...~Happy Reading~...
“Ta—tapi Pak, saya—“
“Saya tidak mau mendengar alasan atau penjelasan apapun dari kamu. Intinya, kamu tidak bisa berhenti sebelum kuliah kamu selesai. Atau minimal, kamu harus disini selama dua tahun!” ucap Adnan mutlak tanpa bisa di bantah.
Nasya hanya bisa menganggukkan kepala nya dengan pasrah, dan ia segera pamit untuk kembali ke kamar nya. Dan setelah sampai di kamar, Nasya mencoba untuk menyemangati dirinya sendiri. Ia mencoba untuk berfikir positif, bahwa dengan cara ini, dirinya tidak akan manja dan memikirkan diri sendiri. Impian nya sudah ada di depan mata, ia tidak boleh menyerah begitu saja. Ini ujian yang indah untuk nya, bahkan ini lebih baik daripada dirinya hidup seorang diri di kampung, begitu pikir nya.
"Kamu harus bisa, Sya. Kamu harus bersyukur, karena di luaran sana masih banyak yang tidak seberuntung kamu," gumam Nasya menatap langit langit kamar nya dan menyemangati dirinya.
"Hanya mengasuh dia tuyul kok. Anggap saja, kamu latihan, jadi ketika kamu menikah dan punya anak, kamu bisa jadi ibu yang baik!" imbuh nya lalu terkekeh sendiri.
Tak ingin berlarut, Nasya berusaha untuk selalu bersyukur. Menatap arah bawah, bahwa di luar sana ada yang jauh kurang beruntung darinya. Sehingga, Nasya bisa menjalani hari harinya dengan semangat.
...🍁🍁🍁...
Pagi hari berjalan seperti biasa. Mood Ryana sudah lebih baik dan hari ini juga hari pertama bagi Nasya untuk kuliah. Ia akan berangkat bersama duo R menuju kampus nya yang ternyata kebetulan satu arah juga dengan kantor Adnan. Jadilah mereka berangkat bersama dengan menggunakan satu mobil.
Nasya duduk di depan bersama dengan Yoga, sementara Adnan di belakang bersama dua anak nya. Ya, Yoga adalah supir pribadi Adnan, umur nya sekitar dua puluh lima tahun. Masih terbilang muda, namun ia dulu juga bekerja sejak tamat sekolah SMP. Dulunya, Yoga hanya tukang kebun di rumah orang tua Adnan, namun lambat laun ia belajar menyetir dan kini menjadi supir pribadi Adnan.
“Sayang, nanti kalian ada les. Kak Nasya akan menjemput kalian jam dua sama om Yoga,” ujar Adnan ketika mengantarkan anak anak sampai di kelas nya.
"Memang nya, Ryana boleh bolos?" tanya Ryana dengan memasang wajah imut nya kepada sang ayah.
"No!" jawab Adnan dengan cepat dan tegas, "Harus les. Karena ini kemauan kamu sendiri. Kamu harus bisa bertanggung jawab dengan apa yang sudah kamu pilih."
Ryana langsung memanyunkan bibir dengan kesal. Rayuan nya tidak berhasil, ayah nya tetap saja tegas bila bila menyangkut soal pendidikan. Mungkin karena Adnan hanya seorang diri sejak kedua anaknya kecil, jadilah ia tidak mau terlalu memanjakan kedua anak nya. Ada kalanya, dimana dirinya harus memanjakan, dan harus tegas.
"Ryan sudah masuk, sekarang kamu masuk juga." ujar Adnan lagi, dan Ryana pun segera masuk ke dalam kelas nya. Sementara Adnan kembali ke mobil.
Memang setiap harinya, Adnan berusaha mengantarkan anak anak nya sampai ke kelas. Barulah ia merasa tenang ketika bekerja.
Setelah memastikan bahwa dua R duduk di meja nya, Adnan segera kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan menuju kampus baru Nasya. Entah sudah berapa banyak kata yang Adnan keluarkan untuk memberikan nasehat kepada Nasya, hingga membuat Yoga tanpa sadar menahan senyum nya.
“Iya Pak, saya mengerti. Dan kalau nanti ada yang tidak saya pahami, saya akan bertanya pada orang. Karena disini begitu banyak orang, Terimakasih sebelum nya,” ujar Nasya mengangguk sopan, lalu ia segera pergi mencari dimana kelas nya berada.
“Tertawa lah Ga, tertawa!” kata Adnan berdecak seraya mengusap wajah nya dengan kasar.
Demi kedua anak nya, kini ia sama saja seperti memiliki anak lagi. Namun, ini semua ia lakukan bukan percuma, karena hanya dengan ini, pekerjaan nya di rumah sedikit berkurang. Dan ia menjadi tenang setiap kali bekerja.
“Maaf Bang,” ujar Yoga akhirnya tak bisa menahan tawa nya ketika melihat wajah bos nya begitu kusut di pagi hari.
Jangan tanya mengapa Yoga bisa memanggil Adnan dengan sebutan abang. Karena Yoga, dulunya adalah adik kelas Adnan. Yoga ikut bekerja di rumah Adnan karena rumah nya dulu kebakaran yang menewaskan keluarga nya meninggal dunia. Ia tidak memiliki tempat tujuan lain, hingga akhirnya Adnan membawa nya pulang ke rumah. Sebenarnya, keluarga Adnan hendak menyekolahkan Yoga kembali, hanya saja Yoga tidak mau. Ia hanya ingin bekerja, dan akhirnya ia bekerja menjadi seorang tukang kebun. Beberapa tahun kemudian, ketika usia nya sudah cukup ia mulai belajar menyetir agar bisa selalu mengantarkan Adnan pergi.
Jarak usia Adnan dan Yoga kurang lebih tiga tahun. Jadilah Yoga memanggil Adnan dengan sebutan abang. Karena itu lebih baik, daripada Adnan di panggil bapak oleh orang yang ia anggap adik sendiri. Karena Adnan anak tunggal, jadilah ia menganggap Yoga sebagai adik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
Mur Wati
adnan baik ya
2023-11-21
2
🌺awan's wife🌺
pak duda nikah muda kayaknya,,,umur 28 THN anaknya dah gede
2023-04-13
0
Katherina Ajawaila
thour coba donk visualnya biar ngk ngeyel bacanya, lucu soalnya
2023-03-30
0