Tiba-tiba, Pak Fandi sudah berdiri di belakang Daniar. Baik Daniar, adik dan ibunya, mereka sangat terkejut mendengar pertanyaan Pak Fandi. Sontak Daniar menoleh ke arah sang ayah.
Tak kuasa menatap mata ayahnya, Daniar hanya mampu menundukkan wajah.
Pak Fandi mendekati putri sulungnya. Dia meraih dagu Daniar agar gadisnya itu menatap matanya.
"Apa yang terjadi, Niar? Ayah tidak percaya jika kamu memutuskan ikatan ini hanya karena ketidakcocokan. Katakanlah, Niar. Kami orang tua kamu, jangan tutupi semua permasalahan kamu dari orang tuamu sendiri," ucap Pak Fandi, berusaha untuk menjadi sahabat putrinya.
Daniar kembali menatap sang ayah. Bulir air mata sudah menggenang di kedua sudut mata Daniar. Dia benar-benar tak sanggup harus kembali menorehkan luka di hati pria paruh baya itu.
"Ma-maafkan Niar, Yah." Hanya itu yang mampu Daniar ucapkan. Bahkan, suaranya pun nyaris tidak terdengar.
Pak Fandi tahu jika sesuatu yang buruk sedang menimpa putrinya. Karena itu, dia meraih bahu Daniar dan mendekap erat Daniar dalam pelukannya.
"Tolong jangan simpan dukamu sendirian, Niar. Ayah tahu, kamu pasti sedang mengalami masalah saat ini. Berbagilah pada kami, Niar. Jika kami mampu, kami siap membantu kamu. Namun, jika kami tidak memiliki solusi terbaik, setidaknya kami bisa menjadi pendengar yang baik bagi setiap keluh kesah kamu, Nak," ucap lembut Fak Fandi.
"Ayah benar, Kak. Dengan siapa lagi Kakak bisa berbagi selain dengan keluarga Kakak sendiri. Katakan, apa yang terjadi? Jika Kakak mengatakannya, siapa tahu kami bisa memberikan jalan keluar," timpal Danita.
Daniar menghela napasnya. Ya, apa yang dikatakan Danita memang benar. Dengan siapa lagi dirinya bisa berbagi selain dengan keluarganya sendiri. Daniar menarik diri dari pelukan sang ayah. Sejenak, Daniar bergeming. Mencoba untuk mengumpulkan kekuatan agar dia bisa mengatakan yang sebenarnya.
"Katakanlah, Sayang!" lanjut Pak Fandi.
Bu Salma hanya diam. Dia tidak mampu berpikir apa-apa lagi. Pikirannya sedang melayang pada rasa malu yang akan dia tuai nanti. Dia tidak habis pikir dengan anak muda zaman sekarang. Bisa-bisanya mereka mengambil keputusan tanpa melibatkan orang tua. Huh, zaman memang sudah berubah, gerutu Bu Salma dalam hatinya
"Sebenarnya, Seno sudah menghamili wanita lain, Yah," ucap lirih Daniar.
"Apa?" pekik Bu Salma dan Danita bersamaan.
Sedangkan Pak Fandi, pria paruh baya itu hanya mampu memegang dada saat mendengar kebenaran yang diucapkan putrinya
"Apa maksud kamu menghamili wanita lain, Niar?" tanya Bu Salma, tak mengerti.
"Iya, Bu. Seorang wanita datang menemui Daniar. Dia meminta Daniar untuk melepaskan Seno. Awalnya Niar pikir, wanita itu hanyalah seorang wanita yang terobsesi kepada Seno. Namun, ternyata Daniar salah. Wanita itu memiliki alasan yang kuat kenapa dia meminta Daniar melepaskan Seno. Dan alasannya adalah, dia tengah mengandung benih Seno, Bu," tutur Daniar, menceritakan sebab musabab hubungan pertunangannya berakhir.
"Jadi, itu artinya mas Seno berselingkuh di belakang Kakak?" tanya Danita.
Daniar mengangguk.
"Ish, keterlaluan!" Danita mendengus kesal.
"Lantas, bagaimana dengan orang tuanya Seno? Apa mereka tahu tentang kelakuan anaknya? Apa mereka tahu, tentang wanita yang tengah hamil itu?" cecar Bu Salma.
Daniar mengangguk seraya berkata, "Bu Frida tahu semuanya, Bu."
"Terus?"
Daniar menggelengkan kepala. "Bu Frida tidak mampu berbuat apa-apa. Beliau malah meminta Niar untuk mengatakan jika pertunangan ini telah berakhir."
"Kenapa harus kamu, Niar? Kenapa tidak mereka sendiri yang datang dan menjelaskan semuanya?" tukas Bu Salma.
"Karena menurut mereka, Niar lah yang menginginkan pertunangan ini putus, jadi Niar sendiri yang harus menanggung akibatnya dan juga memberikan penjelasan pada Ayah dan Ibu," jawab Daniar yang akhirnya berkata jujur.
Ya, Daniar sudah tak mampu menutupi semua kelakuan mantan tunangan dan juga mantan calon mertuanya.
