"Niar, kamu capek nggak?" tanya Pak Fandi.
"Sedikit sih, memangnya kenapa, Yah?" tanya Daniar.
"Kalau kamu nggak capek, kita mampir dulu ke catering," ucap Pak Fandi.
"Catering? Mau ngapain, Yah?" tanya Daniar.
"Ya kita mau mencicipi makanan untuk sajian prasmanan nanti," jawab Pak Fandi.
Deg-deg-deg!
Jantung Daniar kembali berpacu dengan cepat. Dia merasa sesak melihat ayahnya begitu antusias mengurusi pernikahan Daniar.
Ya, wajar saja, Daniar adalah putri sulung dari pasangan Pak Fandi dan Bu Salma. Karena ini pertama kalinya bagi pasangan itu untuk menikahkan putrinya, mereka kemudian berbagi tugas agar pernikahan Daniar berjalan sempurna.
"Ayah, besok saja kita pergi ke catering-nya, ya. Daniar ingin segera bertemu ibu. Daniar kangen sama ibu," jawab Daniar mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Uuh, kamu itu Niar! Sudah mau jadi istri orang, tapi tetap manja," ledek Pak Fandi seraya terkekeh.
Daniar ikut tertawa kecil. Sejurus kemudian, dia melingkarkan kedua tangannya dan bersandar di punggung sang ayah. Maafkan Niar, Yah, batinnya.
Tingtong-tingtong!
Bel di rumah Bu Aisyah terus berbunyi. Membuat Bu Aisyah menggerutu saat acara dzikirnya terganggu.
"Ish, siapa yang datang malam-malam begini?" Gumam bu Aisyah.
Tiba di ruang tamu, Bu Aisyah melihat anak buahnya telah duduk di kursi tamu. Rupanya, sang suami sudah terlebih dahulu membukakan pintu.
"Ah, Ibu ... Bapak baru saja mau masuk ke dalam untuk memanggil Ibu," ucap Pak Agis. "Itu, di ruang tamu ada Yandri," lanjutnya.
"Iya, Ibu sudah lihat. Sebentar ya, Pak. Ibu samperin anak itu dulu," pamit Bu Aisyah seraya menghampiri Yandri.
"Assalamu'alaikum, Bu! Maaf mengganggu waktu istirahat Ibu," ucap Yandri seraya berdiri menyambut kehadiran Bu Aisyah.
"Duduklah, Pak Yan," titah bu Aisyah.
Yandri kembali duduk. Sejenak dia menundukkan kepala. Entahlah, dia merasa tak enak hati harus kembali melibatkan Bu Aisyah untuk mengatasi masalah keuangannya.
"Ada apa, Yan? Apa ada masalah, sampai kamu datang malam-malam begini?" tanya Bu Aisyah. "Bagaimana perjalanan kamu ke kota? Apa kamu sudah menemui kakakmu? Apa berhasil?" Bu Aisyah mencecar Yandri dengan berbagai pertanyaan.
Yandri semakin menundukkan kepala mendengar pertanyaan Bu Aisyah.
"Hhh, sudah aku duga," tukas Bu Aisyah, menghela napasnya.
"Maafkan saya, Bu," jawab Yandri yang tidak mengindahkan nasihat Bu Aisyah beberapa hari yang lalu.
"Yan, kamu itu sudah seperti putra Ibu sendiri, dan Ibu sangat ikhlas membantu kamu. Jadi jangan sungkan jika kamu memang butuh bantuan Ibu," ucap bu Aisyah, "hanya satu yang Ibu minta dari kamu. Bersikaplah tegas kepada ibu dan saudara kamu. Jangan biarkan mereka terus meminjam dengan menjaminkan gaji kamu. Ini sudah sangat kelewatan, Yan. Dan sekarang, giliran kamu butuh uang, gaji kamu sudah habis untuk membayar pinjaman mereka," tutur Bu Aisyah.
Yandri hanya bisa diam mendengar penuturan atasannya itu. Ya, dari awal, Bu Aisyah sudah menawarkan kebaikan untuk memberikan pinjaman kepada Yandri. Hanya saja, Yandri merasa tidak enak. Pinjamannya kepada tabungan sekolah tiga bulan yang lalu, belum mampu dia lunasi. Padahal, pinjaman tersebut bukan untuk kebutuhan pribadinya. Melainkan untuk keperluan adiknya yang ingin membeli ponsel baru.
"Dengar Yan, Ibu berkata seperti ini karena Ibu sangat peduli sama kamu. Suatu hari nanti, kamu akan menikah dan berkeluarga. Jika kamu tidak tegas hari ini, maka mereka akan terus-menerus mengganggu kehidupan kamu. Mungkin kamu bisa bersabar, tapi istrimu kelak? Apa dia bisa bersabar melihat gaji suaminya habis hanya untuk membayar utang orang lain?" tanya Bu Aisyah
"Ta-tapi mereka bukan orang lain, Bu. Mereka adalah ibu dan saudara saya," kata Yandri yang seolah membela keluarganya.
"Ibu tahu, tapi kamu jangan lupa, Yan. Saat kamu menikah nanti, kewajiban utama kamu adalah bertanggungjawab baik secara lahir maupun secara batin terhadap istri kamu. Sedangkan ibu dan saudara kamu, mereka hanya akan menjadi kerabat. Kamu lebih wajib menafkahi istri kamu ketimbang mereka. Paham kamu?" tegas Bu Aisyah.
Yandri mengangguk.
"Baiklah, berapa uang yang kamu butuhkan?" tanya Bu Aisyah.
"Ti-tiga juta, Bu," jawab yandri.
