Usai mengantarkan Misel ke rumah. Alby pun melajukan mobilnya ke rumah mertuanya. Dalam perjalanan keduanya terdiam. Rena yang asik melihat lalu lintas jalanan yang cukup padat. Sementara Alby berkonsentrasi menyetir.
Sampai di rumah Rena berlalu ke kamarnya untuk membereskan barang-barangnya. Tidak semua hanya beberapa bagian yang ia bawa.
Alby tengah duduk di sofa ruang tamu menunggu Rena dengan di temani ibu mertuanya.
"Titip Rena ya Nak Alby. Bimbing Rena ya, maklum Rena itu belum bisa apa-apa. Masak pun tidak bisa, makanya Mommy juga heran, kenapa kamu mau menikah dengan anak itu," ucap Dinda.
Alby tersenyum, "tidak masalah Mom. Bagi saya, yang penting Rena mau menerima Misel."
"Ah, anak itu kalau dengan anak kecil memang sangat suka. Itu anak tetangga depan rumah juga senang sekali dengan Rena."
Alby mengangguk paham, pantaslah Misel langsung lengket dengan Rena, setelah mendengar ucapan mertuanya.
"Pada ngomongin apa sih. Ngomongin aku ya!" timpal Rena yang baru tiba dengan membawa satu koper berukuran besar.
"Ya sayang. Mommy baru bilang tentang kamu, kalau putri ibu ini tidak bisa masak."
"Apa sih Mom. Harusnya jangan jelek-jelekin aku lah," balas Rena cemberut.
"Bukan jelekin, tapi itu kan fakta!"
Alby tersenyum tipis, bangkit dari tempat duduknya kemudian berpamitan untuk segera pulang. Sebelumnya, Alby sudah menanyakan perihal ayah mertuanya tetapi ternyata Rava memang tengah berada di luar negeri. Jadi, Alby mengatakan lain Ali akan berkunjung.
"Kenapa sih buru?" tanya Dinda saat mengantarkan keduanya di depan rumah.
"Misel baru pulang, Mom. Biasanya dia suka gak mau ketinggal lama dengan Rena. Ini aja tadi dia udah ngebet mau ikut, tapi kami tidak memperbolehkannya. Nanti kapan-kapan kami pasti akan kesini menginap dengan Misel," ujar Alby.
"Ya, Mom menunggu. Pasti jadi rame, sekarang jadi sepi deh rumah ini," keluhnya. "Ya sudah kalian hati-hati di jalan ya. Besok Mom akan berkunjung!"
Dinda melambaikan tangannya ketika mobil yang membawa anak menantunya meninggalkan pelataran rumahnya.
"Yah sepi kan sekarang. Kalau begini kan jadi pengen cepat punya menantu perempuan, untuk menjadi teman di rumah. Coba saja aku masih di ijinkan kerja, gak ngerasa sesepi ini kali ya!" keluh Dinda, mengingat Rava memang sudah tak mengijinkan dirinya untuk bekerja. Lelaki itu meminta dirinya hanya untuk di rumah. Karena itu, Dinda yang di rumah hanya berdiam diri kadang bosen, jadi ia merawat area belakang rumah menjadi taman. Dinda menyibukkan dirinya dengan menanam beberapa bunga di sana, dengan dibantu para pelayan di sana tentunya.
****
Seharian ini Rena benar-benar menghabiskan waktunya bersama Misel. Perempuan itu merawat Misel dengan penuh kasih sayang. Terlihat Misel juga sangat menerima kehadiran Rena. Dimulai dari makan, minum obat dan membacakan buku cerita, Rena melakukannya dengan senang hati.
Soraya berdiri di ambang pintu kamar cucunya mengembangkan senyumnya.
"Ibu kenapa senyum-senyum?" tanya Alby heran.
Soraya meletakkan jari telunjuknya ke bibirnya, meminta Alby untuk diam, lalu menunjuk ke arah Rena dan Misel, di sana keduanya tertawa. Terlihat Misel begitu bahagia bersama Rena. Hal yang selama ini tak pernah Soraya lihat, perempuan baya itu merasa terharu dan bersyukur atas kehadiran Rena di tengah keluarga putranya. Mengusap sudut matanya yang keluar karena terharu, Soraya menarik tangan putranya membawanya jauh dari sana.
"Alby, kamu lihatkan bagaimana bahagianya putrimu. Sungguh ibu merasa sangat terharu By. Tidak pernah sebelumnya ibu melihat Misel bisa sebahagia itu," kata Soraya pada Alby yang saat ini tengah duduk di hadapannya.
