Part 10

Para pengawal menyekapnya di suatu ruangan. Mereka mengatakan bahwa dirinya harus menunggu para pangeran di sana.

Namun, akankah Aurora patuh dengan titah tersebut? Jawabannya tentu tidak. Dia memikirkan banyak cara agar bisa keluar dari ruangan pengap ini.

Ia tak mungkin tinggal diam ketika harga dirinya direndahkan. Wanita itu menarik napas panjang dan ia berteriak kepada para penjaga bahwasanya dirinya sakit perut dan ingin pingsan.

"TOLONG AKU!! PERUT KU SANGAT SAKIT!!" teriak Aurora dari dalam sana yang membuat para pengawal saling tatap keheranan. Salah satu di antara mereka pun terpaksa membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan untuk memastikan keadaan Aurora.

Aurora tersenyum miring melihat pengawal itu masuk. Kemudian wanita tersebut pun menjalankan aksi liciknya.

"Ada apa?" tanya prajurit itu dan Aurora tetap dengan tampang meringisnya. Wanita tersebut merintih sambil memegang perutnya.

"Tolong aku!!"

"Ada apa?"

"Mendekatlah. Perut ku sangat sakit," ujar Aurora padahal diam-diam ia melakukan trik kecil. Itupun dengan keberanian penuh Aurora lakukan, karena masih terbesit rasa takut di dalam dirinya.

Sang pengawal itu mendekati Aurora dan tiba-tiba Aurora menyemprotkan bubuk racun yang diolahnya. Aurora cukup mengenal tentang medis dan obat-obatan serta racun. Karena ia pernah bersekolah di kesehatan.

Wanita tersebut menarik napas dan tersenyum sumringah melihat prajurit tersebut terkapar pingsan tanpa mengeluarkan pekikan sama sekali.

Aurora terpaksa mengambil sebilah pedang milik si prajurit dan juga mengambil pakaiannya.

Susah payah Aurora melakukan itu agar dirinya tidak melihat sesuatu yang lebih berbahaya dari seorang pria.

"Sangat merepotkan. Kenapa juga harus mau menjadi pengawal pangeran busuk itu," umpat Aurora sambil menendang kecil prajurit tersebut.

Kemudian wanita itu sudah lengkap dengan seragam prajurit. Jujur Aurora merasakan beban yang sangat berat. Baju ini sungguh membuatnya kewalahan.

"Ini baju apa besi? Seperti tidak berniat membuat baju saja," ujar Aurora dan menghela napas.

Wanita itu pun keluar dari dalam kamar dan untungnya pengawal yang lain tidak ada yang curiga. Mereka mengira Aurora adalah rekan mereka yang masuk mengecek kondisinya.

Aurora memberikan isyarat kepada mereka bahwa ia ingin buang air besar terlebih dahulu. Aurora sengaja tidak berbicara karena takut dari suaranya akan terbongkar semua rahasia miliknya.

Wanita itu berjalan penuh hati-hati dan berusaha membuang wajahnya agar tidak ada yang mengenali dirinya.

"Ternyata sesulit ini," ujar Aurora hampir ingin mengeluh tetapi bayang-bayang kemenangan di depannya tak membuatnya takut dan malah membuat rasa semangat bergejolak dari dalam diri Aurora.

Aurora pun masuk ke dalam aula istana. Ia penasaran apa yang akan dilakukan oleh anggota kerajaan setelah ketiga pangeran tersebut membawa kemenangan.

Aurora bergabung dengan prajurit yang lain dengan peralatan lengkap. Ia menatap ke singgasana dan berdecak kagum melihat keagungan raja.

Aurora juga melihat ada ratu Sofia. Dan tidak jauh ada Grace. Aurora tahu bahwa Grace merasa tidak nyaman, terlebih ratu Sofia menunjukkan aura permusuhan yang sangat kental.

Di sisi lain ada seorang wanita yang tidak kalah cantik. Wanita itu begitu anggun dan tampak ratu menyukainya. Aurora berpikir apakah itu Isabella? Di novel tersebut dikatakan jika Isabella sangat jahat dan ingin menyingkirkan Grace. Grace juga sering mendapatkan Bullyan dari Isabella.

"Dasar wanita ja.lang," umpat Aurora dan ia tersadar seketika dan langsung menutup mulutnya. "Ayolah Aurora apa yang sudah kau katakan tadi? Bagaimana jika ada yang mendengar dan kau akan ketahuan?" ucap Aurora pelan.

"PANGERAN AGUSTUS, PANGERAN OCEANUS, PANGERAN SARGON TIBA!!" teriak pengawal yang membuat Aurora terkejut dan menatap ke arah para pangeran yang memasuki aula istana.

Wibawa mereka sungguh kuat. Aurora kali ini mengakui kelebihan dari para pangeran tersebut. Baju zirah masih melekat di tubuh mereka serta pedang yang masih terdapat sisa darah digenggam oleh ketiga pangeran itu.

