Sesi seminar telah selesai, Rena keluar dari gedung melangkah menuju mobilnya. Hari ini ia harus kembali bekerja ke rumah sakit, dan malam harinya ia harus mengerjakan tugas dari dosen baru itu. Sebenarnya ia merasa sengat lelah berfikir, tetapi demi cita-citanya menjadi seorang dokter ahli bedah, ia harus tetap semangat.
"Ren!" seorang pria berkulit putih, memiliki bola mata berwarna biru menghampiri Rena dengan senyum di wajahnya.
Rena yang hendak membuka pintu mobilnya pun menoleh, "iya Dokter Ryan!" sahutnya. Mereka adalah rekan kerja yang sama di rumah sakit.
"Ada apa?" imbuhnya.
"Tidak! Hanya ingin menyapa. Ku kira kamu tidak membawa mobil, aku berniat menawarkan bantuan," kilah Ryan.
"Terima kasih dokter, atas niat baik anda," balas Rena ramah. Setelah itu, Rena berpamitan untuk masuk ke dalam mobilnya. Sementara Ryan masih terdiam menatap kepergian Rena, hingga mobil gadis itu sampai benar-benar tak terlihat.
'Susah banget buat dapetin simpati kamu sih, Ren!' gumamnya frustasi. Ya, selama ini Ryan memang memendam rasa pada Rena, tetapi gadis itu selalu acuh, bahkan mungkin terkesan tak perduli. Rena selalu menjaga batasan terhadap lelaki, bukan karena ia sok suci. Hanya saja Rena sadar tak ingin kedekatannya dianggap serius. Dalam benaknya hanya ingin membuat kedua orang tuanya bangga.
Sampai di rumah sakit Rena segera bekerja seperti biasanya. Perawat segera membantu memanggil pasien. Umumnya yang ia tangani adalah pasien ringan. Rena bersyukur hal itu berjalan dengan lancar.
Ketika malam menjelang Rena baru tiba di rumahnya, suasana dalam keadaan sepi, hanya ada beberapa pelayan yang masih berjaga.
****
Hari ini Rena berhasil memperbaiki waktu tidurnya, untuk itu ia tak kesiangan. Pukul tujuh pagi, Rena sudah tiba di kampus. Seperti perintah Dosen Alby, sebelum masuk ke dalam kelasnya nanti pukul delapan, Rena harus menghadap ke ruangannya lebih dulu.
Baiklah, sebagai seorang mahasiswa bukankah ia hanya perlu menurut. Toh tugas yang diberikan dosen itu sudah di tangan. Jadi untuk apa Rena takut. Yang perlu ia siapkan adalah mental hatinya kala menghadapi dosen killer itu.
Ketika telah sampai di depan ruangan dosen Alby. Rena menghela nafasnya, sedikit ragu untuk mengetuk pintu ruangan itu. Tapi, ia tetap harus masuk.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!" serunya dari dalam.
Ceklek!
Rena membuka handle pintu, dan melangkah masuk dengan pelan. Ia melihat Alby masih sibuk berkutat dengan laptop di hadapannya.
"Selamat pagi pak!" sapa Rena. Meski ia sebenarnya merasa enggan untuk menyapa, tapi Rena tau bagaimana harus bersikap pada semestinya. Posisi Alby saat ini lebih unggul, jelas Rena akan kalah jika berani melawan lelaki itu.
"Hemm!" Alby hanya berdehem. Tanpa menoleh ke arah Rena.
"Pak, saya ingin menyerahkan tugas yang kemarin bapak berikan kepada saya," kata Rena sopan.
Alby mengangguk, seraya mengangkat tangannya, "sebentar!"
Rena merenggut kesal, kakinya pun terasa pegal, lalu dia di suruh menunggu. Apa salahnya sih di terima lebih dulu, pekerjaannya bisa di selesaikan nanti, pikir Rena.
Lima belas menit berlalu tapi Alby belum juga selesai dan berbicara padanya, Rena pikir dosen itu sengaja mengerjai dirinya. Sungguh Rena merasa kakinya pegal dan hampir merasa kram. Sejak tadi ia menunggu tanpa dipersilakan untuk duduk.
"Pak saya duduk ya!" ujar Rena tanpa menunggu persetujuan dari Alby, ia menggeser kursi di depannya, kemudian mendudukan dirinya di sana.
"Uhh!" Rena menghela nafas lega.
"Siapa yang menyuruh kamu duduk!" ucap Alby dengan tatapan mata yang tajam. Seketika Rena menelan ludahnya secara susah.
