Malam hari di sebuah rumah minimalis berlantai dua, seorang anak kecil terus merengek sambil menangis. Sang pengasuh pun bahkan sampai dibuat kalut untuk memenangkannya.
"Non! Non Misel tenang ya, ini sudah malam waktunya Non tidur," bujuk pengasuhnya yang bermana Ratri.
Anak kecil itu menggeleng terus terisak, "gak mau Nany. Aku mau tidur sama Bunda, aku mau nunggu Bunda. Bukankah tadi Nany dengar sendiri kalau Bunda akan pulang!" kekehnya bahkan ia sampai menghentakkan kakinya.
"Non, maksud Non itu Kakak yang tadi di tempat Ayah Non ngajar?" tanya Ratri. Perempuan yang sudah berusia 30 tahun itu, tengah mencoba mengingat pertemuannya tadi siang dengan perempuan asing yang dipanggil oleh anak majikannya dengan sebutan Bunda.
Misel mengangguk, "iya! Dia bukan kakak, dia itu Bundaku. Bunda pasti pulang kan Nany. Dia tidak mungkin kembali membiarkan Isel menunggu," lirihnya penuh harap, matanya nampak berkaca harapannya begitu besar untuk bisa berjumpa dengan ibunya. Tetapi, Misel tak mengerti keadaan sesungguhnya, bahwa ia telah salah sangka. Hanya karena paras Rena seperti yang Ayahnya katakan membuat ia berfikir dan langsung mengklaim bahwa Rena adalah ibunya.
Sementara itu, di bawah seorang lelaki tampan, kulit putih, hidung mancung baru tiba di rumahnya. Seorang pelayan membukakan pintu untuknya.
"Apakah putriku sudah tidur?" tanyanya begitu masuk ke dalam rumahnya, dan melihat suasana rumah dalam keadaan sepi.
"Sepertinya baru saja, Tuan!" sahutnya.
Pria itu mengangguk, lalu melanjutkan langkahnya berniat untuk mengunjungi kamar putrinya, akan tetapi langkahnya terhenti, ketika mendengar suara perempuan paruh baya memanggil dirinya.
"Alby, kau baru pulang?"
"Iya, Bu?" sahutnya. Pria itu memilih mengurungkan niatnya, dan menghampiri ibu kandungnya. Lalu mengulurkan tangannya menyalaminya secara lazim, "kapan ibu datang?" imbuhnya kemudian kembali bertanya.
"Tadi sore, ibu kangen sekali dengan Misel," jawab Soraya sembari melangkah ke sofa yang terdapat di ruang tengah. Alby mengikuti langkahnya ibu kandungnya, mendudukan dirinya di sebrang meja.
"By, kapan kamu akan menikah?" tanya Soraya dengan menatap putranya penuh harap.
Alby menghentikan gerakan tangannya yang tengah melipat lengan kemejanya, menatap ke arah ibunya sejenak. "Bu, bukankah hal seperti ini sudah sering kali kita bahas. Aku tidak menginginkan sebuah pernikahan. Cukup sekali aku gagal," pungkasnya.
Soraya menyentak nafasnya, beberapa kali ia kerap meminta putranya itu untuk menikah kembali, tetapi jawabannya selalu sama. Tapi, apakah ia tidak pernah berfikir, bahwa putrinya membutuhkan kasih sayang seorang ibu.
"Tapi, Misel membutuhkan seorang ibu?" ujar Soraya serius.
Alby memalingkan mukanya ke arah lain, jika berbicara tentang pernikahan dan seorang ibu untuk Misel, pria itu merasa begitu malas. Andai bukan ibu kandungnya mungkin ia lebih baik pergi saat itu juga.
"Bu, Misel hanya seorang anak kecil. Sejak kecil tidak tau apa itu seorang ibu, jadi biarkan saja. Aku masih mampu untuk bayar pengasuh!" ujar Alby.
Soraya memijat keningnya, "ibu tau kau banyak uang. Kau bahkan bisa memberikan banyak pengasuh untuk putrimu. Tetapi, yang ia butuhkan bukan itu. Seorang ibu, kau tentu paham apa bedanya. Nak, ibu ini sudah tua, umur bahkan tidak ada yang tau akan bertahan sampai kapan? Tapi, ibu merasa belum tenang jika kau belum menikah, dan Misel belum mempunyai seorang ibu!"
Alby menatap ibunya dengan tak percaya, ia sama sekali tak menyukai pembicaraan ibunya, jika sudah membicarakan soal usia.
"Bu-"
"Kau bahkan tidak tau bagaimana keseharian putrimu kan. Ibu tidak tau, sejak pulang sekolah putrimu itu merengek terus dengan memanggil Bunda. Bahkan pengasuh yang kau gaji sampai bingung menenangkannya. By, andai kau bisa melihat sendiri keadaan putrimu lebih dalam lagi. Kau pasti akan paham apa yang diinginkan putrimu saat ini!"
