Tiba-tiba Pak Fandi sudah berdiri di belakang istrinya saat sang istri menutup pintu kamar Daniar.
"Ssst!" Bisik Bu Salma seraya menempelkan jari telunjuk di bibirnya.
"Ups! Maaf, Sal," ucap Pak fandi dengan berbisik pula.
Bu Salma menarik tangan Pak Fandi dan mengajaknya ke kamar. Tiba di kamar, dia duduk di tepi ranjang.
"Bagaimana, Bu? Apa Niar tidak merasa curiga dengan ajakan Ibu?" Pak Fandi kembali bertanya sambil duduk di depan istrinya.
"Sepertinya tidak, Yah," jawab Bu Salma.
"Baguslah kalau begitu. Mudah-mudahan rencana kita berhasil ya, Bu," ucap Pak Fandi.
"Ya, semoga saja, Yah. Jujur saja, Ibu begitu khawatir dengan keputusan Daniar," tutur Bu Salma.
Pak Fandi menghela napasnya. Beliau kemudian berkata, "Ayah juga sama, Bu. Ya, hati orang tua mana yang tidak akan khawatir saat mendengar keputusan anaknya yang tidak ingin menikah seumur hidup. Semoga saja, pertemuan besok bisa merubah keputusan Niar, Bu. Ayah tidak mau jika Niar mendapatkan predikat perawan tua di kampung kita," timpal Pak Fandi yang merasa cemas dengan keadaan putrinya.
"Iya, Ayah benar. Ya, semoga saja mereka berjodoh, Yah," ucap Bu Salma.
"Aamiin. Ya sudah, ayo sekarang kita tidur, Bu. Kita harus mempersiapkan segalanya untuk rencana perjodohan mereka esok hari," pungkas Pak Fandi.
Bu Salma tersenyum. Sejurus kemudian, dia merangkak ke tengah kasur dan mulai merebahkan tubuhnya. Begitu juga dengan Pak Fandi. Setelah memadamkan lampu kamarnya, Pak Fandi mendekati sang istri dan tidur di sampingnya. Senyumnya tak pernah sirna dari wajah Pak Fandi. Berharap akan ada secercah harapan untuk masa depan anaknya kelak membina rumah tangga.
.
.
"Gimana Sen, apa kamu sudah siap?" tanya Bu Frida kepada anaknya.
"Haruskah kita melakukan hal seperti ini lagi, Bu?" Bukannya menjawab, Seno malah balik bertanya kepada ibunya.
Bu Frida menarik napasnya panjang, sesaat kemudian, dia mengembuskannya dengan perlahan. Dia menatap wajah putra sulungnya. Tangannya terulur untuk mengusap wajah Seno.
"Jika boleh jujur, Mama juga ingin kalian langsung menikah saja. Terlepas akan diadakannya resepsi atau tidak, yang penting kalian sah sebagai suami istri. Terlebih lagi, kehamilan Shakila semakin hari akan semakin membesar. Namun, keinginan pihak keluarga perempuan tidak sama dengan kita, Sen. Ibunya Shakila menginginkan tradisi lamaran sebelum acara pernikahan. Mereka tidak mau para masyarakat sekitar rumah merasa curiga dengan pernikahan Shakila yang tiba-tiba. Sudahlah, Sen ... kita ikuti saja skenario calon mertua kamu itu," tutur Bu Frida, mencoba memberikan pemahaman kepada anaknya.
Seno membetulkan jas hitam yang dikenakannya. "Baiklah, terserah kalian saja," pungkas Seno mengakhiri perbincangannya dengan sang ibu.
Setelah semuanya siap, Seno mengeluarkan mobilnya dari dalam garasi. Tak lama kemudian, Pak Gideon beserta Bu Frida keluar dari rumahnya. Mereka mendekati mobil Seno yang terparkir di halamannya.
Pak Gideon membuka pintu mobil belakang untuk istrinya. Setelah Bu Frida masuk, dia kemudian menutup pintu mobil. Sejurus kemudian, Pak Gideon membuka pintu depan dan duduk di samping Seno. Mereka hendak pergi ke rumah Shakila untuk acara lamaran.
"Jalan, Sen!" perintah Pak Gideon kepada anaknya.
"Loh, Farel nggak ikut, Pa?" tanya Seno yang merasa heran saat tidak melihat sang adik tak bersama kedua orang tuanya.
Pak Gideon menggelengkan kepala. "Dia sedang fokus belajar, Sen. Katanya Senin depan ada ulangan."
