Rena merasa lega setelah keluar dari kelasnya, ia tersenyum membayangkan jika Misel pasti telah menunggunya di rumah. Ia mengetuk-ngetuk keningnya, ingin membawakan anak itu apa ya, pasti seharian ini mood anak itu tidak bagus.
"Ren, temenin aku ke toko buku yuk. Mau cari referensi ni?" ajak Alena yang tiba-tiba telah berada di sisinya..
"Duh, aku gak bisa Le. Coba deh kamu ajak itu si Nela apa Nena," saran Rena dengan perasaan tak enak.
Alena cemberut, "udah pada ngacir pulang duluan. Ayolah Ren, sebentar doang. Butuh banget ini aku. Kalau kesana sendirian aku berasa kaya orang gila!" Perempuan itu terus mendesak Rena.
"Lagian timbang nyari buku referensi aja kenapa sih harus sampai ke toko buku. Udah pinjam aja di perpustakaan Le," usul Rena.
"Gak ada di sana. Ayo ih, lagian kenapa sih kamu tumbenan banget sok sibuk, buru-buru pulang, udah kaya mikirin anak suami aja," cebik Alena kesal.
"Ya udahlah aku pergi sendiri, gak ada yang peduli lagi sama aku," imbuhnya kemudi. Alena berlalu dari hadapan Rena.
Rena terdiam, merasa bersalah dengan sahabatnya itu. Ia kembali berfikir mungkin tidak masalah kalau hanya sebentar. Akhirnya, Rena berlari mengejar Alena.
"Ya udah ayuk aku temani. Jangan ngambek dong," ujar Rena seraya merangkul pundak temannya.
Kini Alena dan Rena tengah berada di salah satu pusat perbelanjaan. Keduanya berada dalam toko buku terbesar di kota itu. Sementara Alena sibuk mencari bukunya, Rena juga tak mau kalah memilihkan buku dongeng. Ia pikir tidak ada salahnya ia membelikan Misel buku dongeng baru, karena anak itu paling suka saat menjelang tidur di bacakan sebuah dongeng. Rena mengambil beberapa buku, dan membawanya ke kasir. Begitupun dengan Alena.
"Sudah?" tanya Rena pada Alena.
"Iya udah!"
"Ya udah yuk kita pulang," ajaknya.
Alena memegang tangan Rena, "laper banget Ren. Makan dulu ya, sebentar doang. Please, aku yang traktir deh. Masa sih kamu tega, kalau sahabatmu yang manis bin imut ini pingsan karena kelaparan."
Rena memutar bola matanya jengah, begitulah salah satu sahabatnya itu kalau ada maunya, paling pintar memasang muka melas. Kalau sudah begitu tentu saja Rena pasti tak kuasa untuk menolak.
Keduanya memilih turun ke lantai dasar, menuju salah satu restoran Jepang. Alena mengatakan ingin sekali makan-makanan Jepang.
Seorang perempuan dengan pakaian kimono ala-ala Jepang, menyambut kedatangan mereka, lalu menggiring keduanya ke salah satu kursi. Di saat keduanya tengah bersiap memasukan memasak makanan yang telah tersedia dengan bahan-bahan mentah di atas meja. Mata Alena justru mengarah pada seorang pria yang tak asing baginya, lalu perempuan itu menepuk pundak sahabatnya.
"Ren, Ren. Coba deh lihat ke arah sana, itu bukannya Pak Alby ya?" tunjuk Alena pada seorang pria yang tengah duduk di kursi paling ujung, dan di depannya tampak seorang perempuan cantik.
"Mana ih? Kamu salah lihat kali." Rena berusaha melihat ke arah yang Alena tunjukkan.
"Itu lho, Ren aku belum buta apa lagi sampai rabun. Itu jelas Pak Alby, tapi sama seorang perempuan Ren. Itu siapanya ya? Cantik sih, cocok mereka. Jangan-jangan calon istrinya lagi ya Ren."
Rena membeku terdiam di tempat, kedua tangannya mengepal seolah telah siap melayangkan tinju pada siapapun. Kedua matanya terasa memanas, melihat pemandangan di depannya. Sebuah pikiran negatif mulai muncul di otaknya. Suaminya yang baru beberapa jam lalu menikmati manisnya pangutan bibir dengannya, kini tengah tertawa asik bersama perempuan lain. Dan sialnya perempuan itu, adalah perempuan yang sama yang beberapa kali sempat ia lihat, Milea namanya. Rena mengingat jelas nama itu.
