Daniar melangkahkan kaki mendekati ranjang. Sedetik kemudian, dia pun merebahkan diri di samping Ratih. Kedua tangannya dia lipat di atas perut. Matanya menatap kosong langit-langit kamar. Bengkak di kelopak matanya semakin kentara.
Perlahan, bulir bening itu kembali menetes dari kedua sudut mata Daniar. Entah apa yang sedang dia pikirkan. Namun, Ratih paham benar jika saat ini, Daniar sedang tidak baik-baik saja.
Perlahan, Ratih menyeka bulir air mata yang menetes di pipi berkulit putih milik Daniar. Sontak Daniar pun menoleh. Daniar memasang senyum yang menegaskan jika dia baik-baik saja. Namun, Ratih menggelengkan kepalanya. Bahasa isyarat dari bagian tubuh Ratih seolah berkata, 'jangan pendam kesedihan kamu sendirian'.
Melihat tatapan yang teduh dari wanita yang sudah dianggapnya kakak, Daniar pun semakin tak kuasa menyimpan dukanya. Dia mulai memiringkan badan menghadap Ratih. Seketika, Daniar menyusupkan wajahnya di dada Ratih seraya menangis tersedu-sedu.
Ratih tak berbicara. Dia juga tidak banyak bertanya. Hanya tangannya saja memeluk erat tubuh Daniar. Mencoba menyalurkan sebuah kekuatan yang mampu menopang ketegaran Daniar.
Puas menangis, akhirnya Daniar menarik diri dari pelukan Ratih.
"Maafkan Niar, Mbak," ucap lirih Daniar.
"Tidak apa-apa, Niar. Terkadang, manusia juga butuh menangis untuk melepaskan beban yang menghimpitnya," jawab Ratih.
Mungkin Daniar sedang terluka oleh sesuatu hal, dan Ratih tidak ingin menguak luka itu dengan bertanya tentang alasan Daniar menangis. Ratih akan menunggu Daniar menceritakannya secara suka rela.
Daniar kembali menelentangkan tubuhnya, pun dengan Ratih. Mereka sama-sama diam dan menatap langit-langit kamar. Untuk beberapa saat, keheningan terjadi di antara mereka. Hingga akhirnya, Daniar membuka suara.
"Mbak!" panggil Daniar.
"Hmm," jawab Ratih memiringkan badan.
"Saat pertunangan Mbak putus dengan mas Dewa dulu, apa yang Mbak katakan pada kedua orang tua Mbak?" tanya Daniar, masih menatap kosong ke atas.
Ratih menghela napas. "Mbak nggak bilang apa-apa, Dek. Karena, Mas Dewa sendiri yang datang ke rumah dan berkata langsung kepada orang tua Mbak," jawab Ratih.
"Kalau boleh tahu, siapa yang meminta putus Mbak?" tanya Daniar.
"Mas Dewa. Waktu itu, mas Dewa berniat melanjutkan pendidikannya di luar negeri. Dan orang tua Mbak keberatan jika pernikahan Mbak harus diundur. Kata mereka, ada baiknya kita segera menikah ketika sudah dilamar. Soalnya, jika dibiarkan berlama-lama, ujiannya pun akan lebih hebat lagi," jawab Ratih panjang lebar.
"Terus, bagaimana tanggapan orang tua Mbak saat mas Dewa datang untuk memutuskan pertunangan?" tanya Daniar lagi.
"Setiap orang tua, pasti akan merasa kecewa, Dek. Namun, jika mereka pikir ini yang terbaik untuk anaknya, maka mereka bisa menerimanya dengan lapang dada. Terlebih lagi, mas Dewa juga cukup gentle untuk mengakui semua keinginannya," ucap Ratih.
"Seandainya Seno juga bisa bersikap gentleman seperti mas Dewa," gumam Daniar yang masih bisa didengar oleh Ratih.
"Memangnya Seno kenapa, Niar? Terus, kenapa juga kamu bertanya seperti itu?" tanya Ratih seolah mendapatkan celah untuk mengorek informasi.
"Pertunangan Niar sama Seno sudah berakhir, Mbak," jawab Daniar.
"Apa?!" pekik Ratih, "Mbak nggak salah dengar, 'kan, Niar?" tanyanya lagi.
Daniar menggelengkan kepala. "Mbak nggak salah dengar. Pertunangan Daniar memang baru saja berakhir, Mbak," jangan Daniar.
"Tapi kenapa, Niar?" Ratih kembali bertanya.
"Seno menghamili wanita lain." Daniar menjawab pertanyaan Ratih dengan suara serak. Sepertinya, dia tak kuasa menahan kesedihan hingga kembali menangis.
"Hhh, sudah kuduga," gumam Ratih.
Daniar menoleh saat mendengar Ratih bergumam. Dia merasa heran, kenapa Ratih bisa berbicara seperti itu? Apa mungkin Ratih mengetahui sesuatu yang tidak Daniar ketahui?
"Kenapa Mbak berbicara seperti itu? Apa Mbak tahu sesuatu tentang Seno?" tanya Daniar semakin penasaran.
