Tak berapa lama setelah Ridwan menyendok nasi goreng untuk Daniar, Ratih pun datang. Ratih kemudian ikut bergabung untuk sarapan bersama mereka. Keheningan terjadi di meja makan. Hanya denting sendok dan piring saja yang terdengar nyaring di ruang makan itu.
Selesai sarapan, Daniar memutuskan untuk pulang. Dia kemudian berpamitan kepada Ratih.
"Niar pulang dulu, Mbak," kata Daniar sembari memeluk Ratih.
"Hati-hati di jalan, Niar. Jangan lupa, kabari Mbak jika sudah sampai di rumah," ucap Ratih.
Daniar mengangguk. Ridwan mengambil tas Daniar dan menyimpannya di kursi belakang. Setelah Daniar tiba di dekat mobilnya, Ridwan membukakan pintu mobil untuk Daniar. Uh, sungguh manis sekali perlakuan Ridwan pada Daniar. Hanya saja, sayangnya Daniar tidak pernah memiliki ketertarikan sebagai lawan jenis terhadap pemuda itu.
Ini hari Minggu. Jalanan pun terlihat lengang. Hingga tak sampai satu jam, Ridwan pun sampai di terminal Bekasi.
Ridwan memarkirkan mobilnya. Sejurus kemudian, dia kembali membawa tas jinjing Daniar. Ridwan tidak ingin kehilangan kesempatan untuk membantu wanita yang dicintainya. Dan entah kenapa, Ridwan merasa jika mungkin ini adalah pertemuan terakhirnya dengan Daniar.
"Kamu yakin dengan keputusan kamu itu, Niar?" tanya Ridwan saat mereka berjalan beriringan menuju bis yang akan membawa Daniar ke kampung halamannya.
Daniar mengangguk menanggapi pertanyaan Ridwan.
"Jujur, aku tidak tahu harus berkata apa. Di satu sisi, aku merasa senang, karena pada akhirnya kamu bisa melihat kenyataan tentang siapa Seno yang sebenarnya. Namun, di sisi lain, aku pun turut sedih melihat kamu muram seperti itu, Niar," ucap Ridwan. "Are you oke?" lanjutnya.
"Aku baik-baik saja, Wan," jawab Daniar. "Sudahlah, kamu tidak perlu mencemaskan aku. Justru, aku malah bersyukur karena Tuhan telah memberi tahu tabiat Seno sebelum aku menikah," lanjut Daniar, mencoba meredakan kecemasan Ridwan.
"Aku tahu, tapi ini artinya ... kita tidak akan pernah bisa bertemu lagi, Niar," celetuk Seno.
Daniar menghentikan langkahnya, sedetik kemudian dia tersenyum kepada Seno. "Jika Tuhan menghendaki, suatu saat kita pasti akan ketemu, Wan," ucap Daniar.
Ridwan menatap Daniar. Dia kemudian berkata, "Niar, aku tahu mungkin ini terlalu cepat, tapi kamu sendiri tahu jika aku menyimpan rasa untukmu. Maukah kamu menikah denganku?"
Daniar memang sangat mengetahui perasaan Ridwan terhadapnya. Namun, tidak dipungkiri jika dia pun terkejut mendengar perkataan Ridwan barusan. Daniar tidak menyangka Ridwan sanggup melamarnya di saat dia sendiri tahu rupa Daniar yang sebenarnya.
"Maafkan aku, Wan. Aku bukan orang yang pantas untuk menerima cinta kamu," ucap Daniar.
"Hanya aku yang berhak menilai pantas tidaknya seorang wanita untuk mendampingi aku, Niar," tegas Ridwan.
"Aku tahu, Wan. Tapi saat seorang wanita ditakdirkan untuk menikah, dia tidak hanya menikah dengan suaminya. Namun, dia juga harus bisa memiliki ikatan dengan keluarganya. Kamu mungkin bisa menerima aku apa adanya, tapi apa keluarga besar kamu bisa melakukan hal yang sama? Enggak, Wan. Aku nggak mau jika terlalu memaksakan diri dan hanya akan membuat masalah kehidupanku semakin bertambah. Lagi pula, aku sudah membuang mimpiku untuk menikah. Saat ini, fokus aku hanya satu, menyelesaikan kuliah dan mencari pekerjaan yang layak. Aku ingin membahagiakan kedua orang tuaku, Wan. Sudah terlalu banyak mereka mengeluarkan air mata karena sikapku yang buruk dan egois," tutur Daniar panjang lebar.
"Aku mengerti," jawab Ridwan.
"Tasik... Tasik... Tasik! Ayo yang mau ke tasikmalaya, bus-nya masih kosong!"
