Pagi mulai menyapa. Sinar mentari hangat menyentuh punggung seorang pria yang sedang menyusuri pematang sawah untuk pergi ke sekolah. Memasuki sebuah perkampungan, sapaan anak kecil dan para ibu rumah tangga mengiringi langkah pria tersebut. Mereka tampak ramah menghormatinya, dan Pria itu adalah Yandri Gunawan. Seorang pejuang tangguh yang tak kenal lelah untuk merubah nasib dirinya.
Subhanallah ... padahal aku terlahir bukan dari kalangan orang yang kaya raya. Namun, pekerjaan yang aku geluti telah memuliakan derajat aku. Ya, meskipun hanya sebagai tenaga honorer, tapi mereka begitu menghargai aku sebagai seorang guru dari putra putrinya, batin Yandri, mensyukuri nikmat yang telah diberikan Illahi kepadanya.
"Selamat pagi, Pak!" sapa seorang murid laki-laki.
"Pagi juga, Gibran," balas Yandri seraya mengusap pucuk kepala anak didiknya.
"Eh ini ada titipan dari Emak, Pak," kata siswa yang bernama Gibran itu seraya memberikan kantong kresek berwarna hitam kepada Yandri
"Apa ini, Ran?" tanya Yandri seraya mengernyitkan keningnya.
Anak itu hanya menggedikan kedua bahunya menanggapi pertanyaan Yandri. Sejurus kemudian, Yandri mengambil kantong kresek yang diberikan anak itu dan membukanya. Senyumnya langsung mengembang tatkala melihat isi dari kantong kresek tersebut.
"Sampaikan ucapan terima kasih Bapak kepada Emak kamu ya, Ran," ucap Yandri sambil menepuk pelan bahu anak didiknya.
"Siap, Pak!" jawab Gibran seraya berlari meninggalkan Yandri.
Kembali Yandri tersenyum melihat tingkah anak SD berusia sekitar 10 tahunan itu. Setelah anak itu terlihat cukup jauh, Yandri pun melanjutkan langkahnya.
"Pak Yan, tunggu sebentar!" teriak seorang wanita berusia tiga puluh tahunan saat Yandri melintas di depan rumahnya.
Yandri menghentikan langkah. Dia kemudian membalikkan badan untuk melihat siapa yang memanggilnya. Ah, ternyata Bu Romlah. Tapi, kenapa Bu Romlah memanggilku? batin Yandri.
"Iya, kenapa Bu?" tanya Yandri begitu Bu Romlah tiba di hadapannya.
"Ini ada sedikit bingkisan dari Jawa, Pak," ucap Bu Romlah seraya menyerahkan paper bag kepada Yandri.
"Waduh, tidak perlu repot-repot, Bu," jawab Yandri kepada wali murid yang telah menghentikan langkahnya.
"Ah, tidak merepotkan kok, Pak," jawab Bu Romlah.
"Terima kasih atas oleh-olehnya, Bu," ucap Yandri.
"Justru saya yang seharusnya berterima kasih karena Bapak sudah mengizinkan Putri untuk ikut bersama saya," balas Bu Romlah.
Yandri tersenyum. "Iya, tidak apa-apa, Bu. Putri itu anak yang cerdas. Saya yakin Putri bisa mengejar materi yang tertinggal selama dia ikut Ibu ke Jawa," kata Yandri.
"Iya, semoga saja Pak. Kalau begitu, saya permisi dulu. Mohon maaf sudah mengganggu waktu dan perjalanan Bapak," pamit Bu Romlah.
"Iya, tidak apa-apa Bu, silakan." Yandri mempersilakan wali murid itu untuk kembali ke rumahnya.
Setelah bayangan Bu Romlah menghilang dari pandangannya, Yandri kembali melanjutkan perjalanan menuju sekolah. Sekarang, di kedua tangannya, telihat menjinjing kantong kresek dan paper bag. Yandri kembali tersenyum. Hatinya tak henti-hentinya mengucap syukur atas rezeki tak terduga di pagi ini.
.
.
Sementara itu, selepas pulang sekolah, Daniar meminta izin kepada atasannya untuk pulang terlebih dahulu. Meskipun setengah hati, tetapi Bu Elly tetap mengizinkan Daniar untuk pulang.
Tiba di rumah, Daniar segera berganti pakaian. Dia tidak ingin ibunya sampai menunggu lama. Bisa-bisa, ceramah ustadzah pasti keluar jika sampai Daniar terlambat memenuhi keinginan ibunya.
"Sudah siap, Niar?" tanya Bu Salma saat melihat Daniar keluar dari kamarnya.
"Sudah, Bu," jawab Daniar seraya mengikat rambutnya.