Mereka menghadap raja dan tersenyum. Sebelumnya mereka sudah mendapatkan dekret namun kali ini adalah acara peresmian Agustus diangkat menjadi putra mahkota.

Aurora menelan ludahnya melihat peresmian itu. Sungguh mewah.

"Karena keberhasilan pangeran Agustus memimpin pasukan maka Pangeran Agustus resmi menjadi putra mahkota. Pesta akan diadakan tujuh hari tujuh malam."

Aurora langsung menutup mulutnya terkejut. Wanita itu membulatkan mata. Itu sangat lama? Terlebih rangkaian acara yang sangat menyenangkan. Tapi sayangnya Aurora tidak akan bisa menikmati acara itu karena dia hanyalah seorang budak.

"Kenapa dunia ini sangat tidak adil," ujar Aurora dengan sedih. Padahal sudah lama dirinya merindukan festival seperti ini. Dulu di dunia modern Aurora sering menjumpai festival megah di kota mereka berbeda dengan sekarang lebih terbilang jarang.

Aurora juga sangat penasaran bagaimana jalannya festival di abad pertengahan.

Senyum Aurora memudar melihat Agustus resmi memakai mahkota. Semua orang bertepuk tangan terkecuali dirinya.

Mata Aurora mengarah pada Grace yang tersenyum senang. Wanita itu sangat cantik dan Aurora sebagai wanita pun terhipnotis.

"Jangan menatap putri Grace seperti itu. Jika pangeran Agustus melihat mu kau akan dieksekusi."

"Benarkah?" tanya Aurora pelan.

"Kau seperti prajurit baru saja."

Aurora terkesiap dan langsung diam. Matanya tak lepas dari kemegahan yang ada di dalam ruangan ini. Wanita itu menundukkan kepala lalu tak lama kembali mengangkatnya.

Seketika wajah Aurora menegang melihat Sargon yang menangkap basah dirinya.

Habislah sudah Aurora.

Wanita itu bergerak gelisah dan ia menoleh kembali kepada Sargon dan ternyata pria itu tengah tersenyum miring.

"Oh Tuhan bagaimana ini?" ujar Aurora merasakan gugup.

Rangkaian acara demi acara pun berlangsung cepat. Selama itu Aurora merasa tidak tenang dan gelisah di tempat.

Ia berusaha keluar dari barisan prajurit dan dirinya yang baru saja hendak melangkah tiba-tiba Sargon berucap lantang.

"KENAPA KAU KELUAR? TETAP DIBARISAN MU."

Aurora menatap Sargon sambil dengan tangan terkepal. Ucapan Sargon menjadi perhatian yang ada di sana. Sontak Agustus dan Oceanus menatap ke arah pengawal itu dan mereka dengan sekali lihat juga tahu bahwa wanita itu adalah Aurora.

Agustus mengeraskan wajahnya membuat Aurora menciut di tempat. Grace yang sudah bertemu dengan Aurora dan melihatnya secara langsung tentu mengenali siapa prajurit tersebut.

Grace terkejut namun ia berusaha tenang. Tapi tetap saja dirinya tidak akan bisa tenang dan mengkhawatirkan Aurora. Apalagi ia sangat tahu bahwa Agustus orang seperti apa.

Acara pun selesai dan Aurora buru-buru berjalan meninggalkan istana namun ternyata dirinya sudah dihadang oleh ketiga pangeran itu.

Aurora terdiam dengan tubuh bergetar. Wanita itu meremas tangannya dan membalas senyum dari para pangeran tersebut.

Plakk

Aurora ditampar oleh Agustus. Wanita itu memejamkan mata dan meremas tangannya.

"Ternyata kau masih sama pembangkang dan tidak tahu disiplin. Kau bersihkan seluruh istana ku."

Agustus bersuara membuat Aurora terdiam dengan air mata menggenang.

"Kau tahu. Di sini Agustus pemimpinnya. Kau akan menjadi budak Agustus dan tidak ada kemungkinan jika kami mau kau juga harus bekerja untuk kami," ujar Sargon sambil menyeringai.

Kenapa mereka sangat mengerikan dan kenapa Aurora tidak bisa meneriakkan penentanga Ia harus patuh bak orang yang mudah diatur.

"Sekarang kau sudah sadar dengan posisi mu?" tanya Oceanus. Namun semengerikan Oceanus tetapi dia adalah orang yang lebih peduli dari pada ketiga pangeran tersebut.

Sargon berjalan meninggalkan mereka dan Aurora dipaksa untuk mengikuti Agustus dari belakang.

"Aku hanyalah seorang budak," ucap Aurora dan kemudian menjatuhkan air matanya.

___________

Tbc

JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA

Terpopuler

Comments

Di Elva

Di Elva

otak modern aurora yg bego 🤣🤣

2023-05-17

0

Di Elva

Di Elva

aurira sangat bodoh, udah nyamar bukannya keluar aja 🤣🤣

2023-05-17

0

Meigha

Meigha

kau bodoh sekali Aurora,kenapa tak lari saja malah ikut nonton 3 pangeran☹️☹️

2022-10-01

3

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!