Tiba-tiba teriakan kondektur, memungkas pembicaraan Ridwan dan Daniar.
"Mobilnya sudah datang, aku pergi dulu, Wan," ucap Daniar.
Ridwan menyerahkan tas Daniar seraya berkata, "Niar, bolehkah aku memelukmu?"
Daniar tersenyum. Sejurus kemudian, dia mengangguk, membuat Ridwan sontak memeluk tubuhnya erat.
"Jaga diri baik-baik, Niar," ucap Ridwan.
Kembali Daniar mengangguk, menjawab ucapan Ridwan. Tak lama kemudian, Ridwan melepaskan pelukannya. Untuk sejenak, mereka saling bertatapan. Hingga anggukkan Ridwan membuat Daniar membalikkan tubuhnya dan berjalan menaiki bus yang akan membawanya pulang.
.
.
"Tunggu Seno, kamu tidak bisa melakukan ini padaku!" teriak Shakila, mengejar Seno yang hendak keluar rumah.
Seno membalikkan badan. "Apalagi, Sha?" tanya Seno dengan wajah kesal.
"Kamu tidak bisa seenaknya datang dan pergi begitu saja, Sen. Kamu harus bertanggung jawab," kata Shakila, mendekati Seno.
"Ah, Sha ... apa dengan menghancurkan hubungan aku dengan Daniar, belum cukup juga bagimu?" ucap Seno.
"Maaf, Sen. A-aku tidak bermaksud seperti itu," jawab Shakila.
"Sudahlah, Sha. Semuanya sudah terjadi. Tapi kamu jangan pernah berharap banyak pada pernikahan kita. Aku sudah bilang sama orang tua kamu jika aku akan menikahi kamu. Namun, setelah anak itu lahir, aku ingin kita berpisah," kata Seno dengan angkuhnya.
"Ta-tapi, Sen ..." Shakila tak mampu berkata apa-apa lagi.
"Keputusan aku sudah bulat Sha, aku akan menikahi kamu, tapi setelah anak itu lahir, aku akan menceraikan kamu. Titik!" ulang Seno.
Seno tak ingin memperpanjang urusan lagi dengan Shakila. Setelah menyampaikan niatnya kepada orang tua Shakila, Seno pun pergi begitu saja.
Shakila hanya mampu bergeming melihat sikap Seno yang berubah. Dia tidak menyangka jika kejujurannya justru malah membuat Seno menjauh darinya.
"Kenapa diam, Sha? Bukankah ini yang kamu harapkan? Menikah dengan Seno?" tanya Sherina, sang kakak.
Shakila menatap Sherina yang tersenyum sinis kepadanya. Dia sadar, mungkin saat ini sang kakak sedang mentertawakan dirinya.
"Tolong jangan ganggu aku!" tegas Shakila.
"Sha-sha, sudah aku peringatkan jika Seno hanya seorang laki-laki bajingan. Apa yang sebenarnya kamu harapkan dari laki-laki seperti itu? Di saat sudah bertunangan pun dia mampu berselingkuh. Lalu, apa kamu yakin jika dia menikahimu, dia tidak akan berselingkuh juga? Huh, Kakak nggak nyangka kalau kamu itu sangat ceroboh sekali, Sha. Bisa-bisanya kamu menyerahkan harga diri kamu pada laki-laki brengsek itu," ledek Sherina.
"Mama!" Shakila mulai merengek memanggil ibunya.
"Sudahlah, Sha! Tidak perlu merajuk seperti itu. Mama sudah tahu niat Seno yang akan menikahi dan menceraikan kamu. Kakak kamu memang benar. Kamu sungguh ceroboh sekali, Sha. Sekarang, tanggung sendiri akibatnya!"
Bukannya membela putri bungsu seperti biasanya, kini Ibu Renata malah menyalahkan sikap Shakila yang menurutnya tidak bijak. Sejak Bu Renata tahu jika Seno telah bertunangan, dia sudah berusaha untuk menasihati Shakila agar tidak terlalu jauh menjalin hubungan dengan laki-laki itu. Namun, rupanya Shakila tidak mengindahkan nasihatnya. Dan sekarang, Bu Renata harus menuai kekecewaan akibat keegoisan putri bungsunya.
Semuanya sudah terlanjur basah. Mau tidak mau, Bu Renata harus menerima keputusan Seno yang akan merugikan putrinya. Ya, daripada Shakila hamil tanpa menikah, mungkin menerima keputusan Seno lebih baik. Setidaknya untuk saat ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 284 Episodes
Comments
Alleyza Azura
anaknya ngeyel sih
2023-01-07
0
Aazuraa
ooh ridwan
2023-01-05
1
Cian.
izinkan saya berkata, juancok kau seno!
2022-09-25
1