Part 13

Aurora tersenyum lebar melihat dirinya berhasil keluar dari istana Agustus. Sebelumnya Agustus sudah melarang ia agar tidak hadir di acara perjamuan.

Entah apa alasannya mungkin karena ia seorang budak. Padahal tanpa diketahui oleh Aurora nyatanya Agustus melarangnya karena ia terlalu cantik dan dirinya bisa saja memikat siapapun.

Aurora mengembungkan pipinya. Sudah sangat lama ia mencari aula balet. Apakah sudah tampil? Padahal Aurora ingin sekali melihat tampilan balet di acara tersebut, tapi ternyata ia sepertinya sudah terlambat.

Wanita itu mengembuskan napas kecewa. Kemudian Aurora berjalan tanpa arah tujuan.

"Aku sudah terlambat. Pasti penari balet di zaman ini sangat hebat."

Aurora ingin memasuki istana tapi ia tahu penjagaan sangat ketat dan tak mungkin dirinya bisa masuk begitu saja.

Tiba-tiba Aurora melihat siluet seorang yang berlari. Aurora merasa penasaran dan dirinya pun diam-diam mengikuti siluet orang tersebut hingga ia melihat seorang wanita yang muntah-muntah.

Aurora lantas mendekati wanita tersebut dan melihat wanita itu mengenakan gaun balet.

"Ada apa dengan mu?"

Wanita itu menatap Aurora. Ia memegang tangan Aurora dengan perasaan cemas.

"Aku sedang sakit perut."

Aurora menyentuh perut wanita itu dan tiba-tiba ia merasakan tonjolan yang lebih.

"Kau?"

"Ya aku hamil. Jika aku ketahuan oleh raja aku bisa dibunuh. Tolong aku gantikan aku menari balet? Kau bisa, kan?"

"Kau ingin membunuh ku? Bagaimana jika aku akan ketahuan dan dibunuh raja? Kau mengira aku bisa menari balet?"

"Tapi aku juga tidak tahu." Tangis wanita itu pecah dan Aurora merasa iba mendengar suara sayatan hati wanita itu.

Aurora memutuskan untuk menggantikan wanita itu. Lagipula ini kesempatan emas untuknya. Ia ingin merasakan tampil di zaman pertengahan ini.

"Aku setuju."

Senyum wanita itu mengembang dan langsung memeluk Aurora. Aurora membalas senyum wanita itu.

"Kau seorang budak?"

"Ya."

Wanita itu tampak terkejut namun sepertinya ia harus bersikap ramah agar Aurora tetap ingin menggantikannya.

Tak peduli bagaimana pandangan mereka menatap Aurora. Aurora sangat bahagia mendapatkan kesempatan itu.

"Kau tidak merasa rugi tidak sempat menari di depan banyak orang dan juga raja nanti?"

"Aku sudah bisa menari balet. Jadi aku tak merasa rugi sedikitpun."

Aurora tersenyum dan mengangguk. Wanita itu pun lantas sama-sama memasuki sebuah ruangan untuk berganti baju.

Ketika Aurora sudah siap dengan pakaiannya kemudian wanita itu menghampirinya dan terlihat ia sangat cemas.

"Aku tak tahu kau bisa atau tidak menari tapi aku harap kau tidak membuatku malu. Pakailah penutup wajah dan tampilkan yang terbaik untuk ku. Aku tidak ingin reputasi ku hancur. Nama baikku ada di kau."

Aurora mendecih dalam hati. Dasar tidak tahu terimakasih. Mentang-mentang dia seorang budak dan diremehkan. Aurora menjadi tidak simpati dengan wanita ini.

"Iya."

"Cepatlah ke aula sebentar lagi akan tampil."

Aurora pun berlari ke arah aula. Wanita tadi mengehela napas panjang. Sejujurnya ia merasa khawatir tetapi jika budak itu tidak pandai menari balet maka ia akan menuntut Aurora dan membolak-balikkan fakta.

Aurora tersenyum sumringah wanita itu pun masuk ke dalam aula. Dan benar saja penari balet yang lainnya sedang resah menunggu rekannya yang digantikan oleh Aurora.

"Kenapa kau lama sekali?"

Aurora sudah didandani. Wanita itu sangat cantik dengan pakaian baletnya yang indah. Selain itu Aurora tampak bukan seperti seorang budak.

"Aku tadi ingin buang air sebentar."

"Cepatlah. Kita sudah dipanggil."

Aurora tidak tahu pola lantai yang seperti apa digunakan mereka. Takutnya Aurora salah. Namun karena ia sudah ahli Aurora tahu apa yang harus ia lakukan untuk mengatasi masalah itu.

