Brakkkk!!!
Rena meletakkan beberapa buku di atas meja dengan gerakan kasar. Bahkan lelaki yang tengah duduk di hadapannya sampai berjingkat kaget.
"Kamu-"
"Apa? Abang sengaja ngerjain aku ya. Situ enak-enakan jalan tebar pesona, aku berjalan di belakang sambil bawa buku udah kaya babu," decak Rena kesal. Nafasnya bahkan masih memburu. Kesal sekali mengingat kejadian tadi, disaat Rena digoda oleh Niko lelaki itu seakan tidak terima langsung berteriak, sementara dirinya yang disapa para cewek-cewek, langsung dibalas dengan senyuman. Bahkan tak jarang dari mereka memuji kemanisan senyum Alby. Hal itulah yang membuat Rena kesal.
"Dasar kecentilan!" celetuk Rena kemudian.
Alby menganga mendengarnya, menaikan sebelah alisnya, menatap istrinya yang saat ini tengah memalingkan mukanya. Yang benar saja dirinya dikatakan kecentilan, Alby kan lelaki tulen masa disamakan dengan perempuan.
"Siapa yang kecentilan?" Tanya Alby.
"Kamulah, senyam senyum tebar pesona, sok manis. Padahal aslinya pait." Rena melipatkan tangannya di dada, wajahnya terlihat garang saat menatap Alby.
"Ren, kamu ingat kan siapa saya? Jangan kurang ajar ya, manggil saya kamu-kamu. Nanti kamu bisa saya-"
"Apa? Mau ngancam pakai nilai, silahkan saja. Biar aku tidak lulus tahun ini, terus biar aku semakin lama berada di kampus ini. Otomatis waktu bersama kamu dan anak kamu bakal kurang, tidak masalah toh sebelumnya aku udah pernah lulus S1." Rena semakin berani menantang Alby.
Alby menghela nafasnya, sepertinya tidak akan pernah ada habisnya jika ia sendiri yang tidak memilih mengalah. Memijat keningnya, Alby memilih beranjak dan berdiri di sisi istrinya.
"Sudah, kenapa jadi kamu sih yang marah-marah?" Alby memutar tubuh istrinya, menghadap ke arahnya.
"Ya habisnya kamu tuh-"
"Kamu cemburu?" tanya Alby dengan cepat memotong ucapan Rena, seraya mencondongkan wajahnya.
Rena menggelengkan kepalanya dengan cepat, "tidak! Untuk apa cemburu?" kilahnya seraya memalingkan mukanya, sungguh di tatap suaminya dari jarak yang begitu dekat seperti itu membuat jantung Rena tak karuan.
"Benarkah begitu?" desak Alby. Kali ini ia memegang dagu Rena membawanya untuk melihat ke arahnya.
Glek! Rena menelan ludahnya gugup, melihat wajah tampan suaminya kini berada tepat di depan wajahnya dengan jarak yang begitu dekat. Sesaat Rena merasa terpesona, hingga membuat lidahnya terasa kaku tak mampu menjawab.
"Em t-tidak." Rena menepis pelan tangan Alby.
"Tidak apa?" Alby terus mendesak Rena. Bahkan lelaki itu terus mencondongkan tubuhnya, membuat Rena beringsut mundur.
"Em ya, ya tidak!" Rena semakin bingung dengan keadaanya, bahkan keberaniannya mendadak langsung lenyap. Apakah ini yang dinamakan mental tempe, hanya karena di suguhi wajah Alby, ia langsung menjadi terpesona. Rena semakin bingung, karena semakin ia melangkah mundur, Alby justru semakin memajukan tubuhnya. Hal itu terus berlangsung, sampai pada akhirnya posisi Rena sudah mentok di tembok, ia tak bisa lagi mundur. Sementara sebelahnya saja sudah ada rak buku, tak mungkin ia menabrak rak itu.
