Aurora membereskan ruangan depan. Ia hampir mati karena mendapatkan rasa lelah bertubi-tubi. Itu sebagai hukuman yang dijatuhkan Agustus untuk dirinya karena telah berani kabur dari istana.
Untung kali ini Agustus berbaik hati dan membiarkan Aurora hanya mendapatkan hukuman ringan. Mungkin bagi orang itu sudah jauh lebih baik tetapi bagi Aurora sama kejamnya.
Hanya sedikit lebih manusiawi. Perempuan itu menarik napas panjang dan menyeka keringat yang keluar dari wajahnya.
"Penat sekali," keluh Aurora dan memejamkan mata. Wanita itu berbalik dan terkejut melihat tubuh jakung Agustus di depannya. "Pangeran..."
"Sudah?" tanyanya dingin dan Aurora mengangguk mengiyakan jika dirinya telah membereskan dengan benar.
Agustus melihat sampah yang tertinggal dan menatap sampah itu dengan tajam. Mengikuti pandangan Agustus, Aurora sangat terkejut melihat sampah itu dan ia langsung berinisiatif untuk mengambil sampah tersebut dan menggenggamnya.
"Agustus meraih tangan Aurora yang menggenggam sampah tersebut. Kemudian ia membuka tangan wanita itu dan melihat sampah yang digenggam oleh Aurora.
Kemudian Agustus mengambil sampah itu dan kemudian membuangnya ke tempat asal.
"Pangeran," cicit Aurora.
Aurora menatap wajah Agustus dan ia terkesiap melihat pangeran Agustus tengah menatapnya dengan pandangan yang tak dapat diartikan oleh Aurora.
Agustus menyeringai dan bentuk bibirnya yang mengerikan tersebut membuat tubuh Aurora menegang.
"Kau sangat pintar memikat pria? Sampai-sampai kedua adik ku tanpa sadar menginginkan mu." Agustus menarik tangan Aurora hingga Aurora menabrak dada bidang Agustus.
Agustus meraih dagu milik perempuan itu lalu mengangkat dagu mungil tersebut. Agustus memperhatikan setiap pahatan wajah Aurora dari jarak dekat.
Pria tersebut mendesis melihat betapa sempurnanya wajah itu tanpa cacat sama sekali. Ia mendekatkan wajahnya dan hampir bibir Agustus menyentuh bibir Aurora.
Sementara Aurora? Ia memberontak dari tadi tidak ingin hal gila terjadi kepadanya. Ia adalah wanita yang menjaga tubuhnya.
"Apa yang kau lakukan Pangeran?" Dan refleks Aurora menampar wajah Agustus dengan cukup kuat hingga menimbulkan suara yang nyaring.
Hal itu mengejutkan Agustus. Baru kali ini wajahnya ditampar, bahkan orangtunya sama sekali tidak pernah melakukan hal itu kepadanya dan seorang Aurora yang merupakan hanyalah orang asing dan budak berani menampar wajahnya. Bayangkan di mana letak harga diri seorang yang bergelar pangeran putra mahkota.
Ternyata Aurora sudah memancing sesuatu bangun dari tubuhnya. Emosi meletup-letup dari Agustus dan ia ingin menampar Aurora namun Aurora sudah melindungi dirinya sambil terisak.
Seketika tangan Agustus melayang di udara. Pria itu menghentikan tamparannya dan kembali menarik tangannya sambil menghela napas panjang.
Tidak hanya Aurora yang merasakan aneh tetapi sang empuk Agustus juga merasa aneh dengan sikap dirinya yang tak tega menampar Aurora.
"Pangeran, hiks, maafkan saya Pangeran," ujar Aurora sambil terisak.
Agustus menggeram marah. Ia marah kepada dirinya sendiri yang tak mampu untuk menampar Aurora. Ia takut Aurora akan menjadi kelemahannya.
"Antarkan suratku ini ke jalan di persimpangan tiga. Kau cari orang yang memakai baju putih dengan tato di keningnya. Lalu katakan Bunga mawar sangat indah, pagi yang cerah tampak warna kehijauan. Dan berikan surat ini kepadanya."
Aurora menganggukkan kepala lalu meraih surat tersebut. Wanita itu menghela napas panjang. Ia menghapus air matanya sementara di dalam hatinya tertawa dengan gelak bahwa ia tadi hanyalah berakting saja dan ternyata hasilnya dapat mengelabui seorang pangeran dan bergelar putra mahkota lagi.
Grace datang ke istana Agustus. Wanita cantik itu sangat terkejut melihat Aurora tengah menangis dan di depannya ada Agustus
Grace pun tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia langsung berlari ke arah mereka.
