Di tengah panasnya terik matahari, Rena mengendarai mobilnya menyusuri jalan raya. Hari ini ia ada janji dengan Nadila, calon istri Davis kakak kandung Rena. Keduanya berjanji akan pergi ke sebuah mall untuk nonton. Sebenarnya Rena terlalu malas untuk melakukan hal demikian, memang ia bukan tipikal perempuan yang gemar shopping dan menonton, tetapi ia merasa sungkan untuk menolak ajakan Nadila. Apalagi sebelumnya perempuan itu sudah mengeluh, jika Davis tidak bisa menemaninya, sementara ia sendiri merasa sudah bosan terus berkutat dengan adonan kue dan berkasnya. Ya, Nadila memang meneruskan usaha milik ibu kandungnya, Adisty.
Cittt!
Rena terkejut ketika mobilnya terhenti secara mendadak, padahal di depan jalanan tampak lenggang. Ia kembali mencoba menghidupkan mobilnya, tetapi tidak bisa.
"Ya ampun, kenapa lagi ini mobil!" keluhnya.
Rena memilih turun dari mobilnya, memeriksa bagian mesin, tetapi ia memang sama sekali tidak tau soal mesin, memilih pasrah menghubungi montir.
Usai itu, Rena mencoba menghubungi nomor Nadila, akan tetapi beberapa kali tidak terhubung.
"Bundaa!!!"
Teriakan seorang anak kecil menggema, dan berhasil mengusik indera pendengarannya. Rena menoleh, dan mendapati Misel tengah berlari ke arahnya.
Ia terkejut mulutnya menganga, tangannya masih memegang ponsel yang ia letakkan di dekat telinganya. Rena menoleh ke arah kanan dan kiri, sebuah truk Pertamina melaju dengan kecepatan tinggi, sedetik itu matanya membeliak.
"Misel awas, jangan!" Rena mencoba berteriak dengan meminta anak itu untuk berhenti berlari ke arahnya, tetapi rasa senang dan rindu yang tengah meluap di hati anak kecil itu membuatnya lupa kendali, fokusnya hanya teralihkan oleh seorang perempuan yang baginya adalah ibunya.
Semakin dekat truk Pertamina itu terus melaju seraya membunyikan klaksonnya, dan semakin cepat pula Misel berlari. Pengasuh anak itu tampak berteriak memanggil anak asuhnya di belakang seraya berlari.
"Non Misel. Jangan lari Non, tunggu Nany."
"Rena!"
Tanpa memperdulikan ponselnya yang telah terhubung dengan kakak iparnya, Rena membuang ponselnya sembarang arah, kemudian secepatnya berlari ke arah Misel. Hal yang dipikirkan saat itu, adalah bagaimana caranya agar anak itu selamat dari bahaya.
Brugh!!
Rena mendorong tubuh Misel agar menjauh dari jalan raya itu, tetapi hal yang tak ia duga, niatnya untuk menyelamatkan anak itu dari bahaya justru kepala anak itu terbentur dengan pembatas jalan.
"Non Misel!" teriak pengasuhnya histeris melihat keadaan anak majikannya terkapar lemah.
Rena terkejut mendapati keadaan Misel. Ia segera menghampiri anak itu dengan tubuh gemetar.
"Sayang, maafkan Tante. Sungguh Tante tidak ada niat untuk membuatmu celaka. Tolong bertahanlah!" Rena memangku kepala Misel, tubuhnya terasa gemetar. Sungguh ia merasa takut, perasaan bersalah yang begitu besar hinggap dalam dirinya. Kini orang-orang berdatangan mengerumuni dirinya.
Tangannya mencoba meraba ponsel miliknya, tetapi ia tak menemukannya. Seketika ia ingat, jika ponselnya telah ia lempar entah kemana tadi. Kemudian seseorang di sana ada yang berinisiatif memanggil ambulance.
"Bunda!" panggil Misel lirih, seakan tubuhnya tengah melawan rasa sakitnya, bahkan Misel nampak tersenyum.
Rena meraba pipi anak itu, air matanya luruh, rasa takut begitu menyergap dalam dirinya. Bagaimana jika anak itu tak selamat, dirinya pasti akan masuk ke dalam penjara dengan rasa bersalahnya.
"Bertahanlah sayang! Tante mohon."
Tak lama kemudian sebuah mobil ambulance tiba, orang-orang segera membantu mengangkat tubuh Misel ke dalam ambulance. Rena beserta pengasuhnya pun ikut di dalamnya. Sepanjang jalan Rena terus menggenggam tangan Misel, kadang membelai wajahnya, semua itu ia lakukan agar membuat Misel kuat bertahan. Nafas anak itu tampak naik turun.