"Ya sudah, yuk berangkat!" ajak Bu Salma.
"Tunggu, Bu. Niar pesan taksi online dulu," kata Daniar.
"Tidak usah," cegah Bu Salma, "Ibu sudah minta pamanmu mengantarkan kita," lanjut Bu Salma.
"Kalau Ibu sudah diantarkan paman, kenapa harus pergi sama Daniar juga?" rengut Daniar merasa kesal.
"Ish, tidak apa-apa atuh, Niar. Sekali-sekali, Ibu 'kan pengen pergi juga sama kamu. Sejak kamu kerja, kita jarang menghabiskan waktu bersama, loh," sanggah Bu Salma.
Daniar tersenyum. Dia kemudian berkata untuk mengalah pada ucapan ibunya. "Iya Bu, iya ...."
Tin-tin!
Tak lama kemudian, bunyi klakson mobil jemputan sudah terdengar dari halaman rumah Bu Salma.
"Itu mobilnya sudah datang. Ayo, Niar!" ajak Bu Salma kepada anaknya.
Daniar mengangguk. Setelah berpamitan kepada Pak Fandi, akhirnya mereka memasuki mobil yang sudah menjemputnya.
"Apa kabar Niar? Sudah lama kita nggak ketemu," sapa Anwar, yang tak lain adiknya Bu Salma.
"Kabar Niar baik. Om sendiri apa kabar?" Daniar balik bertanya.
"Alhamdulillah, kabar Om baik juga," jawab Anwar.
Setelah berbasa-basi sebentar, Anwar menyalakan mesin mobilnya. Sejurus kemudian, mobil sedan berwarna maroon itu meluncur membelah jalanan kota.
Perjalanan dari rumah Daniar menuju rumah Wak Haji Minah ditempuh selama Setengah jam. Namun, beruntungnya hari ini jalanan terlihat sepi. Mungkin karena ini masih jamnya kantor juga, jadi tidak banyak kendaraan berlalu lalang di jalan raya.
Tiba-tiba, mobil berbelok menuju salah satu rumah yang sepertinya tidak asing bagi Daniar. Wanita berusia 23 tahun itu sedikit menautkan kedua alisnya. Sejenak dia memandang sang ibu yang sedang menatap lurus ke depan.
"Bukannya kita mau ke rumah Nek Haji Minah, Bu?" tanya Daniar.
"Eh, iya ... kenapa, Niar?" tanya Bu Salma sedikit terkejut mendapati pertanyaan Daniar.
"Bukannya kita mau ke rumah Nek Haji Minah, kok malah ke sini, Bu?" ulang Daniar.
"Emh, anu ... itu ... anu, Niar. Ibu sendiri nggak tahu kenapa Wak Haji Minah minta bertemu Ibu di sini," jawab Bu Salma, tergagap.
Daniar semakin mengerutkan keningnya. Dia merasa heran mendengar jawaban Ibu. Kok Ibu bilang Nek Haji Minah yang minta ketemuan. Lah bukannya semalam Ibu bilang mau mengunjungi saudaranya dari Bandung yang sedang berkunjung ke rumah Nek Haji Minah? batin Daniar semakin tidak mengerti.
Tiba di halaman rumah yang berarsitektur kuno itu, Anwar menghentikan mobilnya. Setelah itu, Bu Salma mengajak Daniar turun.
Daniar mengikuti ibunya dari belakang. Rumah ini memang tidak asing bagi Daniar. Namun, Daniar tidak pernah masuk ke dalam rumah ini. Dia hanya sesekali pernah melewati rumah ini saat sedang latihan band bersama teman-temannya. Dan itu dulu, saat dia masih duduk di bangku SMA. Namun, ornamen di rumah ini sama sekali tidak berubah sedikit pun.
"Dadan? Hmm ... apakah Dadan masih menempati rumah ini?" gumam Daniar.
"Assalamu'alaikum!" sapa Bu Salma begitu tiba di depan pintu rumah tersebut.
"Wa'alaikumsalam!" Terdengar jawaban seorang wanita dari dalam rumah.
Sejenak, Daniar dan Bu Salma menunggu. Hingga tak lama kemudian, pintu dari kayu jati itu pun terbuka lebar. Tampak seorang wanita yang berusia tak jauh beda dari Bu Salma, berdiri di ambang pintu dengan senyum yang mengembang.
"Cantik sekali!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 284 Episodes
Comments
Adwira
sapa tuh yg bilang cantik...
2022-10-31
2
Lulu
semoga lancar
2022-09-27
0
Alleyza Azura Rinzani
apakah dia calon mertuanya daniar?
komen 1
2022-09-22
0