"Bagaimana pendapat kamu tentang Dadan, Niar?" tanya Bu Salma saat dalam perjalanan menuju rumahnya.
"Maksud Ibu?" Daniar malah balik bertanya.
"Ya, pendapat kamu tentang dia," jawab Bu Salma.
"Tentang apanya dulu, Bu?" Pertegas Daniar.
"Ya tentang sikapnya, fisiknya, kepribadiannya. Pokoknya semua tentang pemuda itu deh." Bu Salma kembali menjawab.
"Kok tumben Ibu nanya hal gituan ke Niar. Bukannya Ibu juga bisa menilai sendiri ya," tukas Daniar.
"Ish, kamu ini Niar!" ucap Bu Salma menepuk pelan lengan anaknya.
"Aih, Ibu ..."Daniar merengut manja kepada ibunya.
"Abisnya, bukannya jawab kamu malah ngeledek Ibu," gerutu Bu Salma, memasang muka cemberut.
"Dih, siapa yang ngeledek Ibu? Niar cuma heran saja. Biasanya Ibu itu paling peka kalau untuk urusan tilai-menilai orang. Apalagi seorang laki-laki. Bukannya dulu, waktu Niar dekat sama Kang Kamal, Ibu langsung ngelarang, 'kan, hanya karena dia orang Ciamis?" tutur Daniar yang tiba-tiba teringat akan seorang pemuda yang pernah singgah di hatinya dulu.
Sejenak, Bu Salma diam. Bayangan saat dia melarang hubungan Daniar dengan seorang guru ngaji dari daerah Ciamis, kembali berkelebat di matanya.
Bu Salma menggenggam erat tangan Daniar seraya berkata, "Maafkan Ibu, Niar. Seandainya Ibu merestui hubungan kamu dengan guru ngajimu dulu, tentu semua kejadian pahit ini tidak akan pernah kamu alami."
Daniar menoleh. Tak ingin membuat ibunya semakin merasa bersalah, dia kemudian tersenyum hangat sambil membalas genggaman tangan Bu Salma.
"Sudahlah Ibu. Semua ini bukan salah Ibu. Daniar hanya tidak berjodoh saja dengan beliau," kata Daniar mencoba menenangkan perasaan ibunya.
Bu Salma hanya bisa menghela napas mendengar jawaban Daniar. Ya, mungkin memang benar jika Daniar tidak berjodoh dengan pilihannya dulu. Akan tetapi, dia juga punya andil dalam berakhirnya hubungan sang putri dengan pria itu.
Ya Tuhan ... sungguh aku seorang ibu yang kejam karena sanggup memisahkan kisah cinta anaknya sendiri, batin Bu Salma sambil mengelus lembut pipi anaknya.
.
.
Hari demi hari terus berlalu. Genap sebulan dari berakhirnya pertunangan Seno dengan Daniar, telah terlewati. Tanggal pernikahan yang telah disepakati keluarga Seno dan Shakila semakin dekat. Namun, entah kenapa bayangan mantan tunangan semakin kerap menari di pelupuk mata Seno.
"Aargh!"
Prang!
Seno berteriak seraya melempar asbak hingga mengenai cermin di hadapannya. Dia benar-benar kesal terhadap dirinya sendiri. Ribuan kali dia menyesal, tapi itu tidak bisa merubah keputusan Daniar. Bahkan, kini nomor kontak Seno pun sudah diblokir oleh wanita itu. Sehingga Seno semakin kesulitan untuk menghubunginya.
"Apa gua pergi ke Tasik saja?" gumam Seno menatap dirinya pada pecahan cermin yang berserakan di lantai.
Seno mendaratkan bokong di atas sofa. Dia menengadahkan wajah seraya merentangkan tangan pada sandaran sofa. Senyum wanita itu kembali tergambar jelas dalam ingatannya.
"Jadikan aku milikmu, Sen. Aku mencintaimu." Ucapan yang begitu syahdu menggema di telinga Seno.
"Ish, benar-benar laki-laki bodoh kamu, Sen!" rutuk Seno terhadap dirinya sendiri.
Padahal Daniar begitu mencintai Seno. Namun, entah kenapa laki-laki itu masih bermain gila dengan perempuan lain. Dia selalu menyangka jiga bucinnya Daniar pasti akan memaafkan semua kesalahannya. Akan tetapi, kali ini prasangka Seno meleset. Rupanya Daniar telah menyerah hingga sanggup pergi meninggalkannya.
Seno kembali mengeluh dalam hatinya. Sepertinya dia tidak punya pilihan lain selain datang ke Tasik. Namun, di saat tekadnya sudah bulat, perkataan sang kakek pun terngiang di telinganya.
"Lelaki pengecut kamu, Seno! Semoga saja kamu masih punya nyali untuk bertemu dengan kedua orang tua Daniar!"
Deg-deg-deg!