"Dulu, saat Mbak tahu kamu bertunangan dengan Seno, Mbak merasa pertunangan kalian tidak akan bertahan lama. Sebenarnya, Mbak sangat menyayangkan keputusan kamu. Namun, Mbak sadar jika Mbak tidak punya hak untuk memcampuri hubungan kalian. Karena itu, Mbak selalu mencoba menepis kata hati Mbak," jangan Ratih.
Daniar menatap lekat kepada Ratih. "Kenapa Mbak mempunyai pikiran seperti itu? Apa kami memang tidak cocok di mata Mbak?" tanya Daniar.
"Sebenarnya bukan masalah ketidakcocokan, Niar. Hanya saja, Mbak selalu merasa jika Seno bukan laki-laki yang pantas untuk kamu cintai. Asal kamu tahu, Niar. Sebelum kalian bertunangan, Mbak sempat memergoki Seno sedang berjalan dengan wanita lain. Bahkan, setelah kalian bertunangan pun, bisa-bisanya Seno menggoda teman kerja Mbak. Karena itu, Mbak selalu merasa jika Seno bukan laki-laki yang baik untuk kamu. Dan sekarang, terbukti, 'kan jika Seno bukan laki-laki baik. Jika memang dia pria sejati, dia tidak akan mungkin sampai menghamili anak orang," tutur Ratih panjang lebar.
Daniar hanya diam mendengar penuturan Ratih yang membongkar semua kelakuan Seno di belakang Daniar. Sungguh, Daniar tidak pernah menyangka jika Seno telah berubah menjadi pria yang sangat brengsek. Padahal, dulu saat dia berpacaran dengan Seno, laki-laki itu begitu baik dan sopan terhadap keluarganya. Dia juga tidak segan-segan membantu kondisi keuangan orang tua Daniar, di saat ayah Daniar mengalami kecelakaan dan tak bisa bekerja untuk beberapa bulan.
"Ternyata, semua kebaikannya itu, palsu," gumam Daniar.
"Sudahlah, Niar. Lupakan Seno! Di dunia ini, laki-laki bukan hanya Seno seorang. Kamu itu wanita cantik, Mbak yakin jika suatu hari nanti, kamu bisa menemukan pengganti Seno yang jauh lebih baik segalanya dari laki-laki tidak tahu diri itu," ucap Ratih, kesal.
Daniar tersenyum kecut. Mana ada laki-laki yang mau sama perempuan yang sudah hina seperti Daniar, Mbak, batin Daniar.
"Sudah malam, sebaiknya kita tidur," ajak Ratih seraya memadamkan lampu duduk di samping ranjangnya.
Daniar mengangguk. Dia kemudian memejamkan mata, berharap mimpi akan membawa dia pada sebuah ketenangan, hingga dia tidak merasakan sesak lagi.
.
.
Sementara itu, di sebuah rumah yang cukup besar, tampak beberapa orang pemuda dan pemudi sedang bercengkerama. Sebagian ada yang sedang bermain gitar dan bernyanyi di teras depan. Sebagian lagi sedang bermain kartu di ruang tengah. Dan sebagian lagi, sedang menonton film yang sebenarnya tidak layak untuk ditonton. Tiba-tiba....
Brakk!
Sandi dan Gun, tampak terkejut melihat sebuah motor menabrak sepeda yang terparkir di depan rumah.
"Ish, apa-apaan lu, Sen?!" teriak Gun.
"Tahu nih, datang-datang main tabrak sepeda orang saja," timpal Sandi.
"Aaah, pada berisik lu!" jawab Seno seraya nyelonong memasuki rumah tersebut.
Seno meraih botol anggur dari atas meja. Masih dengan posisi berdiri, dia menenggak isi botol itu hingga tak bersisa. Sedetik kemudian, Seno kembali meraih botol yang kedua dan menenggaknya juga.
"Astaga, Sen! Bisa-bisa, lu teler akut kalau cara minum lu kek gitu!" seru Aziz.
"Allaaah, banyak bacot lu! Sini, bagi botol lu! Gua masih sanggup buat minum ginian sebanyak sepuluh botol," tukas Seno dengan angkuhnya.
Aziz hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan temannya. "Lu kenapa sih, Sen? Datang-datang nge-gas gitu," tanya Aziz.
Seno mendaratkan bokongnya di sofa. Sejurus kemudian, dia bersandar dan menengadah, memejamkan mata.
"Daniar mutusin gue," jawab Seno, nyaris tanpa suara.
"Apa?!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 284 Episodes
Comments
𝓐𝔂⃝❥Ŝŵȅȩtŷ⍲᱅Đĕℝëe
Syukurin lah kamu Seno di putusin Daniar. Emang itu pantas kamu dapatkan
2023-01-20
0
💜Ϝιαℓσνα💜
buang aja jauh2 ke antartika laki2 kyk seno... masi byk cowo yg lebih baik
2023-01-20
2
🍭ͪ ͩ🐣ᷡ ᷤꮯ𑜼ӟꮪ🍒⃞⃟🦅🍀⃟🩷️
nah mbak ratih masih lebih beruntung darimu niar lah seno iss amit2
2023-01-20
1