Ting-tong!
Bel pintu di rumah Daniar berbunyi nyaring. Bu Salma dan Pak Fandi bergegas masuk ke dalam rumah. Dengan langkah tergesa, Bu Salma lekas menuju ruang tamu untuk membukakan pintu. Sedangkan Pak Fandi mengikutinya dari belakang.
"Assalamu'alaikum!" sapa seorang pemuda dari balik pintu.
"Wa'alaikumsalam!" jawab Bu Salma seraya membukakan pintu. "Eh, Nak Dadan," ucapnya.
"Selamat siang, Tante, Om!" Dadan kembali menyapa Bu Salma dan Pak Fandi.
"Siang Nak Dadan, ayo silakan masuk!" jawab Pak Fandi seraya menyuruh Dadan memasuki rumah.
Dadan mengangguk, dia kemudian melangkahkan kakinya memasuki rumah kedua orang tua Daniar.
"Mau ketemu Niar, ya?" Bu Salma langsung menebak maksud kunjungan dari pemuda itu.
"Hehe, iya Tan," jawab Dadan tersenyum mesem.
"Silakan duduk, Nak Dadan. Sebentar, Tante panggilkan Daniar dulu," pamit Bu Salma, pergi ke belakang untuk memanggil putri sulungnya.
"Ayo duduk, Nak. Kita ngobrol-ngobrol sambil nungguin Niar," perintah Pak Fandi.
"Iya, Pak," jawab Dadan.
Tak lama kemudian, perbincangan antara laki-laki pun dimulai. Perbincangan ringan tentang dunia bola memang selalu menjadi topik utama para laki-laki. Tak membutuhkan waktu lama, Dadan dan Pak Fandi terlihat sangat akrab.
Sementara itu, Bu Salma bergegas menuju kamar Daniar. Tiba di sana, dia mengetuk pintu kamar Daniar agak kencang. Entah bersemangat atau merasa Daniar masih di kamar mandi. Namun, ketukan pintu itu sempat membuat Danita terkejut.
Danita membuka pintu kamarnya. Bibirnya sedikit berkerucut tatkala melihat ibunya mengetuk kencang pintu kamar sang kakak.
"Ada apa sih, Bu?" tanya Danita, "kenceng banget ketuk pintunya," lanjutnya.
"Eh, Ade ... keganggu ya? Duh, maaf," ucap Bu Salma.
Danita menghampiri ibunya. "Lagian Ibu ngapain ketuk-ketuk pintu kamar kak Niar segitu kencengnya? Emangnya kak Niar budeg?" tukas Danita seraya melipat kedua tangannya di dada.
"Enak aja!" Tiba-tiba Daniar sudah berdiri di ambang pintu kamarnya.
"Eh, Kakak," sahut Danita tersenyum mesem.
"Kalian pada ngapain berdiri di depan kamar Kakak?" tanya Daniar menautkan kedua alisnya.
Bu Salma tersenyum, "Itu Niar, di ruang tamu ada nak Dadan," jawab Bu Salma.
Kini, giliran Danita yang mengernyitkan keningnya. "Dadan?" ulang Danita, "siapa Bu?" Danita mulai penasaran.
"Idih, mau tahu aja," tukas Daniar seraya mengusap kasar wajah adiknya.
"Ish, Kakak!" pekik Danita gelagapan. "Pacar baru Kakak, ya?" tanyanya lagi.
"Huuuh, kepo!" balas Daniar sambil menggandeng tangan ibunya dan pergi meninggalkan Danita.
"Hmm, baguslah kalau Kakak sudah punya pacar lagi. Biar Nita bisa cepet nikah tanpa ngelangkahi Kakak," seru Danita.
Daniar hanya menjulurkan lidahnya menanggapi ucapan sang adik. Meski jauh di lubuk hatinya, dia merasa bersalah karena pernikahan sang adik harus diundur gara-gara dirinya.
"Maaf menunggu lama ya, Nak Dadan," ucap Bu Salma begitu tiba di ruang tamu.
Daniar hanya melempar senyum pada laki-laki yang tengah duduk berhadapan dengan ayahnya.
"Tidak apa-apa, Tante," jawab Dadan.
"Loh, Bu ... minuman sama camilannya mana?" tanya Pak Fandi yang hanya melihat istrinya mengantar Daniar saja.
"Oalah, Pak ... Ibu lupa," tukas Bu Salma sambil menepuk jidatnya. "Maklum, sudah tua. Mohon maaf ya, Nak Dadan," lanjutnya.
Dadan hanya tersenyum dan menganggukkan kepala saja.
"Sini duduk, Niar!" Pak Fandi melambaikan tangan, mengajak Daniar untuk duduk di sampingnya.
Daniar kemudian menghampiri Pak Fandi. Sejurus kemudian, dia duduk berdampingan dengan ayahnya.
"Apa kabar, Niar?" Kembali Dadan menyapa kabar Daniar.
"Alhamdulillah kabar Daniar baik, Kak. Kalau Kakak sendiri bagaimana?" Daniar balik menanyakan kabar Dadan.