Entah kenapa jantung Seno berpacu dengan cepat saat mengingat kembali kalimat tersebut. Ya, dia sadar jika dia memang sangat pengecut. Dia tidak mampu mengembalikan Daniar secara baik-baik. Entah salah didik atau memang egois. Namun, yang jelas Seno tidak punya nyali untuk bertemu dengan kedua orang tua Daniar. Seketika, Seno mulai meredam keinginannya. Akhirnya, dia pun mengurungkan niatnya untuk pergi menemui Daniar di kampung halamannya.
.
.
Minggu pagi yang begitu cerah. Daniar tampak asyik menyiangi tanaman di belakang rumah. Harum bunga mawar putih selalu menjadi penawar kesepiannya. Saking asyiknya membersihkan kebun pribadi, tanpa sadar penunjuk waktu sudah berhenti di angka sepuluh.
"Niar!" panggil Bu Salma.
Niar masih menunduk. Hmm, karena terlalu bersemangat membersihkan kebunnya, Niar sampai tidak mendengar panggilan sang ibu.
"Niar! Apa kamu dengar suara Ibu, Nak?" Kembali Bu Salma berteriak. Kali ini dipungkas dengan sebuah pertanyaan.
Namun, Niar masih tetap tak mendengarnya. Dia malah sibuk memupuk tanamannya. Akhirnya, karena merasa kesal, Bu Salma pun menghampiri putrinya.
"Daniar Rahmawati!" panggil Bu Salma, tepat di telinga Daniar.
Sontak Daniar menoleh. "Iya, kenapa Bu?" Dengan wajah cengo, Daniar malah balik bertanya.
Bu Salma mengerucutkan bibirnya. "Sudah berulang kali Ibu memanggil kamu, tapi kamu malah asyik sama tanamanmu saja," ucap Bu Salma terlihat kesal.
"Maafkan Niar, Bu!" sahut Daniar seraya berdiri dan membersihkan tangannya yang kotor karena tanah.
"Ya sudah, sekarang cepat bersih-bersih! Sebentar lagi Dadan mau jemput kamu ke sini," lanjut Bu Salma.
Daniar menautkan kedua alis. "Dadan?" gumamnya, "mau ngapain dia ke rumah, Bu?" lanjut Daniar bertanya kepada ibunya.
"Ibu sendiri nggak tahu pastinya Niar. Tapi, mungkin saja dia mau ngajakin kamu kencan," ucap Bu Salma.
"Ish Ibu ... nggak lucu ah!" rengut Daniar.
"Lah, emangnya Ibu lagi ngelawak," balas Bu Salma.
Daniar hanya bisa kembali merengut mendengar jawaban ibunya. "Niar harap, Ibu nggak bikin rencana yang aneh-aneh, ya," tekan Daniar.
"Apaan sih, Niar. Suudzon mulu sama ibunya," tukas Pak Fandi yang baru saja tiba di hadapan istri dan anaknya.
"Ish Ayah, bukannya suudzon ... Niar cuma heran saja sama kelakuan Ibu yang mencurigakan. Tercium modus-modus PDKT ini," jawab Daniar.
"PDKT?" ulang Bu Salma, "apaan tuh, Niar?" lanjutnya.
"Pendekatan," jawab singkat Daniar seraya pergi dari hadapan mereka.
Bu Salma dan Pak Fandi hanya bisa saling tatap mendengar jawaban Daniar. Sejurus kemudian, Pak Fandi segera menghampiri Bu Salma.
"Apa kata Ayah, Ibu jangan terlalu bersemangat untuk menjalankan rencana ibu. Nanti Daniar bisa curiga dengan tujuan kita" ucap Pak Fandi mengingatkan.
"Ya habisnya ... Ibu geregetan gitu Yah sama Daniar. Semenjak putus dari Seno. Daniar tidak pernah terbuka sama kita. Ibu takut kalau dia benar-benar serius dengan ucapannya, Yah. Ibu nggak mau Daniar jadi perawan tua, entar," jawab Bu Salma.
"Huss, Ibu! Kalau ngomong jangan ngelantur seperti itu!" tegur Pak Fandi. "Ucapan itu do'a, Bu. Apalagi ucapan orang tua," lanjutnya.
"Astaghfirullahaladzim ... iya, Yah. Maaf ..." jawab Bu Salma.
"Wajar jika Daniar masih tertutup, Bu. Kalau Ayah tidak salah hitung, baru sebulan lebih hubungan mereka berakhir. Mungkin Daniar masih belum bisa membuka hati, Bu. Kita do'akan saja supaya Daniar tidak merasa trauma dengan kegagalan dia dalam menjalin sebuah hubungan ," tutur Pak Fandi.
"Ya, Ayah benar. Ibu juga berpikir jika Daniar masih belum bisa melupakan semuanya. Hmm, semoga saja Dadan bisa menjadi penawar luka di hatinya," timpal Bu Salma.
"Aamiin," pungkas Pak Fandi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 284 Episodes
Comments
Aazuraa
sampai sini dulu ya, thor
2023-01-08
1
Lulu
tidak ada salahnya mencoba lagi niar
2022-10-23
1
Alleyza Azura Rinzani
semangat niar,dunia ini ngga sesempit daun kelor
2022-09-22
1