Waktu terus berlalu. Kabar tentang gagalnya pernikahan Daniar, telah beredar di kampungnya. Daniar semakin merasa bersalah tatkala mendengar keluarganya menjadi gunjingan tetangga. Terlebih lagi, keluarga besar ibunya Daniar menyalahkan pola asuh sang ibu atas gagalnya Daniar mempertahankan sebuah ikatan.
"Seharusnya kamu lebih tegas lagi mendidik anak kamu, Salma. Ini hasilnya kalau kamu terlalu menuruti semua keinginan dia. Apa kamu tahu, Salma. Gadis yang tidak jadi menikah, maka dia akan sulit untuk mendapatkan jodoh lagi," ucap Hj. Maryam, bibinya Bu Salma.
"Ish, jangan bicara seperti itu Bi. Bukankah ucapan itu do'a? Sebaiknya, Bibi do'akan saja semoga Daniar segera mendapatkan jodohnya," tukas Bu Salma.
"Berdo'a sih berdo'a, Salma. Tapi kamu juga harus ingat skandal yang telah dia lakukan. Mana ada laki-laki dari keluarga baik-baik yang mau menikahi wanita yang gagal menikah," tukas Hj. Maryam.
Bu Salma hanya bisa menghela napasnya. Jika bukan karena rasa hormatnya terhadap orang yang lebih tua, rasanya Bu Salma sudah ingin menutup mulut Hj. Maryam menggunakan lakban.
Skandal? Ish, skandal apaan? Seolah-olah Daniar itu melakukan kesalahan berat saja, batin Bu Salma.
"Ya sudah, Bibi pulang dulu. Katakan pada putrimu itu. Dia masih memiliki keluarga besar. Jadi, berpikirlah terlebih dahulu sebelum bertindak. Jangan sampai setiap keputusannya itu malah jadi penyebab keluarga besar kita digunjing orang. Paham kamu!" tegas Hj. Maryam seraya berlalu dari hadapan Bu Salma.
"Huft!" Bu Salma hanya bisa membuang napasnya secara kasar sesaat setelah sang bibi meninggalkan rumah.
"Sabarlah, Bu!" ucap Pak Fandi seraya menepuk pelan bahu istrinya.
"Ish, Ibu kesal sekali, Yah. Bi Haji itu berkata seolah-olah Daniar telah melakukan kesalahan besar. Padahal, keputusan Daniar adalah keputusan yang terbaik dalam hidupnya. Coba Ayah bayangkan ... apa jadinya kalau Daniar masih memaksakan diri menikah dengan si Seno. Bukan hanya dia yang sakit hati, kita juga pasti akan merasakan sakit hati dan malu yang amat sangat. Apa dia pikir, punya suami yang memiliki istri dua, tidak akan menjadi gunjingan tetangga juga? Uuh, benar-benar menyebalkan!" keluh Bu Salma panjang lebar.
"Maafkan Niar, Bu!"
Tiba-tiba Daniar sudah berdiri di belakang kedua orang tuanya. Pak Fandi mendekati Daniar. Dia kemudian menepuk pelan bahu putrinya.
"Sudahlah, Nak. Tidak usah terlalu dipikirkan," kata Pak Fandi.
Daniar menatap sendu ke arah ayahnya. Dia berkata, "Gara-gara Daniar, Ayah dan Ibu harus menanggung malu dan menjadi bahan omongan para tetangga. Niar benar-benar minta maaf, Yah. Niar tidak bermaksud mempermalukan Ayah dan Ibu. Seandainya Niar punya pilihan lain, tentu Niar tidak akan pernah memilih keputusan seperti ini," tambah Daniar.
Kini, giliran Bu Salma yang mendekati Daniar. Dia berdiri di hadapan Daniar.
"Pilihan itu selalu ada, Niar. Jika kamu tidak ingin membuat orang tua kamu semakin dicemooh orang, maka segeralah mencari penggantinya. Jangan hukum diri kamu dengan keputusan bodoh. Kamu masih muda, perjalanan kamu masih panjang. Carilah pasangan yang tepat dan menikahlah. Ibu yakin, keputusan itu pasti akan membungkam mulut para tetangga yang usil. Termasuk Bi Haji," ucap Bu Salma.
"Ish, Ibu ..." tukas Pak Fandi.
"Kenapa, Yah? Apa ucapan Ibu salah? Wajar jika Ibu berharap Daniar bisa menikah dengan orang yang tepat. Bukan begitu, Niar?"
Daniar hanya diam. Untuk saat ini, rasanya percuma berdebat dengan ibunya. Lagi pula, Daniar sudah tidak punya tenaga lagi untuk memikirkan permasalahan ini. Pertunangannya baru putus dua minggu yang lalu, dan sekarang ibunya malah menyuruh Daniar untuk mencari pasangan lagi. Astaghfirullah ... sungguh sedikit pun tidak terlintas dalam benak Daniar untuk menjalin hubungan kembali.
Daniar menghela napas. Dia melirik jam tangannya. Hmm, sudah waktunya dia berangkat kuliah. Daniar pun segera berpamitan kepada kedua orang tuanya.
.
.
Sudah hampir seminggu Deni melihat ada yang berbeda dari sikap sahabatnya. Dia merasa penasaran, sebenarnya apa yang merubah Daniar menjadi seorang gadis pendiam seperti sekarang.
