Part 4

Aurora, ia menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara. Wanita itu berusaha diam-diam bersembunyi di bangunan runtuh.

Ia mengira mereka tidak akan mungkin mengejarnya sampai ke sini karena aksesnya yang sangat sulit.

"Tolong, menjauhlah kalian dari tempat ini," batin Aurora berharap.

Wanita itu memejamkan mata dan menekannya dengan dalam. Ia harus tetap waspada meskipun kemungkinannya kecil mereka akan mengejarnya sampai ke tempat ini.

Napas Aurora tertahan ketika merasakan ada pedang yang tengah mengacung di area lehernya. Pedang itu sedikit mengiris kulitnya membuat Aurora meringis.

Ia membuka mata dan terkejut melihat wajah dingin Sargon yang tengah meletakkan pedang di lehernya.

"Eum...," Gagap Aurora sambil menatap wajah Sargon dengan tubuh yang bergetar.

Sargon menarik napas dan ingin memperdalam irisannya namun Aurora langsung memohon untuk dilepaskan.

Sargon adalah tipe orang yang tidak mau mendengarkan musuhnya. Ya Aurora masuk ke dalam list musuh seorang Sargon mulai saat ini.

Dari kelakuannya yang baru beberapa hari di sini saja sudah dapat Sargon pastikan bahwa Aurora akan menjadi ancaman.

"Ma..maafkan aku."

"Kau Budak rendahan, sudah aku katakan jangan pernah menjadi pembangkang. Kau belum jera rupanya. Karena ini jalan yang kau inginkan, aku mengabulkan kau kembali ke tempat mu dulu. Mungkin kau belum puas merasakan penjara," ujarnya dingin dan menarik pedangnya dan memasukkan ke dalam sarung.

Aurora pun akhirnya bisa menghembuskan napas lega. Wanita itu bersandar sambil meringis merasakan pedih di are lehernya.

"Bawa dia dan masukkan dia ke dalam penjara bawah tanah. Hukum dia dengan hukuman level 5."

Mata Aurora membulat mendengar Sargon menyuruh anak buahnya untuk menghukum dirinya dengan hukuman level 5. Hukuman level 5 adalah salah satu hukuman terberat di Engrasia, Aurora ketahui itu dari novel terkutuk tersebut yang dibacanya.

"Jika aku mati di dalam novel ini, apakah aku juga akan mati di dunia nyata. Aurora kau masih muda dan kau baru saja lulus sekolah, kenapa kau harus berada di tempat yang sangat mengerikan ini. Bagaimana Nenek di sana yah? Apakah dia sedang mencari ku?" Aurora bertanya-tanya dalam hati.

Ia penasaran bagaimana orang-orang di dunia nyata sekarang dan apa yang tengah mereka lakukan. Terlebih Aurora memikirkan nasib tubuhnya di dunia modern.

Aurora berusaha memberontak dari para prajurit yang hendak membawanya paksa.

"Aku bisa berjalan sendiri. Jangan paksa aku," mohon Aurora namun orang itu tetap berekspresi kaku dan membuat Aurora kewalahan memikirkan cara untuk memikat mereka.

"Jalan!!" tegas mereka yang membuat Aurora seketika terdiam dan menuruti semua perintah orang tersebut.

Aurora diseret. Perjalanan sangat jauh dan dia hanya berjalan kaki. Sementara Sargon menunggangi kuda di depan.

Sikap Sargon sangat angkuh membuat Aurora benci dengan pria tersebut. Ia mengepalkan tangannya dan mengutuk Sargon dalam hati.

"Dasar pangeran tidak punya hati. Bodoh aku dulu terlalu mengidolakan dia. Jika tahu dia akan berbuat semena-mena kepadaku, sama sekali aku tidak akan pernah membiarkan diriku mengagumi tokohnya.

Aurora tertarik pada Sargon ketika ia membaca novel tersebut. Dia berpikir Sargon adalah pria tampan dengan sejuta pesona dan kepintarannya. Hal itu membuat Aurora menggadang-gadang Sargon adalah suami idaman.

Namun karena sudah merasakannya sendiri bertemu Sargon dan menjadi orang rendahan milik Sargon, Aurora membuang jauh pikirannya tersebut. Ia tidak akan pernah jatuh pada pria itu. Sargon adalah musuhnya, ia tidak akan dikendalikan pria itu begitu saja.

"Aku tahu apa yang kau pikirkan. Sekali lagi kau berniat membuat ulah dan merencanakan melawan kami, kau akan tahu akibatnya."

Aurora memutar bola matanya. Dia pikir Aurora takut. Bahkan Sargon dan Agustus adalah yang membunuh orangtua dan keluarga Aurora Akuela dan kenapa dia harus takut di saat dia berencana membalaskan dendam Aurora?

