"Hei, kamu nggak punya mata, ya?" gerutu seorang gadis seraya berjongkok untuk memungut bukunya yang berserakan di lantai.
"Maaf." Hanya itu yang terucap dari mulut si penabrak.
Seketika, gadis itu mendongak. "Kau?" pekiknya.
Si penabrak hanya bisa tergelak melihat raut wajah sang gadis.
Yandri menatap interaksi dua insan berbeda jenis di hadapannya. Dia bergumam seraya menggelengkan kepala. "Hmm, Den-den, modus apa lagi yang kamu lakukan untuk menjerat gadis itu."
"Ayo cepat masuk! Apa kalian tidak dengar, bel sudah menjerit seperti itu?"
Tiba-tiba, suara cempreng Bu Ai mengingatkan Yandri akan tujuannya datang ke kampus ini. Yandri bergegas melangkahkan kaki menuju ruang tata usaha.
Sementara itu di depan kelas Bahasa, Deni masih tertawa renyah melihat raut wajah kesal Daniar. Dia kemudian berjongkok untuk membantu memungut buku-buku Daniar yang jatuh berantakan akibat ulahnya.
"Apa kamu tidak pernah bosan mengganggu aku terus, Den?" keluh Daniar.
"Hehehe, iya maaf-maaf," jawab Deni, "abis kamu lucu sih ... setiap deket sama kamu, ya bawaannya aku pengen jahilin kamu terus," jawab Deni tanpa merasa bersalah.
"Hmm, jujur banget ya," ledek Daniar.
"Iya-iya ... maaf," jawab Deni. "Ya sudah, sini gua bantu!" lanjut Deni seraya mengambil alih buku-buku tebal dari tangan Daniar.
Wanita itu menyerahkan bukunya kepada Deni. Mereka kemudian berjalan berdampingan menuju kelas Daniar. Tiba di depan kelas, bukannya masuk, Daniar malah mendaratkan bokongnya di bangku panjang depan kelas. Mau tidak mau, Deni kemudian mengikuti perilaku Daniar. Dia pun duduk berdampingan bersama Daniar. Untuk sejenak, Deni hanya diam melihat Daniar bergeming tanpa ekspresi.
"Lo kenapa sih, Niar? Nggak biasanya lo pendiem kek gitu?" tanya Deni yang merasa heran melihat sikap Daniar hari ini.
"Nggak Den, gua nggak pa-pa," jawab Daniar lirih.
"Nggak mungkin nggak ada apa-apa. Terus, ngapain juga lo kemari. Bukannya hari ini lo nggak ada kelas, ya?" Deni kembali bertanya.
Daniar menatap buku yang dipegang Deni. "Gua abis dari perpustakaan, Den," jawab Daniar.
"Oalah, pantas lo bawa buku tebal segini banyaknya," ucap Deni seraya menyerahkan kembali buku-buku Daniar. "Mau lo apain buku-buku itu?" lanjut Deni.
"Gua baca lah ... masak gua kunyah," tukas Daniar, ketus.
Deni kembali tertawa mendengar jawaban Daniar yang terkesan judes. "Ish, lo lagi PMS ya, Ni?" bisik Deni di telinga Daniar.
Seketika tubuh Daniar merinding merasakan embusan napas sahabatnya.
"Ish, apaan sih lo! Udah ah, gua mo balik," sahut Daniar seraya beranjak pergi meninggalkan Deni yang masih tertawa.
"Hati-hati, Niar!" teriak Deni.
Namun Daniar hanya menjulurkan lidahnya menanggapi teriakan Deni.
"Kamu modusin apa lagi tuh cewek? Hmm, sepertinya Marisa belum cukup ya, buat seorang Deni si playboy cap kadal," ledek Yandri seraya duduk di samping Deni.
"Haish, elu Yan, bikin kaget saja," sahut Deni yang sedikit terkejut dengan kehadiran sahabatnya.
"Lagian, anteng banget sih kamu lihatin tuh cewek," sahut Yandri.
"Hmm, gua ngerasa heran aja ngelihat sikapnya hari ini, Yan. Nggak biasanya Niar jadi pendiam seperti itu," jawab Deni seraya terus menatap punggung Daniar yang semakin menjauh.
"Niar?" ulang Yandri.
"Ya, Daniar Rahmawati. Anak Tadris Bahasa Inggris," jawab Deni.
"Oh." Hanya itu yang keluar dari mulut Yandri.
