Alby tiba sampai di rumah pada sore hari, usai memarkirkan mobilnya di garasi, ia masuk ke dalam rumah.
"Ayah!!"
Alby tersenyum begitu mendengar putrinya memanggil dirinya. Misel tengah bermain di temani Rena. Alby pun mendekati keduanya, mengusap pipi putrinya dengan sayang, matanya menatap ke arah sang istri tetapi perempuan itu justru membuang mukanya.
'Kenapa itu bocah? jutek amat mukanya,' gumam Alby mencoba mengingat semua kejadian hari ini, yang ia ingat dirinya tak melakukan kesalahan apapun, perihal kejadian di kampus bukankah semua sudah impas.
"Ehem!"
Alby mencoba berdehem agar Rena mau menegur dirinya, tetapi hasilnya nihil. Perempuan itu justru bangkit dari tempatnya.
"Misel, Bunda ke belakang dulu mau buat teh," kata Rena pada Misel.
Misel yang saat itu tengah asyik bermain Lego hanya mengangguk.
"Wahh, baik banget istriku. Pasti mau buat aku ya," timpal Alby dengan nada menggoda.
Rena menoleh ke arah Alby dengan tatapan tatapan sengit.
"PD! Siapa juga mau bikinin teh buat Abang. Kalaupun aku mau, bagusnya ku taro sianida di dalamnya!" cetus Rena berlalu melewati Alby. Tapi, lelaki itu dengan cepat memegang tangan istrinya, ia yakin ada yang tak beres.
"Lepas!!" sentak Rena.
"Enggak, katakan dulu ada apa?" pungkas Alby.
"Pikir aja sendiri!"
"Ren, aku tuh-"
"Ayah, Bunda kalian sedang apa? Ayah dan Bunda sedang tidak berantem kan?" tanya Misel.
"Em gak kok sayang," kilah Rena langsung menepis tangan Alby dan berlalu dari sana. Rena tak ingin lepas kontrol untuk berkata kasar, atau berantem dengan suaminya di depan putri sambungnya, bagaimanapun itu tidak baik untuk Misel. Untuk itu sebisa mungkin Rena akan menghindar sampai ia sendiri merasa tenang.
****
Alby mengacak rambutnya frustasi, raganya memang berada di depan laptop. Tetapi, otaknya justru berkeliaran memikirkannya istrinya yang sejak ia pulang terus bersikap acuh padanya. Seolah-olah tengah memberikan dirinya pelajaran, tapi jika dipikir apa kesalahannya. Alby bahkan tidak tau, yang ingat semua baik-baik saja sebelumnya. Bahkan saat dirinya hendak mengajak Rena berbicara, perempuan itu selalu menghindar.
"Sialan! Kalau begini aku tidak akan bisa menyelesaikan dokumen-dokumen ini!" Alby menatap tumpukan dokumen di atas meja dengan jengah. Ia yakin jika Rena belum bisa seperti biasanya, ia tidak akan dapat berkonsentrasi. Dan hal ini bisa memicu kemarahan Soraya.
Hari bahkan kian beranjak malam, tapi satu berkaspun tak dapat ia selesaikan. Sepertinya Alby butuh sesuatu untuk mendinginkan kepalanya. Kopi, sepertinya itu bukan ide yang buruk. Ia pun memilih beranjak ke dapur, sampai depan pintu Alby menoleh ke arah kamar Misel yang berada tepat di sisinya. Pintu itu tertutup dengan rapat, Rena tidur di dalamnya. Haruskah ia memaksa perempuan itu bangun, rasanya Alby tidak kuasa di diamkan Rena dengan alasan yang tak pasti.
Tidak! Itu bukan ide yang bagus. Alby pun kembali melanjutkan langkahnya turun ke dapur.
Sampai di dapur, ia tertegun melihat Rena tengah menuangkannya air putih di gelas. Alby tersenyum, sepertinya ini memang kesempatan yang bagus untuk mengakhiri keterdiaman Rena. Ia harus bisa memaksa perempuan itu bicara jujur. Lelaki itu berjalan dengan pelan dan mengendap-endap agar Rena tak menyadari kehadirannya, karena posisi Rena saat itu memang tengah membelakangi dirinya.
Grepp!!
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Rena tersedak, hingga air putih yang tengah ia minum langsung muncrat keluar, saat tiba-tiba ada sepasang lengan kekar yang memeluk dirinya dari belakang.
"Maaf, aduh gak sengaja aku." Alby melepaskan kedua tangannya, kemudian membantu Rena menepuk pundaknya.
Rena menepis tangan lelaki itu, "Abang mau buat aku jantungan ya!"
"Bukan gitu, tadi aku tuh-"
"Halah, bilang aja iya. Biar Abang bisa menikah lagi nanti dengan perempuan itu tuh si Milo!" sergah Rena.