Padahal, sebulan yang lalu, sebelum Daniar berangkat ke Bekasi, Dia adalah sosok gadis yang sangat ceria. Senyumnya selalu mengembang dari kedua sudut bibir mungilnya. Dia selalu menyapa hangat orang-orang yang berada di sekitarnya. Bahkan, Daniar selalu membungkukkan badan jika melintas di depan orang yang kurang dia kenal.
Namun, sekarang sikap Daniar berubah drastis. Dia menjadi lebih pendiam. Gelak tawanya sudah tidak terdengar lagi jika Deni membuat lelucon. Daniar paling hanya tersenyum tipis saat mendengar guyonan teman-temannya.
"Niar tunggu!" teriak Deni dari dalam kelasnya. Deni kemudian keluar untuk mengejar Daniar yang melewati kelasnya.
Namun, sepertinya Daniar tidak mendengar teriakan Deni. Dia terus melangkahkan kakinya hendak menuju perpustakaan.
"Niar!" Deni kembali memanggil Daniar.
Merasa ada yang memanggil namanya, Daniar menghentikan langkah dan membalikkan badannya. Senyumnya mengembang saat melihat Deni berlari menghampirinya.
"Mau ke mana?" tanya Deni begitu tiba di hadapan Daniar.
"Perpus," sahut Daniar.
"Bisa bicara bentar, Niar?" tanya Deni lagi.
"Penting banget, ya?" Daniar malah balik bertanya.
"Penting nggak penting, sih," jawab Deni, "tapi kalau nggak gua tanyain, gua bisa mati berdiri nih, karena penasaran," gurau Deni.
Daniar tersenyum, menampilkan gigi kelincinya yang putih. "Ya sudah, tanya saja!"
"Kantin yuk, Ni! Nggak enak kalau ngobrol di sini," ajak Deni.
"Ish, kek-nya serius nih," tukas Daniar.
"Ayo, ah!" lanjut Deni seraya menarik tangan Daniar menuju kantin kampus.
Tiba di kantin, Deni mengedarkan pandangan, mencari tempat duduk yang kosong dan lumayan sepi. Pilihan Deni jatuh di bangku belakang dekat kedai mie ayam.
"Duduk sana yuk, Ni!" ajak Deni seraya menunjuk bangku kosong tersebut.
"Hehehe, tahu aja nih, kalau gua lagi lapar," jawab Daniar, terkekeh.
Deni hanya melengos mendengar kekehan Daniar. Tiba di sana, Daniar dan Deni duduk saling berhadapan. Tangan Daniar terangkat hendak memanggil pelayan kedai. Namun, Deni segera menyambarnya dan mengunci tangan Daniar dalam genggaman tangan besarnya.
Daniar melongo mendapati sikap Deni. Dia kemudian bertanya, "Lo kenapa sih, Den?"
"Seharusnya pertanyaan itu untuk elo, Ni," jawab Deni.
Daniar menautkan kedua alisnya. "Ini, sebenarnya ada apa sih, Den? Kenapa lo bersikap seperti ini?" Daniar kembali bertanya.
"Katakan padaku dengan jujur, Niar. Apa lo baik-baik saja?" tanya Deni terlihat serius.
"Gua baik-baik saja, Den. Kenapa lo nanya seperti itu?" Daniar kembali bertanya kepada sahabatnya. Dia benar-benar heran dengan sikap Deni hari ini.
"Terus, bagaimana rencana pernikahannya? Apa sudah selesai semuanya?"
Deg!
Pertanyaan Deni membuat jantung Daniar hampir copot. Daniar baru ingat jika Deni memang belum mengetahui kabar terakhir pernikahannya.
Ish, apa yang harus aku katakan, batin Daniar.
Semua teman kelasnya memang mengetahui jika Daniar memiliki kekasih. Namun, hanya Deni yang tahu tentang pertunangan dan rencana pernikahannya. Dan sekarang, Daniar merasa kebingungan saat harus mengatakan hal yang sebenarnya.
"Bagaiman, Niar?" tekan Deni.
"A-aku ... aku ...." Daniar tak mampu menjawab pertanyaan Deni.
"Semuanya baik-baik saja, 'kan, Ni?" tanya Deni lagi.
Bungkam! Hanya itu yang bisa Daniar lakukan saat ini.
"Apa ada sesuatu yang tidak gua ketahui, Niar?" Tanya Deni lagi.
Ya, melihat kebisuan Daniar, Deni semakin yakin jika ada sesuatu yang melatarbelakangi sikap diamnya Daniar akhir-akhir ini. Deni semakin erat menggenggam tangan Daniar.
"Katakanlah, Niar! Aku siap mendengarkan cerita kamu!" perintah Deni.
Daniar hanya mampu menundukkan wajah. Tanpa sadar, bulir air mata pun sudah menetes di kedua pipi putihnya.
"A-aku ... se-sebenarnya a-aku ...."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 284 Episodes
Comments
Aulya
jujurlah padaku...😂
2022-10-23
1
Chima
jika kamu siap, katakan saja niar
2022-10-09
2
Adwira
tak ada salahnya kamu bercerita niar
2022-09-15
3