Rena mengusap keningnya, seraya menatap ke arah suaminya dengan cemberut. "Jahat banget sih, salahku apa coba!"
"Kamu itu kebanyakan nonton Drakor begitu, jadi halumu kejauhan. Kamu pikir pernikahan itu sebuah permainan. Pakai minta surat perjanjian pernikahan segala," omel Alby.
Rena menganga, kenapa jadi lelaki itu yang marah-marah. Ia kan hanya mengeluarkan apa yang ada dalam otaknya.
"Aku kan hanya mengeluarkan apa isi otakku. Dari kemarin pikiran aku ya begitu."
Alby menggelengkan kepalanya, lalu menggeser tubuhnya menghadap istrinya. Hal itu membuat Rena gugup, ia hendak memalingkan mukanya, tetapi dengan gerakan cepat Alby menahannya.
"Lihat aku!" pinta Alby.
Dengan perasaan canggung, Rena pun memberanikan diri menatap suaminya.
Deg! Deg!
'Sial! Kenapa dia tampan sekali. Oh, jantung kamu masih aman di tempatnya kan. Jangan lepas dulu ya, aku masih ingin hidup,' gumam Rena menatap wajah Alby tak berkedip.
"Rena, kamu dengar aku kan!"
Buru-buru Rena mengerjapkan kedua matanya, mengenyahkan pikirannya. "Tentu saja, memang bapak pikir aku sedang apa?" balasnya.
"Ngelamunin aku!"
"Ck! Percaya diri sekali anda!" Rena beringsut sedikit menjauh dari Alby, pasalnya ia merasa berdekatan dengan lelaki itu membuat jantungnya tak sehat.
"Bapak mau ngomong apa sih, dari tadi diem aja perasaan. Aku ngantuk ini!" imbuh Rena sambil berpura-pura menguap.
"Lama ih! Aku tidur aja deh." Rena beranjak dari tempat duduknya. Tapi, dengan cepat Alby menahan tangannya, membuat Rena kembali duduk di sofa.
"Aku hanya ingin mengatakan. Apapun yang mendasari awal mula pernikahan kita. Aku mau kita serius. Aku tidak berniat untuk mempermainkan sebuah pernikahan. Tidak akan ada perceraian, meskipun Misel sudah sembuh total. Aku tetap akan memperlakukanmu selayaknya seorang istri. Dan aku harap kamu juga demikian," ujar Alby serius.
Rena terdiam menatap wajah Alby dalam-dalam. Perempuan itu tengah mencari celah dari ucapan Alby apakah mengandung kebohongan, sayangnya ia tak dapat menemukannya sama sekali. Mungkin, memang ia yang tak pandai membaca pikiran orang, atau memang Alby yang tak berbohong.
"Tapi pak, kita kan-"
"Rena! Bisa tidak ubah panggilan mu itu ke aku. Jangan bapak! Itu sangat menganggu pendengaran aku sejak kemarin. Kamu boleh panggil aku bapak, hanya saat di kampus!" kata Alby telak tanpa ingin di bantah.
"Iya deh, Bang!" ralat Rena.
Ck! Alby berdecak sebenernya ia juga kurang menyukai panggilan itu. Tapi dibandingkan panggilan Bapak, itu jauh lebih enak di dengar.
"Tapi Bang, kita kan tidak saling mencintai. Dan lagi aku tuh masih kuliah, aku juga ingin mengejar cita-cita aku. Sebelumnya, aku tidak pernah berpacaran, karena emang akunya tidak mau menikah dengan cepat!" jelas Rena.
Alby tersenyum tipis, "tidak masalah lanjutkan keinginanmu. Aku tidak akan melarangnya. Tapi, satu hal yang harus kau ingat, kau sudah menikah. Batasi pergaulanmu, itu saja!"
"Benarkah?"
Alby mengangguk, Rena spontan menghambur memeluk suaminya. "Terima kasih! Aku pikir setelah menikah aku tidak boleh meraih cita-cita ku. Makanya dulu kalau Daddy dan Mommy berusaha jodohin, aku selalu kabur!" ucapnya yang masih tak sadar memeluk Alby dengan erat.
Alby merasakan seluruh tubuhnya terasa kaku, darahnya berdesir ketika tubuh Rena menempel padanya, meski saat itu keduanya sama-sama memakai pakaian. "Em, i-iya!"
Menyadari posisinya yang memeluk Alby, Rena segera melepaskan pelukannya. "Aduh maaf-maaf, aku lancang sekali." Rena meringis merutuki dirinya sendiri. Jangan sampai image dirinya semakin jelek di mata suaminya.
