Seno dan ibunya begitu terkejut mendengar jawaban Daniar. Selama ini, mereka mengenal sosok Daniar adalah sosok wanita yang lembut dan penurut. Karena itu, Seno dan Bu Frida selalu mengambil keputusan tanpa mempertanyakan terlebih dahulu kepada Daniar. Termasuk keputusan tanggal pernikahan yang terkesan terlalu lama.
Ya, dua tahun... Daniar harus menunggu dua tahun untuk bisa menikah dengan alasan menunggu Seno lulus kuliah. Dan sekarang, bukannya lulus, Seno justru malah terkena Drop Out karena jarang masuk kuliah. Parahnya lagi, dua minggu menjelang pernikahannya, Daniar malah nendapati Seno menghamili wanita lain.
"Lalu, apa mau kamu sekarang, Niar? Apa kamu punya solusi yang lebih baik daripada ide Seno yang kamu sebut konyol itu?" tanya Bu Frida, sedikit meninggikan nada bicaranya.
Tidak bisa dipungkiri, Bu Frida merasa kesal melihat sikap Daniar. Jika boleh jujur, Bu Frida sendiri tidak terlalu menyukai Daniar. Hanya saja, dia tidak dapat menolak perintah sang ayah mertua yang memilih Daniar sebagai calon menantunya. Terlebih lagi, saat melihat kenyataan jika putranya telah memiliki hubungan yang terlalu jauh dengan Daniar. Mau tidak mau, Bu Frida pun menerima pertunangan mereka.
"Iya, Bu. Keputusan Niar sudah bulat. Niar ingin mengakhiri pertunangan ini," tegas Daniar.
"Apa?" pekik Seno yang begitu terkejut dengan gadis lugu miliknya, "apa maksud kamu ingin mengakhiri pertunangan ini, Niar?" lanjutnya, menatap lekat ke arah Daniar.
"Benar, Sen. Maafkan aku, tapi aku tidak bisa mengikuti semua keinginan kamu," jawab Daniar kali ini.
"Lalu hubungan kita? Kebersamaan kita yang sudah bertahun-tahun kita jalani, apa akan kamu lepaskan begitu saja?" tanya Seno yang mulai kesal.
"Lalu aku harus bagaimana, Sen? Ini bukan pertama kalinya kamu menyakiti perasaan aku. Bahkan, tanganku selalu terbuka setiap kali kamu meminta maaf. Namun, apa pernah kamu menghargai maaf yang aku berikan? Selama ini, hanya aku yang setia. Hanya aku yang harus mendengar dan menerima semua perkataanmu, tapi kamu? Sedikit pun kamu tidak pernah menghargai semua kesetiaan aku. Hubungan kita sudah tidak sehat, dan ini tidak benar, Sen. Sangat tidak benar!" tekan Daniar yang tak mampu membendung lagi perasaan kecewanya.
"Baiklah, Niar. Aku pegang keputusan kamu. Lihat saja nanti, kamu pasti akan menyesal karena telah mengakhiri hubungan kita!" ucap Seno seraya menendang meja di hadapannya. Sejurus kemudian, Seno pergi meninggalkan Daniar dan ibunya.
Bu Frida menarik napasnya panjang. Rasa lega menghampiri lubuk hatinya. Akhirnya, dia tidak harus bersusah payah menyusun rencana untuk memisahkan Seno dari Daniar.
"Apa kamu yakin dengan keputusan kamu itu?" tanya Bu Frida menyelidik.
"Niar yakin, Bu," tegas Daniar.
"Baiklah. Satu hal yang harus kamu garis bawahi, Niar. Saat ini, kamulah yang telah memutuskan ikatan pertunangan ini. Seharusnya, kamu mengembalikan cincin dan juga semua barang yang telah kami berikan saat lamaran dulu. Tapi, aku tidak akan meminta semua itu kembali. Anggap saja itu sebagai ganti rugi atas semua perbuatan Seno kepada kamu," ucap Bu Frida dengan angkuhnya.
Daniar mengepalkan kedua tangannya mendengar perkataan mantan calon ibu mertua.
Yang benar saja... ganti rugi? Ish, seumur hidup pun kalian tidak pernah bisa memberikan kompensasi yang pantas padaku. Masa depanku hancur karena mulut manis dan janji palsu laki-laki brengsek itu. Kamu benar-benar bajingan, Seno! umpat Daniar dalam hatinya.
Daniar sadar, saat ini dia tidak bisa meluapkan semua emosi akibat kerugian yang dia derita. Andai pun Daniar bicara, mantan calon mertuanya pasti akan memojokkan dia. Sebagai seorang wanita, Daniar akui, dia begitu bodoh karena terlalu percaya akan bujuk rayu seorang laki-laki.
