Ketika fajar telah menyingsing di pagi hari, Rena mengerjapkan kedua matanya. Tidurnya terusik dengan sinar matahari yang masuk melalui celah jendela yang sebagian tak tertutup gorden. Ia mengubah posisinya menjadi duduk, pandangannya yang memang belum sempurna, seketika membeliak saat melihat lelaki dengan pakaian rapi tengah berdiri memakai arloji di tangannya.
"Kau sudah bangun?" tanya Alby menoleh ke arah Rena sekilas, wajahnya terlihat datar tanpa senyum di bibirnya.
'Dahlah, makin asem ya asem aja tuh muka, dasar kanebo kering,' gumam Rena.
"Menurut bapak?!"
Ck! Alby berdecak kesal, mendengar panggilan yang Rena sematkan untuknya. "Bapak-bapak, sejak kapan aku berubah jadi bapakmu?" sergahnya.
Rena memutar bola matanya jengah, malas sekali menanggapi ucapan lelaki itu.
"Aku akan pergi ke rumah sakit, menemani Misel operasi," imbuhnya kemudian.
Mendengar hal itu, Rena baru sadar jika hari ini adalah jadwal Misel untuk operasi. Sigap Rena langsung turun dari ranjang.
"Tunggu dong, pak. Aku juga harus ikut!" Rena buru-buru mengambil handuk.
"Tidak perlu, bukankah hari ini jadwalmu kuliah. Pergi saja ke kampus, setelah itu kau kembali pulang. Nanti malam aku akan menjemputmu untuk tinggal di rumahku!"
"Lho pak. Tidak bisa, aku udah terlanjur minta cuti kuliah untuk beberapa hari ke depan, aku ingin merawat Misel."
"Terserah kamu, aku berangkat duluan!" Alby berlalu keluar dari kamar Rena. Meninggalkan perempuan itu yang terus menggerutu sebal.
"Astaga, mimpi apa aku memiliki suami kaya itu orang. Kacau dan sial banget sih hidup aku. Harusnya ia banyak terima kasih dong ke aku. Aku mau peduli dengan anaknya. Aku bela-belain cuti kuliah demi Misel. Malah balasannya gini." Rena menggerutu seraya masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sementara Alby yang sudah tiba di bawah, melihat keluarga istrinya tengah menikmati sarapan. Ia datang menyapa.
"Pagi Mom, Dad, Kak?" sapanya.
"Pagi," balas semuanya serentak.
"Ayo nak sarapan? Rena mana?" tanya Dinda yang saat itu tengah melayani suaminya.
"Mom, Dad sepertinya aku tidak bisa ikut sarapan. Aku buru-buru ke rumah sakit, karena sudah di telpon pihak rumah sakit. Dan Rena baru bangun mom, mungkin ia kelelahan."
Mendengar kata terakhir, Dinda tersenyum seketika otaknya traveling entah kemana.
"Wah baru hari pertama kau sudah berhasil buat adikku kelelahan ya. Gimana hari-hari selanjutnya? Awas jangan di drop terus!" ejek Davis.
Alby mengerutkan keningnya, masih kurang tanggap dengan maksud ucapan kakak iparnya itu. Tetapi, suara dering ponsel miliknya mengurung niatnya. Alby harus segera tiba di rumah sakit, akhirnya lelaki itu memilih berpamitan.
Usai membersihkan diri dengan pakaian yang sudah rapi, Rena turun ke bawah. Rumah sudah sepi, tampaknya kakak dan Daddy-nya baru sudah berangkat kerja. Ia duduk di meja makan, rasanya sangat lapar karena semalam ia lupa tidak makan malam.
"Rena, kamu itu gimana sih? Sudah jadi istri kok bisa gitu bangun lebih siang dari suamimu," seru Dinda yang baru keluar dari dapur.
"Ya Mom. Kan baru hari pertama, aku kesiangan Mom. Lagian, suami aku juga gak bangunin, dia fine-fine aja."
Dinda menggelengkan kepalanya, ia kembali beranjak ke dapur, lalu kembali lagi dengan membawa kotak makan beserta tasnya.
"Bekal buat siapa Mom? Bukankah Daddy dan kakak sudah berangkat?" tanya Rena bingung, melihat Mommy-nya sibuk memasukkan nasi beserta lauk dan sayur ke dalam kotak makan itu.
"Buat suamimu! Tadi dia gak sempat sarapan, nanti kamu bawa ini makanan, kasih ke dia. Jadi istri yang perhatian lah Ren, katanya cinta. Awas nanti ada perempuan lain yang memberikan perhatian lebih ke dia, kamu baru tau rasa!"
