Hingga malam menjelang Rena terus berada di sisi Misel, terkadang mendengarkan anak itu cerita, atau ia sendiri yang bercerita. Sementara Alby memilih berkutat dengan laptopnya di sofa. Rena pikir mungkin lelaki itu tengah menerima tugas-tugas dari anak didiknya. Sesekali lelaki itu akan melihat ke arah keduanya, ia hanya mampu tersenyum tipis. Rasanya baru kali ini ia melihat putrinya terlihat begitu bahagia.
Alby melirik arloji di tangannya, kemudian bangkit dari sana.
"Pulanglah, kau istirahat saja di rumah!" ujar Alby pelan pada Rena.
Rena menoleh ke arah suaminya, "aku menginap saja, menemani Misel. Kalau bapak mau pulang tidak apa-apa!"
Alby menggeram, ia menyuruh tetapi kenapa justru menjadi dia yang disuruh. Perempuan itu memang benar-benar membuatnya kesal, entah Alby kesal karena disuruh pulang, atau mendengar panggilan bapak yang ditujukan untuknya.
"Ayah kenapa sih? Orang Misel masih kangen sama Bunda. Kalau gitu ayah saja yang pulang!" timpal Misel seraya mengerucutkan bibirnya ke depan.
"Ya sudah, ayah keluar dulu membeli makan." Alby memilih mengalah dan keluar dari ruangan itu.
Rena mengamati kepergian suaminya, ia menyentak nafasnya pelan, mengingat ucapan suaminya yang begitu enteng akan memberikan adik bayi untuk Misel. Bagaimana mungkin lelaki itu begitu enteng saat berucap? Sementara hubungan keduanya masih terlihat abu-abu seperti ini, tidak ada kejelasan. Bagaimana mungkin ia dapat memberikan Misel seorang adik, sedangkan keduanya tidak saling mencintai.
Selain itu, selama ini Rena menahan diri untuk tak berpacaran mengabaikan soal pernikahan demi sebuah cita-cita, ia tidak pernah berfikir untuk segera menikah dan memiliki seorang anak. Ia tidak ingin keinginan untuk menggapai cita-citanya terhambat. Ya Rena belum ingin memiliki anak. Bukankah pernikahan ini hanya demi Misel, untuk apa ia memikirkan seorang anak.
Tepukan tangan mungil Misel menyadarkan ia dari lamunannya, Rena mengenyahkan segala isi kepalanya tadi. Ia kembali mendengarkan anak itu bercerita kesehariannya selama di sekolah. Sampai akhirnya anak itu merasa lelah dan tertidur. Perempuan itu tersenyum, merapatkan selimutnya, ia bangkit dan memberikan kecupan lembut di kening Misel.
"Kamu cantik banget sih nak. Ibumu pasti dulu juga sangat cantik, tapi ayahmu juga tampan sih," celetuk Rena pelan. Karena tidak ada teman mengobrol ia merasa ngantuk, sampah akhirnya Rena tertidur.
Alby baru saja tiba, tangannya menggenggam kotak makanan dari luar. Tatapannya tertuju pada Rena yang tertidur di samping ranjang Misel, dengan posisi duduk, dan kepala yang ditelungkupkan di antara kedua tangannya.
Alby menghela nafas panjang, "tidak bisa dibilangin. Ngomong sama dia berasa ngomong sama Misel, banyak ngebantahnya!"
Maksud Alby menyuruh perempuan itu untuk pulang, agar dapat beristirahat dengan nyaman di rumah. Dari pada sekarang, posisi tidur Rena begitu tak nyaman.
Alby yang merasa kasihan, berniat memindahkan Rena ke sofa. Ia pikir tidur di sofa lebih baik daripada di kursi. Sebelumnya, Alby meletakkan makanan yang ia bawa di atas meja, kemudian melangkah mendekati Rena.
Alby melambaikan tangannya di dekat wajah Rena, memastikan perempuan itu benar-benar tertidur. Alby mengangkat tubuh Rena.
"Berat juga ini bocah, dosanya banyak kali ya," gumamnya pelan.
"Eugh!" Rena meleguh dalam tidurnya, hampir saja membuat Alby terkejut karena mengira perempuan itu akan terbangun. Untuk itu, Alby buru-buru melangkah ke sofa, tapi sepertinya dirinya sedang tidak beruntung, karena kurang hati-hati ia jadi menabrak kaki meja.
Dug!
Bugh!
Cup!