Alby terdiam meski dalam hatinya ia membenarkan perkataan ibunya. Lalu, ia tersentak ketika pundaknya di tepuk oleh ibunya.
"Ibu tahu pernikahan kalian itu terjadi karena terpaksa, kalian melakukan semua itu demi Misel. Tapi, ibu harap kamu jangan mempermainkan pernikahan ini By. Belajarlah untuk saling menerima dan mencintai. Kalau melihat seperti ini, ibu merasa tenang By. Ibu merasa bahagia, rumah tangga putra yang ibu besarkan sejak kecil seorang diri pun bahagia." Soraya berkata dengan mata berkaca-kaca.
"Bu-"
"Berjanjilah By, demi Ibu dan Misel," kekehnya.
Alby mengangguk, "Alby akan berusaha untuk jadi suami dan Ayah yang baik untuk Rena dan Misel Bu."
Soraya merasa lega. "Kalau gitu ibu pulang dulu ya. Hari sudah sore, pekerjaan kantor ibu menumpuk!"
"Bu, sudahlah kenapa tidak istirahat saja."
"Ibu akan istirahat kalau kamu sudah bersedia mengambil alih tugas ibu."
Mendengar hal itu Alby terdiam bingung, sampai akhirnya Soraya berlalu pergi.
****
Alby yang malam itu tak dapat memejamkan kedua matanya memilih menghabiskan waktunya di ruang televisi, ia masih kepikiran perkataan ibunya tadi.
Sementara Rena yang merasa Misel sudah tertidur dengan nyenyak, beranjak keluar dari kamar. Ia berniat untuk pergi ke dapur untuk membuat su su putih untuk dirinya. Turun dari tangga, tak sengaja ia melihat televisi yang menyala, ternyata suaminya masih di sana belum tidur. Rena tak berniat menganggunya, ia melanjutkan langkahnya ke dapur.
"Kamu sedang apa?"
Rena terkejut langsung memutar tubuhnya, mendapati Alby tengah berdiri di belakangnya.
"Ini aku cari susu putih, ternyata tidak ada. Aku lupa, aku belum membelinya!" balas Rena menggaruk tengkuknya salah tingkah.
"Harus putih?"
Rena mengangguk.
"Ya sudah besok kita belanja. Kau bisa beli apa yang kamu mau, kebetulan kebutuhan dapur habis kan. Malam ini tidak apa kan tidak minum itu."
"Eh iya, tidak apa-apa kok. Aku bisa tidur lagi!" jawab Rena kembali menutup lemari pendingin dan berniat kembali ke kamar.
"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Alby.
Rena menoleh ke arah Alby, "tentang apa?"
"Tentang pernikahan kita. Kita bisa bicara di ruang televisi. Tidak apa-apa kan hanya sebentar," tawar Alby.
Rena mengangguk, mengikuti langkah Alby ke ruang televisi, lalu keduanya duduk di sofa dengan saling diam. Ia merasa jengah karena Alby tak kunjung membuka suaranya.
"Mana surat yang harus ku tanda tangani?" tanya Rena tiba-tiba.
Alby yang tengah memegang remote televisi, menoleh dengan bingung. "Surat?"
Rena mengangguk, "iya surat perjanjian pernikahan kita."
"Kamu ngomong apa sih?" wajah Alby berubah kesal, karena mengira perempuan itu tengah melantur.
Rena berdecak, "itu lho surat kontrak perjanjian pernikahan. Bapak pasti udah menyiapkannya kan, ayo mana sini aku tanda tangani. Aku mah sepakat aja, Pak."
"Gak ada surat-surat yang harus kamu tanda tangani, selain buku pernikahan kita kemarin!" sergah Alby.
Rena cemberut, "loh kok. Aku pikir kaya di drama-drama Korea yang suka aku tonton itu. Biasanya pernikahan yang di awali dengan keterpaksaan, pasti nanti prianya akan mengeluarkan kontrak perjanjian selama beberapa bulan atau setahun gitu." Ia jadi membayangkan Drakor yang suka ia tonton.
"Aduh!" Pekik Rena ketika keningnya di sentil oleh Alby.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 217 Episodes
Comments
Anisa
Aku juga mikirnya sama loh 😂
2022-09-26
1
Wati_esha
Apa yang ingin kau bicarakan dengan Rena, Alby?
2022-08-15
0
Wati_esha
Hiks .. Soraya, nyicil lega ya. Betul, Alby harus diberikan dorongan agar lebih terarah bersikap pada Rena.
2022-08-15
0