Uhuk-uhuk!
Rena tersedak mendengar ucapan Mommy-nya. Seketika ia jadi ingat bagaimana dengan lebaynya semalam saat meminta restu kedua orang tuanya, dengan dalih saling mencintai.
'Dalam kamusku, aku bahkan belum pernah jatuh cinta,' gumamnya.
"Mom aku berangkat!"
Rena berpamitan dengan memanggil Dinda sedikit keras, karena Mommy-nya tengah sibuk di dapur. Tak lupa Rena membawa bekal yang telah disiapkan oleh Mommy-nya untuk Alby.
"Perhatian amat sih sama menantu abal-abal aja," decaknya kemudian.
****
Setelah membayar ongkos taksi, Rena menyusuri koridor rumah sakit dengan pelan. Ia memang tidak membawa mobil sendiri, mengingat mobilnya masih di bengkel belum selesai diperbaiki. Cukup melelahkan bagi Rena, karena tadi ia harus terjebak macet.
Tiba di depan ruang perawatan Misel, Rena terdiam, sedikit ragu menggerakkan tangannya untuk membuka pintu. Menghela nafas pelan, akhirnya Rena memberanikan diri membuka pintu itu.
Ceklek!
"Pak saya membawa-"
Rena tak lagi melanjutkan ucapannya, saat melihat suaminya tengah duduk sofa dengan seorang perempuan cantik, penampilannya modis. Keduanya menoleh ke arahnya.
"Emm, maaf saya ganggu," sambung Rena kemudian. Perempuan itu menunduk, mengeratkan genggamannya pada tas bekal yang ia bawa.
"Rena?"
"Sepertinya saya salah kamar, maaf!" ucap Rena seraya memutar tubuhnya, perempuan itu kembali menutup pintu, dan berlalu pergi dari sana.
Rena melangkahkan kakinya dengan cepat, hal yang ia pikirkan saat ini adalah menjauh dari ruangan Misel. Meski dalam otaknya terlintas banyak pertanyaan akan perempuan yang berada di ruangan itu. Bahkan Rena tak mengindahkan panggilan Alby.
Ia terus berjalan dengan nafas memburu.
"Aku tahu pernikahan ini hanya demi Misel. Tetapi, kenapa melihat Pak Alby bersama perempuan lain dengan posisi sedekat itu, aku kok merasa ada yang aneh dengan hatiku ya. Aku tidak mungkin kan menyukainya!" Rena terus bermonolog dengan dirinya. Tak sadar dirinya sudah tida di kantin, Rena meletakkan bekal yang ia bawa di atas meja.
"Apa mungkin itu ibu kandungnya Misel ya? Atau justru kekasihnya Pak Alby!" Rena terus bergumam tak jelas. Ia merasa resah, akhirnya demi menghilangkan kekalutannya Rena memesan minuman.
Saat ia menikmati minumannya, pandangannya tertuju pada tas bekal yang ia bawa. Rena mencebik, "sia-sia aku bawain dia bekal. Ini Mommy sih rempong banget. Apa lebih baik aku kasih orang lain saja ya, lagian Pak Alby pasti sudah makan."
Rena mengedarkan pandangannya, mencari seseorang yang pantas menerima makanan darinya itu.
"Aku menunggu mu di ruangan Misel, tetapi kamu malah enak-enakan di sini!"
Mendengar suara itu Rena terkejut, lantas menoleh mendapatkan Alby dengan kemeja maroon dan kacamata putih yang melekat di wajahnya tengah menatap ke arah dirinya dengan pandangan tajam.
"Oh iya. Maaf, aku tadi lagi cari udara segar aja, pak."
"Memangnya kamu pikir di dalam ruangan itu panas?" tanya Alby yang entah sejak kapan tiba-tiba sudah berdiri di sisi Rena.
"Iya."
"Eh tidak!" ralat Rena.
Alby menggelengkan kepalanya, "ayo masuk. Misel sudah sadar dan mencarimu."
"Bapak duluan saja, saya-"
"Ck! Lama buruan," sergah Alby.
"Tapi-"
"Buruan!" Alby langsung menyeret tangan Rena.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 217 Episodes
Comments
Wati_esha
Jiahhh Rena .. Rena .. Rena. Katamu Alby itu suami abal-abal. What the Hell? 😅😅😅 Nyaho, kan! Baru segitu doang sudah kabur!
2022-08-11
0
Wati_esha
Ehhhh Alby menemukan Rena?
2022-08-11
0
Wati_esha
Tq update nya.
2022-08-11
0