Ridwan menepikan motornya saat dering ponsel di saku jaket terdengar nyaring. Sejurus kemudian, Ridwan merogoh saku jaketnya.
"Daniar?" gumam Ridwan saat melihat nama yang tertera di layar ponsel. "Hmm, semoga dia baik-baik saja." lanjutnya seraya menekan tombol hijau di ponselnya.
"Halo, Niar!" sapa Ridwan.
"Bisakah kamu mengantarkan aku ke tempat Mbak Ratih?" pinta Daniar di ujung telepon.
"Niar, apa kamu baik-baik saja?" tanya Ridwan yang terlihat cemas karena mendengar suara serak Daniar.
"A-aku ba-baik-baik saja, Wan," jawab Daniar, terbata.
"Baiklah, sekarang juga aku akan menjemput kamu di rumah orang tuanya Seno. Aku tutup teleponnya ya, Niar," kata Ridwan.
"Tunggu, Wan! Jangan ditutup dulu teleponnya!" Larang Daniar.
"Kenapa, Niar?" tanya Ridwan semakin khawatir.
"Tolong jemput aku di ujung gang saja. Aku sudah pergi dari rumah orang tua Seno," ucap lirih Daniar.
"Ish, Niar. Aku sudah bilang, tunggu aku datang kalau mau ke tempat Mbak Ratih. Ini sudah malam, Niar. Akan sangat berbahaya jika kamu berada di luar jam segini," tutur Ridwan.
"Aku tahu, Wan. Tapi aku sudah tidak bisa menunggu lagi. Aku sudah muak untuk berlama-lama di rumah itu," tegas Daniar.
"Apa yang terjadi, Niar? Katakan padaku! Apa Seno menyakiti kamu lagi?" tanya Ridwan yang kembali memasang wajah penuh amarah.
"Akan aku ceritakan setelah kita ketemu, Wan," jawab Daniar.
"Ya sudah kalau begitu. Tunggu aku, dan jangan ke mana-mana!" pungkas Ridwan mengakhiri pembicaraannya.
Setelah menutup telepon dan menyimpannya kembali di saku jaket, Ridwan kemudian memutar balik kendaraan beroda dua itu. Sedetik kemudian, dia kembali melajukannya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Memecah kesunyian di malam yang semakin dingin.
Jalanan yang sepi, membuat Ridwan cepat sampai di tempat Daniar menunggu. Dari kejauhan, tampak gadis itu sedang duduk berjongkok seraya menundukkan kepala di atas kedua lututnya. Rambut panjang terurai menutupi wajahnya. Ridwan menatap Daniar penuh rasa iba. Entah kenapa, hatinya begitu sakit melihat Daniar seperti itu.
"Niar!" panggil Ridwan.
Namun, rupanya Daniar seperti sedang tenggelam dalam pemikirannya sendiri.
Ridwan berjongkok di hadapan Daniar. Dia kemudian menyentuh bahu Daniar.
"Niar, apa kamu baik-baik saja?" Kali ini Ridwan bertanya seraya mengguncang pelan bahu gadis berambut panjang itu.
Daniar mendongak. Kedua pipinya basah, bahkan tetesan air mata masih terlihat luruh dari kedua sudut matanya. Wajah Daniar terlihat sembab dan memerah. Entah berapa lama dia menangis, yang jelas, kelopak matanya sudah sangat bengkak akibat menangis.
Ridwan sadar jika sahabatnya itu sedang menyimpan begitu banyak kesakitan. Tak sanggup melihat Daniar begitu rapuh, akhirnya Ridwan meraih kedua bahu Daniar dan membawa ke dalam pelukannya.
Daniar sudah berusaha tegar. Namun, saat dia merasakan kehangatan pelukan seorang kakak dari Ridwan, tangisnya pun pecah seketika. Tubuhnya terasa tak bertulang, hingga akhirnya Daniar jatuh di pelukan Ridwan. Kedua bahunya berguncang, isak tangisnya pun mulai kerap.
"Sst, tenanglah Niar!" ucap Ridwan sambil mengusap punggung Daniar.
Daniar tidak menjawab. Lidahnya seakan terkunci. Hanya hatinya saja yang semakin perih saat mengingat semua kejadian malam ini.
Setelah tangis Daniar reda, Ridwan mengajak Daniar berdiri. Dia memapah Daniar menuju motor yang terparkir di tepi jalan.
"Naiklah, Niar. Sekarang aku akan mengantarkan kamu ke tempat Mbak Ratih," ucap Ridwan.
Daniar tidak menjawab. Namun, dia patuh akan perintah sahabatnya. Daniar mulai menaiki motor Ridwan. Setelah melihat sahabatnya naik, Ridwan pun ikut menaiki kendaraan dan menyalakan mesinnya. Tak lama kemudian, motor pun melesat menyusuri gang kecil menuju daerah kontrakan para buruh pabrik yang berada di wilayah itu.