"Agustus! Sudahlah maafkan saja Aurora."
Agustus yang terkejut melihat kedatangan Grace pun menarik nafasnya panjang dan kemudian meninggalkan tempat itu.
Grace menyusul Agustus. Sementara Aurora masih di tempat dengan sebuah surat di tangannya.
Wanita itu memutarkan bola matanya jengah dan kemudian pergi dari tempat itu.
_________
Wajah Aurora sepanjang jalan tersenyum senang melihat keindahan negara Engrasia. Baru pertama kali dirinya keluar dari istana. Sebelumnya ia dikurung di sangkar emas tersebut. Namun pekerjaan yang harus ditekuni dirinya setiap hari sangat berat.
Tidak tahu apa yang membuat Agustus mempercayai sebuah surat kepadanya. Padahal bisa saja dirinya berkhianat atau membuang surat tersebut dan malah lebih parahnya menyobek surat tersebut.
Aurora menggelengkan kepala. Meskipun ia sangat membenci Agustus tetapi Aurora tidak akan melakukan hal tersebut. Ia adalah wanita yang dapat dipercaya.
Aurora berhenti melangkah. Wanita itu menatap ke arah pegunungan yang terbentang di arah timur. Para petani dan peternak turun naik dari pegunungan tersebut.
Aurora merasa sangat tenang dengan hal itu. Di zaman ini belum terjamah dengan alat-alat teknologi tidak seperti Inggris di masa depan.
Pemandangannya masih cerah dan juga asri. Tidak ada pemanasan global. Tidak ada alat transportasi berbentuk teknologi moderen, yang ada hanyalah kuda, kereta, khas dengan masa klasik.
Pakaian di zaman ini masih tergolong sopan tidak terlalu terbuka seperti di zaman moderen. Mengenai hal itu Aurora juga kadang memakai pakaian kurang bahan.
Brakk
Tiba-tiba ada seorang anak kecil yang menabrak dirinya. Aurora terkejut dan menatap anak itu. Anak tersebut juga menatap dirinya.
Ia mengulum jarinya seakan sedang terpana dengan kecantikan yang dimiliki oleh Aurora. Anak itu seperti anak dari seorang bangsawan. Seorang anak laki-laki yang sangat tampan.
"Siapa nama mu?" tanya anak laki-laki itu yang takjub menatap keindahan Aurora.
"Nama ku? Ah aku Aurora. Kau siapa adik tampan?"
"Kata pengasuh ku ibu perang mengatakan nama ku adalah Branard."
"Branard?" beo Aurora dan wanita itu menyimpulkan sebuah senyuman yang sangat cantik.
"Branard apa yang kau lakukan!! Cepatlah pulang!! Kau tidak boleh keluar!!" marah seorang wanita yang menarik tubuh Branard. Anak itu dimarahi oleh orang yang diperkirakan Aurora adalah pengasuhnya.
Ia tak menyukai cara pengasuh itu memperlakukan Branard. Senyum Aurora luntur dah dirinya kembali melanjutkan berjalan.
"Semoga nanti kita bertemu kembali Branard."
Aurora lantas melangkahkan kakinya pelan dan kemudian wanita itu terkesima melihat bangunan yang menjulang tinggi.
Mungkin ini adalah tempat yang dimaksud oleh Agustus. Aurora menggelengkan kepala karena keindahan tempat tersebut yang sangat klasik dan megah.
Aurora masuk dan ia pun mengucapkan kata kunci kepada pria itu yang menyambutnya. Ciri-cirinya persis seperti yang disebutkan oleh Agustus.
Laki-laki tersebut terkejut menatap Aurora. Aurora mengenakan cadar karena itu perintah dari Agustus sebelum dirinya keluar dari istana. Tidak tahu apa tujuan Agustus menyuruh dirinya memakai cadar.
"Kau orang utusan Pangeran Agustus?" tampak orang tersebut memperhatikan dirinya dengan seksama.
Ia merasa heran karena ini pertama kalinya Agustus mengutus seorang wanita untuk menyampaikan sebuah rahasia. Ia ragu namun keraguan itu hilang ketika melihat mata Aurora yang mampu memikat siapapun.
"Katakan kepada Agustus. Matahari jatuh di balik lembah. Bulan naik ke atas gunung. Hanya ada keindahan di alam semesta sedangkan harimau mengaum di Barat."
Aurora berusaha mengingat kata kunci tersebut. Ia tak tahu apa maksud dari kalimat tersebut. Mungkin hanya orang ini bersama Agustus yang tahu.
____________
Tbc
Jangan lupa like dan komen setelah membaca.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
✨ Canddy MinSuga😼
lanjut lagi thor
2022-08-09
1