Sepanjang perjalanan, Daniar hanya mampu bersandar seraya memejamkan mata. Kenangan demi kenangan yang pernah dia lalui bersama Seno, kembali berkelebat dalam ingatannya. Daniar tersenyum saat kenangan manis itu singgah. Namun, seketika senyum itu sirna saat Daniar teringat kembali kejadian semalam. Dadanya pun mulai kembali sesak.
Daniar mencoba menarik napas panjang, dan mengembuskannya dengan perlahan. Dia berharap, cara seperti itu akan membuat rasa nyeri di hatinya sedikit menghilang. Namun, percuma saja, semakin Daniar berusaha melupakan, semakin jelas pula kata-kata wanita itu terngiang di telinganya. Aku hamil! Aku mengandung anak Seno.
"Aaargh!"
Daniar memekik keras membuat pria yang sedang terlelap di sampingnya, sontak terbangun. Pria itu menatap Daniar seraya mengerutkan dahi. Ish, apa dia mengigau? batinnya.
Yandri mengulurkan tangan hendak membangunkan gadis di sebelahnya. Namun, niatnya terhenti saat dia melihat bulir air mata jatuh di kedua pelupuk mata gadis itu. Yandri pun mulai mengedarkan pandangan, mencari kursi yang masih kosong. Beruntungnya, dia melihat jika di belakang masih tersedia jok yang kosong. Yandri segera meraih tas ranselnya. Dia kemudian berpindah tempat. Duduk bersama seorang gadis yang sedang berduka, sungguh membuat Yandri tidak nyaman.
"Maafkan aku, Nona!" bisik Yandri sebelum dia beranjak dari tempat itu.
Mendengar suara lirih seseorang, Daniar membuka mata. Dia menoleh ke samping, tapi tak ada seorang pun yang duduk bersamanya.
"Ah, mungkin hanya perasaanku saja," gumam Daniar. Dia kemudian mengeluarkan headset dari tas selempangnya. Sejurus kemudian, Daniar memasang musik untuk membantunya terlepas dari kenangan bersama Seno.
.
.
Menjelang asar, bus tiba di terminal Indihiang. Para penumpang segera mengemasi barang-barangnya. Begitu juga dengan Daniar. Dia kembali meraih tas jinjingnya dan berjalan keluar dari bus.
"Niar!"
Sapaan ayahnya sontak membuat Daniar menoleh. Daniar pun segera berlari untuk menemui ayahnya. Tanpa dia sadari, sebuah motor melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi di depan Daniar.
"Daniar, awas!" teriak Pak Fandi.
"Aaargh!"
Bugh!
Daniar terjerembab ke belakang. Tubuhnya menimpa tubuh seseorang yang menarik tangannya.
"Huft!"
Dada laki-laki itu terasa sesak saat tubuh Daniar menindihnya. Sesaat, dia menatap Daniar yang sedang menutup mata. Ish, kenapa matanya bengkak sekali, gumam Yandri dalam hati.
"Niar, kamu tidak apa-apa, 'kan?" tanya Pak Fandi.
Suara sang ayah sontak membuat Daniar membuka mata. Daniar begitu terkejut saat melihat wajah seorang pria di hadapannya. Pria berwajah dingin tanpa ekspresi apa pun.
"Eh, ma-maaf," ucap Daniar seraya berdiri.
Yandri tidak menjawab. Dia hanya ikut berdiri seraya membersihkan debu yang melekat pada pakaiannya.
"Terima kasih sudah menyelamatkan putri saya," ucap Pak Fandi.
"Sama-sama," jawab singkat Yandri.
Tak ingin berbasa-basi lagi, Yandri segera pamit saat melihat bus yang akan membawanya ke kampung halaman melintas di hadapan mereka.
"Dasar pria aneh," celetuk Daniar.
Pak Fandi tersenyum. "Meskipun aneh, tapi dia penyelamat hidup kamu, Niar. Kamu berhutang nyawa padanya," tukas Pak Fandi.
"Ish, Ayah," rengek Daniar.
"Hmm, ya sudah. Ayo kita pulang!" ajak Pak Fandi seraya menggandeng tangan putrinya.
Daniar tersenyum. Dia kemudian mengikuti langkah Pak Fandi. Meskipun jauh di lubuk hatinya, Daniar semakin kebingungan untuk mengungkap kebenaran tentang status pertunangannya yang telah berakhir kepada kedua orang tuanya.
.
.
Di dalam bus kecil, Yandri memejamkan mata. Ucapan sang kakak ipar masih menggaung jelas di telinganya.
"Kakak kamu itu sudah berkeluarga, Yan. Sampai kapan kamu akan selalu merepotkan dia dengan urusan kamu sendiri? Bukankah kamu sudah dewasa? Sudah saatnya kamu mandiri. Jangan selalu bergantung terus kepada kakakmu!" ucap sinis Laila.
