Entah kenapa, rasanya lidah Daniar terlalu kelu untuk mengungkapkan semua kebenaran tentang permasalahan yang sedang dia hadapi. Bercerita kepada Deni, itu sama saja dia membongkar aibnya sendiri.
Bagaimana ini? Apa aku harus mengatakan semuanya kepada Deni? Jika tidak, dia pasti akan selalu menteror aku terus, batin Daniar.
"Niar, nyawa lo masih terkumpul, 'kan?" canda Deni
"Apaa sih, Den?" tukas Daniar seraya menarik tangannya dari genggaman tangan Deni.
"Ya abisnya ...lo cuman bengong doang," kilah Deni.
"Hhh." Daniar mengembuskan napasnya perlahan. Sejenak, dia menatap lekat ke arah Deni. "Tidak akan ada pernikahan di dalam hidup gua, Den," gumam Daniar seraya kembali mengalihkan pandangannya menatap lapang kampus yang penuh dengan para mahasiswa yang sedang bermain bola.
"Apa maksud kamu?" Deni meraih dagu Daniar agar gadis itu kembali menatapnya.
"Pernikahannya dibatalkan, Den," ucap lirih Daniar.
Deni terhenyak, "Tapi kenapa, Ni?"
"Seno selingkuh?" jawab Daniar.
"Apa kamu yakin?" tanya Deni, menyelidik.
Daniar mengangguk.
"Kamu punya buktinya, Ni? Hati-hati loh, Ni. Tanpa bukti, semua ini bisa jadi fitnah belaka. Pada akhirnya, kamu nanti bisa nyesel, Ni," kata Deni mengingatkan.
"Selingkuhannya sendiri yang datang menemui gua, Den. Dia minta gua buat nyerahin Seno ke dia. Menurut dia, Seno harus bertanggung jawab atas apa yang telah menimpa dirinya." Daniar semakin lirih menceritakan apa yang terjadi pada ikatan pertunangannya.
"Maksud lo bertanggung jawab?" tanya Deni semakin tidak mengerti.
Sejenak, Daniar menarik napasnya panjang. Perlahan dia pun mengembuskannya. "Wanita itu tengah hamil anak Seno. Dan, Seno mengakuinya jika dia pernah tidur dengan gadis itu."
Deni cukup terkejut mendengar pengakuan Daniar. Oh, pantas saja Daniar berubah. Mungkin ini yang menjadi alasannya, batin Deni.
Deni kembali menggenggam tangan Daniar. "Sudahlah, Ni. Tidak perlu diambil hati. Intinya, dia bukan jodoh lo. Harusnya lo bersyukur, Ni. Tuhan sudah membukakan sifat asli dia sebelum kalian menikah," tutur Deni.
"Gua tahu, Den. Hanya saja, gua sedih ngelihat orang tua gua yang harus menjadi gunjingan orang-orang di sekitar rumah gua. Bahkan, keluarga besar nyokap terkesan menyalahkan nyokap atas keputusan yang gua ambil. Mereka merasa tersinggung karena gua memutuskan sebuah perkara tanpa berunding dulu dengan keluarga besar. Huh, rasanya gua pengen pergi ke suatu tempat, di mana tak ada seorang pun yang mengenali gua," keluh Daniar seraya membuang kasar napasnya.
"Bersabarlah, Ni. Lo harus yakin jika Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan umatNya. Ayo, tetap semangat dong. Mana Daniar yang gua kenal nggak pernah mengeluh tentang apa pun?" seloroh Deni menyemangati sahabatnya.
"Hmm, bisa aja lo Den," tukas Daniar seraya menonyor pelan lengan Deni.
"Dengar Niar, apa pun yang terjadi, lo harus yakin jika lo bisa mengatasi semua masalah lo. Urusan para tetangga yang menggunjing keluarga lo, abaikan saja! Toh lama-lama mereka akan merasa bosan juga," nasehat Deni.
Daniar hanya mengangguk menanggapi perkataan Deni. Ya, apa yang dikatakan Deni memang benar. Tidak ada gunanya memperkarakan gunjingan orang. Semakin kita layani, mereka akan semakin bertingkah. Satu-satunya jalan yang terbaik adalah, menutup mata dan telinga.
"Eh, Ni ... lo lapar nggak?" tanya Deni.
"Lapar sih," jawab Daniar.
"Ya sudah, lo tunggu di sini ya. Gua pesen mie ayam dulu," kata Deni seraya beranjak dari tempat duduknya.
Deni melangkahkan kaki menuju kedai mie ayam. "Bang, mie ayamnya dua, ya!" pesan Deni.
"Siap, Mas. Di meja mana, Mas?"