"Jikapun aku mati. Aku bahagia karena saat ini aku dalam pelukan Bunda," lirihnya.
Rena menggeleng, Misel tidak boleh mati. Ia harus selamat, apapun akan Rena lakukan demi nyawa anak itu.
"Kau harus selamat. Tante akan melakukan apapun demi keselamatanmu." Rena berucap dengan nafas yang tak beraturan, pikirannya kalut, otaknya hanya terisi akan kondisi anak itu. Bahkan pakaiannya kini telah bersimbah darah. Ambulance terus melaju dengan kecepatan tinggi.
"Sungguh?"
Rena mengangguk cepat.
Seulas senyum tipis terlukis di bibir anak itu, "kalau begitu menikahlah dengan Ayahku, dan jadilah Bundaku!"
Deg!
Rena merasa terkejut akan permintaan anak itu. Otaknya berusaha mencernanya. Tetapi, belom sempat Rena memberikan jawaban. Tubuh Misel sudah terkulai lemas, tak sadarkan diri.
Mobil ambulance tiba di depan loby rumah sakit. Sigap perawat di sana membantu mengangkat tubuh Misel, kemudian di tidurkan di brankar, langsung di dorong menuju ruang UGD.
Rena melangkah masuk dengan cepat.
"Rena, apa yang terjadi?" Seorang pria tampan dengan berbalut jas dokter bertanya, apalagi melihat penampilan Rena yang begitu kacau tampak, seluruh pakaiannya hampir dipenuhi bercak darah.
Tubuh Rena terasa gemetar, meski ia sendiri seorang dokter. Di saat seperti ini ia tak akan sanggup untuk memeriksa kondisi Misel.
"Dokter Ryan, tolong bantu aku. Selamatkan anak yang berada di dalam sana!" pinta Rena mengiba seraya menunjuk ruang UGD.
"Tenanglah Rena, aku akan melakukan yang terbaik." Dokter Ryan berlalu pergi masuk ke dalam ruang UGD, meski dalam benaknya timbul banyak tanya akan hubungan Rena dengan anak kecil itu, tapi Dokter Ryan tau ini bukanlah saat yang tepat untuk bertanya.
Rena meremas tangannya dengan takut, jantungnya masih berdetak lebih cepat. Rasa takut begitu menyergap dalam dirinya, bahkan ia nyaris tak ada keberanian untuk menghubungi pihak keluarganya. Rena bahkan terlihat seperti perempuan tak waras saat ini, penampilannya kacau, tanpa alas kaki, rambutnya berantakan, pakaiannya begitu banyak bercak darah.
Sama seperti Rena. Pengasuh Misel pun sama sedihnya melihat kondisi anak majikannya. Ia pun merasa takut dan bersalah, karena ia telah lalai dalam menjaga Misel. Bagaimana jika setelah tuannya mengetahui hal ini ia akan di pecat? Saat ini yang ia bisa lakukan hanya diam pasrah, berdoa jika Misel akan baik-baik saja.
"Mba, apa ayahnya Misel sudah di hubungi?" tanya Rena.
Pengasuh itu mengangguk, "sudah Nona. Tuan, sedang dalam perjalanan kemari!"
Rena diam menunduk, ia harus bersiap menerima kemarahan ayah anak itu nanti. Resiko apapun akan ia tanggung. Tetapi, bagaimana jika tak ada jalan damai, haruskah Rena mendekam di penjara. Meski Rena tak ada niatan untuk membuat anak itu celaka. Semua terjadi di luar kendalinya.
Mobil yang di kemudian Alby tiba di loby rumah sakit. Ia memberikan kunci mobilnya pada seorang security, meminta untuk di parkirkan mobilnya. Kemudian dengan berlari Alby masuk ke dalam rumah sakit, mencari putrinya, di mana sebelumnya ia telah di beri tahu oleh pengasuh anaknya.
Alby melambatkan langkahnya, ketika hampir tiba di depan ruang UGD. Sekilas ia melihat seorang perempuan muda dengan penampilan yang begitu berantakan duduk di sana, tak jauh darinya pengasuh putrinya duduk.
"Nany, bagaimana keadaan Misel? Bagaimana semua bisa terjadi?" Alby tiba-tiba mencecarnya dengan pertanyaan.
Mendengar suara yang tak asing, Rena menoleh bersamaan dengan itu Alby pun menoleh ke arahnya, hingga tatapan keduanya bertemu. Keduanya saling terkejut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 217 Episodes
Comments
Wati_esha
Rena .. tak dapat menghubungi siapapun karena HP nya tak tahu jatuh kemana.
2022-08-11
1
Wati_esha
Misel kok bisa lepas dari pengawasan pengasuhnya?
2022-08-11
1
Wati_esha
Tq update nya.
2022-08-11
0