Sedari tadi Aurora memikirkan bagaimana nasibnya di dalam sini. Apakah dia akan mati konyol begitu saja? Ataukah dirinya akan menjadi budak selamanya? Aurora mendesis. Demi apapun dia bahkan tidak pernah sama sekali menjadi budak. Aurora membenci hal itu.
Kehidupannya di abad modern adalah anak orang kaya dan penuh dengan bergelimangan harta. Dia sama sekali tidak pernah menyentuh pekerjaan kasar seorang budak.
Dan sekarang apa? Dirinya menjadi budak begitu saja? Tentu pelecehan dan penghinaan akan datang padanya sebentar lagi.
"Andai aku tidak menyukai tokoh Aurora. Kenap aku harus memuja dirinya? Dan sekarang lihatlah aku? Aku menjadi dirinya. Oh God bagaimana lepas dari semua ini," keluh Aurora sambil menyembunyikan wajahnya di antara kedua kakinya.
Aurora tahu statusnya yang seorang tawanan perang dan budak ini akan mengancam dirinya. Dia tidak memiliki masa depan cerah, memang itu kan kenyataan nasib seorang budak? Lantas hal apa yang membuat Aurora berangan-angan bisa lepas dari belenggu ini?
Lihatlah ia sekarang dikurung di dalam gudang. Di sini saja dirinya sudah mendapatkan penghinaan besar.
"Jika aku bisa membunuh kalian, akan aku buat kau menjadi pizza. Kenapa aku harus terjebak pada seseorang yang tidak memiliki kekuatan sama sekali. Tidak, tidak. Jika Aurora bisa dihina begitu saja, maka aku akan memaksa jalan cerita baru. Aku tidak boleh sama seperti Aurora Akuela, aku adalah Aurora Metafora. Aku harus bisa mandiri dan mengubah segalanya. Aku pasti bisa," gumam Aurora dan tersenyum mantap.
Wanita itu beranjak dari tempat tidurnya. Ia harus memikirkan cara kabur dari sini dan memulai hidup baru di zaman kuno yang sama sekali tidak Aurora pernah rasakan. Dia dulu memiliki fasilitas lengkap, dan sekarang dirinya harus menjadi seorang wanita mandiri.
Aurora menatap ke arah lubang kecil. Di kamar ini sama sekali tidak memiliki jendela membuat Aurora sangat kesal.
Mata Aurora melotot tatkala melihat beberapa budak wanita dan pria yang bekerja kasar. Aurora meringis melihatnya.
Wanita itu langsung menjauh dan mengamati diri sendiri. Serius? Itu yang akan dikerjakannya nanti? Aurora tidak bisa membayangkan, mungkin umurnya tidak akan panjang.
"Malang sekali nasib mu Aurora Akuela, dan sekarang aku yang harus menggantikan mu. Kenapa kau tega sekali kepadaku, kenapa kau ingin berbagi kesengsaraan kepada diriku yang imut ini, bahkan tidak pantas untuk bekerja kasar seperti itu."
Aurora selalu menyesali dirinya. Ia sangat membenci. Kenapa dia harus terjebak di dalam novel, andai dia tidak membaca novel itu dulu.
"Aku harus keluar dari sini." Aurora menatap dinding semen yang bolong dan retak.
Seketika wajahnya terukir senyuman. Ia tahu apa yang akan Aurora lakukan.
Aurora lantas mencari kayu. Dia menatap kayu ranjang yang hendak roboh itu. Dengan sekuat tenaga Aurora mengambilnya dan memukulkan kayu tersebut ke dinding retak itu.
"Kenapa juga harus hidup di istana jika menjadi rakyat biasa di luar sana lebih enak?"
Aurora tertawa dan mulai membayangkan nasibnya yang akan bebas tersebut. Apalagi melihat dinding itu retak membuat Aurora tak bisa menyembunyikan senyum di wajahnya.
Angan-angan pergi jauh dari sini dan memikirkan cara kembali ke zaman modern terus menghantui Aurora.
Ia melihat tembok itu yang hancur dan membuat lingkaran kecil.
"Masih dapat aku masuki," ujar Aurora dan keluar dari istana melalui lobang tersebut.
Aurora menepuk kedua tangannya membersihkan debu. Ia pun mengibaskan gaunnya yang lusuh.
