"Ish, kenapa kepalaku berat sekali," gumam Seno saat terbangun di pagi hari.
"Morning, Honey!" Devia datang menyapa Seno seraya membawa secangkir teh lemon hangat. "Minumlah! Ini akan meredakan sakit di kepalamu," lanjut Devia seraya menyerahkan cangkir tersebut.
"Kau? Sedang apa kau di sini?" tanya Seno seraya bangkit. "Ish!" Seno meringis saat kepalanya mulai berdenyut.
"Haish, tenanglah, Seno."
Kini Devia duduk di samping Seno dan membantu Seno untuk bangun. Setelah itu, Devia mendekatkan cangkir tersebut di bibir Seno. "Minumlah!" perintah Devia.
Seno menurut. Dia kemudian mereguk teh lemon hangat buatan temannya itu. Namun, saat menyadari Devia hanya mengenakan jubah handuk, Seno pun mulai mengernyitkan kening. Sambil mereguk minumannya, Seno mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.
"Di mana aku?" tanya Seno seraya menatap tajam ke arah Devia.
"Kamu sedang berada di apartemen aku, Sen," jawab Devia.
"Apartemen kamu?" ulang Seno.
"Ya, apartemen aku," jawab Devia seraya beranjak dari tempat tidur.
Devia melangkahkan kaki menuju lemari pakaian. Dia membuka lemari tersebut dan mengambil setelan jeans beserta t-shirt berwarna abu. Tanpa merasa malu, Devia membuka jubah handuknya dan mulai mengenakan helai demi helai kain yang akan membalut tubuh mulusnya.
"Ish, apa urat malu kamu sudah hilang? Berani kamu bertelanjang bulat seperti itu di hadapan seorang laki-laki. Benar-benar tidak tahu diri!" bentak Seno.
Sambil menarik celana jeans-nya, Devia tersenyum sinis. "Ayolah, Sen ... tidak usah menjadi orang munafik. Bukankah kau juga menikmatinya semalam? Lenguhan panjang kamu semalam, tidak akan bisa membohongi aku jika kamu juga sangat menikmati malam panjang kita," balas Devia yang langsung membuat mata Seno terbelalak sempurna.
"Apa kau bilang?"
Seno berdiri. Namun, saat selimut terjatuh dari tubuhnya, Seno menyadari jika sesuatu terjadi antara dirinya dan wanita itu. "Apa yang kau lakukan padaku?" tanya Seno.
Sekarang, Devia melangkahkan kaki menuju meja rias. Sejenak, dia mematut dirinya di depan cermin meja rias. Dia membuka lilitan handuk di kepalanya, hingga rambutnya yang masih terlihat basah, jatuh tergerai begitu saja.
"Bukan hanya aku yang melakukan, Sen. Tapi kita! Hmm, memangnya apa lagi yang pria dan wanita dewasa lakukan di saat tidur seranjang? Main ludo?" ledek Devia yang mengira jika Seno pura-pura tidak tahu tentang kejadian semalam.
"Ish, nggak jelas banget!" gerutu Seno.
Jengah dengan perkataan Devia. Seno akhirnya memunguti pakaian dia yang berserakan tak karuan di atas lantai. Nasi sudah menjadi bubur. Seno akhirnya menyadari jika semalam mungkin dia telah bercampur dengan Devia. Sudah tanggung juga, akhirnya Seno pun memakai pakaiannya di depan Devia.
Devia menatap bagian belakang tubuh Seno seraya menyeringai. Rasa penasaran mencicipi tubuh atletis laki-laki itu, kini sudah terobati. Devia pun hanya mengulum senyum saat kembali merasakan mahkotanya yang berdenyut.
.
.
Matahari mulai muncul. Namun, Ridwan sudah duduk di kursi depan kontrakan Ratih. Semalaman Ridwan tidak mampu memejamkan mata. Bayangan wajah muram Daniar, membuat Ridwan tidak mampu merangkai mimpi. Pada akhirnya, Ridwan memutuskan untuk pergi ke rumah Ratih begitu selesai solat subuh.
"Astaghfirullah, Wan!" pekik Ratih yang begitu terkejut mendapati orang tengah tertidur bersandar di kursi berandanya.
Ridwan mengerjap. Sejurus kemudian, dia menegakkan tubuhnya. "Mbak Ratih," jawab Ridwan.
"Ngapain kamu tidur di sini?" tanya Ratih, "tunggu-tunggu, apa semalaman kamu tidur di sini?" tanya Ratih, curiga.
Ridwan hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Sebenarnya ... Ridwan sudah sejak subuh berada di sini, Mbak. Itu ... anu, semalam Ridwan nggak bisa tidur. Ridwan kepikiran terus sama Daniar. Jadi, selepas subuh, Ridwan kemari," jawab Ridwan, jujur.
Ratih hanya tersenyum mendengar kejujuran Ridwan. Dia kemudian membuka lebih lebar lagi daun pintu rumah kontrakannya.
"Masuklah! Daniar sedang berganti pakaian. Sambil menunggu Daniar, kamu bisa sarapan dulu, Wan. Mbak sudah masak nasi goreng tadi," ucap Ratih.
"Siap, Mbak!" jawab Ridwan.
Ratih tersenyum. Dia kemudian melangkahkan kakinya.
"Loh, Mbak mau ke mana?" tanya Ridwan.
