Aziz dan kawan-kawan memekik keras mendengar ucapan Seno.
"Ada apaan nih, kok berisik banget?" tanya Gun yang sudah berdiri di hadapan mereka.
"Tahu, nih. Sampai terdengar keluar tuh, teriakan kalian," timpal Sandi.
"Si Seno putus sama tunangannya," jawab Aziz.
"Apa?!" Kali ini, Gun dan Sandi yang memekik keras secara bersamaan.
"Lo serius, Sen? Kok bisa?" tanya Sandi, teman dekat Seno.
Sandi benar-benar tidak menyangka jika pertunangan kawan karibnya bisa putus begitu saja setelah terjalin cukup lama. Ya, meskipun dia menyadari jika Seno adalah pria brengsek. Namun, Sandi tahu betul kalau Daniar begitu mencintai Seno. Berulang kali Seno melakukan kesalahan, Daniar selalu memaafkannya. Makanya, Sandi merasa begitu terkejut mendengar kabar tersebut.
"Shakila hamil, dan dia meminta Daniar untuk ngelepasin gue," ucap Seno.
Bugh!
Tanpa diduga, satu pukulan keras mendarat di rahang kanan Seno. Semua orang begitu terkejut melihat kejadian yang sangat cepat itu.
"Gila lu, Ziz! Kenapa lu pukul si Seno!" teriak Bryan.
"Dia memang pantas untuk dipukul, Yan. Udah tahu punya tunangan, masih aja main gila sama cewek lain! Gua heran sama lu, kurang baik apa sih, Daniar sama lu? Dia tuh cantik, lembut dan selalu memahami elu. Bahkan, di saat lu main gila sama cewek lain, berulang kali dia maafin lu. Tega banget lu mainin hati Daniar," cecar Aziz yang menyimpan kekaguman tersendiri kepada tunangan sahabatnya itu.
"Brengsek! Aaargh!" Seno berteriak seraya mengacak rambutnya. Apa yang dikatakan Aziz memang benar. Namun, Seno tak mampu merubah keadaan. Saat ini pun, dia tidak bisa mundur lagi karena permainan gila yang dia lakukan bersama Shakila, kini telah membuahkan hasil. Seno pun hanya merutuki kesialannya malam ini.
Glek-glek-glek!
Karena merasa frustasi, akhirnya Seno kembali meraih botol minum dan menenggak isinya hingga ludes. Tanpa dia sadari, seorang gadis menatap Seno dengan senyum menyeringai tersungging di kedua sudut bibirnya. Hmm, semoga saja ini malam keberuntungan aku, batin gadis itu yang kembali mengalihkan tatapannya kepada film yang membuat darahnya berdesir hebat.
Brak!
Aziz menendang meja melihat tingkah Seno yang hanya bisa melampiaskan rasa frustasinya lewat minuman. Sejurus kemudian, dia keluar dan pergi meninggalkan basecamp tempat mereka berkumpul untuk menghabiskan malam.
Teman-teman Seno hanya bisa saling tatap melihat Seno yang mabuk-mabukan. Meskipun sudah diingatkan, tapi Seno tetap mengabaikan nasihat teman-temannya. Kehilangan Daniar membuat pikirannya kacau. Seno membenci Daniar karena tidak mau mengikuti solusinya.
"Kamu mau putus, 'kan, Niar? Oke ... tidak masalah. Memangnya siapa kamu, Niar ... kamu itu tidak lebih dari seorang gadis kampung yang sangat kuno bagiku. Aku masih muda, Niar. Wajar kalau aku menginginkan kebebasan aku sebelum aku benar-benar menikah denganmu. Toh, nanti ... kalau kita sudah menikah, aku pasti akan menjadi milik kamu, Daniar. Milik kamu se-u-tuhnya." Seno sepertinya mulai mabuk. Dia terus meracau menyebut nama Daniar.
Seno berdiri. Namun, sepersekian detik kemudian, tubuhnya kembali ambruk di atas sofa. Sepertinya, dia benar-benar kehilangan kesadarannya.
"San, sebaiknya kamu bawa si Seno pulang," ucap Gun kepada temannya.
"Idih, ogah! Gua nggak mau urusan lagi sama bokap nyokapnya dia," tolak Sandi.
Gun menatap Bryan.
"Sorry, gua ada urusan," ucap Bryan seraya beranjak dari tempat duduknya.
"Ish, masa harus gua lagi sih," gerutu Gun.
"Biar aku saja yang mengantarkan dia pulang," ucap seorang gadis yang sudah berdiri di hadapan teman-temannya.
"Lu yakin, Via?" tanya Max yang berdiri di sampingnya.
Devia –nama sang gadis– mengangguk. "Iya, Max. Lagian, gua 'kan bawa mobil," ucap Devia.
"Oh, ya sudah kalau gitu. Biar gua papah si Seno ke dalam mobil lu," tukas Gun yang nggak mau pagi-pagi harus ngurusin muntahnya si Seno akibat pengaruh alkohol.
Tanpa menunggu persetujuan yang lainnya, Gun mengangkat tangan Seno dan merangkulnya di pundak dia. Dibantu oleh Bryan, akhirnya gun memapah Seno untuk memasuki mobil Devia.