"Lusuh, seperti pakaian tidak layak pakai." Aurora miris dengan dirinya yang hanya memakai pakaian sobek-sobek. "Andai kau hidup di zaman ku Aurora, aku pasti akan menolong mu dan membiayai mu, dan bukan begini caranya kau bertukar tempat dengan ku."
Jika Aurora terus mengeluh jangan salahkan dirinya. Aurora memang sangat kesal dan dia tidak tahu cara melampiaskan kekesalannya ini.
Aurora pun mulai berjalan mengendap-endap. Untung saja retakan itu langsung mengarah ke luar. Sejenak Aurora berpikir, jika dia berkeliaran dengan memakai pakaian lusuh begini pasti akan ketahuan bahwa dia seorang budak dan berencana kabur.
Aurora harus menjadi orang licik dan sedikit kejam demi keselamatannya. Ia melihat ada seorang bangsawan yang sedang kesusahan dan Aurora pun berniat menolongnya hanya semata-mata menginginkan pakaian wanita itu.
"Maafkan untuk kali ini diriku menjadi orang jahat."
Aurora datang kepada wanita itu dan berpura-pura untuk menolong.
"Nona apa ada yang bisa aku bantu? Nona, kau kesulitan membawa barang mu ini? Bisakah aku membantu mu Nona?"
Wanita bangsawan itu tersenyum ramah.
"Kau seorang budak? Memang pantas kau melakukan ini kepada orang yang di atas mu."
Aurora mencibir dalam hati. Bangsawan tidak punya etika, pekiknya kesal kepada orang itu. Memang pantas untuk mendapatkan kejahilan Aurora.
"Ya."
"Nih bawakan barang ku."
Dia langsung melenggang pergi dan Aurora menggeram kesal.
"Kau pikir karena kau hanya seorang bangsawan kau bisa lepas dari trik licik ku?" Aurora terkekeh.
Dia menatap barang wanita itu yang merupakan sebuah buku-buku. Sepertinya bangsawan itu sedang dihukum untuk membawa buku-buku tersebut dan membereskan perpustakaan.
Aurora berjalan lebih cepat dan memukulkan semua buku itu ke arah wanita tadi, hingga sang wanita terjatuh ke tanah tak berdaya.
Dengan kekuatan bela dirinya Aurora lantas memukuli brutal si wanita tersebut.
"Apa yang kau lakukan? Akh... Berani-beraninya kau budak memukul ku. Kau lihat saja besok kau akan dipenggal."
"Aku tidak peduli!"
Aurora membuka paksa baju wanita itu dan sang wanita terpekik ketakutan.
Ia sudah tak berdaya dibuat Aurora dan Aurora lantas memakai baju si wanita dan membuang baju lusuhnya.
"Jika kau tidak ingin berjalan bertelanjang maka kenakan pakaian ku. Lebih baik di sangka budak dari pada berjalan telanjang, bukan?"
"Kau!!!"
"Kenapa?"
Aurora memakai baju tersebut dan menjulurkan lidahnya mengejek.
"Kau lihat saja besok kau akan dipenggal di pengadilan, atau tidak kau akan masuk penjara dan disiksa."
"Oh?"
"Kau? Kau tidak takut?
"Sangat takut. Tapi melihat wajah mu aku menjadi tidak takut. Kau memang pantas diperlakukan seperti ini!"
"Kau menghina ku?"
"Jika kau merasa seperti itu, berarti persangkaan mu benar," ujar Aurora lalu wanita itu pergi begitu saja.
"DASAR BUDAK RENDAHAN!! KAU TIDAK AKAN AKU BIARKAN! AKU MONALISA AKAN MENGUTUK MU!!"
Aurora seketika berhenti berjalan. Ia teringat Monalisa adalah salah satu teman dari prontagonis wanita yang merupakan pemeran utama yaitu Garce.
Aurora berbalik menatap Monalisa. Di dalam novel memang Monalisa diceritakan sangat garang dan juga pemberani. Tapi dia tak menyangka sifat asli Monalisa sangat mengerikan dari pada orangnya, pembenci dan sombong.
"Kau tidak berhak menempati posisi prontagonis," ujar Aurora pelan dan pergi.
___________
Plakkkk
Aurora dicambuk dengan kuat oleh pangeran Agustus. Dua pangeran lainnya hanya memperhatikan saat Aurora mendapatkan hukumannya.
