Tiba-tiba seorang wanita paruh baya telah berdiri di belakang Daniar. Seketika, Daniar menoleh ke belakang.
"Ibu," gumam Daniar.
"Ada apa ini, Niar?" tanya wanita yang tak lain adalah calon mertuanya. Namun, wanita paruh baya itu melirik seseorang yang berdiri di belakang putranya. "Shakila? Sedang apa kamu di sini?" tanya Ibu Frida.
"Mama... a-aku... mm, aku," jawab wanita itu terbata.
Mama? batin Daniar, menatap calon mertua dan wanita selingkuhan tunangannya itu secara bergantian.
Sepertinya, mereka sudah saling mengenal satu sama lain. Ish, apa mungkin ibu juga tahu tentang kehamilan wanita itu? Siapa namanya tadi? Sha-shakila? Ya Shakila. Lagi-lagi Daniar bermonolog dalam hatinya.
"Apa Ibu mengenal wanita itu?" tanya Daniar, lembut.
"Ya, Ibu mengenalnya, Nak. Dia teman Seno dan juga putri tetangga Ibu saat dulu kami tinggal di Tambun," jawab Bu Frida.
Tetangga dulu? Apa itu artinya, mereka sudah saling mengenal sejak kecil? batin Daniar.
Entahlah, memikirkan pernyataan ibu Seno, membuat Daniar semakin yakin jika calon mertuanya pun sudah mengetahui perselingkuhan mereka.
"Ma-maaf... a-apa Ibu tahu jika mereka memiliki hubungan di belakang Niar?" tanya Daniar hati-hati.
Bu Frida terlihat menghela napasnya. Dan helaan napas itu membuat Daniar semakin yakin jika Bu Frida mengetahui sesuatu.
"Ibu?" panggil Daniar lagi.
Bu Frida mendekati Daniar. Dia mengusap bahu Daniar seraya berkata. "Jujur Niar, Ibu tidak tahu kedekatan mereka seperti apa. Namun, orang tua Shakila pernah mengajak Ibu untuk berbesan," jawab Bu Frida.
Daniar cukup terkejut mendengar pernyataan ibunya. "Kenapa Ibu tidak memberitahukan hal itu kepada Niar?" tanyanya.
"Karena Ibu pikir, semua itu tidak penting Niar. Lagi pula, hubungan pertunangan kalian sudah terjadi selama dua tahun. Dan setelah idul fitri nanti, kalian akan segera menikah, bukan?" tanya Bu Frida.
"Apa Ibu tahu, jika wanita itu kini tengah mengandung anaknya Seno?" tanya Daniar, tersenyum miris.
"Apa?" Bu Frida terlihat sangat terkejut mendengar ucapan Daniar. "Jangan asal bicara kamu, Niar!" tegur Bu Frida.
"Niar tidak asal bicara, Bu. Wanita itu datang kemari untuk meminta Niar agar melepaskan Seno. Apa Ibu pikir, hal seperti ini bisa dikatakan asal bicara? Ini bukan hal main-main, Bu. Seno, putra Ibu itu telah merusak masa depan dua wanita sekaligus. Niar dan dia!" Tunjuk Daniar kepada Shakila.
Bu Frida hanya bisa diam melihat wajah marah dan kecewa di raut wajah Daniar. Sedangkan Seno, laki-laki itu kembali mendekati Daniar.
"Niar, aku mohon... tenanglah!" ucap Seno.
"Apa kamu bilang? Tenang?" Daniar menepuk keningnya. "Ya Tuhan, Seno... sebenarnya terbuat dari apa hati kamu itu? Kenapa kamu bisa bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa? Lalu, bagaimana dengan nasib wanita itu?" teriak Daniar yang mulai habis kesabarannya.
"Sudah kubilang, tunggulah sampai dia melahirkan. Apa susahnya kamu menunggu? Bukankah sembilan bulan itu bukan waktu yang lama?" ucap Seno masih tetap kukuh memegang solusinya.
Bugh!
Tak ayal lagi, perkataan Seno membuat Ridwan melayangkan bogem mentahnya. Ya, Ridwan merasa muak dengan semua perkataan Seno yang tak pernah memikirkan perasaan orang lain.
"Shitt! Apa-apaan lu, Wan?!" teriak Seno, marah.
"Lu yang apa-apaan? Apa lu pikir wanita itu seperti boneka barbie yang bisa lu mainkan dan lu buang begitu saja, hah?" teriak Ridwan, geram.
"Lah, memangnya gue banci. Mana mungkin gue main boneka. Ada-ada saja lu, Wan. Lagian, ya... wanita itu ibarat pakaian. Lu sendiri tahu, 'kan, kalau pakaian sudah lusuh, ya tinggal kita buang," ucap Seno tanpa merasa bersalah sedikit pun.
Daniar hanya bisa menganga mendengar pendapat Seno tentang wanita.
Jadi, pria seperti ini yang hendak aku nikahi? Lalu, bagaimana nasib aku jika terus memaksakan diri menikah dengannya? Tidak menutup kemungkinan jika kelak dia juga akan menduakan aku. Bukankah saat sekarang menjadi tunangan aku juga, dia sudah berselingkuh? batin Daniar.
