Part 15

Para budak yang sudah berkumpul di sebuah tempat tersenyum melihat Aurora yang datang sambil membawa beberapa lembar kertas dan tinta.

Wanita itu juga mencuri barang-barang Agustus seperti buku startegi perang, ilmu pengetahuan dan juga ilmu politik dan perdagangan.

Semua buku-buku itu sangat penting dan Aurora yakin apabila ia ketahuan mencuri buku-buku penting milik negara ini akan dihukum dengan hukuman yang sangat berat.

Wanita itu nyatanya tidak peduli dan tetap mengambilnya. Jika ia dihukum berarti Aurora mendapatkan hukuman karena memperjuangkan sesuatu yang mulia.

Wanita itu menghela napas panjang dan kemudian berjalan dengan wajah sumringah melihat mereka yang senang dengan dirinya.

Aurora menyapa mereka dengan sebuah lambaian tangan. Mereka semua sama seperti Aurora diam-diam kabur dari pekerjaan dengan mengelabuhi penjaga.

Mereka tertarik dengan pemikiran Aurora. Siapa tau bisa merubah nasib mereka jauh lebih baik dari sekarang.

"Aurora!!" Kau tidak apa-apa, bukan?" Aurora menggelengkan kepalanya bahwa dirinya tidak kenapa-kenapa dan mereka tidak perlu khawatir dengan dirinya. "Aurora ini sungguh kau? Kau sangat cantik!"

Para budak laki-laki yang ada di sana meneguk ludah melihat kecantikan seorang budak seperti Aurora. Jika dengan Aurora mereka setara sedangkan dengan bangsawan para budak tidak berani mengagumi.

"Benar kau sangat cantik Aurora."

"Ah terimakasih untuk pujiannya."

"Sama-sama Aurora."

Aurora duduk di paling depan. Semua orang terfokus kepada wajah itu sementara Aurora mengeluarkan buku-buku yang dicurinya.

"Kalian semua tahu aku membawa apa?" Aurora mengacungkan salah satu buku ilmu pengetahuan.

"Apa itu Aurora?"

Aurora menatap mereka yang seakan terhipnotis dengan kecantikan yang dimilikinya. Wanita itu mendesah panjang, ia memang sangat cantik dan Aurora saja mengagumi Aurora Akuela sejak pertama kali melihat wajahnya.

"Ini adalah sebuah buku ilmu pengetahuan. Kalian tahu dari mana aku mendapatkannya?" tanya Aurora kembali.

Mereka menggelengkan kepala serempak. Wanita itu tersenyum dan menarik napas panjang. Mungkin mereka akan tercekat apabila mendengar dari mana Aurora mendapatkan benda-benda tersebut.

"Aku mencuri milik pangeran Agustus."

Semua mata terkejut tanpa terkecuali. Bagaimana tidak mencuri barang pribadi milik anggota kerajaan bisa dihukum potong tangan atau kepala.

Mereka bergidik ngeri sementara Aurora tampak tenang. Wanita itu bangga dengan keberhasilannya mencuri benda tersebut.

"Kalian tidak perlu takut. Tenang saja pangeran busuk itu tidak akan tahu."

"Aurora kata-kata mu," ujar mereka yang terkejut dengan ucapan Aurora yang sangat frontal.

"Kenapa? Memang benar bukan? Kenapa juga harus takut."

"Aurora bagaimana jika ada yang mendengar?" khawatir budak tersebut.

"Nama mu Belle, bukan?" Belle mengangguk, "Belle tenanglah. Tidak apa-apa. Di sini aku jamin aman."

Mereka pun menghela napas panjang meskipun terdapat kekhawatiran sedikit di dada mereka. Aurora berusaha menenangkan rasa takut yang dirasakan oleh para budak itu.

Aurora pun memulai pembelajaran tersebut. Ia mengajarkan cara membaca dan menulis. Anak-anak dan para orangtua maupun para budak remaja ikut bersama Aurora.

Mereka sangat antusias untuk belajar. Aurora menuliskan sebuah huruf di atas tanah dan mereka mulai belajar membaca. Dan Aurora meminta mereka juga menulis di atas tanah.

Aurora tidak menggunakan kertas dan tinta yang dicurinya karena ia baru sadar mendapatkan tinta dan kertas di dunia ini tidak segampang di dunia modern.

Aurora tersenyum simpul melihat mereka mulai mengeja.

"Kaka Aurora!" Aurora menoleh ke arah anak kecil yang memanggil namanya barusan.

Aurora mengangkat satu alisnya dan anak kecil itu menarik tangan Aurora ke tempatnya. Ia memperlihatkan tulisan yang ada di tanah miliknya.

"Apakah ini sudah benar?

Aurora memperhatikan dengan seksama tulisan tersebut. Dengan sekali lihat ia juga tahu bahwa tulisan itu benar dan tidak terdapat kesalahan. Aurora menyimpulkan anak ini memiliki potensi yang sangat benar.

"Kau benar."

"Terimakasih Kaka."

"Siapa nama mu?"

"Aku Philip," ujarnya dan Aurora mengangguk seraya mengusap kepala anak itu dengan sayang.

"Aku melihat kau memiliki potensi untuk sukses. Apa cita-cita Philip?" tanya Aurora memperhatikan anak itu.