Bagaimana tidak Aurora dihukum, dia ketahuan melarikan diri dan didapatkan oleh pangeran Agustus langsung.
Ditambah hukuman ia yang berani-beraninya berbuat semena-mena kepada Monalisa yang merupakan sahabat dari kekasihnya, Grace.
"Kau!! Kau budak rendahan berani sekali kau kabur dari tempat ini. Kau pikir kau siapa? Kau bisa kabur dari sini?"
Aurora menatap Agustus dengan perasaan terluka. Aurora tak bisa membendung air matanya. Wanita itu terus menahan sakit sambil mengigit bibirnya hingga memerah.
Aurora membenci posisinya yang sangat hina tersebut. Di kehidupan modern sama sekali Aurora tak pernah diperlakukan seperti ini.
Ia sangat disanjung apalagi dia adalah seorang penari balet terkenal.
"Ampun," lirih Aurora dengan suara tertahan. Aurora kehabisan tenaga, ia pikir sebentar lagi akan mati.
"Tidak ada ampunan untuk orang yang melanggar aturan. Kau budak pembangkang, tidak berhak untuk mendapatkan kenyamanan. Kau pikir siapa bisa kabur dari kami?" Aurora melirik orang itu. Orang tersebut dapat Aurora duga adalah seorang pangeran, karena pakaiannya yang khas sekali seorang anggota kerjaan, selain itu Aurora ingat Agustus pernah mengatakan jika dia adalah Sargon.
Agustus mendorong tubuh Aurora yang lemah ke lantai hingga Aurora lunglai. Badannya penuh dengan darah, lalu tanpa berperasaan orang-orang itu menyeretnya masuk ke dalam penjara.
"Kau ingat kau hanyalah seorang budak. Jadi jaga perilaku mu."
Aurora menatap orang yang baru saja berbicara. Rambutnya acak-acakan dan wajahnya penuh dengan darah, wanita itu terlihat sangat hina.
"Kau!! Kau telah mencuri baju ku. Aku minta kau mendapatkan hal yang setimpal seperti aku. Aku ingin kau juga kau ditelanjangi sebagaimana kau menelanjangi aku," teriak Monalisa yang juga hadir di tempat penyiksaan. Monalisa susah payah datang hanya ingin melihat Aurora disiksa. Ia pun sudah merasa puas melihat Aurora tak berdaya.
Mata Aurora membulat. Tangannya terkepal. Apalagi saat ketiga pangeran itu setuju. Aurora menahan napas ketika salah satu penjaga masuk dan memaksanya membuka baju.
"Lepaskan aku."
"Bahkan kau berani membantah saat kau dalam posisi ini?" cibir salah satu pangeran tersebut.
Dia terlihat geram dengan Aurora. Pangeran berwajah datar itu masuk ke dalam penjaranya dan memaksanya membuka bajunya.
Sementara Monalisa tersenyum miring melihat dirinya. Lihatlah, Monalisa akan menjadi salah satu target Aurora.
Pangeran itu menarik baju Aurora hingga Aurora telanjang dada. Untungnya rambut Aurora tebal dan panjang hingga menutupi tubuhnya.
Semua pengawal di sana tertegun.
"Ingat kau jangan pernah main-main dengan Oceanus."
Oh jadi ini Oceanus?
Aurora menatap pria itu dan mengulum senyum. Disangka Oceanus Aurora sedang terpana, nyatanya itu adalah senyum maut yang bakal memperangkap dirinya.
"Kau bisa menghina ku, lantas kenapa aku tidak bisa menghina kalian!!"
Oceanus, Agustus, dan Sargon duduk di salah satu meja yang ada di sana.
"Bagaimana rencana peperangan kita di laut Barat?" tanya Oceanus pada kedua kakaknya.
Aurora tersentak. Ia lupa tengah berada di abad pertengahan dan peperangan adalah hak yang wajar. Aurora tak bisa membayangkan betapa mengerikannya zaman ini.
"Aku ingin pulang ke dunia asal ku."
_________
TBC
JANGAN LUPA UNTUK LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
will
go
2023-10-28
1
will
mantap
2023-10-28
1
soyaaaa~
huwaaa kalo aku jadi si aurora udah ku tendang tu masa depan mereka 😫
2022-08-26
4