Wanita itu berkata seraya mendekati Daniar. Dia kemudian mengusap lembut pipi putih Daniar. Senyumnya tak pernah lepas dari kedua sudut bibirnya.
"Masya Allah ... sungguh sebuah mahakarya yang sempurna," puji wanita itu kepada Daniar.
Daniar mengernyit. Dia benar-benar tidak mengerti maksud ucapan wanita itu. Namun, dia sadar jika tadi, wanita itu memujinya.
"Te-terima kasih, Tante," kata Daniar.
Tiba-tiba seorang wanita yang sudah berumur, datang menghampiri mereka.
"Ah, kalian sudah datang, Sal," ucap wanita berumur tersebut.
Bu Salma tersenyum dan mendekati wanita tua yang tak lain adalah Wak Haji Minah.
"Iya, Wak. Maaf karena sudah menunggu lama," ucap Bu Salma seraya mencium punggung tangan yang sudah keriput itu.
"Tidak apa-apa, Uwak juga baru sampai, kok," balas Wak Haji Minah.
"Loh, kok pada berdiri di sini. Dipersilakan masuk dong Ma, tamunya!" ucap seorang pria paruh baya yang tak lain adalah Pak Amir, suami dari wanita yang menyambut Daniar tadi.
"Oalah sampai lupa, mari silakan masuk Jeng!" Wanita paruh baya yang masih tampak cantik itu mempersilakan Bu Salma dan Daniar memasuki rumahnya.
Akhirnya mereka berempat masuk ke dalam ruangan. Setelah dipersilakan duduk, sang tuan rumah pun permisi untuk mengambil minuman dan camilan.
"Wak, saya pikir kita bertemunya di rumah Uwak," bisik Bu Salma kepada Wak Haji Minah.
"Rencana awal memang seperti itu Sal. Tapi putranya Gendis tidak bisa diajak kompromi. Dia enggan mengantarkan Gendis ke rumah. Karena itu, Amir mengusulkan jika pertemuan mereka kita lakukan di rumahnya saja." Uwak Minah menjawab pertanyaan Bu Salma dengan berbisik pula.
Melihat tingkah laku mereka, Daniar semakin merasa curiga. Dia merasa ada yang tidak beres dengan kedatangan dirinya dan sang bunda ke tempat ini.
"Bu, sebenarnya ini ada a–"
"Maaf menunggu lama, ya."
Belum selesai Daniar bertanya, tiba-tiba Ibu Gendis sudah memasuki ruang tamu. Dia membawa nampan yang berisi minuman dan beberapa toples camilan. Setelah menyuguhkannya, dia kembali duduk di samping Daniar.
"Putra kamu ke mana, Dis?" tanya Wak Haji Minah, mengawali pembicaraan.
"Kebetulan tadi ada sedikit kendala di showroom-nya, Wak. Karena itu dia pergi ke showroom untuk menyelesaikannya," jawab Bu Gendis.
"Oh, begitu ya ... hmm, semoga saja masalahnya cepat selesai. Ya sudah, kita makan duluan atau mau menunggu putra kamu, Dis?" Wak Haji Minah bertanya lagi kepada Bu Gendis.
"Kita makan duluan saja, Wak. Soalnya, tadi Dadan berpesan jika kita disuruh makan duluan saja," jawab Bu Gendis.
Deg!
Daniar terkejut mendengar nama itu disebutkan. Dadan? batin Daniar seraya mengerutkan keningnya.
Hmm, apakah dia Dadan yang sama? Dadan yang pernah aku kagumi saat masa SMA dulu. Jika memang benar, berarti wanita cantik ini adalah ibunya. Dan untuk apa kami berada di sini? Lantas, bagaimana Ibu bisa kenal dengan orang tua Dadan? Begitu banyak pertanyaan di hati Daniar.
"Permisi, Bu. Itu makanannya sudah siap." Tiba-tiba, seorang gadis yang usianya tak jauh beda dengan Daniar, menghampiri Ibu Gendis.
"Baiklah. Sebentar lagi kami akan ke sana," jawab Bu Gendis.
Tak berapa lama, Bu Gendis mengajak tamunya untuk makan siang. Namun, saat mereka hendak beranjak dari tempat duduk. Tiba-tiba, seseorang datang memasuki ruang tamu.
"Assalamu'alaikum!" sapa seorang pemuda seraya melepaskan helm yang menutupi wajahnya.
"Wa'alaikumsalam," jawab semua orang seraya menoleh ke belakang. Begitu juga dengan Daniar.
Deg-deg-deg!
Jantung Daniar berpacu cepat tatkala melihat pemuda itu. Demikian juga dengan sang pemuda. Dia yang awalnya sedikit mengernyitkan dahi saat melihat Daniar, seketika tersenyum lebar menyadari jika gadis yang berada di hadapannya adalah sosok yang dia kenal.
