Pagi hari, Rena menggeliat dalam tidurnya, tak lama ia terbangun dan mengubah posisinya menjadi duduk.
Ceklek!
Pintu ruangan terbuka, sosok lelaki tampan dalam balutan kemeja navy melangkah masuk seraya membawa tentengan yang berisi makan. Melihat hal itu Rena terpaku, menatap ke arah Alby tanpa berkedip.
'Asem, kenapa kalau di perhatikan lebih, dosen ngeselin itu ganteng banget ya,' gumamnya.
"Ehem! Kau sudah bangun?" tanya Alby yang entah sejak kapan kini telah berdiri di sisi Rena, hal itu membuat perempuan itu tersentak.
"Eh i-iya!"
Alby meletakkan makanan yang ia bawa di atas meja, "makanlah, tadi aku membelinya dalam perjalanan ke sini."
"Bapak sudah pulang?"
Alby mengangguk, "iya. Setelah ini kamu pulanglah, bersihkan dirimu."
"Sebentar, aku cuci muka dulu." Rena berlalu ke kamar mandi, sementara Alby memilih menghampiri putrinya, anak itu masih terlelap.
Ceklek!
Pintu kamar mandi terbuka, Rena keluar dengan wajah segarnya. Ia kembali duduk di sofa dan memakan makanan yang telah Alby bawakan, entah kapan lelaki itu pulang, Rena bahkan tidak tahu mungkin karena dirinya yang terlalu lelap. Beruntunglah Rena bukan tipe pemilih makanan. Selesai makan, Rena beranjak berpamitan pada Alby untuk pulang.
"Rena!"
Langkah Rena terhenti mendengar namanya di sebut, dan berbalik.
"Ya, Pak!"
Alby menghela nafasnya, perempuan itu apa tidak tau sebutan yang tepat untuk seorang suami apa. Kenapa harus bapak, kesal sekali mendengarnya.
"Kamu tidak ada panggilan lain, selain bapak untuk aku?!"
Rena menggaruk kepalanya yang tak gatal, "em ya udah Bang Alby," ralatnya dengan senyuman manis di wajahnya.
Anehnya, Alby justru berpikir Rena tengah mengejek dirinya. "Abang, Abang emang aku Abang tukang bakso, tukang angkot," sergahnya.
Rena hanya terkikik mendengarnya. "apa dong ya? Om Alby atau Kakek Alby?" Perempuan itu tergelak mendengar penuturannya sendiri, tak mempedulikan bahwa lelaki di hadapannya kini sudah memasang wajah kaku dan masam, bak seekor singa yang bersiap menerkam musuhnya. Rena pikir kapan lagi bisa membuat lelaki itu kesal, ini waktu yang tepat, kalau nanti di kampus ia tidak akan dapat berkutik, atau nilai mata kuliahnya akan menjadi ancaman baginya.
"Kau berani ngejek aku! Awas saja ku kasih nilai C pada nilai mata kuliahmu!" ancam Alby kemudian.
Rena menghentikan kekehannya, lalu beralih menatap Alby dengan sengit, baru menikmati kesenangan, sudah dapat ancaman mengerikan dari lelaki itu. "Gak bisa gitu dong. Bapak tuh apa-apaan main ancaman begitu. Professional dong pak, gimana sih."
"Makanya gak usah ngejek aku!"
"Lho, aku kan cuma memberi penawaran mau di panggil apa? Abang, om, apa kakek gitu loh maksudnya," bela Rena.
"Sudahlah, berdebat denganmu tidak pernah ada habisnya. Aku cuma mau minta nomor ponselmu," ujar Alby yang lebih memilih mengalah.
"Hah, nomor ponsel?" tanyanya, yang di jawab dengan anggukan kepala oleh Alby.
"Iya, cepat berikan." Alby mengeluarkan ponsel miliknya mengulurkannya pada Rena yang masih terdiam. "Kenapa, ayo cepat ketik di sini."
Rena menggeleng, "aku baru sadar, aku tidak punya ponsel!"
Alby menganga mendengarnya, ia pikir ia salah dengar, mana mungkin ada orang jaman sekarang tak mempunyai ponsel.
"Iya! Aku tidak punya ponsel. Aku baru ingat ponsel ku hilang bersamaan dengan kecelakaan Misel waktu itu," tambahnya kemudian seraya mengingat kejadian saat ia melemparkan ponselnya entah kemana saat itu.
"Ya sudah, kamu pulang saja. Nanti aku akan telpon ke rumah Mommy saja, kalau Misel menanyakanmu." Alby kembali memasukkan ponselnya ke dalam kantong celananya.
Rena mengangguk dan berlalu pergi dari sana.
"Rena?"
Rena yang saat itu tengah berjalan di lorong rumah sakit, menghentikan langkahnya ketika mendengar namanya dipanggil. Seorang lelaki tampan dengan seragam dokter yang melekat di tubuhnya sudah berdiri di sisinya.
"Eh, Dokter Ryan?" balasnya.
