wanita itu yang pernah berteriak di hadapan wajahnya dengan sangat lantang saat ia membawa Aurora ke Engrasia.

Aurora adalah tipe pembangkang dan keras kepala. Dia tidak akan tinggal diam semisal orang-orang ingin melawan dirinya.

"Kau memang wanita unik dan pintar, aku akui itu. Tapi sayang kau dilahirkan untuk menjadi budak."

_____________

Oceanus berjalan penuh wibawa menuju ruangan pribadinya. Para pengawal yang melihat Oceanus akan lewat menundukkan kepala.

Pria itu berjalan begitu saja tanpa memperdulikan para prajurit tersebut. Pria itu tersenyum samar melihat Grace pacar kakaknya Agustus akan berpapasan dengan dirinya sebentar lagi.

Grace berhenti berjalan melihat Oceanus menghentikan dirinya. Wanita itu mengernyitkan keningnya dan melihat Oceanus.

"Ada apa Pangeran? Kenapa kau menghentikan jalan ku?" tanya Grace kepada Oceanus yang tiba-tiba menghalangi jalannya.

"Kau terlihat buru-buru sekali. Kau ingin menemui Agustus?"

Grace tersipu malu mendengar pertanyaan calon adik iparnya. Ia mengangguk lemah dengan wajah memerah.

Oceanus memandang tubuh Grace. Grace sangat kecil dan wanita itu baru saja masuk usia dewasa dan sebentar lagi akan menjadi istri kakaknya.

Ia sungguh tak menyangka Agustus bisa jatuh cinta pada Grace. Yang lebih dikasihani di sini adalah Grace karena harus mendapatkan pria yang sangat dingin dan juga sangat kejam.

"Kau sungguh malang Grace akan menikah dengan kakakku."

Grace memandang Oceanus tidak mengerti. Wanita itu menatap penuh tanya Oceanus.

"Maksud Pangeran?"

"Kau tahu sendiri bagaimana sifat Agustus kenapa kau masih ingin bersamanya?"

"Karena saya mencintainya Pangeran."

Bahkan Grace sangat lugu. Ia tidak tahu bahwa selain mencintai Grace, Agustus juga ingin menikahi Grace karena sebuah politik dan mencari dukungan untuk ia naik tahta.

"Kenapa kau tidak dengan ku saja?"

Grace terkejut. Wanita itu menunduk di depan Oceanus. Oceanus adalah orang yang pernah menyatakan cinta padanya. Namun karena Grace hanya mencintai Agustus ia pun menolak Oceanus.

"Maafkan saya Pangeran."

"Apakah karena dia penerus raja?"

Wajah Grace terkejut. Dia menggelengkan kepalanya. Ia menerima Agustus bukan karena tahta tetapi murni karena perasannya sendiri.

"Tidak Pangeran. Sungguh, saya sangat mencintainya."

"Aku bisa menjadi penerus juga."

"Pangeran," lirih Grace yang takut bahwa Oceanus dan Agustus bermusuhan karena dirinya.

"Aku hanya bercanda. Tapi aku sungguh masih mencintai mu Grace jika kau ingin tahu."

Grace termenung. Perkataan Oceanus membuatnya terdiam. Wanita itu berpamitan dan langsung pergi sambil berusaha menahan gugup.

Oceanus menghela napas panjang. Ia melepaskan kepalan tangannya. Pria itu berjalan dengan langkah pelan dan menuju kamar pribadinya.

Sepanjang jalan orang yang statusnya di bawahnya menunduk hormat pada Oceanus. Oceanus masuk ke dalam kediamannya, yaitu istana khusus miliknya.

Di dalam sana ia sudah melihat Sargon tengah memangku pelayan miliknya. Mata dingin Oceanus menghunus pelayan wanitanya dan langsung beranjak dari pangkuan Sargon.

Sargon menggeram marah kesenangannya diganggu. Pria itu menatap Oceanus dan memutarkan bola matanya.

"Ada apa kau datang kemari?" tanya Oceanus datar.

"Apa tidak boleh?"

"Aku tidak ingin berbasa-basi."

"Aku tahu." Sargon berdiri dan mendekati Oceanus. "Aku tertarik dengan ucapan mu kemarin. Dia kita jadikan budak pribadi sangat bagus."

"Budak yang untuk mengerjakan pekerjaan keras. Karena seorang budak tidak pantas menyentuh tubuhku kita," ucap Oceanus dan Sargon tersenyum miring.

"Ini yang ingin aku dengar."

"Kau setuju?"

"Tentu."

Oceanus menyeringai. Pria itu duduk di kursi dan menyeruput minuman Sargon.

"Aku tadi bertemu Grace. Dia sangat cantik dan lugu."

"Kau masih tergila-gila padanya? Ingat dia adalah kekasih Agustus dan sebentar lagi Agustus akan menikahinya.

"Aku tahu dan aku hanya memberitahu mu tadi."

_______________

Tbc

JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA

Terpopuler

Comments

Uswatun Khasanah

Uswatun Khasanah

gak papa jadi budak tapi jangan dijadikan budak nafsu bergilir ya thor.. 🙏 ,

2022-08-04

5

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!