"Milo siapa? Milo itu nama salah satu merek susu kan ya." Alby sengaja menjawab dengan sedikit lelucon, pasalnya ia sendiri memang tidak mengerti siapa yang di maksud istrinya. Alby hanya ingin mencairkan suasana.
Brak!
Rena meletakkan gelas yang tadi ia genggam dengan sedikit kasar, matanya menatap kesal ke arah Alby. Lelaki yang sama sekali tidak memiliki nilai kepekaan sedikit. Rasanya kesabaran Rena sudah habis, ia tidak kuat lagi untuk mengeluarkan unek-uneknya. Pasalnya Rena memang bukan perempuan yang senang menyimpan apa yang mengganjal di hatinya, ia lebih suka mengutarakannya langsung.
Alby menganga melihat reaksi istrinya, kala ia memberikan jawaban yang sedikit menggoda. Perempuan dengan piyama baby dol itu terlihat begitu kesal saat menatapnya.
"Kamu itu kenapa sih, dari tadi mau marah-marah terus sama aku, tanpa ada alasannya. Sejak aku pulang kamu udah cuekin aku. Suami pulang bukannya di sambut dengan senyuman hangat, malah wajah di tekuk. Gak jelas Ren. Ngomong Ren, kalau ada apa-apa tuh ngomong? Kamu pikir aku paranormal yang bisa ngerti apa-apa tentang kamu, dan perasaan kamu!" sentak Alby nadanya cukup tinggi, hal itu membuat Rena terkesiap.
"Kok jadi Abang yang marah-marah, harusnya aku yang marah. Abang udah bohongin aku tau gak!" sanggah Rena tak terima. Perempuan itu kini beralih menatap Alby tak kalah sengitnya.
"Bohongin kamu? Maksudnya apa?" ujar Alby tak mengerti.
Rena memalingkan mukanya ke arah lain sesaat. "Milea itu kekasih Abang kan!" tudingnya.
Alby terkejut mendengarnya, ia menggeleng. "Ren-"
"Kalau Abang udah punya kekasih, kenapa harus menikah dengan aku. Kenapa memberikan aku sebuah janji, harusnya kemarin kita nikah kontrak aja, kaya di novel-novel itu nanti setelah kontrak habis kita bisa cerai, dan Abang kan bisa menikah dengan Milea Milo itu." Rena berucap dengan nada bergetar, ada sesak yang menghambat dalam dadanya. Ya, apa yang ia katakan itu sangat berbeda dengan suasana hatinya.
Alby menyentak nafasnya, saat ia hendak membuka mulutnya, Rena kembali bersuara hal itu membuat ia mengurungkan niatnya. Mungkin membiarkan istrinya mengeluarkan unek-uneknya lebih dulu akan lebih baik.
"Di sebelahnya sini sakit tau bang!" Rena menunjuk dadanya. "Tau sakitnya begini, dulu aku milih dipenjara saja, dari pada nikah sama Abang. Tapi aku di buat sakit," sambungnya kemudian.
Alby masih menatap Rena dalam diamnya, lalu ia tersenyum.
"Ngapain Abang malah senyum-senyum!"
Alby mengusap wajahnya. Rena berniat pergi saja, toh percuma setelah banyak kata yang keluar dari mulutnya, suaminya hanya diam. Tapi, Alby segera menahan tangan istrinya.
"Jadi, istri Abang sedang cemburu?" tanya.
Rena menatap tajam Alby kesal.
"Gak usah marah-marah, nanti makin jelek!" Tambahnya.
"Bang, aku lagi gak bercanda ya. Kamu belum pernah kan merasakan nikmatnya gelas ini melayang!" Rena menggenggam gelas yang tadi dengan erat.
"Rena Nugraha istrinya Alby Dharmawan, dengerin ya aku ngomong. Jadi, Milea itu sebenarnya-"
"Kekasih Abang kan? Tuh kan Abang bohong!" potong Rena dengan cepat.
"Ck! Dengerin dulu. Kamu tuh kebiasaan banget suka motong ucapan orang. Gak sopan!" sergah Alby kesal lalu menarik tangan istrinya. "Ikut aku!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 217 Episodes
Comments
Iin Romita
oammm...ngntuk thur..aku BCA smpe jam 2 dini hari
2022-11-27
0
💦💦 Istrinya Yayang 💦💦
Perempuan begitu ya kalau marah😂, soalnya tepung serbaguna aja bisa jadi serba salah 😂😂 apalagi hanya gelas bisa melayang terbang tinggi
2022-08-16
2
💕💕 Pisces ❣️❣️Renjana 💞💞
"Di sebelah sini sakit tau bang!"
baca kata ini kok aku jadi pengen ngakak ya. Rena itu berarti tipikal perempuan yang ceplas-ceplos ya. Kalau suka bilang suka gak ya bilang gak. Bahkan tanpa sadar dia udah mengungkapkan perasaannya langsung. Jarang perempuan begini.
tapi aku suka lho Thor ceritanya seru, ringan, lucu. Yuk gas di lanjut... crazy update 😂
2022-08-16
5