Alby memilih diam dibandingkan harus menjawab dan kembali berdebat dengan ibunya, ia mengatakan bahwa ia lelah dan butuh istirahat. Akhirnya, Alby memilih untuk berpamitan pergi, dengan dalih untuk istirahat. Soraya hanya menghela nafasnya seraya mengelus dadanya menghadapi sifat dingin putranya.
Sementara Alby yang telah sampai di lantai dua, ia bukannya pergi menuju kamarnya, melainkan kamar putrinya. Ratri yang saat itu baru selesai menidurkan Misel pun menoleh melihat pintu kamar terbuka.
"Apa ada telah terjadi sesuatu?" tanya Alby pada pengasuh putrinya setelah sebelumnya ia mendaratkan kecupan singkat di kening Misel.
"Iya Tuan, sejak pulang dari kampus di mana tadi Tuan mengajar, Non Misel terus merengek memanggil Bunda. Ia bilang, ia tidak mau tidur karena menunggu Buna." Ratri menjelaskan tanpa ada yang ia tutup-tutupi.
Alby mengerutkan keningnya, tadi ia pikir apa yang di ucapkan ibunya adalah bohong, ia hampir tidak percaya. "Kenapa bisa? Memang siapa yang dia maksud?"
Kemudian Ratri pun menjelaskan pertemuan Misel pada majikannya. Alby hanya mengangguk meski saat itu juga ia dalam keadaan bingung menebak siapa gadis yang dimaksud Misel. Dalam hati berharap semoga esok setelah bangun Misel akan melupakannya.
****
Sementara Rena masih terjaga, perempuan itu tengah mempersiapkan barang apa saja yang harus ia bawa. Besok ia harus kembali ke rumah sakit, untuk melakukan seminar. Harusnya hal itu sudah ia persiapkan sejak tadi, tapi entah kenapa kejadian tadi siang terus mengusik dirinya. Dalam benaknya ia merasa bersalah pada anak kecil itu.
Rena takut jika anak itu benar-benar menunggu dirinya. Ia sendiri tidak tahu mengapa ia bisa mempunyai perasaan iba padanya. Mungkin hanya karena dia anak kecil.
Ketika menatap kedua mata anak itu, Rena bisa melihat sebuah kerinduan yang begitu dalam.
"Sebenarnya anak siapa dia? Masa sih anak sekecil itu tidak mempunyai ibu!" gumamnya. Rena menyingkirkan tas miliknya, kemudian kembali duduk menghidupkan laptop miliknya. Beberapa detik kemudian ia menganga, saat menerima sebuah email dari seorang dosen.
"Gila ini dosen ya!" decaknya, ketika ia tahu ada sebuah email masuk yang berisi sebuah tugas dari dosen baru yang bernama Alby Darmawan. Rena kesal begitu banyak tugas yang ia dapat hanya karena baru satu kali ia tak mengikuti kelas dosen itu. Di tambah kalau Rena menolak tugasnya, dosen itu akan mengancam untuk memberikan nila C pada Rena.
"Baiklah masih ada waktu sehari, besok setelah urusan seminar dan pekerjaan di rumah sakit selesai, aku bisa mulai mengerjakannya, sekarang otakku benar-benar tidak bisa berfikir!"
Tok! Tok!
"Ren, belum tidur?" tanya sang ibunda dari luar.
Rena menghela nafasnya, kemudian melangkah ke arah pintu, ia membuka tampak seorang wanita setengah baya yang masih cantik berdiri dihadapannya.
"Ada apa, Mom?"
Dinda menggeleng, "tidak ada. Mom, cuma pengen lihat kamu saja. Kamu seharian mengurung diri di kamar, Mom kira kamu sedang tidak enak badan."
Rena tersenyum melihat raut wajah khawatir Mommynya. "Kata siapa? Aku sudah keluar tadi, Mom saja yang tidak tau. Karena Mom sibuk dengan urusan pernikahan Kak Rava!" sungutnya.
"Masa sih? Duh iya, Mom mau yang terbaik untuk kakak kamu itu. Nanti pernikahan kamu juga ya, Mom juga akan melakukan hal itu!" ucap Dinda.
Rena menggeleng, "aku belum kepikiran!"
Dinda menghela nafasnya, setelah itu ia meminta putrinya untuk segera istirahat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 217 Episodes
Comments
Wati_esha
Misel .. kasihan. 😭
2022-08-04
1
💦💦 Istrinya Yayang 💦💦
Aku penasaran, ibu kandung Misel kemana Thor?
Mereka berpisah karena perceraian, atau kematian.
2022-08-03
2
Iin Romita
Yuk Rena,,gaskeun.... jadilah pengganti bunda Misel....
Alby,, seketika aq ingat teman sesama penulis yg ngambek'an🤣🤣 trus blok nmerku
2022-08-03
2