"Aku tahu, Kak. Tapi aku tidak punya pilihan lain. Hanya Kak Nauval satu-satunya harapanku. Lagi pula, aku bukan meminta, tapi hanya meminjam Kak. Aku mohon, pinjami aku uang untuk membayar biaya PPL, Kak. Aku janji, begitu lulus, aku akan mencari pekerjaan dan membayar semua yang pernah aku pinjam dari Kakak," jawab Yandri.
"Sudahlah, Yan. Tidak usah hiraukan ucapan kakak iparmu. Berapa jumlah yang kamu butuhkan untuk biaya kuliah kamu?" tanya Nauval seraya mengeluarkan dompetnya.
"Enak saja kamu ngomong!" tukas, Laila seraya merebut dompet suaminya. Laila kemudian mengeluarkan tiga lembar uang seratus ribuan. "Pulanglah, Yandri! Jangan usik kehidupan kami lagi!" perintah Laila seraya menyerahkan uang tersebut. "Dan kamu, Mas. Berani kamu memberikan uang sepeser pun kepada saudara-saudara kamu di belakangku, kamu tanggung sendiri akibatnya!" ucap Laila, geram.
Laila mendorong tubuh Yandri agar segera keluar dari rumahnya. Sesaat setelah Yandri keluar, Laila pun membanting pintu rumahnya dengan keras.
"Ongkosnya, Mas!"
Suara kondektur membuyarkan lamunan pemuda itu. Yandri merogoh saku celananya dan mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu.
"Jatiwaras, Bang," ucap Yandri seraya menyerahkan uang tersebut.
Menjelang magrib, Yandri tiba tempat tujuannya. Dia berjalan menuju pangkalan ojeg. Berharap jika masih ada ojeg yang tersisa yang akan membawa dia ke kampungnya. Maklumlah, Yandri adalah sosok pemuda yang lahir di desa terpencil. Jarak dari rumahnya ke jalan raya, memakan waktu selama satu jam. Satu-satunya kendaraan umum yang melewati rumahnya hanyalah ojeg. Namun, kendaraan beroda dua ini pun tidak akan ada jika malam mulai menjelang.
Yandri Gunawan. Seorang pemuda sederhana yang mempunyai cita-cita mulia, yaitu menjadi seorang tenaga pendidik. Keterbatasan materi, tidak membuat dia menyerah. Meskipun pada kenyataannya, kedua orang tuanya tidak terlalu mementingkan pendidikan. Bagi mereka, pekerjaan adalah yang paling utama.
Yandri anak kelima dari tujuh bersaudara. Semua saudara-saudaranya hanya mengenyam bangku sekolah hingga tingkat dasar. Setelah itu, kedua orang tuanya memberi mereka uang sebagai modal usaha. Tapi tidak dengan Yandri.
Tekadnya untuk melanjutkan pendidikan begitu kuat. Karena itu, sedari kecil Yandri sudah mengenal pekerjaan. Dimulai dari mencari kayu bakar di hutan kemudian dikumpulkan dan dijual ke tetangga, mengumpulkan buah-buahan pada musim buah dan menjualnya kepada bandar, memburu burung di tengah hutan dan menjualnya kepada anak-anak kecil, sampai berjualan es sembari sekolah. Semuanya Yandri lakoni hanya untuk mengumpulkan rupiah sebagai bekal kuliahnya.
Namun beberapa hari yang lalu, Yandri merasa kebingungan saat harus membayar uang PPL yang nominalnya cukup besar. Karena itulah Yandri pergi ke kota untuk meminta bantuan sang kakak. Sayangnya, kakak ipar Yandri merasa terganggu dengan kehadirannya. Ya, bagi Laila, saudara Nauval hanyalah benalu yang selalu menyusahkan diri dan suaminya.
Yandri merogoh saku celananya. Uang pemberian Laila hanya tersisa selembar lagi. Tidak mungkin dia pulang dalam keadaan tidak berhasil mendapatkan uang untuk membayar PPL. Saudaranya pasti akan mencerca dia, dan para tetangga pasti akan mentertawakan dirinya. Akhirnya, Yandri kembali menyeberangi jalan. Dia menghentikan sebuah bus yang melintas dan menaikinya.
Bagaimanapun caranya, aku harus bisa mengikuti PPL.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 284 Episodes
Comments
Yuliana Purnomo
moga ada jalan Yandri,,, sukses kedepannya baru tampol mulut Laila dgn uang lembaran merah
2024-03-07
0
Alleyza Azura
semangat yandri
2023-01-07
0
Chima
hai kk, aku mampir
2022-10-09
4