Bugh!
Lagi-lagi, Ridwan melayangkan tinju di wajah sahabatnya. Ucapan Seno kali ini, tidak hanya melukai perasaan wanita, tapi juga membuat gemuruh amarah di dada Ridwan kian memuncak. Ridwan tidak habis pikir dengan opini Seno yang begitu merendahkan kaum wanita.
Ish, apa dia tidak sadar jika dia juga terlahir dari rahim seorang wanita? Jika dia berani menghina wanita, itu artinya, dia sama saja menghina ibunya sendiri, batin Ridwan.
Seno tidak terima dirinya mendapatkan bogem mentah untuk yang kedua kali. Dia pun mendekati Ridwan dan membalas pukulan dari sahabatnya. Untuk beberapa menit, mereka saling baku hantam. Hingga akhirnya, teriakan Daniar dan Bu Frida menghentikan mereka.
Daniar mendekati Ridwan yang pelipisnya terlihat membiru. Sedangkan Shakila menghambur ke arah Seno yang jatuh di sudut ruangan.
"Cukup! Kalian seperti anak kecil saja. Sebaiknya kalian bubar dari sini! Shakila, Ridwan, kalian pulanglah! Dan kamu, Niar dan Seno, ikut Mama!" perintah Bu Frida.
"Ta-tapi, Ma." Shakila seolah enggan untuk meninggalkan rumah Seno.
"Pulanglah Kila, nanti kita bicarakan lagi," ucap Seno seraya mengusap lembut punggung tangan Shakila.
Sudut mata Daniar melihat perlakuan Seno yang begitu lembut kepada Shakila.
Jika dia memang mencintai gadis itu, lalu kenapa dia harus berlutut tadi. Cih, benar-benar laki-laki tidak punya pendirian! batin Daniar.
"Aku pulang, Niar. Jaga diri baik-baik. Hubungi aku jika sesuatu terjadi," pesan Ridwan.
Daniar hanya mengangguk menanggapi ucapan sahabatnya. Setelah Ridwan dan Shakila pergi, Daniar dan Seno pun keluar untuk menemui ibunya di rumah orang tua Seno.
"Duduklah!" ucap Bu Frida.
Daniar dan Seno duduk berdampingan di sofa panjang. Meskipun terkesan ada jarak di antara mereka.
"Keputusan apa yang akan kamu ambil Seno? Mama tidak ingin reputasi keluarga kita hancur karena kelakuan bejat kamu itu," ucap Bu Frida, geram.
"Seno sudah bilang, Ma. Satu-satunya jalan yang terbaik, Seno menikahi Shakila sampai anak itu lahir. Setelah itu, Seno akan bercerai dengan Shakila dan menikahi Daniar," ucap Seno berkata penuh keyakinan.
Gila! pekik Daniar dalam hati.
"Lalu, bagaimana dengan keluarga Daniar? Apa mereka akan mengizinkan Daniar menikah jika mereka tahu kamu pernah menikah dan punya anak?" tanya Bu Frida lagi.
Seno menatap Daniar. Dia kemudian mendekati Daniar dan menggenggam kedua tangannya. "Aku mohon, Niar... kamu mau, 'kan, nunggu aku dan menyimpan rahasia ini dari orang tua kamu?" ucap Seno, memelas dan memasang wajah penuh iba.
Cukup Seno! Aku tidak akan pernah membiarkan diriku untuk jatuh dalam perangkap yang sama. Dulu, Aku sudah pernah memaafkan kelakuan kamu dengan wanita lain. Aku sudah memberikan kamu kesempatan berkali-kali. Tapi sekarang, wanita itu hamil, dan hal ini sudah tidak bisa dibiarkan. Mungkin masa depanku telah hancur oleh perbuatan kamu, tapi aku masih bisa melanjutkan hidup tanpa kamu. Meskipun aku harus merelakan mimpiku untuk menikah, musnah. Tapi Shakila? Wanita itu tengah berbadan dua. Anaknya tidak pernah bersalah dalam hal ini. Aku tidak bisa membiarkan anak itu terlahir tanpa ayah. Tidak, Sen! Aku bukan orang yang kejam yang harus memisahkan seorang ayah dari anaknya. Lagi pula, setelah semua ini, menikah denganmu akan menjadi hal yang menjijikkan bagiku, batin Daniar.
"Maaf Sen, tapi aku tidak akan mengikuti ide konyolmu."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 284 Episodes
Comments
Yuliana Purnomo
tenggelam kan aja laki modelan Seno itu
2024-03-06
1
𝓐𝔂⃝❥Ŝŵȅȩtŷ⍲᱅Đĕℝëe
Udah Niar buang laki kek gitu, untung kamu segera sadar Niar
2023-01-20
1
🍭ͪ ͩ🐣ᷡ ᷤꮯ𑜼ӟꮪ🍒⃞⃟🦅🍀⃟🩷️
lah emaknya pun juga tau kalo mereka saling kenal
2023-01-20
1