"Emm... Tapi... Pak!"
"Bangun!" seru Alby datar.
Rena menggeram kesal, mencoba menahan kesabarannya ia kembali berdiri.
"Duduk!" titah Alby, seketika mata Rena membeliak terkejut, tak percaya. Sungguh Rena merasa di kerjain oleh dosennya itu.
"Ihh!" dengus Rena, namun tak urung ia pun mendudukan dirinya di kursi, memilih diam tanpa ingin berdebat.
"Kenapa?" Alby memicingkan matanya menatap ke arah Rena yang tengah memasang wajah kesal.
Rena merenggut, "Bapak itu ngerjain saya ya! Tadi saya kan sudah duduk disuruh berdiri. Giliran saya sudah duduk suruh berdiri lagi!" Percayalah, baru kali ini Rena bisa bersikap kurang ajar seperti itu pada seorang dosen. Karena menurutnya Dosen Alby memang benar-benar keterlaluan.
"Suka-suka saya, ruang-ruangan saya kok kamu yang protes!" kata Alby, seraya mengulurkan tangannya, meminta tugas dari Rena. "Mana tugasmu?" imbuhnya.
Rena menyentak nafasnya, berusaha mati-matian untuk tak melemparkan map yang tengah ia bawa itu untuk membalas sikap Alby.
"Silakan bapak Alby." Rena menyerahkan tugasnya, Alby pun menerimanya. Setelah itu Rena berniat untuk kembali ke kelasnya. Tapi suara Alby menghentikan niatnya.
"Saya pikir ini ada yang kurang, kamu bisa bawa kembali tugasmu, dan besok bawa lagi untuk serahkan ke saya!" ujar Alby. Rena mendelik tak percaya, semalaman ia bergadang demi mengerjakan tugas itu, dan ia yakini hasilnya sudah sempurna lalu Alby bilang masih kurang sempurna.
"Tapi ini saya-"
"Ck! Jangan kebanyakan protes lakukan apa tugasmu. Ini jelas banyak kesalahan, masih untung saya meminta kamu memperbaiki lebih dulu. Kamu mau saya memberi nilai sesuai tugasmu ini," ujar Alby.
Rena menggeleng, seraya menerima kembali tugas miliknya. Meski dalam hati terasa dongkol tapi ia sendiri tidak bisa berbuat banyak. Baiklah mungkin memang dirinya yang kurang konsentrasi semalam saat mengerjakan tugas miliknya. Tanpa permisi Rena beranjak dari kursinya.
"Rena!"
Langkah Rena kembali terhenti ketika mendengar namanya di panggil, dengan enggan ia pun menoleh.
"Ya pak!"
"Kamu mau ke mana?" tanya Alby.
'Sejak kapan dosen itu begitu kepo dengan anak didiknya,' gumam Rena.
"Kembali ke kelas," jawab Rena dengan malas.
Alby mengangguk, "bagus. Kalau begitu sekalian kamu bantu saya bawakan ini!" tunjuk Alby pada beberapa buku di atas meja.
Rena membulatkan matanya tak percaya, "Bapak gila ya. Itu kan tugas bapak ngapain harus saya," cetusnya tanpa sensor.
"Kamu-" tunjuk Alby.
Rena yang menyadari perubahan wajah Alby, seketika menutup mulutnya kala menyadari bahwa dirinya telah salah bicara.
"Oh maaf pak! Saya keceplosan." Rena kembali menutup mulutnya kala menyadari dirinya kembali salah bicara, harusnya jangan jujur-jujur, bilang saja salah bicara. Meski sebenarnya apa yang Rena ucapakan itu tulus dari hatinya, benarkan baru kali ini Rena menemukan seorang dosen yang ngeselin ya kelewat batas. Tiba-tiba ia merasa ruangan itu terasa senyap. Tak ingin terkena masalah, Rena segera melangkah mengambil buku apa yang tadi di tugaskan oleh Alby untuk di bawa ke kelasnya.
"Permisi pak!" seru Rena seraya berlalu pergi.
"Ck! Kenapa sih kalau ngaadepin anak itu bawaanya pengen naik darah!" keluh Alby.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 217 Episodes
Comments
Wati_esha
Rena, perhatikan sikap dan langkahmu agar tak mendapatkan beban tambahan.
2022-08-11
1
Wati_esha
Hmmm Alby, baik - baiklah bersikap. Awasss malah jadi bucin.
2022-08-11
1
Wati_esha
Tq update nya.
2022-08-11
0