Makanya Aurora sama sekali tidak takut jika dirinya lain sendiri.

Wanita itu tampil di tengah-tengah aula dan para penjabat memperhatikan dirinya. Aurora menatap mereka kagum dengannya.

Tidak ada yang menyadari bahwa itu Aurora bahkan pangeran sekalipun. Aurora mengenakan cadar untuk menutupi wajahnya.

Seharusnya tarian mereka sudah selesai. Tetapi Aurora tetap menari dengan gaya yang sudah ia sering pakai ketika tanding.

Wanita itu tersenyum lebar ketika tepuk tangan meriah dihadiahkan untuk dirinya.

Sama sekali ia tak menyangka bisa disambut dengan leluasa. Aurora menatap Agustus, Oceanus, dan Sargon yang terpaku dengan penampilan dirinya.

"Siapa penari itu? Dia sangat cantik sekali!"

"Tanpa membuka cadar pun pesonanya keluar."

"Dia adalah Estelle."

Ucapan Agustus membuat seringaian di wajah Sargon. Sebentar lagi Estelle akan menjadi miliknya.

"Malam ini aku menginginkan dia."

Aurora menghentikan tariannya. Ia pun hormat kepada raja dan kemudian keluar dari aula dengan wajah bahagia.

Mata Sargon tidak lepas dari Aurora. Ia pun meminta izin keluar dari perjamuan itu dan mengejar Aurora.

Aurora yang sadar dirinya telah dikejar seseorang pun terkejut. Ia berusaha melarikan diri dengan secepat mungkin.

"Pangeran Sargon mengejar ku," ujar Aurora dengan rasa gugup.

Ia menembus kegelapan dan bersembunyi di balik pohon rimbun. Sargon mengerang keras karena tak berhasil menemukan Aurora.

"Akh... Sialan!!" umpat Sargon dan menendang pilar istana.

Aurora menahan napas mendengar kemarahan Sargon. Ia bahkan tak tahu harus bagaimana agar dirinya bisa selamat dari pria itu.

"Tolong selamatkan aku Tuhan."

Merasa jika Sargon sudah menjauh Aurora pun keluar dari persembunyiannya. Namun tiba-tiba ada yang membekap mulut Aurora membuat wanita itu membesarkan matanya dan berusaha menyelamatkan diri.

Orang itu membawa Aurora ke sebuah pohon besar dan menyuruh Aurora tetap bersembunyi.

"Pangeran Sargon sengaja menjebak mu. Tahanlah dulu."

Aurora menoleh ke arah orang itu dan wajah Aurora mengembang ketika melihat itu adalah Fares.

"Fares apa yang kau lakukan di sini?"

Fares terkejut mendengar suara itu. Ia tak mengenali siapa wanita ini, namun ia melihat sang penari balet dikejar oleh pangeran Sargon dan ia berusaha untuk menyelamatkannya tanpa tahu siapa orang yang sudah diselamatkan.

"Kau mengenal ku?"

"Tentu saja." Aurora melepaskan cadarnya. "Aku Aurora."

Fares terkejut dan sekaligus tertegun melihat wajah Aurora yang bak seorang Dewi kayangan.

"Kau... Au.. Aurora?"

"Ya Aku Aurora."

"Kau.. kau bisa menari balet? Jadi itu kau? Aku tidak menyangka."

"Iya itu aku."

"Kini aku percaya kau memang terdidik dan pantas untuk merencanakan pertentangan dengan kerajaan."

"Apakah seorang budak yang pandai seperti ku itu sangat hebat?"

Fares mengangguk tanpa keraguan. Memang itu kenyataan seorang budak bisa menulis huruf pun diacungi jempol. Mereka tidak pernah mendapatkan pendidikan lantas hal itu menjadi sesuatu yang sangat luar biasa.

"Kau cantik Aurora. Jika mereka tahu kau seorang budak kau akan diperdagangkan dan menjadi rebutan untuk dijadikan simpanan para penjabat."

Mendengarnya saja Aurora sangat geli apalagi jika hal itu terjadi.

"Aku tidak akan pernah membiarkan siapapun bisa menyentuh diriku."

"Kau masih ingin melawan istana?"

"Tentu saja." Tatapan Aurora sangat yakin.

___________

TBC JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA.

Terpopuler

Comments

Uswatun Khasanah

Uswatun Khasanah

ok.. Semangat.. Au.. porandakan ❤💞 3 pangeran.. 😜

2022-08-07

1

✨ Canddy MinSuga😼

✨ Canddy MinSuga😼

ayo thor up yg bnyak 😄

kutunggu klanjutan nya

2022-08-07

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!