Setengah jam kemudian, motor berbelok ke halaman rumah kontrakan milik Ratih. Daniar turun, dia menunggu Ridwan memarkirkan motornya. Setelah itu, mereka berjalan beriringan menuju kontrakan Ratih.
"Permisi! Assalamu'alaikum!" Ridwan mengucapkan salam.
"Wa'alaikumsalam," jawab Ratih dari dalam rumah.
Beberapa menit kemudian, pintu rumah kontrakan terbuka.
"Ridwan, Niar?" ucap Ratih yang merasa heran kedua temannya bertamu malam-malam begini.
"Maaf mengganggu, Mbak. Ridwan kemari ingin menitipkan Niar di sini untuk malam ini. Apa Mbak tidak keberatan?" tanya Ridwan hati-hati.
Ratih menatap Daniar. Melihat raut wajah Daniar yang kacau balau, Ratih sepertinya paham jika sesuatu sedang terjadi dengan gadis itu.
"Tentu saja Mbak tidak keberatan, Wan. Bukankah Niar ini sudah Mbak anggap adik Mbak sendiri," tukas Ratih.
Ridwan tersenyum lebar. Dia merasa lega mendengar jawaban teman kakaknya itu. "Alhamdulillah, Mbak. Kalau begitu, Ridwan pamit pulang dulu," kata Ridwan berpamitan kepada Ratih.
"Kamu nggak mau masuk dulu, Wan?" tawar Ratih.
"Hmm, terima kasih, Mbak. Ini sudah malam, Ridwan nggak enak juga sama tetangga, Mbak," jawab Ridwan sambil celingak-celinguk melihat ke kiri dan ke kanan.
"Oh, ya sudah kalau begitu... kamu hati-hati di jalan, ya," pesan Mbak Ratih.
Ridwan mengangguk. "Siap, Mbak!" ucap Ridwan seraya memberi hormat kepada Ratih.
Ratih tersenyum lebar melihat tingkah adik sahabatnya yang sudah dianggap adiknya sendiri. Sedangkan, Niar. Dia hanya mesem mendapati kelakar Ridwan.
"Masuk yuk, Niar!" Ratih mengajak Daniar memasuki rumah petaknya begitu Ridwan menghilang dari pandangan.
"Iya, Mbak," jawab serak Daniar.
Setelah memasuki rumah, Daniar meletakkan tas jinjingnya di meja. Setelah itu, dia mendaratkan bokongnya di sofa. Sesekali, air mata masih terus membasahi pipinya.
"Diminum, Niar." Ratih menyodorkan segelas air putih ke hadapan Daniar.
Bukannya menerima gelas itu, Daniar malah memeluk Ratih. Tanpa dikomando, air mata Daniar kembali luruh.
Sebenarnya Ratih merasa penasaran dengan apa yang menjadi alasan Daniar bersikap seperti ini. Namun, melihat kondisi Daniar yang memprihatinkan, Ratih pun mengurungkan niatnya untuk bertanya. Dia membiarkan Daniar menumpahkan isi hatinya melalui tangisan.
Menangis memang tidak pernah bisa menyelesaikan masalah. Namun, dengan menangis, setidaknya sesak di dada Daniar sedikit berkurang. Puas menangis, akhirnya Daniar merenggangkan pelukannya.
"Sudah malam, Niar. Sebaiknya, kamu bersihkan dirimu dan tidurlah," ucap Ratih.
Daniar mengangguk, dia kemudian pergi ke belakang untuk membersihkan diri. Ratih meraih tas jinjing Daniar dan membawanya ke kamar. Sesaat, dia duduk di tepi ranjang. Dia menatap tas yang dia letakkan di atas meja kerjanya.
"Ini pasti ada hubungannya dengan Seno," gumam Ratih. "Ya Tuhan... kenapa orang seperti Daniar harus mengenal laki-laki bejat seperti Seno?" ucap Ratih, kesal.
"Seno kenapa, Mbak?" tanya Daniar.
Ratih terkejut mendapati Daniar yang sudah berdiri di depan pintu kamar.
"Eh, Niar. Ayo masuk! Kita tidur, yuk!" ajak Ratih, mencoba mengalihkan perhatian Daniar.
Ratih merangkak di atas ranjang. Dia kemudian menyelonjorkan kedua kakinya.
"Rebahan sini, Niar!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 284 Episodes
Comments
𝓐𝔂⃝❥Ŝŵȅȩtŷ⍲᱅Đĕℝëe
Mending sama si Ridwan aja dari pada sama si Seno. Untung udah putus
2023-01-20
0
💜Ϝιαℓσνα💜
ngapain nangisin laki2 kyk seno... udh lah mending sm Ridwan aja niar
2023-01-20
2
🍭ͪ ͩ🐣ᷡ ᷤꮯ𑜼ӟꮪ🍒⃞⃟🦅🍀⃟🩷️
nah niar sama ridwan aja baik daripada si seno yang mblangsak
2023-01-20
1