Nasi sudah menjadi bubur. Saat ini, Daniar hanya bisa berharap jika keluarga Seno tidak akan mempermalukan keluarganya lebih jauh lagi. Semua masyarakat di kampung telah mengetahui tanggal pernikahan Daniar. Jika memang harus berakhir, maka Daniar menginginkan keluarga Seno datang untuk mengakhiri semuanya. Daniar tidak mau melumuri wajah keluarganya lagi dengan kekotoran dari sikap sembrono-nya.
"Jika memang harus dikembalikan, tidak masalah, Bu. Daniar pasti akan mengembalikan cincin pertunangan dan semua barang yang telah Ibu berikan. Akan tetapi, tolong beri Daniar waktu untuk mengumpulkan uang yang sudah terpakai saat acara lamaran dulu. Daniar janji, secepatnya Daniar akan mengembalikan semua itu," kata Daniar.
"Ish, Niar. Sudah kubilang tidak perlu. Kami tidak akan pernah meminta kembali apa yang pernah kami berikan. Hanya saja, tolong kamu bilang sendiri kepada kedua orang tua kamu bahwa pertunangan ini sudah putus. Katakan juga, kamulah yang meminta Seno untuk mengakhiri ikatan pertunangan di antara kalian," tegas Bu Frida.
Bagaikan tersengat arus listrik, Daniar terkejut mendengar perkataan Bu Frida. Sudah jelas-jelas anaknya yang salah. Lalu, kenapa dia juga yang harus kembali melempar kotoran kepada orang tuanya? Selama ini, hati kedua orang tuanya telah begitu sakit menerima perlakuan dirinya yang telah salah jalan. Lalu, haruskah dia kembali menyayat hati ayah ibunya dengan mempermalukan mereka di hadapan masyarakat.
"Kenapa harus Niar, Bu? Bukankah Seno yang telah melakukan kesalahan? Seandainya Seno bisa menjaga dirinya, semua ini tidak akan terjadi. Hubungan kami pasti baik-baik saja. Ibu juga seorang wanita. Ibu pasti bisa merasakan apa yang Niar rasakan saat ini," ucap lirih Daniar.
"Ibu tahu, Niar. Namun, Ibu mana yang bisa menerima anaknya dijelek-jelekkan meskipun dia bersalah," jawab Bu Frida tanpa rasa malu.
Ya Tuhan...apa seperti ini didikan yang diberikan oleh seorang ibu yang berstatus wanita karir? batin Daniar, yang menyadari jika Bu Frida adalah seorang pengusaha sukses di bidang properti.
"Lalu, alasan apa yang harus Niar katakan pada orang tua Niar, Bu? Tidak mungkin juga Niar bilang kalau kami sudah tidak cocok lagi," tanya Niar.
"Terserah! Ibu tidak mau tahu kamu mau mengarang alasan seperti apa. Ingat Niar, kamu yang minta putus. Jadi, cari saja alasan yang menurutmu tepat, tapi jangan menyeret kami ke dalam masalah lagi! Ibu lelah, sebaiknya kamu istirahat saja," pungkas Bu Frida mengakhiri keputusan sepihaknya.
Setelah berbicara panjang lebar dengan calon menantu yang tak jadi, akhirnya Bu Frida pergi ke kamar. Malam sudah semakin larut. Dia sendiri sudah lelah karena seharian berkeliling menagih uang kontrakan di sekitar rumahnya. Belum lagi, besok pagi dia harus memantau pembangunan beberapa rumah bedeng di belakang pabrik yang baru didirikan di tempatnya.
Daniar menghela napas. Sesaat, dia melirik jam mungil di pergelangan tangan. Sudah hampir pukul 11 malam. Setelah kata putus keluar dari bibirnya, dia merasa sudah tidak punya hak untuk menginap di rumah mantan calon mertuanya. Namun, Daniar sendiri tidak mungkin pergi ke terminal, untuk pulang ke kampung halamannya. Tiba-tiba saja, dia teringat pesan Ridwan. Daniar segera mengeluarkan ponsel untuk menghubungi Ridwan.
"Bisakah kamu mengantarkan aku ke tempat Mbak Ratih?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 284 Episodes
Comments
Atik
baru tiga bab, udah greget bacanys
2025-01-11
0
yan's
astoge
2023-01-30
1
𝓐𝔂⃝❥Ŝŵȅȩtŷ⍲᱅Đĕℝëe
Iya benar kamu mending pergi dari rumah itu.
2023-01-20
1