Alby terhuyung jatuh masih dengan menggendong Rena. Ia terjatuh tepat menimpa tubuh Rena, hingga tanpa sengaja bibirnya mendarat tepat di bibir Rena, dan tangannya tepat berada di atas dada Rena. Bersamaan dengan itu kedua mata Rena terbuka, ia terbelalak mendapati posisinya kini, dan jangan lupakan benda kenyal yang kini berada di bibirnya.
Rena hendak menjerit, tetapi dengan sigap Alby justru membungkam bibir perempuan itu lebih dalam lagi, hanya sesaat setelah di rasa tenang Alby melepaskan pangutan itu.
"Em sorry!" Alby buru-buru bangkit dari atas tubuh Rena, nafasnya masih memburu. "Aku hanya berniat memindahkan tidurmu di sofa, tapi aku tersandung. Maaf, lupakan soal tadi," sambungnya tanpa menoleh ke arah Rena. Tentu saja ia mengatakan demikian, karena tak mau Rena berpikir macam-macam tentang dirinya, ia tak mau Rena berpikir jika dirinya yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.
"Kebetulan kau sudah bangun, aku tadi membelikan mu makanan, jadi makanlah lebih dulu sebelum lanjutkan tidurmu. Tidur saja di sofa jangan di kursi seperti tadi," ujar Alby seraya bangkit dari tempatnya.
"Bapak mau kemana?" tanya Rena seraya mengubah posisi tubuhnya menjadi duduk.
"Aku mau keluar sebentar, membeli kopi," sahutnya seraya berlalu pergi tanpa menoleh ke arah Rena kembali.
Usai kepergian Alby, Rena menatap makanan yang terbungkus rapi di atas meja. Ia menekan degup jantungnya yang masih berdetak lebih kencang. Tak sadar dirinya meraba bibirnya, seketika bayangan adegan tadi kembali terlintas. Rena memukul kepalanya.
"Ya ampun, cium an pertamaku. Bibirku sudah tidak perawan lagi," gumam Rena, wajahnya merona malu, tetapi sedetik kemudian wajahnya berubah sendu ketika mengingat perkataan Alby yang terakhir. Lelaki itu meminta untuk melupakan kejadian tadi, yang benar saja. Jadi, ia menganggap bahwa ciuman itu tidak ada artinya sama sekali begitu.
"Mungkin bagi dia sudah biasa kali ya?" monolog Rena, "sudahlah lupakan saja, anggap saja tidak terjadi apa-apa. Aku tidak perlu banyak berharap dari pernikahan ini!" tambahnya kemudian.
Alby duduk di cafe depan rumah sakit itu seorang diri sambil menikmati secangkir kopi yang ia letakkan di atas meja. Sesekali tangannya menekan ponsel di tangannya, berharap akan memudarkan bayangan kejadian tadi.
"Ah, sial. Kenapa aku jadi terbayang bibirnya terus!" umpat Alby pada dirinya sendiri.
Bahkan hal itu membuat aliran darahnya berdesir, suatu perasaan yang sudah lama ia rasa mati. Bagaimana jika tadi ia semakin memperdalam lagi pangutan bibir itu, hingga ia lepas kendali. Kemudian ia mengukung Rena di bawah tubuhnya, menikmati malam panas bersamanya, bukankah seorang pengantin baru harusnya melakukan ritual malam pertama pada semestinya. Tapi, dirinya? Ah ia lupa, bahkan dirinya menikahi perempuan itu karena suatu hal, demi Misel. Rasanya akan sangat tak wajar jika ia menuntut haknya pada istrinya kini.
Alby menyentak nafasnya, berusaha mengenyahkan fantasi liar yang tengah terbayang otaknya, membuangnya jauh-jauh. Kini, suatu perasaan sesak tengah menghimpit dadanya. Sejujurnya Alby juga merasa kasihan dengan Rena, hanya demi kebahagiaan putrinya, ia memaksa perempuan itu untuk menikah dengan dirinya, dengan ancaman masuk penjara. Bahkan jika Rena bersikeras menolak lalu melakukan proses jalan hukum, ia yakini dirinya akan kalah. Mengingat anak siapa yang ia nikahi. Rava tentu akan melakukan apa saja demi putrinya. Tapi, karena rasa sayangnya terhadap Misel, perempuan itu memilih menikah dengannya.
cantik gini gimana gak klepek2 coba Pak Alby..😆
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 217 Episodes
Comments
Naufal Jr.
wah dilraba..🥰
2022-11-27
0
Iin Romita
waahhh visualnya kaya akuhh
2022-11-27
0
Kania
sweet.. sweet
2022-09-29
0