Rena meremas kedua tangannya dengan gugup, sesekali matanya memandang ke arah lelaki yang berada di sampingnya dengan kesal. Entah mimpi apa sebelumnya, hingga kini bisa menyandang status seorang istri dari seorang lelaki bernama Alby Darmawan.
Ya, kini keduanya telah sah menjadi sepasang suami istri, setelah dua jam yang lalu pernikahan itu berlangsung. Sebuah rangkain pernikahan sederhana yang di selenggarakan di kediaman Nugraha. Karena pernikahan itu hanya di hadiri oleh segelintir orang-orang terdekat saja.
Ingatkah Rena tentang ancaman Alby yang nyaris menyeret dirinya ke penjara, bila mana ia tak mau menikah dengan dirinya, membuat Rena merasa takut. Akhirnya, meski sempat terjadi perdebatan yang cukup alot, ia memilih menerima permintaan lelaki itu, tetapi dengan syarat pernikahan harus di rahasiakan. Sejujurnya, bisa saja ia menentang lelaki itu habis-habisan, toh Rena tak sepenuhnya salah. Perempuan itu hanya berniat menolong Misel, bukan membuat anak itu celaka. Tetapi, Rena tidak ingin masalah ini semakin panjang dan rumit, apalagi sampai membuat Daddy-nya turun tangan, semua itu pasti akan menjadi semakin rumit.
"Asli, aku gak percaya. Pernikahan aku dan Nadila bahkan sudah dirancang jauh-jauh hari. Tapi, kenapa jadi duluan kau yang nikah duluan sih?" ucap Davis tak percaya. Lelaki yang merupakan kakak kandung Rena itu kini telah duduk di sisi adiknya, setelah Alby tengah berlalu mengantarkan ibu kandungnya ke luar.
"Ya namanya jodoh kak!" jawab Rena dengan senyum ramahnya.
Ck! Davis berdecak, ia tau adiknya itu tengah berbohong, tapi ia sendiri tidak bisa melakukan sesuatu yang dapat mencegah pernikahan itu terjadi. Sementara, Rena sendiri sudah kekeh ingin segera menikah dengan Alby.
Davis ingat bagaimana adik kandungnya itu tiba-tiba mengatakan ingin menikah pada malam ini juga, saat sore tadi baru tiba, hal itu tentu membuat Rava dan Dinda heran. Pasalnya sebelumnya, Rena selalu menolak dan merasa enggan saat membahas masalah pernikahan. Tapi Rena pandai berkilah, mengatakan bahwa semua murni karena cinta.
"Tapi-"
"Dav, aku mau pulang."
Davis tak lagi melanjutkan ucapannya saat mendengar suara calon istrinya yang merengek minta pulang, lelaki itu memilih beranjak.
"Ya udah ayo, aku antar!" sahutnya kemudian.
"Ren, aku pulang dulu ya," pamit Nadila yang di balas dengan anggukan kepala, dan memberi kode lewat matanya. Nadila tersenyum, ia tahu Rena tengah khawatir jika dirinya nanti akan menceritakan kejadian sebenarnya dengan kakaknya itu.
Usai kepergian keduanya, Rena beranjak ke kamarnya, ia merasa gerah dengan kebaya yang melekat di tubuhnya.
"Bodo amat dengan dosen killer itulah, mau tidur di mana. Sumpah aku masih kesal banget, kalau bukan perkara kasihan dengan Misel, aku tidak mau menikah dengan lelaki itu." Rena terus ngedumel selama dalam perjalanan menuju kamarnya.
Sementara itu, Alby masih duduk di ruang tamu dengan stelan jas lengkap dengan kedua orang tua Rena.
"Nak Al, kalau merasa lelah kenapa tidak naik ke atas, istirahatlah di kamar Rena," ujar Dinda yang melihat Alby dengan wajah lesu.
"Em, iya Mom."
"Daddy tau, ada alasan di balik pernikahan dadakan ini. Tetapi, apapun yang mendasari hal itu, Daddy hanya berharap kalian jangan mempermainkan pernikahan. Jaga dan sayangi Rena. Kelak jika kau memang sudah tidak menginginkannya lagi, pintu rumah kami selalu terbuka, kau bisa kembalikan putri kami dengan baik-baik," ucap Rava.
Alby menatap mertuanya itu, sesaat ia merasa seperti tertampar telak. "Baik Dad. Saya akan berusaha untuk membahagiakan Rena."
Rava mengangguk, "ya sudah pergilah istirahat. Bukankah besok pagi, kau harus datang ke rumah sakit."