Lelaki itu tersenyum manis, "ku dengar kau mengajukan cuti beberapa hari. Tapi, kenapa sekarang aku lihat kamu berada di sini?"
"Em iya, aku sedang nengok orang sakit!"
"Siapa yang sakit? Om Rava, Tante Dinda atau Kak Davis?" cecar Dokter Ryan yang membuat Rena tersenyum masam.
"Temanku Dok. Ya sudah dok saya mau pulang dulu, ya. Dokter Ryan mau cek pasien kan?"
"Oh iya hampir saja lupa. Aku mau cek pasien anak yang kecil yang waktu itu kamu bawa. Misel ya namanya? Sebenarnya dia apanya kamu?"
"Itu-"
"Dokter, saya sudah siap." Seorang perawat menghampiri keduanya, hingga membuat ucapan Rena terhenti. Dokter Ryan pun berpamitan, begitupun dengan Rena yang berlalu pergi.
Sementara di ruangan perawatan Misel, Alby tengah sibuk berbicara dengan seseorang di balik telpon selama beberapa saat, sebelum akhirnya ia pun mengakhiri pembicaraan itu ketika mendengar suara putrinya yang terbangun. Bersamaan dengan itu, pintu ruangan terbuka, Dokter Ryan masuk dengan memasang senyum di wajahnya, di belakangnya seorang perawat mengikuti dirinya dengan membawa buku catatan di tangannya.
"Selamat pagi Pak, adik cantik?" sapa Doker Ryan hangat.
"Pagi!"
"Pagi om dokter?"
"Hem anak manis, Om dokter periksa dulu ya!" seru Dokter Ryan. Ia mulai mengeluarkan stetoskop untuk memeriksa keadaan Misel, tidak lupa ia pun memeriksa bagian kepala anak itu.
"Kondisi anak bapak sudah stabil dan membaik. Hanya tinggal menunggu proses pemulihan. Makannya harus dijaga, dan jangan terlalu kelelahan ya. Apalagi berfikir terlalu keras. Karena itu bisa menimbulkan efek negatif pada fungsi otak," terang Dokter Ryan.
"Baik Dok. Kira-kira kapan anak saya diperbolehkan untuk pulang?"
"Jika tidak ada masalah dalam waktu Minggu ini juga sudah bisa pulang."
"Terima kasih, dok."
"Kalau begitu saya permisi, masih ada pasien lain yang harus saya periksa. Dah anak cantik, cepat sembuh ya."
Usai kepergian dokter tadi, Alby mendekati putrinya lalu berkata, "kamu dengar kan perkataan dokter tadi. Jadi, sekarang Misel harus makan."
Misel menggeleng, "tidak mau. Aku mau makan jika disuapin oleh Bunda!"
"Tapi bunda sedang pulang, membersihkan diri. Nanti kalau sudah selesai akan kembali kesini. Sekarang suapin ayah dulu ya." Alby mengambil makanan yang sudah tersedia di atas meja.
"Tidak mau, pokoknya mau Bunda. Aku menunggu saja sampai Bunda datang!" kekehnya.
Alby menyentak nafasnya, belum apa-apa Misel sudah ketergantungan dengan Rena. Mengembalikan makanan ke tempat semula, lalu mengeluarkan pernyataan ponsel miliknya, menekan telpon rumah mertuanya. Ia menunggu hingga telpon benar-benar tersambung, terdengar suara ibu mertuanya yang menerima panggilan itu. Setelah sedikit basa-basi, ia mengatakan maksudnya.
"Baik lah, Mommy akan mengatakan pada Rena. Sekalian, nanti sorean Mommy juga mau nengok cucu Mommy," ujar Dinda.
***
Setelah membayar ongkos taksi, dengan segera Rena melangkah cepat ke dalam. Mendengar penuturan Mommy-nya jika Misel tak mau makan, jika tidak disuapin dirinya, membuat Rena khawatir. Akhirnya Rena yang saat itu baru selesai mandi, langsung mengganti pakaiannya tanpa mengeringkan rambutnya lebih dulu.
Nafas Rena tersengal, ketika telah sampai di depan pintu ruang perawatan Misel. Samar-samar ia mendengar gelak tawa, sedikit ragu. Rena membuka pintu ruangan itu sedikit. Matanya sedikit terkejut mendapati seorang perempuan tengah duduk di sisi ranjang Misel, dan menyuapi anak itu. Perempuan yang sama, seperti kemarin yang ia lihat.
Seketika wajah Rena berubah masam, ia memilih kembali menutup pintu ruangan itu.
Ini lho anak cantiknya Pak Alby.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 217 Episodes
Comments
aku_aja
teleskop? stetoskop kali thor😭
2022-09-09
0
Wati_esha
Om, abang, pak .. 😅😅😅 Rena. Hati - hati menggodanya. Awass kamu malah jadi yang tergoda. 😛
2022-08-12
1
Wati_esha
Perempuan itu, siapakah?
2022-08-12
1