"Aurora, aku pasti akan membalaskan dendam mu."

Aurora harus bisa menjadi orang berguna di dunia ini.

______________

Aurora memuntahkan cairan merah dari mulutnya ketika besi yang baru saja dipanaskan di api dipukulkan ke tubuhnya.

Plakkk

"Akh...!!" Sekali lagi darah dari mulutnya menyembur membuat tempat itu berbau anyir karena darah Aurora.

Aurora menatap nanar kondisi ruangan ini yang penuh dengan darahnya. Selain itu Aurora hanya bisa melihat samar-samar sekitar.

"Kau masih tidak jera?"

Aurora menatap Agustus dan di sampingnya ada Oceanus. Diam-diam Aurora menatap mereka tajam dan mengutuk makhluk tersebut agar mendapatkan balasan setimpal.

"Ka... Kalian ke..kejam...!"

Oceanus tertawa mengerikan. Pria itu mencengkam rahangnya dengan sangat kuat.

"Apakah kau baru tahu? Ini akibatnya jika kau masih ingin melawan kami. Kau pikir dirimu siapa yang bisa dengan bebas membangkang. Kau budak rendahan yang kehadiran mu saja tidak kami pedulikan.

"Jika kau tidak.. pe..peduli aku, ta...tapi kenapa kau mengejar ku dan menangkap diriku dan menyiksa aku di ruangan ini?"

Agustus menggeram marah mendengar jawaban dari Aurora. Aurora adalah satu-satunya seorang budak yang sudah disiksa bukannya memohon ampun tapi malah mencari masalah dan melawan mereka.

Agustus tersenyum miring. Aurora menarik, menurut Agustus.

"Pukul dia lagi. Lebih keras dari yang tadi!!" perintah Agustus kepada prajurit.

Prajurit tersebut memanaskan besi panjang dan besar tersebut di api yang sangat besar. Aurora melirik besi itu dan menahan napas.

Kira-kira setelah dipukul apakah dia masih bisa bertahan hidup ataukah dia akan sekarat hari ini juga?

Aurora memejamkan mata melihat orang tersebut mengangkat besi itu dan ingin memukulkan ke tubuh ringkihnya.

Plakkkk

"AKHHHH!!" teriak nyaring Aurora memenuhi ruangan bawah tanah tersebut. Ia langsung menutup matanya dan Agustus yang masih marah kepada Aurora meminta mereka memukul Aurora kembali meskipun wanita itu sudah pingsan.

Pedang menghunus di leher prajurit itu yang hendak memukul Aurora. Mata Sargon dan Agustus membulat terkejut.

Agustus tidak setuju dengan apa yang tengah dilakukan oleh adiknya itu.

"Apa yang kau lakukan Oceanus? Kau ingin menyelamatkan budak ini?"

"Kau tidak melihat dia sudah pingsan?"

"Lalu?" tanya Sargon tak senang.

"Dia akan mati. Dia cantik biarkan dia hidup dan menjadi pemuas kita."

Agustus pun mulai mendatarkan wajahnya. Dia menatap prajurit tadi.

"Bawa dia ke tempat kesehatan dan rawat. Jika nyawanya tidak tertolong maka nyawa kalian juga tidak tertolong."

Agustus lantas pergi bersama Sargon. Oceanus memejamkan mata. Pasti mereka tengah kesal kepada dirinya.

Oceanus menyusul Agustus dan Sargon.

"Kau marah padaku?"

Agustus berhenti berjalan setelah mendengar adiknya bertanya. Dia menatap Oceanus dingin.

"Kau sudah terperangkap dalam permainan dirinya. Dia adalah wanita licik, pasti jala.ng itu menggunakan kecantikan dan tubuhnya untuk membuatmu tak berdaya," ujar Agustus dan meninggalkan Oceanus.

"Aku tidak terpesona padanya. Tapi jika dia memanfaatkan itu untuk menjebak kita, kita ikuti saja permainannya dan jebak dia kembali dengan cara kita."

Sargon berhenti berjalan dan melirik Oceanus. Pria itu tersenyum miring.

"Saran yang bagus. Malam ini aku membutuhkan dia."

"Dia belum sadar."

"Ketika dia sudah sadar."

"Aku tidak menyangka kau secepat itu Sargon, tadi saja kau tidak setuju aku menghentikan prajurit itu."

"Kenapa? Memang itukan fungsi dirinya?"

____________

Tbc

JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA.

Terpopuler

Comments

Kototo

Kototo

kenapa GK ada lelaki yang baik, aku esmosi bacanya 😠

2023-11-29

0

Uswatun Khasanah

Uswatun Khasanah

terimakasih udah up ya.. pokoknya tetap Semangat.. ok 😉

2022-08-03

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!