"Seperti yang kamu lihat, alhamdulillah Kakak juga sangat baik," jawab Dadan.
"Sebentar, Nak Fandi. Om mau ke belakang dulu. Om baru ingat jika ikan di kolam belakang belum dikasih pakan. Kamu lanjutkan saja ngobrolnya sama niar, ya," ucap Pak Fandi seraya beranjak dari sofa. "Temenin Nak Dadan ya, Niar. Ayah mau ke kolam dulu," Lanjutnya.
"Baik, Yah," jawab Daniar, patuh. Meskipun jauh di lubuk hatinya, dia benar-benar merasa kacau dengan kunjungan Dadan yang menurutnya tiba-tiba.
"Omong-omong, kamu sibuk nggak hari ini?" tanya Dadan setelah Pak Fandi meninggalkan mereka.
"Nggak terlalu sibuk juga. Memangnya kenapa, Kak?" Daniar balik bertanya.
"Emmh, Kakak mau ajak kamu ke–"
"Waduh, maaf menunggu lama ya, Nak Dadan."
Kalimat Dadan terpotong dengan kehadiran Bu Salma yang datang untuk menyuguhkan minuman dan beberapa toples camilan.
"I-ya, tidak apa-apa, Tante," jawab Dadan sedikit terkejut.
"Ayo-ayo, silakan dicicip kuenya. Ini Niar yang buat loh, Nak," tutur Bu Salma.
"Benarkah?" tanya Dadan. Bu Salma mengangguk. "Kalau begitu, saya cobain ya, Tan," lanjut Dadan.
Bu Salma terlihat sumringah dengan sikap ramah Dadan. "Iya mangga, silakan dimakan yang banyak, Nak," balasnya.
Tak lama kemudian, terdengar suara panggilan sang suami dari ruang keluarga.
"Ibu, tolong bantu Ayah menyiapkan pakan!" teriak Pak Fandi.
"Iya, sebentar Yah!" balas Bu Salma. Sejurus kemudian, Bu Salma menatap Dadan dan putrinya bergantian sambil berkata, "Ibu tinggal dulu, ya. Silakan dilanjutkan lagi obrolannya."
Setelah berpamitan, Bu Salma pun pergi meninggalkan Dadan dan Daniar di ruang tamu.
"Eh, sampai mana tadi, Niar?" tanya Dadan begitu melihat Bu Salma menghilang dari balik pintu.
"Sampai pertanyaan Kakak tentang apakah Niar punya waktu hari ini atau tidak," jawab Daniar.
"Ah, ya! Apa kamu ada waktu luang hari ini?" Dadan mengulangi pertanyaannya.
"Ya, seperti yang Kakak lihat. Untuk hari ini, Niar memang nggak ada kegiatan yang menyita waktu. Memangnya, kenapa ya Kak?" tanya Daniar.
"Kalau kamu nggak keberatan, Kakak mau ajak kamu keluar. Gimana, Niar?" tanya Dadan lagi.
"Emm, gimana ya, Kak?" jawab Daniar tampak ragu. Bukan apa-apa, hari ini dia memang sedang malas untuk bepergian.
Dadan tampak sabar menunggu jawaban Daniar. Sedangkan Bu Salma dan Pak Fandi yang menguping dari balik pintu, merasa geregetan dengan diamnya Daniar.
"Ish, Ibu harus ke sana, Yah," bisik Bu Salma seraya mengambil ancang-ancang untuk pergi ke ruang tamu.
Pak Fandi segera mencekal pergelangan tangan istrinya. "Tunggu, Bu!" ucapnya.
"Apalagi, Yah? Daniar itu perlu sedikit ditekan agar mau menurut sama kita," ucap Bu Salma.
"Tidak, Bu. Biarkan Niar yang mengambil keputusan. Sebaiknya kita tidak perlu ikut campur terlalu jauh dalam kehidupan asmara Daniar. Ayah takut Daniar merasa tidak dihargai oleh kita sebagai orang tuanya. Kalau memang mereka jodoh, toh tidak akan ke mana juga," papar Pak Fandi panjang lebar.
Bu Salma hanya bisa menghela napasnya. Meskipun merasa gemas melihat sikap Daniar yang selalu mengandalkan logika. Namun, apa yang dikatakan suaminya memanglah benar. Dia tidak ingin memaksa putrinya tentang jodoh lagi. Syukur-syukur mereka berjodoh. Kalaupun tidak, semoga saja jodoh Daniar didekatkan ya Allah, batin Bu Salma.
Sedetik kemudian, senyum Bu Salma mengembang tatkala mendengar jawaban bersedia dari ruang tamu.
"Hmm, bersenang-senanglah Niar. Semoga kehadiran Nak Dadan bisa mengembalikan kecerian kamu."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 284 Episodes
Comments
Yuliana Purnomo
heeemmm,,asyiiik jalan jalan
2024-03-07
0
Alleyza Azura Rinzani
semoga bisa sampai ke pelaminan
2022-09-22
1
Alleyza Azura Rinzani
lancar hingga ke pelaminan
2022-09-22
0