Mendengar jawaban sang kakak, Danita langsung berdiri. "Hm, baguslah Kakak putus dengan mas Seno. Kalau enggak, Nita nggak tahu nasib Kakak seperti apa jika sampai menikah dan memiliki mertua seperti itu. Sudah anaknya tukang selingkuh, eh ibunya juga sangat egois. Tidak punya etika, menyebalkan!" ucap Danita, geram. Sejurus kemudian, Danita pergi ke kamarnya.
"Lalu, apa yang harus Ibu bilang sama tetangga, Niar. Undangan sudah tersebar. Kita pasti akan merasa malu jika pernikahan ini batal," gumam Bu Salma yang menyayat hati Daniar.
Ya, Daniar yakin jika kedua orang tuanya pasti sangat terluka. Namun, Daniar tidak ingin memaksakan diri untuk tetap melanjutkan hubungan ini. Dia tidak akan menjadi wanita bodoh untuk yang kedua kalinya.
.
.
Sementara itu, selepas pulang sekolah, Yandri sudah terlihat rapi menggunakan jas almamater kampusnya.
"Mau pergi ke mana kamu, Yan?" tanya Habibah, sang kakak.
"Yandri mau ke kampus, Kak. Mau melihat tempat PPL Yandri untuk bulan depan," jawab yandri seraya merapikan jasnya.
"Jangan bermimpi terlalu tinggi, Bang. Kalau jatuh, sakit juga nantinya," tukas Yoga.
Yandri tidak menggubris perkataan Yoga. Entahlah, saat Yandri memutuskan untuk kuliah, dia merasa jika sikap Yoga mulai berubah. Terkadang celetukan Yoga seperti orang yang tengah menyindir dirinya. Namun, Yandri tidak mau ambil pusing dengan semua omongan Yoga. Prinsipnya, anjing menggonggong, kafilah berlalu.
Yandri berjalan ke luar untuk mencari ibunya. Tiba di halaman belakang, dia melihat ibunya yang tengah mengangkat jemuran.
"Bu, Yandri pergi dulu, ya," pamit Yandri seraya meraih tangan ibunya
"Iya, pergilah Nak. Semoga apa yang kamu cita-citakan bisa tercapai, Do'a Bu Maryam
"Aamiin," timpal Yandri seraya menuruni anak tangga.
Yandri mulai melangkahkan kakinya menyusuri jalanan. Hmm, jarak antara rumah ke jalan raya cukup jauh, mungkin sekitar 3 km. Untuk mengirit pengeluarannya, Yandri pun memutuskan berjalan kaki.
Satu setengah jam kemudian, Yandri tiba di tepi jalan raya. Beruntungnya, bus yang akan menuju kota, melintas saat Yandri tiba di pangkalan ojeg. Yandri segera menghentikan bus tersebut.
Dia menyeberangi jalan saat bus itu berhenti. Tak lama kemudian, Yandri menaiki bus tersebut dan mencari bangku kosong untuk duduk. Tiba-tiba, tatapan matanya terkunci pada sosok wanita yang selalu duduk di belakang. Yandri tersenyum saat melihat wanita itu. Dia kemudian berjalan menghampirinya.
"Hai!" sapa Yandri.
"Eh, Yan. Duduklah!" ucap wanita tersebut seraya mengambil tas dari atas kursi di sampingnya.
"Alhamdulillah, kita bisa satu bus lagi," ucap yandri.
"Iya, kebetulan yang luar biasa," balas wanita tersebut.
"Ya, sangat luar biasa," timpal Yandri.
Dengan perasaan berbunga-bunga, Yandri melewati perjalanan menuju kampusnya. Dia tidak menyangka jika hari ini Tuhan begitu baik kepadanya. Sampai-sampai Yandri diberikan dua kebahagiaan sekaligus. Pertama, dia bahagia karena bisa mengikuti PPK. Dan yang kedua, tentunya dia merasa senang bisa melewati perjalanan bersama sang kekasih. Endina Permata.
Sepanjang perjalanan, Yandri dan Enna saling bertukar cerita tentang kegiatan kampusnya. Ya, meskipun mereka mengambil jurusan yang sama. Namun, mereka kuliah di tempat yang berbeda. Jarak antara rumah Yandri dan rumah Enna juga begitu jauh. Satu-satunya kesempatan untuk bertemu adalah di dalam bus ini. Itu pun jika faktor keberuntungan berada di pihak mereka. Karena tak jarang juga mereka berangkat ke kampus dengan bus yang berbeda.
Tanpa terasa, mereka harus mengakhiri perbincangan pada saat bus melintas di depan kampus Yandri. "Aku duluan ya, En," kata Yandri seraya berdiri hendak menghentikan bus.
Enna mengangguk sambil memberikan senyum termanis untuk sang kekasih. "Hati-hati di jalan, Yan," ucap Enna
Yandri hanya memberikan simbol 'oke', menjawab ucapan sang kekasih.
"Stop, Bang!" teriak Yandri.
Bus berhenti. Yandri kemudian turun dan memasuki kampusnya dengan langkah tergesa. Tiba-tiba...
Brugh
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 284 Episodes
Comments
Atik
yah, kupikir yandri blm punya cewe
2025-01-20
0
Nurul
tabrakan ma siapa nih
2022-09-15
3
Adwira
11,12 ini emak sama anak
2022-09-08
5