"Eh, omong-omong Yan, kemarin gua lihat cewek lo jalan sama anak PGSD. Apa lo tahu itu?" tanya Deni.
"Ya, aku tahu," jawab Yandri tidak terkesan kaget.
"Eh, sikap lo kok biasa aja sih, Yan?" tanya Deni.
"Lah terus, aku harus bersikap seperti apa?" Yandri malah balik bertanya.
"Ya terkejut kek, kaget kek, ada sedikit emosi gitu loh, Yan. Elu mah malah datar-datar aja," balas Deni.
Yandri hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Deni.
"Memangnya, lo sudah tahu kalau cewek lo suka jalan sama anak PGSD?" Kini Deni bertanya dengan memasang raut wajah serius.
"Ya, aku tahu," jawab Yandri hampir tak terdengar.
"Terus, lo biarkan begitu saja, Yan?" Deni kembali bertanya.
Yandri menghela napas. Tak lama kemudian, dia pun berkata, "Jujur, sudah sejak lama aku merasa jika Enna berubah. Dia mungkin sudah merasa tidak nyaman denganku, Den. Tapi aku tidak mau suudzon. Jika hubungan ini harus berakhir, maka biarkanlah berakhir. Asal jangan aku yang mengakhiri," ucap Yandri terkesan pasrah.
"Jadi lo bakalan terus biarin cewek lo selingkuh, gitu?" kata Deni.
"Ya mau gimana lagi," jawab Yandri.
"Ish, Yan lo tegas dikit napa? Emang lo mau harga diri lo sebagai laki diinjak ma tuh cewek? Lagian, cewek tuh bukan hanya dia, Yan," cerocos Deni.
"Aku tahu, Den. Sudahlah, tidak usah membahas hubungan kami lagi. Toh aku pun tidak mempermasalahkannya. Apa yang kita tanam, itu yang akan kita tuai, Den. Biarlah dia bersikap seperti itu, toh nanti dia sendiri yang akan menuai hasilnya. Aku sadar siapa aku, Den. Aku sadar tentang kekurangan aku, mungkin karena itu juga dia mencari seseorang yang lebih segalanya dari aku," tutur Yandri.
"Ini, nih ... ini yang paling gua nggak suka dari elo, Yan. Lo itu tidak pernah percaya diri untuk urusan cewek. Lah terus, ngapain dulu lo terima Enna kalau sikap lo terkesan masa bodoh seperti ini?" tukas Deni.
"Entahlah ... tapi tidak akan pernah ada yang bisa menolak takdir Tuhan, Den," jawab Yandri.
"Ish, nggak jelas banget lo!" gerutu Deni.
"Sudah ah, masuk yuk! Bentar lagi pak Ana masuk," ajak Yandri memungkas obrolan dengan sahabatnya.
.
.
Daniar menaiki angkot yang berhenti di depannya. Setelah duduk, dia kemudian asyik melamun memikirkan nasib yang sedang menimpanya. Masih terekam jelas raut wajah kekecewaan kedua orang tuanya. Namun, Daniar sangat beruntung memiliki ayah yang begitu bijaksana. Masih terngiang jelas di telinganya kata-kata sang ayah tadi pagi.
"Ayah paham kamu kecewa, tapi kamu harus selalu ingat, Niar ... rencana Tuhan itu selalu indah. Apa yang kita anggap baik, belum tentu baik di mata Tuhan. Begitu pun sebaliknya. Manusia hanya bisa berencana. Tuhanlah Sebaik-baiknya penentu dari rencana kita."
Daniar menarik napasnya panjang. Ya, setelah semua ini. Dia akan mencoba melupakan segalanya. Dia akan mengubur rasa ini, memangkas hingga ke akarnya. Sampai akhirnya Daniar tidak akan pernah bermimpi lagi tentang sebuah hubungan dan pernikahan.
Aku harus melupakan Seno. Aku harus fokus menyelesaikan kuliah dan menggapai cita-citaku. Aku tidak boleh mengecewakan orang yang sudah membiayai kuliahku. Mulai detik ini, aku harus mengubur impianku memiliki pasangan hidup. Ayo semangat Niar! Kamu pasti bisa! tekad Daniar dalam hatinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 284 Episodes
Comments
Chima
hmm,fokus pada karirmu niar
2022-10-09
2
Nurul
semangat niar...
2022-09-15
2
Adwira
semangat daniar
2022-09-14
3