Deni membalikkan badan hendak menunjukkan meja tempat dia duduk. Namun, tanpa sengaja dia melihat Yandri sedang duduk bersama seorang gadis.
"Bukankah itu Yandri? Ish, siapa gadis yang duduk bersamanya?" gumam Deni.
Karena merasa penasaran, Deni mendekati bangku mereka. Awalnya Deni berniat menyapa sahabatnya itu. Namun, saat Deni melihat wajah Yandri yang memerah, Deni pun mengurungkan niatnya.
"Ish, apa yang sebenarnya mereka bicarakan?" gumam Deni semakin penasaran.
Deni mencoba menajamkan indera pendengarannya. Namun, apa yang sedang mereka bicarakan sama sekali tidak terdengar. Tak berapa lama kemudian, Deni melihat Yandri berdiri. Samar-samar dia mendengar Yandri berkata begitu bijak sekali.
"Sudahlah, mungkin takdir jodoh bukan milik kita!"
Setelah mengucapkan kalimatnya, Deni melihat Yandri pergi meninggalkan gadis itu.
"Jadi benar, gadis itu adalah Enna. Eh, tapi apa yang sedang terjadi? Kenapa Yandri berbicara seperti itu? Dan kenapa juga dia terlihat seperti sedang menahan amarah? Apa mereka sedang bertengkar? Hadeuh, gua bisa gila sendiri kalau di sini terus," gumam Deni.
Deni beranjak dari tempatnya, dia hendak menyusul Yandri. Namun, panggilan abang penjual mie ayam menghentikan langkah Deni.
"Oh, mie ayamnya sudah jadi ya, Bang?" tanya Deni berbasa-basi.
"Iya, Mas. Mau saya antarkan ke mejanya?" Si abang mie ayam menawarkan diri.
"Tidak usah, Bang. Biar saya yang bawa saja," cegah Deni.
Deni kemudian mengambil alih nampan berisi dua mangkuk mie ayam dari tangan si penjual mie ayam. Lepas itu, dia membawa nampan tersebut ke mejanya. Sepanjang dia berjalan menuju meja tadi, pikiran Deni tetap melayang pada apa yang baru saja dia lihat. Jujur saja, Deni semakin penasaran. Radar keponya pun mulai berfungsi.
Ish, apa yang sebenarnya terjadi pada yandri? Kenapa dia terlihat marah sekali? Apa hubungan dia dan pacarnya telah putus?
Deni mulai menduga-duga kemungkinan yang terjadi kepada diri sahabatnya itu.
.
.
Sementara itu di dalam kelas PG-PAI, Yandri menghempaskan bokongnya di kursi. Raut wajah Enna yang meminta mengakhiri hubungan dengannya masih terbayang jelas di pelupuk mata Yandri.
Kenapa harus berbohong seperti itu, En? Aku sendiri tidak akan pernah memaksakan suatu hubungan yang tidak kamu kehendaki. Lalu, kenapa harus terucap kata cinta jika memang hatimu tidak pernah menghadap padaku? batin Yandri.
Masih terngiang jelas di telinganya tentang kata cinta yang keluar dari bibir gadis itu.
"Aku mencintaimu, Yan. Sungguh aku sangat mencintai kamu. Namun, aku tidak berdaya untuk menolak perjodohan yang dilakukan oleh kedua orang tuaku. Aku tidak mau menjadi anak durhaka dengan membangkang perintah mereka, Yan. Aku ... aku benar-benar bingung harus berbuat apa," ucap Enna di antara isak tangisnya mengutarakan cinta dan perjodohan dirinya.
"Ish, benar-benar munafik!" gerutu Yandri seraya meremas undangan yang diberikan Enna untuknya. Sedetik kemudian, Yandri melemparkan undangan tersebut ke luar jendela
Pluk!
"Ish, siapa yang nimpuk gua?!" pekik Daniar seraya berjongkok untuk mengambil benda yang jatuh tepat di depan kakinya.
"Apa itu, Ni?" tanya Deni.
"Entahlah, sepertinya sebuah undangan," jawab Daniar.
"Coba buka!" perintah Deni.
Perlahan, Daniar membuka undangan yang telah diremas itu. Sontak kedua bola mata Deni membulat sempurna saat membaca nama yang tertera di dalam undangan. Deni merebut undangan tersebut dari tangan Daniar. Sejurus kemudian, dia memasuki kelasnya.
"Bisa kamu katakan apa artinya ini?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 284 Episodes
Comments
Ghiie-nae
Sebentar lagi kamu pasti menemukan kebahagiaan kami Niar ..
jangan putus asa
2023-01-20
0
Adwira
mampir lagi thor
2022-10-31
2
Chima
yah patah hati deh
2022-10-09
3