"Mbak mau memberikan ini pada bang Atta," ucap Ratih seraya menunjukkan rantang yang dia bawa.
Ridwan tersenyum. "Sampaikan salam Ridwan untuk bang Atta, Mbak," pinta Ridwan.
"Oke," jawab Ratih.
Setelah Ratih pergi, Ridwan mengayunkan langkahnya menuju dapur. Ridwan sudah tidak segan lagi saat berada di rumah kontrakan Ratih. Baginya, Ratih sudah seperti kakaknya sendiri. Terlebih lagi, Ratih dan kakak perempuan Ridwan bersahabat.
Tiba di dapur, Ridwan segera mengambil piring dan menyendok nasi goreng buatan Ratih. Dia makan begitu lahapnya. Memikirkan Daniar semalaman, membuat Ridwan melupakan makan malamnya.
.
.
Daniar menyisir rambutnya. Hari ini, dia memutuskan untuk pulang. Ya, meskipun terselip keraguan dalam hati. Namun, Daniar harus bisa menyampaikan kabar buruk ini kepada orang tuanya.
Sejenak, Daniar duduk dan menatap bayangannya di cermin. Dadanya kembali sesak saat mengingat perintah mantan ibu mertuanya. Ya Tuhan, bagaimana cara aku menyampaikan semua keputusan ini kepada ayah? Dari mana aku harus memulainya? batin Daniar.
Drrt... Drrt...
Daniar terhenyak saat mendengar ponselnya bergetar di atas nakas. Dia kemudian mengambil benda pintar itu.
"Ayah?" gumam Daniar.
Hmm, baru saja Daniar memikirkan tentang pria paruh baya itu. Dan kini, pria itu sudah menghubungi anaknya. Apa ini yang dikatakan kontak batin antara anak dan ayah?
Daniar mengangkat telepon dari ayahnya.
"Assalamu'alaikum, Yah!" sapa Daniar.
"Niar, kapan kamu akan pulang? Kita harus segera mengurus semua keperluan untuk acara pernikahan kamu. Bukankah waktunya sudah semakin dekat?" kata ayah Daniar di ujung telepon.
Mendengar perkataan sang ayah, Daniar hanya mampu bergeming. Hatinya semakin pilu. Sesak di dadanya semakin bertambah. Ya Tuhan ... apa yang harus aku katakan pada ayah? batin daniar
"Niar, Sayang ... kok diam?" Ayah Daniar kembali bertanya.
"Eh, eng-enggak, Yah. Niar nggak pa-pa. Ayah tunggu Niar pulang dulu, ya? Jangan urus semuanya sendirian. Niar nggak mau Ayah kecapean," jawab Daniar.
"Lantas, kapan kamu pulang, Nak?"
"Insya Allah, hari ini Niar pulang, Yah."
"Ya sudah, hati-hati di jalan, Nak. Kabari Ayah jika sudah sampai di terminal Indihiang. Biar Ayah jemput kamu."
"Iya, Yah. Nanti Niar kabari. Niar tutup teleponnya ya, Yah. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Daniar menutup sambungan teleponnya saat sang ayah sudah menjawab salam. Sejenak, Daniar menghela napas.
Bagaimanapun caranya, aku harus mengatakan semua ini kepada ayah dan ibu. Aku tidak mau mereka terus berharap pada hubungan yang hampa ini. Semuanya telah berakhir, dan aku harus bisa mengatakan jika semuanya telah berakhir.
Daniar mengakhiri riasannya. Sejurus kemudian, dia membawa tas jinjingnya dan keluar kamar.
"Sarapan dulu, Niar!"
Daniar terkejut saat mendengar suara Ridwan dari arah dapur. Seketika Daniar menoleh. Tampak sahabatnya itu sedang asyik melahap nasi goreng yang dibuat Ratih dan dirinya selepas solat subuh tadi.
"Kamu di sini, Wan?" Daniar berbasa-basi dengan Ridwan.
Ridwan mengangguk
"Kapan datang?" tanya Daniar seraya duduk di hadapan Ridwan.
"Hmm, sekitar dua jam yang lalu," jawab Ridwan, masih asyik mengunyah makanannya.
"Kok nggak ngabarin Niar?" tanya Daniar lagi.
"Heee, nggak enak Niar, masa subuh-subuh gangguin anak gadis," gurau Ridwan.
Daniar hanya bisa tersenyum mendengar jawaban Ridwan.
"Kamu jadi, pulang hari ini?" tanya Ridwan.
Daniar mengangguk.
"Baiklah, biar nanti aku antarkan!" jawab Ridwan.
"Eh, nggak usah, Wan. Aku bisa sendiri, kok," Jawab Daniar.
"Ssst! Aku tidak suka penolakan Niar. Jangan protes dan makanlah!" ucap Ridwan seraya menyendok nasi untuk Daniar.
Daniar hanya tersenyum kecut melihat kebaikan Ridwan.
Ya Tuhan ... seandainya Seno juga memiliki sikap seperti Ridwan?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 284 Episodes
Comments
ℤℍ𝔼𝔼💜N⃟ʲᵃᵃ࿐ⁿʲᵘˢ⋆⃝🌈
pilih Ridwan aja deh niar pasting akan menyesal,,, drpd laki² kyk seno
2023-01-20
1
Chima
ridwan kok baik banget ya
2022-09-17
1
Tika
ridwan dan seno itu berbeda niar
2022-09-16
0