"Ya sudah, kita berangkat sekarang, Pak. Biar cepet selesai juga," tukas Seno seraya menyalakan mesin mobilnya.
Setelah mendapatkan persetujuan dari orang tuanya, akhirnya Seno melajukan kendaraannya. Suasana jalanan cukup lengang juga, padahal ini malam minggu. Namun karena gerimis yang turun, sepertinya para kawula muda lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah.
Satu jam berkendaraan, akhirnya mereka tiba di rumah keluarga Shakila. Sambutan keluarga besar Shakila begitu meriah. Bahkan ada beberapa tamu undangan yang tak lain adalah kolega sang ayah. Maklumlah, ayah Shakila merupakan pegawai pemerintah
an daerah setempat.
Seno mendengus kesal saat melihat para tamu undangan telah berjajar rapi di kursi yang telah disediakan. Padahal hanya berupa acara lamaran. Namun, persiapan yang dilakukan keluarga Shakila, sungguh di luar prediksi Seno.
"Uuh, ini mah melebihi dari acara resepsi pernikahan." Seno bergumam pelan saat seorang sesepuh desa menyambutnya dengan prakata yang cukup panjang dan lebar. "Untung saja tidak dikalikan dengan tinggi," seloroh Seno yang sudah mulai merasa jenuh.
Setelah Seno memasuki rumah Shakila. Acara lamaran dan pertunangan dirinya dengan sang kekasih dimulai. Di awali dengan prakata atas nama keluarga besar yang diwakili oleh kakeknya Shakila. Hingga pidato panjang lebar dari para pejabat setempat, membuat Seno menguap berkali-kali. Dia pun merutuki keinginannya sendiri yang mengusulkan waktu lamaran di malam hari.
"Baiklah, sepertinya calon mempelai pria sudah tidak sabar lagi untuk mengikat pasangannya. Bagaimana kalau kita langsung ke acara inti saja yaitu tukar cincin antara Seno dan Shakila. Silakan untuk cincinnya di bawa ke depan saja," perintah si pembawa acara.
Seorang anak gadis berusia remaja maju ke depan sambil membawa nampan yang di atasnya terdapat sebuah kotak perhiasan berbentuk hati. Setelah kotak itu di buka, Seno mengambil cincin yang berukuran lebih kecil. Sejurus kemudian, dia menyematkan cincin bertahta berlian itu di jari manisnya Shakila.
Begitu juga dengan Shakila. Dia mengambil cincin Seno dan menyematkannya di jari manis sebelah kiri milik pria yang sangat dicintainya. Seketika, riuh tepuk tangan pun menggema di rumah megah milik Pak Hardi.
.
.
Di kamar yang berukuran 3 x 3 meter, Daniar tampak menggulingkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Entah kenapa, malam ini matanya begitu sukar sekali terpejam. Dia merasa gelisah. Detak jantungnya berpacu begitu cepat. Sakit ... tapi entah kesakitan seperti apa yang sedang melandanya. Hanya saja, dadanya benar-benar terasa sesak. Sehingga dia merasa kesulitan untuk bernapas.
Daniar mencoba memejamkan mata. Namun, suara lirih Seno begitu jelas terdengar di telinganya. Sontak Daniar membuka matanya kembali. Dia menyeka bulir keringat di keningnya.
Tidak! Aku tidak bisa seperti ini terus. Aku harus bisa melupakan Seno. Aku harus mencari sebuah pelarian agar aku bisa terbebas dari bayangan Seno. Ya Tuhan ... apa yang harus aku lakukan untuk melupakan semuanya? batin Daniar.
Tiba-tiba, Daniar ingat wejangan sang kakek. Dia kemudian pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Lepas itu, Daniar kembali ke kamarnya dan segera menggelar sajadah. Dia mulai mengenakan mukena. Dia sadar, tidak mungkin dia melakukan shalat tahajud sementara dia belum tidur semenit pun. Pada akhirnya, Daniar meraih Al-Quran dan mulai melantunkan ayat-ayat suci tersebut untuk menenangkan dirinya.
Lama mengaji, akhirnya mata Daniar pun mulai terasa berat. Daniar menutup Al-Quran-nya dan mulai merebahkan diri di atas sajadah. Berharap rasa kantuk akan membawanya ke alam mimpi yang paling indah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 284 Episodes
Comments
Ghiie-nae
semangat ya Daniar....
Cinta itu wajar ada...tapi kamu harus bisa move on...
2023-01-20
0
Lulu
semangat move on daniar...
2022-09-27
0
Alleyza Azura Rinzani
tunangan kok hasil ngerebut
2022-09-08
1