"Sebentar!"
Bu Aisyah pergi ke dalam untuk mengambil dompetnya. Sejurus kemudian, Bu Aisyah kembali lagi seraya membawa dompetnya.
"Ini, tiga juta. Segera bayarkan, supaya kamu bisa mengikuti PPL. Nanti, laporkan saja pada bagian bendahara," ucap Bu Aisyah.
"Iya, Bu. Terima kasih banyak," jawab Yandri.
Setelah menerima uang pinjaman itu, Yandri berpamitan kepada Ibu Aisyah.
.
.
"Mau ke mana, Bu?" tanya Daniar yang merasa heran melihat ibunya sudah rapi di pagi hari.
"Ibu mau melunasi uang sewa gedung, Niar," jawab Bu Salma.
Daniar terkejut mendengar maksud ibunya. Dia kembali merasa bersalah karena belum menceritakan tentang kebenarannya.
"Tidak usah, Bu. Biar nanti saja," ucap Daniar.
"Tidak bisa Niar, lebih baik kita bayar sekarang saja. Mumpung ada uang juga. Toh sekarang ataupun nanti, ya tetap harus dibayar juga, 'kan?" jawab Bu Salma.
"Bu, undangannya sudah jadi. Mau disebar sekarang, atau nanti?" tanya Danita, adik pertama Daniar.
Kembali Daniar terhenyak mendengar perkataan Danita. Ya, dia baru ingat jika dia kembali memesan undangan untuk keluarga jauhnya.
"Tidak usah disebar, Dek!" celetuk Daniar yang membuat Bu Salma dan Danita saling melempar pandang. "Ma-maksud Kakak, ti-dak usah disebar sekarang-sekarang. A-acaranya, 'kan ma-sih lama," lanjut Daniar.
"Ish, tidak apa-apa, Kakak. Mumpung Nita libur kerja. Biar Nita sebar hari ini saja," tukas Danita.
"Adek kamu benar, Niar. Kita bagi-bagi tugas saja. Ibu ke gedung untuk melunasi sewanya. Adek mengantarkan undangan, dan kamu ... emm, bukankah kamu sama ayah bakalan pergi ke catering untuk mencicipi masakannya?" timpal Bu Salma.
Kedua lutut Daniar terasa lemas mendengar ucapan ibunya. Ini tidak bisa dibiarkan lagi. Aku tidak mungkin diam dan melihat mereka sibuk mempersiapkan pernikahan yang tidak akan jadi kenyataan, batin Daniar.
"Ibu, apa kita bisa bicara?" ucap Daniar.
"Nanti saja ya, Niar. Ibu sedang terburu-buru. Ibu janji, kita akan bicara setelah Ibu kembali. Oke," jawab Bu Salma seraya hendak berlalu dari hadapan kedua putrinya.
Daniar mencekal pergelangan tangan Bu Salma untuk mencegah kepergiannya.
"Tidak Ibu, Niar harus bicara sekarang. Ini tentang pernikahan Niar," tegas Daniar.
Bu Salma menghentikan langkahnya. Dia kembali menatap Danita.
"Ada apa Kak Niar, sepertinya serius sekali?" tanya Danita.
"Duduklah, Dek!" perintah Daniar kepada adiknya, "ayo bu, kita duduk juga," ajak Daniar kepada ibunya.
Mereka akhirnya duduk saling berhadapan satu sama lain.
"Se-sebenarnya, ti-tidak akan ada pernikahan di keluarga ini, Bu," ucap Daniar, terbata.
"Apa maksud Kakak?" tegur Danita.
"Benar, Dek. Tidak akan ada pernikahan antara Kakak dan mas Seno. Hubungan kami sudah berakhir," tegas Daniar seraya mengangkat wajahnya agar bulir bening tidak tumpah dari matanya.
"Apa maksud kamu berakhir, Nak? Ada apa ini? Bisa kamu jelaskan pada kami?" cecar Bu Salma kepada Daniar.
"I-iya, Bu. Pertunangan Daniar dan mas Seno sudah putus," jawab Daniar lirih.
"Ta-tapi kenapa?" tanya Bu Salma.
"Ka-karena Daniar sadar kalau ternyata kami tidak cocok satu sama lain," jawab Daniar, mencoba menutupi kebusukan sikap Seno.
"Hah, tidak cocok?" tukas Bu Salma yang lagi-lagi mendapatkan kejutan dari putri sulungnya. "Semudah itu kalian memutuskan sebuah hubungan hanya karena tidak cocok. Apa kamu sadar, Niar. Undangan sudah tersebar, dan orang tua kamu sudah mempersiapkan segalanya hampir 50 %, dan sekarang kamu bilang pernikahan kalian batal hanya karena ketidakcocokan kalian. Ish, apa kalian pernah memikirkan perasaan kami sebagai orang tua? Kenapa, Niar? Kenapa?"
Bu Salma terlihat berbicara penuh emosi. Dia merasa tidak habis pikir dengan jalan pikiran Daniar yang kembali membuat kecewa di hatinya.
"I-ibu, Ni-niar hanya..." Daniar sudah kehabisan kata-kata untuk menjelaskan permasalahan yang sedang dia hadapi.
"Benarkah apa yang Ayah dengar?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 284 Episodes
Comments
Yuliana Purnomo
haah,, kenapa sih Niar gak jujur aja, kalau bakal calon lakinya menghamili orang lain
2024-03-07
0
Chima
sabar niar,tuhan bersamamu
2022-10-09
4
Nurul
kejujuran itu hal yang utama. sepahit apa pun
2022-09-08
4