"Ya sudah, gua pergi dulu, ya!" pamit Devia kepada teman-teman nya.
Gun dan kawan-kawan hanya melambaikan tangan menanggapi ucapan pamit Devia.
.
.
Daniar membolak-balikkan badan ke kiri dan ke kanan. Entahlah, meskipun matanya terpejam. Namun, hati Daniar tetap merasa gelisah. Senyum kebahagiaan yang terpancar di wajah kedua orang tuanya saat Daniar dilamar, kembali melintas dalam benaknya. Dan entah esok atau lusa, senyum itu pasti akan sirna tatkala mereka tahu tentang putusnya pertunangan anaknya.
Ya Tuhan ... apa yang harus aku katakan pada ayah dan ibu, jerit Daniar dalam hatinya.
Daniar mengerjapkan mata. Tenggorokannya terasa kering. Dia pun bangun dan berjalan ke dapur untuk mengambil air minum. Namun, saat dia hendak menuangkan air ke dalam gelas. Tiba-tiba tangannya terasa licin hingga akhirnya gelas itu pun terjatuh.
"Astagfirullahaladzim!" pekik Daniar.
Entah kenapa, tiba-tiba saja hati Daniar merasa tidak nyaman. Ingatannya kembali kepada Seno yang telah menjadi mantan tunangan. Daniar merasa, jika sesuatu terjadi pada Seno.
"Ada apa, Niar?"
Pertanyaan Ratih sontak membuat Daniar terkejut.
"Eh, Mbak," jawab Daniar.
"Kamu nggak pa-pa, kan, Niar?" tanya Ratih yang merasa cemas saat melihat pecahan gelas berserakan di lantai.
"Nggak pa-pa, Mbak. Tangan Daniar cuma licin saja, jadi gelasnya jatuh," jawab Daniar.
"Ya sudah, Mbak ambilkan minumnya. Kamu duduk saja, Niar," perintah Ratih seraya mengambil gelas dan mengisinya dengan air putih. Sejurus kemudian, Ratih menyodorkan air minum tersebut kepada Daniar.
"Terima kasih, Mbak," jawab Daniar.
"Sama-sama," jawab Ratih.
Setelah memastikan Daniar menghabiskan air minumnya, Ratih berjalan untuk mengambil sapu dan pengki.
"Biar Niar yang bersihkan, Mbak," ucap Daniar, hendak mengambil alih peralatan itu dari tangan Ratih.
"Ish, tidak usah Niar. Kamu tidurlah, bukankah besok pagi kamu akan pulang? Perjalanan ke Tasik cukup lama, kamu perlu tenaga untuk melewati perjalanan itu. Tidurlah, biar Mbak yang membereskan semua ini," tutur Ratih.
"Tapi, Mbak," ucap Daniar yang merasa tidak enak karena selalu merepotkan Ratih.
"Tidurlah, Niar!" tegas Ratih.
"Baiklah," jawab Daniar terlihat lesu.
Daniar mengalah. Setelah minum, dia kemudian kembali ke kamar untuk beristirahat.
.
.
Devia memarkirkan mobilnya menuju apartemen. Sejenak, dia menghampiri pos satpam.
"Permisi, Pak. Abang saya mabuk berat. Bisakah Bapak membantu saya membawanya ke unit?" Devia meminta bantuan satpam untuk membawa Seno yang diakui sebagai kakaknya ke unit apartemen miliknya.
"Baiklah, Nona," jawab salah seorang satpam yang bernama Robby.
"Ah, terima kasih Pak," ucap Devia seraya membalikkan badan untuk kembali ke halaman parkir.
Satpam yang bernama Robby memanggil salah seorang temannya. Mereka kemudian mengikuti Devia. Tiba di sana, Robby dan temannya kemudian mengeluarkan Seno dan memapahnya menuju unit yang dimaksud oleh Devia.
"Terima kasih, Pak," ucap Devia sambil menyerahkan beberapa lembar uang lima puluh ribuan sebagai tip untuk para satpam itu.
"Sama-sama, Non. Kalau begitu, kami permisi dulu," pamit Robby.
Devia mempersilakan. Setelah kedua satpam itu pergi, Devia segera menutup pintunya. Adegan demi adegan film dewasa yang tadi dia tonton, kembali berseliweran di kepala, membuat mahkotanya berkedut hebat. Tak tahan menahan hasrat yang sudah menggebu, Devia pun memasuki kamar.
"Kali ini, kamu tidak akan pernah bisa lari lagi dari singa betina yang sedang kelaparan, Tuan Seno Adiwijaya." gumam Devia yang langsung menerkam Seno begitu buasnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 284 Episodes
Comments
Yuliana Purnomo
heeemm,,buaya ketemu singa betina,, cocok dah
2024-03-07
0
𝓐𝔂⃝❥Ŝŵȅȩtŷ⍲᱅Đĕℝëe
Devia ngeri juga ya 🤧🤧
2023-01-20
0
ℤℍ𝔼𝔼💜N⃟ʲᵃᵃ࿐ⁿʲᵘˢ⋆⃝🌈
ko ad cewe model gitu sih🤦🏼♀️🤦🏼♀️
2023-01-20
1