Deni menyerahkan undangan yang sudah tak berbentuk itu di depan Yandri.
"Bisa lo jelasin, apa maksudnya ini?" ulang Deni.
Sejenak, Yandri hanya bisa menatap Deni seraya mengerutkan keningnya. Namun, sejurus kemudian dia mengambil undangan itu sambil berkata, "Bukan apa-apa, Den. Tidak penting juga."
Yandri merobek undangan tersebut dan menaruhnya di kolong meja.
Deni menghela napas. Dia kemudian duduk di samping Yandri seraya berkata, "Gua lihat, tadi lo bicara sama seorang gadis di taman. Apa dia adalah Enna?"
"Ya," jawab singkat Yandri.
"Apa dia datang kemari hanya untuk memberikan undangan itu!" Sudut mata Deni menunjuk undangan yang sudah robek di kolong meja.
"Sudahlah, Den. Tidak perlu dibahas lagi," ucap Yandri.
"Jadi benar dugaan gua," tukas Deni.
"Maksud kamu?" Yandri balik bertanya.
"Dia cuma mau mainin lo saja, 'kan? Hmm, firasat gua ternyata benar. Dulu gua sempat meragukan gadis itu. Dan benar juga, semua keraguan gua sekarang terbukti nyata," papar Deni.
Kini giliran Yandri yang menghela napasnya. Dia kemudian menatap Deni sambil berkata, "Akhiri apa yang memang seharusnya diakhiri, Den. Akan tidak bijak jika bertahan di atas perkara yang tidak ingin dipertahankan. Seberapa kuat aku bertahan, semuanya akan runtuh jika hanya aku saja yang mempertahankan."
"Ya, lo benar Yan. Tapi tidak begini caranya. Gadis itu datang seolah-olah telah memberikan warna pada kehidupan hitam putih lo. Untuk apa dia datang jika pada akhirnya kehidupan lo menjadi abu-abu," ucap Deni sok puitis.
Yandri hanya tersenyum mendengar perkataan Deni. "Tidak usah cemas, Den. Aku baik-baik saja," tukas Yandri.
"Gua senang mendengarnya, Yan. Semoga kelak lo bisa mendapatkan pengganti yang jauh lebih baik daripada Enna," ucap Deni seraya menepuk pundak Yandri.
"Aamiin," jawab Yandri.
Aku harus tegar, Den. Aku harus terbiasa untuk tegar. Karena aku sadar, tidak akan ada wanita yang bisa menerima pemuda miskin seperti aku. Dan keputusan Enna hari ini, aku yakin jika itu dilatarbelakangi oleh pekerjaan aku yang hanya sebagai tenaga honorer. Namun, jujur aku lega dengan adanya kejadian ini. Setidaknya, aku tahu jika aku harus bercermin terlebih dahulu untuk mendapatkan seorang pendamping, batin Yandri.
.
.
"Apa yang kamu lakukan Frida? Kenapa tidak ada yang memberi tahu Ayah tentang putusnya pertunangan anakmu?" tanya dingin Pak Agam kepada menantunya.
"Maaf Ayah, tapi Frida rasa, masalah ini tidak perlu dibesar-besarkan," jawab Bu Frida.
"Tidak dibesar-besarkan pun sudah besar, Frida! Memangnya menghamili wanita lain dan memutuskan sebuah ikatan, itu bukan masalah besar? Astaghfirullah, di mana hati nurani kamu sebagai seorang ibu? Bisa-bisanya kamu menyuruh Daniar membicarakan semua keputusan ini sendirian kepada keluarganya? Bagaimana jika posisi Daniar itu dialami oleh anak kamu? Apa kamu bisa terima anak kamu diputuskan tunangannya begitu saja?" tegur panjang Ibu Patmi.
"Ya mana saya tahu. Saya, 'kan nggak punya anak perempuan," jawab Bu Frida.
"Ya Tuhan, Frida. Kamu juga seorang wanita, seharusnya kamu bisa memahami posisi Daniar," timpal Pak Agam.
"Sudahlah Ayah, lagi pula semuanya sudah terjadi. Tidak perlu mengungkit lagi kejadian yang telah berlalu," ucap Pak Gideon, suaminya Bu Frida.
"Ish, kalian ini...."
Pak Agam tak mampu berkata-kata lagi. Dia benar-benar kecewa terhadap sikap anak dan menantunya yang selalu memanjakan Seno. Hingga akhirnya Seno tumbuh menjadi pemuda angkuh dan selalu bersikap seenaknya. Muak melihat wajah menantunya yang seolah tak berdosa, akhirnya Pak Agam mengajak istrinya untuk pulang.
"Bagaimana ini, Pak? Apa yang harus kita katakan kepada Daniar dan keluarganya?" ucap Bu Patmi kepada suaminya.
"Entahlah, Bu. Bapak sendiri tidak punya muka untuk menghadapi mereka," jawab Pak Agam.
"Tapi, Pak...."
"Begini saja, Bu. Untuk menebus kesalahan kita, bagaimana kalau kita hibahkan sebagian kontrakan kita untuk Daniar," usul Pak Agam.
"Ibu sih, terserah Bapak saja. Lagi pula, Daniar itu anak yang baik. Tidak sepantasnya dia diperlakukan seperti itu," timpal Bu Patmi.