"Kenapa harus minta maaf, aku kan suamimu. Bahkan melakukan hal yang lebih dari itu, tidak ada yang melarang kan. Tuhan pun mengijinkannya," terang Alby, setelah berhasil menetralkan perasaannya. Jujur saja lama sekali ia tidak merasakan dipeluk oleh seorang perempuan, setelah perceraiannya dengan mantan istrinya dulu.
Bugh!
"Mesum!" celetuk Rena, seraya melemparkan bantal sofa di tubuh Alby yang dapat lelaki itu tangkap.
"Sudahlah Bang. Aku ngantuk sekali, mau kembali ke kamar Misel tidur!" imbuhnya kemudian bangkit seraya tempat duduknya.
"Kok kamar Misel?" tanya Alby menghentikan langkah Rena.
"Ya lalu?"
"Kamar kita dong."
Rena menghela nafasnya, "Misel kan baru pulang. Dan pengasuhnya juga sedang pulang kampung, kasihan kalau tidur sendiri. Dah lah Abang kan sudah tua, masa takut tidur sendiri, gak perlu juga aku temani. Nanti, kalau pengasuhnya sudah balik baru aku temani!"
Mendengar dirinya disebut tua, membuat Alby merasa kesal. "Ya sudah sana tidur, sudah malam!"
"Yang bilang masih pagi juga siapa?" ejek Rena.
"Rena!!!" sentak Alby.
"Iya, iya. Bercanda doang aku. Abang gak asyik ih, kurang bercanda awas cepat berkerut mukanya."
"Kamu tidak ingin ada yang di tanyakan padaku, Ren?" tanya Alby.
Rena menggeleng, "untuk saat ini tidak ada. Aku sudah ngantuk."
"Ya udah sana, tidur."
****
Perkataan Alby semalam membuat Rena terus kepikiran. Bahkan sampai di kamar mandi pun ia tetap melamun. Hingga ia lupa mengunci pintu kamar mandi ketika dirinya hendak membersihkan diri. Rena telah membuka seluruh pakaiannya, tapi bukannya menyalakan shower untuk mandi. Perempuan itu malah duduk di atas closed, seraya memejamkan kedua matanya.
Hingga ia tak sadar ketika pintu kamar mandi yang tak ia kunci terbuka, lalu munculah Alby dengan balutan handuk putih menutupi bagian pusar ke bawah lutut.
Sontak Rena membuka kedua matanya, ia kaget mendapati Alby sudah berdiri di depannya, bersiap untuk mandi.
"Abang ngapain!!!" pekik Rena. Perempuan itu bahkan buru-buru mengambil handuk yang menggantung di sana.
"Maaf! Maaf aku tidak tau kalau kamu ada di dalam. Lagian pintunya tidak di kunci, dan aku tidak mendengar suara gemericik air!" bela Alby dengan cepat, wajahnya merona mengingat apa saja yang baru ia lihat. Begitupun dengan Rena malunya tidak untung.
"Kamu lanjutkan saja, aku yang keluar. Aku akan mandi di kamar bawah!" Imbuhnya seraya berlalu pergi.
Setelah kepergian Alby, Rena buru-buru mengunci pintu kamar mandi meskipun sudah telat. Ia merutuki kecerobohannya, sungguh kini ia merasa malu pada suaminya. Meskipun sudah ada kesepakatan, tetap saja Rena belum biasa.
Sementara Alby langsung menuju kamar bawah dan membuka kamar mandi. "Sialan, bagaimana bisa tubuhku secepat itu merespon!" umpat Alby pada dirinya sendiri. Ia langsung berdiri di bawah shower dan mengguyur seluruh tubuhnya menggunakan air dingin, yang ia harapkan dapat mendinginkan isi kepalanya. Sialnya, bayangan tubuh Rena yang tanpa sehelai benangpun pun di kamar mandi tadi, justru berkeliaran memenuhi otaknya. Hingga membuat dirinya mempunyai fantasi liar yang luar biasa. Andaikan saat itu Alby langsung menyeret Rena keluar dari kamar mandi, kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang, membuat perempuan itu terdiam pasrah di bawah kungkungannya. Kemudian keduanya saling merajuk gairah panas yang membara.
"Astaga, kenapa otakku begitu kotor! Tidak bisa di biarkan. Belum sehari aku tinggal bersamanya, sudah begini."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 217 Episodes
Comments
Wati_esha
Hiks .. Alby terbayang terus ya. Dapat durian runtuhkan? 😜😜😜
2022-08-15
2
Wati_esha
Eaaaa asik melamun lupa tuh sudah bugil, bukannya mandi malah diam-diam duduk di closet. 🤦♀️
2022-08-15
1
Wati_esha
Tq update nya.
2022-08-15
1