Kalimat Alby kemarin malam terus terngiang telinga Rena, ia mengingat jelas betapa Alby meminta dirinya untuk menganggap pernikahan itu serius bukan sebuah mainan. Lalu, dengan apa yang ia lihat ini. Apa maksudnya? Seketika amarah Rena ingin meledak saat itu juga.
"Ren, kamu kenapa?" tanya Alena bingung yang melihat tatapan Rena berubah menjadi kemarahan. Seandainya tidak ada sahabatnya itu, mungkin Rena sudah maju melabrak perempuan itu, lalu menudingnya dengan kalimat pelakor, kemudian ia akan melayangkan tamparan pada lelaki penjilat itu. Suasana hatinya yang sudah buruk, membuat selera makan Rena hilang, ia bangkit dari tempatnya.
"Ren!"
"Le, aku pulang dulu ya. Aku lupa ada janji dengan Mommy, pasti sudah di tunggu di rumah. Sorry gak bisa temanin kamu makan!" Rena beranjak pergi tanpa berniat menoleh kembali ke arah sahabatnya.
"Rena!!!" teriakan Alena yang cukup keras membuat semua penghuni restoran itu menoleh ke arahnya, tak terkecuali Alby yang berada di sana. Lelaki itu terkejut mendengarnya nama istrinya di panggil oleh seorang perempuan, pasalnya Alby memang belum mengetahui jika Alena adalah sahabat Rena. Lelaki itu mencoba berfikir positif, jika nama Rena itu banyak tak mungkin yang di maksud adalah Rena istrinya.
"Anak itu kenapa sih? Tiba-tiba jadi berubah begitu," gumam Alena tak habis pikir.
****
Dalam perjalanan pulang Rena terdiam, matanya berkaca-kaca. Sesekali ia akan menolehkan kepalanya ke luar jendela, berharap hal itu dapat mengurangi rasa sakit dan sedihnya. Tapi, semua itu hanya percuma.
Perasaan Rena kali ini jauh lebih sakit. Apakah ini yang di namakan patah hati dan cemburu? Rena sendiri merasa bingung, lantaran baru kali ini ia merasakan perasaan seperti itu. Jantungnya serasa di remas-remas.
"Kenapa hatiku sakit. Kalau tau rasanya akan seperti ini, mungkin lebih baik dulu aku memilih dipenjara saja." Tiba-tiba rasa penyesalan itu hinggap dalam benaknya, telah menerima pernikahan itu. Mungkin saja akan lebih baik ia masuk penjara, karena hal itu tidak akan membawa dirinya bermain perasaan seperti ini.
Rena meremas buku-buku yang baru ia beli di dalam shopping bag. Tak ia sangka niatnya pergi ke mall itu justru mendapatkan pemandangan yang menyakitkan.
"Apakah aku memang telah mencintainya?" lirihnya. Untuk hal ini Rena merutuki kebodohannya, yang mudah percaya pada suaminya. Harusnya ia tak langsung percaya pada pria asing yang baru beberapa hari ia kenal, meskipun statusnya telah berubah menjadi seorang suami.
Turun dari taksi Rena melangkah masuk ke dalam rumah dengan lesu. Ia mendudukkan dirinya di sofa, bayangan wajah Alby yang tertawa begitu bahagia bersama Milea, mengusik dirinya.
"Munafik!"
"Dasar buaya darat tidak tau malu!"
"Seenaknya saja dia memberikan janji, tapi di luar ia pun melakukan hal sama pada perempuan lain."
Rena terus mengumpat Alby, emosinya terlihat meluap, ia kembali mengepalkan kedua tangannya.
"Lihat saja, akan ku beri kamu pelajaran," ancamnya kemudian.
"Bunda kenapa?" tanya Misel.
Rena menoleh ke arahnya sejenak, ia terdiam mencerna segala yang telah terjadi. Haruskah ia menyalahkannya anak itu. Tidak! Rasanya itu tidak adil. Rena pun sudah terlanjur menyayangi Misel, meski seandainya anak itu bukan anak dari Alby.
"Tidak sayang. Bunda hanya capek!" dustanya, sebisa mungkin Rena terlihat baik-baik saja di depan putri sambungnya.
Misel tersenyum lalu merebahkan tubuhnya di pangkuan Rena, "kangen," ucap anak itu. Rena membelai lembut pipi anak itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 217 Episodes
Comments
Mary Bella
cb Tanya misel,milea Tu sapa Rena?aku juga mau tau ini
2023-09-12
0
Anisa
Cinta itu datang dengan cara yang terduga
2022-09-26
1
Wati_esha
Alby .. ada apa denganmu?
2022-08-18
0