Aurora berdiri di depan memimpin para budak. Sudah satu jam lebih Aurora melakukan pidato untuk memberikan keyakinan dan semangat untuk para budak agar melawan istana.
Lagian apa mereka mau selamanya mereka tidak memiliki masa depan? Aurora berencana menegangkan kembali ham yang belum pernah ada di Engrasia. Jika belum ada maka dirinya yang akan mencetusnya. Merasakan hidup di dunia modern yang sangat menjunjung nilai kemanusiaan membuat Aurora termotivasi untuk memberikan pengetahuan kepada mereka di zaman ini.
Seorang manusia berhak memiliki hak hidup. Ham adalah sesuatu yang sudah ada sejak seseorang dilahirkan.
"Masih tidak ada yang berani ingin mengikuti diri ku?" tanya Aurora penasaran kepada mereka yang masih terdiam.
"Aurora! Mimpi mu terlalu tinggi. Mana mungkin kita orang rendah seperti ini akan bisa lepas dan melawan mereka. Kau ingin kita semua dipenggal?"
Senyum Aurora mengembang. Mereka tentunya memiliki kepintaran di atas rata-rata karena setiap manusia memang memiliki kelebihan. Aurora yakin mereka juga memiliki itu.
"Sadarlah, mau kita melawan mereka atau tidak tetap saja kita akan mati sia-sia? Lebih parahnya kita tidak melakukan perlawanan sama sekali kepada mereka padahal tetap saja kita akan mati di bawah mereka. Jika kita melawan kemungkinan kita akan menang dan menghapus perbudakan. Kalian semua di sini berhak mendapatkan keadilan dan menjadi salah satu yang bisa duduk di kursi pemerintahan. Kalian berhak untuk hidup dan tidak diperlakukan seperti ini."
Para budak itu terkagum mendengar ceramah Aurora. Aurora merasa bangga kepada dirinya dan bisa melebarkan senyuman. Aurora melakukan itu karena ia merasa iba dengan zaman tak memiliki pengetahuan luas.
"Tapi bagaimana caranya Aurora? Bahkan kita mungkin akan mati di hadapan mereka. Mereka memiliki persenjataan lengkap."
Aurora menanggapi tenang. Wanita itu mengetuk kepalanya. Ia mengisyaratkan bahwa mereka harus melawan pakai otak.
"Aku akan memberikan pelajaran kepada kalian yang aku ketahui di zaman ku."
"Maksud mu Aurora?" Aurora terdiam. Ia lupa jika mereka tidak mengetahui bagaimana kisah Aurora dan seluk beluknya hingga masuk ke dalam novel dan bertemu mereka.
"Lupakan saja. Aku akan memberimu sebuah sekolah."
"Aurora kau pikir diri mu siapa? Bahkan aku mendengar kau hanyalah seorang rakyat miskin. Bagaimana mungkin kau memiliki pendidikan? Kami tidak percaya. Jika kau ingin mati matilah sendiri, bisa bertahan sampai sekarang aku sudah bersyukur."
Mereka pun satu per satu keluar dari barisan. Aurora terdiam, ternyata ia diremehkan. Namun Aurora tidak ambil pusing karena ia tahu kenapa mereka meremehkan dirinya, wajar saja bukan karena memang itu pengetahuan mereka.
Wanita itu tidak membiarkan mereka satu per satu keluar dari barisan. Aurora lantas melakukan satu hal untuk membuktikan kepada mereka.
"Akan aku buktikan."
Aurora mulai menulis sebuah huruf di atas tanah. Bahkan untuk seorang bangsawan kadang ada dari mereka yang tidak bisa menulis dan membaca.
Mereka terperangah dan tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Aurora.
"Kau bisa menulis dan membaca Aurora?"
"Iya."
Mereka semua pun mulai percaya. Aurora tersenyum melihat mereka yang kembali masuk barisan.
"Bagaimana? Misi ini akan kita lakukan secara rahasia."
"Kami setuju," ucap mereka serentak.
Aurora menarik napas lega dan tiba-tiba segerombolan prajurit datang dengan seragam mereka. Mereka memarahi dan membubarkan perkumpulan itu.
Masing-masing prajurit itu turun dan ingin mencambuk para budak yang ia kumpulkan. Tidak ingin kepercayaan sesama rekan budaknya malah merasa dikhianati Aurora maju paling depan di barisan para budak itu.
Fares yang kebetulan selesai bekerja dan ikut bergabung terkejut melihat Aurora mengajukan diri.
"Aku yang mengumpulkan mereka maka aku pula yang akan kalian hukum. Mereka tidak bersalah, aku yang salah maka hukumlah aku."