"Ya, Ibu benar. Sebaiknya sekarang Bapak menemui pengacara kita saja," pungkas Pak Agam. Sejurus kemudian, Pak Agam meminta sopirnya untuk berbalik arah, menuju kantor pengacaranya.
.
.
Yandri merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Kedua tangannya dia lipat ke belakang untuk dijadikan bantal. Bayangan Enna kembali melintas dalam benaknya. Entah apa yang salah dengannya, padahal Yandri sudah berusaha sebaik mungkin untuk menjadi pasangan yang ideal bagi Enna.
Mungkin memang aku tidak pernah pantas untuk membina sebuah hubungan. Hmm, memangnya siapa aku ... yang berani mengharapkan cinta seorang perempuan. Seharusnya dari awal aku membentengi hati agar tidak lengah dan terjerat dalam sebuah rasa. Ya Tuhan, betapa bodoh sekali diriku. Berharap seseorang mencintai pemuda miskin sepertiku dengan tulus, uuh rasanya itu mustahil sekali, keluh Yandri dalam hatinya.
Yandri kemudian bangun. Dia ingat jika dia memiliki tugas untuk membuat proposal kegiatan yang akan diselenggarakan di tempat praktek lapangan kerjanya.
"Hmm, sebaiknya aku fokus pada kuliahku. Jika aku gagal, mereka yang mencemooh aku dulu, pasti akan tertawa lebih keras lagi," gumam Yandri.
Yandri memang seorang pemuda yang berprinsip teguh. Kegagalan cintanya, justru membuat tekad pembuktian diri Yandri semakin kuat. Sudah cukup seorang wanita merendahkan harga dirinya. Dia tidak akan pernah membiarkan wanita memasuki kehidupannya lagi. Setidaknya sebelum dia berhasil membuktikan diri, jika dia pantas untuk diakui.
Di tempat lain, di waktu yang sama. Daniar tampak menyandarkan tubuhnya pada sandaran ranjang. Wajahnya mulai menengadah, menatap langit-langit kamar. Pikirannya berkelana pada apa yang telah terjadi pada hidupnya. Daniar menghela napasnya. Dia merutuki kebodohannya yang percaya begitu saja kepada Seno.
Sejenak, dia mengingat kata-kata guru ngajinya saat dia beranjak dewasa.
"Jagalah kehormatan kalian, karena sekali kehormatan kalian ternoda, maka penyesalan akan menghantui kalian seumur hidup kalian."
Dan apa yang dikatakan pak Kyai, benar adanya. Sekarang hidup Daniar telah hancur. Daniar sudah tidak memiliki harapan untuk bisa membina rumah tangga. Jangankan berharap, untuk bermimpi pun, dia enggan. Rasanya, penghinaan yang Seno torehkan, tidak akan pernah bisa sirna begitu saja
Tok-tok-tok!
Ketukan pintu kamar, sontak membuyarkan lamunan Daniar.
"Niar, apa Ibu boleh masuk?" tanya Bu Salma dari balik pintu kamarnya.
Daniar bergegas mengenakan sandal rumahnya. Sejurus kemudian, dia berjalan untuk membuka pintu kamarnya yang memang sengaja dia kunci.
Ceklek!
Pintu terbuka, tampak ibunya berdiri seraya tersenyum kepada Daniar. "Kamu belum tidur, Nak?" tanya Bu Salma.
"Niar nggak bisa tidur, Bu," jawab Daniar, kembali menuju ranjangnya.
Daniar duduk di tepi ranjangnya. Pun dengan Bu Salma yang ikut duduk di samping Daniar.
"Niar, besok Ibu mau ke rumah saudara Ibu yang baru datang dari Bandung. Kamu bisa, 'kan temani Ibu?" pinta Bu Salma.
"Siapa, Bu?" tanya Daniar.
"Itu loh, Wak Haji Minah, yang rumahnya di daerah Cintaraja," jawab Bu Salma.
"Jam berapa?" Daniar kembali bertanya.
"Sepulang kamu kerja saja," jawab Bu Salma.
"Baiklah, Nanti Niar antar, Bu."
"Alhamdulillah, makasih ya Niar. Ya sudah, sekarang kamu tidurlah Niar. Ini sudah malam," perintah Bu Salma.
Daniar mengangguk. Dia kemudian merebahkan tubuhnya. Daniar menarik selimut untuk menutupi tubuh. Bu Salma membantu Daniar, dia kemudian mengecup pelan kening Daniar.
"Selamat malam, Sayang!" ucap Bu Salma.
Daniar hanya tersenyum kepada ibunya. Setelah melihat anaknya memejamkan mata, Bu Salma keluar dari kamar Daniar.
"Bagaimana Vu, apa Daniar mau mengantar Ibu?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 284 Episodes
Comments
Yuliana Purnomo
move on lah Daniar,,dr Seno sontoloyo
2024-03-07
0
Ghiie-nae
kamu harus tetap semangat Daniar...
apa pun yang terjadi kamu tetap semangat sayang💪💪💪
2023-01-20
0
Banyu
haah, ada apa dengan orang tua daniar
2022-09-10
5