"Baik Dad."
Usai kepergian Alby. Rava memijat kepalanya yang terasa pening.
"Jika bukan karena kamu dan Rena, aku tidak akan mau menikahkan putriku secara seperti ini," keluh Rava.
"Sudahlah Dad, ini sudah menjadi keputusan Rena. Sekarang kita istirahat saja!"
****
Alby mengedarkan pandangannya, kedua matanya menyapu isi ruangan itu. Tangannya melepas jas yang semula ia kenakan, lalu ia letakkan di atas kursi, tak lupa ia pun melepaskan arloji di tangannya.
Suara gemericik air dari dalam kamar mandi terdengar, ia meyakini bahwa Rena tengah membersihkan diri. Alby merasa sangat ngantuk, tetapi ia juga merasa kepikiran putrinya di rumah sakit. Sebenarnya ingin sekali saat itu langsung berlalu ke rumah sakit saja, tetapi ibunya justru mencegahnya.
"Aku lelah sekali," keluhnya. Lelaki itu terdiam sejenak, kemudian beranjak ke ranjang, merebahkan dirinya di sana.
Ceklek!
Pintu kamar mandi terbuka, Rena dengan balutan handuk putih sebatas dada keluar. Ia sama sekali tak menoleh ke arah ranjang, Rena berlalu menuju lemari untuk mengambil pakaiannya, dan menggantinya di sana.
Alby yang melihat Rena, tengah mengganti pakaiannya memalingkan mukanya ke arah lain, tetapi sialnya ia justru menatap ke arah cermin rias hingga pantulan Rena yang tengah mengganti pakaiannya.
"Sial!" umpatnya terdengar cukup keras, hingga Rena menoleh ke sumber suara.
"Aaaa...." Rena menjerit dengan cepat ia menyelesaikan aktivitasnya, kemudian menghampiri Alby dengan cepat.
Bugh! Bugh! Bugh!
Rena memukul tubuh Alby dengan bantal.
"Bapak ngapain di sini? Bapak mau me sum ya. Keluar sana!" Rena terus berteriak, bahkan kali ini memukul tubuh Alby dengan kedua tangannya.
Alby dengan cepat menangkap pergelangan tangan Rena, "diam! Kamu sangat berisik."
"Bapak itu sangat me-"
Alby langsung membungkam mulut Rena dengan salah satu tangannya, "gak usah teriak, kamu mau membangunkan seluruh isi rumah ini. Lagian apa salahnya aku itu suami kamu sekarang. Dengar, aku hanya ingin istirahat!"
Tok! Tok!
"Rena, kamu tidak apa yang terjadi nak? Kenapa berteriak?"
Suara Dinda di balik pintu terdengar, Rena menelan ludahnya secara susah. Alby berdecak.
"Tuh kan, kamu ganggu orang istirahat. Bukankan pintu untuknya sana, aku mau istirahat," ujar Alby seraya melepaskan tangannya dari Rena, kemudian merebahkan tubuhnya di ranjang.
"Kok bapak tidur di sini sih!"
"Lho kenapa, aku suamimu kok. Sudahlah jangan berisik aku sangat ngantuk."
Rena mencebik kesal, sementara pintu terus di ketuk dari luar. Ia yang semula ingin terus berdebat, mengurungkan niatnya. Turun dari ranjang Rena melangkah membukakan pintu, terlihat Dinda sudah berdiri dengan raut wajah cemasnya.
"Mom."
"Ada apa nak, kenapa teriak? Mommy sampai kebangun."
Rena menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "anu Mom itu tadi ada kecoa. Mommy kan tau aku takut kecoa."
"Hah? Terus sekarang?"
"Udah pergi. Udah disingkirkan sama Pak Alby."
Kening Dinda mengerut heran, "Pak? Kamu manggil suami kamu pak?"
"Maksudku Bang Alby. Itu karena kebiasaan di kampus jadi gini deh. Sekarang Mommy kembali istirahat ya, Rena ngantuk."
"Ya sayang. Maaf ya Mommy ganggu, sesaat tadi Mommy lupa, kalau putri Mom ini udah nikah," seru Dinda seraya berlalu pergi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 217 Episodes
Comments
Wati_esha
Misel akan jadi penengah yang baik kelak hingga pernikahan itu merupakan perjodohan mereka.
2022-08-11
0
Wati_esha
Rena dan Alby tampaknya punya sifat yang sama hingga membuat mereka selalu saja ribut.
2022-08-11
1
Wati_esha
Tq update nya.
2022-08-11
0