Salah satu komandan prajurit itu menangkap Aurora dan mengikat tangan Aurora dengan tali tambang.
"Kau akan diadili di Mahkamah."
Aurora menarik napas panjang. Sementara Fares yang tak tahu apa-apa tiba-tiba maju dan menunjuk diri bahwa dia ikut juga serta.
"Aku juga ikut bersamanya. Maka bawalah aku."
Mata Aurora membulat sempurna mendengar Fares ikut andil.
"Apa yang kau lakukan Fares? Bodoh sekali," ujar Aurora merutuki betapa bodohnya seorang Fares.
Fares melirik Aurora sebentar dan kemudian pria itu tersenyum lebar membuat Aurora keheranan.
____________
Aurora berhasil mengelabuhi para penjaga. Lagipula karena Aurora adalah budak pribadi dari salah satu ketiga pangeran jadi para prajurit tidak berhak mengambil tindakan sendiri selain para pangeran untuk menghukum Aurora.
Mengetahui hal itu Aurora sangat senang dan bangga. Akhirnya ia pun tak lagi dipukul. Untungnya para pangeran sedang pergi berperang. Aurora malah berdoa mereka tidak akan kembali lagi.
"Semoga selamanya mereka tidak kembali dan aku bisa hidup dengan tenang di dalam novel ini."
Aurora berjalan memasuki istana. Padahal adalah kejahatan besar jika ada seorang budak berani menyentuh bagian dari istana. Nyatanya Aurora tidak takut sama sekali.
Di tengah jalan wanita itu menatap seluruh ukiran indah bergaya klasik. Khas dengan peradaban di zaman pertengahan.
"Aku ternyata tengah masuk ke dalam novel. Tapi kenapa bisa?" Itu masih menjadi pertanyaan untuk Aurora.
Wanita itu terkejut ketika melihat ada Grace sedang berada di tepi kolam. Wanita itu menatap beberapa ikan di air jernih tersebut.
Aurora tak dapat berkata-kata melihat kecantikan yang dimiliki oleh Grace. Wanita itu sangat cantik tapi sayangnya setahu Aurora dari novel yang dibacanya jika Grace tidak disukai oleh ratu Sofia.
"Ratu memang aneh. Wanita secantik dan seanggun Grace mereka abaikan dan malah membencinya."
Aurora berdecak dan menggelengkan kepala. Kemudian wanita itu melangkah mendekati Grace.
"Hay," sapa Aurora memberanikan diri.
Grace tampak terkejut dan menoleh ke arah Aurora. Wanita itu kemudian kebingungan menatap Aurora. Lantas dia menatap dirinya penuh tanya.
"Heheh aku Aurora."
"Aurora? Kau seorang budak? Kenapa kau ada di sini?" Dari sekali lihat orang-orang juga akan tahu bahwa Aurora adalah seorang budak dari pakaiannya.
Aurora mengangguk saja membenarkan ucapan Grace. Grace terkejut. Ia merasa familiar dengan nama Aurora di kalangan budak. Seketika tubuhnya menegang.
"Kau yang mengerjai sahabat ku?" Aurora meringis.
"Ah itu? Maafkan aku. Aku tidak tahu bahwa dia adalah seorang bangsawan," bohong Aurora.
"Kau tahu kau memiliki nasib baik tidak dihukum oleh pangeran."
"Maafkan saya Putri."
"Kenapa kau bisa ada di sini? Kau akan dihukum jika ketahuan," ujar Grace dengan nada lembutnya.
Aurora terpana dan wanita tersebut tersenyum kecil. Ia tersipu dengan ucapan Grace.
"Aku tidak takut. Tapi Putri Grace kau sangat cantik, aku sangat beruntung bisa melihat mu sedekat ini. Kau memang pantas bersama Agustus. Wajah mu terpancar aura permaisuri."
Grace kaget dengan ucapan Aurora. Wanita itu mengulum senyum dan menatap Aurora.
"Kau tidak perlu berkata seperti itu. Aku tidak ingin kau berada di dalam kesulitan, segeralah pergi dari sini. Kau akan habis jika ketahuan oleh mereka ada di sini."
Aurora mengehela napas panjang.
Grace menatap punggung Aurora. "Dia memiliki paras yang sangat cantik, jika dia seorang bangsawan mungkin dia akan menjadi primadona." Gareca yang statusnya menjadi wanita tercantik di Engrasia mengakui pesona Aurora yang sangat kuat hingga membuatnya minder. Namun tidak ada rasa iri sama sekali di dalam diri Grace.
_____________
Tbc
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
YsryhAbdh28💜
semogaaa berhasilll
2022-08-13
0
YsryhAbdh28💜
semangatttt auroraaaaa
yokkk bisaaa yokkk
2022-08-13
0