"Cita-cita Philip adalah ingin menjadi menteri. Tetapi Philip tidak mungkin karena Philip terlahir menjadi budak," ujarnya lesu.

Aurora melihat wajah murung Philip. Aurora tahu apa yang sedang dipikirkan oleh anak tersebut.

"Kenapa kau harus berpikir seperti itu? Kau tahu Phillip, semua orang bisa duduk di sana tak terkecuali kamu. Ayo semangat lagi dan ikut belajar dengan Kaka."

Philip tersenyum lebar. Ia memeluk leher Aurora dengan erat. Terlihat keharuan di wajah anak tersebut.

"Kaka Aurora adalah pahlawan bagi kita seorang budak."

"Jika bisa bagi semua orang," ujar Aurora yang memiliki jiwa pahlawan. Padahal sebelumnya ia di dunia maju dirinya sama sekali tidak pernah berpikir untuk menjadi seorang pahlawan. Namun ketika melihat dunia yang memprihatinkan ini Aurora menjadi sangat bersalah dan ia berpikir harus menegakkan hak asasi manusia dan pelindung anak dan wanita.

"Aurora," ujar Fares yang tersenyum melihat Aurora.

Aurora menghampiri pria itu dan melihat ternyata Fares sangat cepat dan pria itu sudah menguasai semua yang diajarkan Aurora.

"Kau sudah bisa menulis huruf Alfabet dengan benar? Kau juga sudah bisa membacanya? Sungguh kau luar biasa Fares."

Fares melihat wajah Aurora yang penuh dengan kebahagiaan. Melihat itu membuat Fares merasakan dadanya berdetak dengan degupan yang sangat kencang.

"Terimakasih sudah mau memberikan pelajaran untuk kami."

"Sama-sama. Meskipun kau belum terlalu fasih, jangan lupa dilatih lagi. Aku akan memberikan mu sebuah pelajaran ilmu perang agar kita bisa menyiapkan pasukan nanti."

Aurora menyerahkan buku Agustus yang ia curi.

"Baca dan pelajari. Jika kau sudah bisa, maka ajari budak yang lain cara bela diri."

"Pasti. Aku akan berjanji," ucap Fares dengan masih menatap wajah Aurora.

_________

Aurora berjalan dengan gontai menyusuri istana. Hari sudah mulai masuk fajar, semalaman dirinya melakukan misi rahasia.

Wanita itu langsung menuju ke kamar Agustus dan melihat pria itu masih tertidur. Agustus selalu berpesan padanya jika ia subuh belum bangun maka ia minta dibangunkan.

Wanita itu menggoyangkan tubuh Agustus dan pria itu mengerjapkan matanya.

Pemandangan yang pertamakali dilihat Agustus adalah wajah polos Aurora di atasnya. Baik Aurora maupun Agustus tidak bisa mengalihkan pandangan mereka.

Agustus sangat terkejut melihat wajah itu di depannya. Sang pria memasang wajah datar dan tetap santai meskipun ia merasakan ada yang aneh dengan reaksi tubuhnya.

"Pangeran sudah fajar."

"Hm." Aurora menjauh dan langsung menundukkan kepala. Agustus bangkit dan laki-laki tersebut hanya melirik Aurora sekilas. "Siapkan air hangat untuk ku."

Aurora mengangguk mengiyakan ucapan Agustus. Aurora lekas menyiapkan pemandian dan juga memasukkan beberapa rempah-rempah dan bunga-bunga beraroma terapi.

Seperti biasa Agustus minta dimandikan dan kali ini Agustus tahu dengan sopan santu. Ia berpakaian lengkap dan Aurora bersyukur.

Wajah laki-laki tersebut sangat dingin akan tetapi penuh dengan mengintimidasi Aurora. Aurora menarik napas panjang berusaha tetap santai.

Tiba-tiba ada yang masuk ke kolam pribadi Agustus. Agustus melirik orang itu dan kemudian biasa saja.

Sargon yang baru masuk terkejut melihat Agustus dimandikan oleh Aurora.

Aurora dan Sargon saling bertatapan hingga Sargon menyadari ada yang aneh dari Aurora. Mata itu sangat mirip dengan mata penari balet yang dicarinya.

Ketika ia menemui Estelle Sargon tahu bahwa yang tampil semalam bukan Estelle, dan Estelle tetapi mengaku bahwa itu adalah dirinya, tetapi Sargon yang peka menyadari perbedaan itu.

Tapi tidak mungkin jika wanita itu adalah Aurora.

"Ada apa kau datang ke tempat ku?" tanya Agustus dingin.

"Ada yang ingin aku bahas."

"Nanti saja."

"Hm."

"Mengenai penyerangan semalam."

"Apakah sudah berhasil diintrogasi siapa di balik mereka?"

"Mereka belum mau buka mulut." Mereka berbicara seolah-olah Aurora tidak ada.

"Aku yang akan mengintrogasinya."

__________

Tbc

JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA

Terpopuler

Comments

Uswatun Khasanah

Uswatun Khasanah

hebat Sargon.. jeli ternyata.. bagaimana tu reaksi jika itu benar Sargon.. 😂

2022-08-08

1

✨ Canddy MinSuga😼

✨ Canddy MinSuga😼

pnasaran..

lanjut thor

2022-08-08

1

saljutantaloe

saljutantaloe

lanjuutt thorrr

2022-08-08

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!