"Daniar Rahmawati?" tanya pemuda itu, sekadar meyakinkan.
"Benar, Kak," jawab Daniar
Pemuda itu mendekati Daniar. "Wah saya tidak menyangka jika kita akan bertemu lagi, Daniar," ucapnya seraya menyentuh pundak Daniar.
"Hehehe, sama Kak. Hmm, dunia ternyata sempit, ya?" gurau Daniar, tersenyum.
"Yup! Kamu benar sekali," jawab Dadan.
Dan interaksi kedua anak muda itu pun membuat para orang tua hanya bisa saling pandang.
"Pssst!" bisik Wak Haji Minah kepada Bu Salma dan Bu Gendis, "sepertinya mereka saling mengenal," ucap Wak Haji Minah.
"Hmm, benar juga, Wak. Kelihatannya mereka sudah sangat akrab," timpal Bu Salma.
"Hei, bukankah ini kabar yang bagus?" seru Bu Gendis, sumringah.
Kini giliran Bu Salma dan wak Haji Minah yang saling pandang.
"Maksud Jeng?" tanya Bu Salma, menautkan kedua alisnya.
"Ya dengan mereka saling mengenal, kita tidak harus susah-susah lagi mendekatkan mereka," jawab Bu Gendis. "Tapi saya penasaran, Jeng. Kira-kira, di mana mereka bisa saling mengenal?" tanya Bu Gendis, "apa dulu mereka kuliah di tempat yang sama?" lanjutnya.
"Hmm, tidak mungkin kalau satu kampus. Daniar itu baru kuliah sekarang," tukas Bu Salma.
"Ya sudahlah, terlepas di mana mereka saling mengenal, yang terpenting sekarang kita tidak harus bersusah payah untuk mendekatkan mereka. Seperti kata kamu tadi, Dis. Ya, mudah-mudahan mereka berjodoh," ucap Wak Haji Minah. "Ya sudah, ayo kita ke ruang makan. Sekalian ajak anak-anak kalian," pungkasnya.
"Baik, Wak," jawab Bu Salma yang disertai anggukan Bu Gendis.
"Dan, ayo makan. Sekalian ajak Daniar juga," ajak Bu Gendis kepada putranya.
"Siap, Ma. Sebentar lagi kami menyusul" jawab Dadan.
Bu Gendis tersenyum. Sejurus kemudian, dia mengajak tamunya memasuki ruang makan.
"Apa kau lapar?" tanya Dadan.
"Uuh, tentu saja aku lapar. Tadi Ibu tidak memberikan aku waktu untuk makan. Huh, menyebalkan sekali," jawab Daniar sambil memonyongkan bibir mungilnya.
"Hahaha ..." Dadan tergelak mendengar jawaban Daniar. Hmm, gadis ini memang tidak pernah berubah. Terlalu jujur, batin Dadan yang diam-diam mulai mengagumi Daniar. "Ya sudah, ayo kita susul mereka!" ajak Dadan seraya menggandeng tangan Daniar.
Deg-deg-deg!
Jantung Daniar kembali berdegup kencang. Pandangan matanya tak lepas dari tautan tangan mereka satu sama lain. Tangan kekar itu terus menggandengnya hingga tiba di ruang makan. Membuat para orang tua saling melempar senyum satu sama lain.
Hmm, mudah-mudahan rencana perjodohan ini berjalan dengan lancar, batin Bu Gendis.
Semoga saja Dadan bisa menyentuh hati Daniar. Semoga kehadiran Dadan bisa merubah keputusan Daniar, batin Bu Salma.
Semoga kekerabatan keluarga ini semakin erat dengan perjodohan di antara mereka, do'a Wak Haji Minah dalam hatinya.
"Silakan duduk, Incess!" kata Dadan menarik kursi untuk Daniar.
"Ish ... itu, 'kan panggilan teman-teman SMA-ku. Kok kamu bisa tahu?" tanya Daniar yang pipinya mulai merona karena merasa malu.
"Hehehe, tentu saja aku tahu. Bukankah kau begitu terkenal sekali se-antero SMA Tunas Bangsa?" seloroh Dadan sambil tertawa.
Daniar hanya bisa memajukan bibirnya mendengar perkataan Dadan.
"Ooh, jadi satu SMA toh," ucap Bu Salma dan Bu Gendis berbarengan.
"Iya, kenapa Ma?" tanya Dadan.
"Aah tidak ... tidak apa-apa, Nak. Ayo makan!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 284 Episodes
Comments
Yuliana Purnomo
mudahan kalian saling cinta,,,tulus TDK mempermasalahkan masa lalu
2024-03-07
0
Aazuraa
semoga perjodohan nya berjalan lancar, biar daniar bisa lupain seno
2023-01-08
0
Chima
sepertinya akan berjalan lancar
2022-10-23
2