Di saat Rena tengah sibuk memikirkan cara untuk lepas dari Alby, lelaki itu langsung sigap mengunci tubuh istrinya menggunakan kedua tangannya, hingga kini tubuh Rena telah terkungkung olehnya, seolah ia tengah dipeluk oleh lelaki itu. Dengan jarak hanya beberapa inci, membuat deru nafas keduanya saling beradu, bahkan suara detak jantung keduanya saling berirama seolah dapat memekik hingga pusat telinga. Saat pandangan mata keduanya saling beradu, pandangan Alby justru terpusat pada bibir ranum istrinya, yang sempat beberapa hari lalu pernah ia rasakan secara tak sengaja. Bagi Alby bibir Rena saat itu terasa begitu menggoda, hingga membuat dirinya merasa tak tahan untuk kembali merasakannya. Alby menundukkan kepalanya. Dan perlahan ia mengecup bibir ranum itu.
Sementara Rena, merasa terkejut ketika tanpa sebuah peringatan lelaki itu menyambar bibirnya dengan cepat. Semula hanya sebuah kecupan ringan, namun secara perlahan lelaki itu mulai menggerakkan bibirnya, menuntut Rena untuk membuka celah bibirnya, dan juga membalasnya. Rena merasa ingin mendorong tubuh suaminya, tapi entah bagaimana kekuatan saat itu lenyap begitu saja. Tubuhnya terasa lemas, seakan seluruh tenaganya telah diserap oleh Alby.
Sentuhan bibir yang semula lembut, kini menjadi menuntut ke arah yang lebih jauh. Alby terus menggerakkan bibirnya dan lidahnya, menyapu seluruh isi di dalamnya. Seiring dengan berjalannya detik demi detik, Rena merasa terbuai, meski di otaknya terfikirkan untuk mendorong tubuh lelaki itu, tubuhnya justru merespon sangat baik.
Perlahan, Rena memejamkan kedua matanya. Sementara kedua tangannya kini telah meremas kemeja suaminya dengan kuat. Membuat lelaki itu tersenyum tipis, saat merasa tak ada penolakan dari istrinya, bahkan kini Rena berusaha membalas pangutan bibir suaminya. Meski gerakannya memang sedikit kaku, namun itu berhasil membuat Alby merasa senang. Setidaknya ini adalah awal mula yang baik untuk hubungan keduanya, sebelum menjurus ke arah yang lebih dalam, Alby harus membuat Rena nyaman lebih dulu. Alby paham, karena Rena mengatakan sebelumnya belum pernah berpacaran, sesaat ia merasa senang lantaran ia menjadi yang pertama menyicipi bibir semanis Cherry.
Salah satu tangan Alby meraih pinggang ramping istrinya, mengusapnya secara pelan. Hal itu semakin membuat tubuh Rena berdesir, dan gelisah.
Di tengah pangutan bibirnya, Alby justru menyelipkan sebuah kalimat, "pinggangmu terlalu ramping. Apakah kau mengalami gizi buruk?"
Sontak Rena langsung membuka kedua matanya, lalu mendaratkan pukulan di dada suaminya.
"Sembarangan, kalau ngomong."
Alby terkekeh melihat raut wajah kesal istrinya. Rena berniat untuk menjauh dari suaminya, akan tetapi kini kedua tangan kekar Alby justru meraih pinggangnya, mencoba menahan tubuh perempuan itu.
"Minggir!" pinta Rena.
Alby menggeleng, "tidak! Aku masih belum puas. Ayo lanjutkan hukumanmu tadi!" kekeh Alby.
"Hukuman?"
"Iya. Kurang baik apa aku padamu, yang lain aku beri tugas mencatat poin. Kamu justru aku beri hukuman yang enak." Alby menaik turunkan alisnya menggoda.
"Enak apanya?" sergah Rena kesal, sambil berusaha melepaskan kedua tangan Alby dari pinggangnya.
"Enak, buktinya kamu menikmati ciuman kita tadi." Alby semakin memperjelas maksudnya.
"Itu kamu, aku tidak!" kilah Rena.
"Cepat lepaskan tanganmu. Tak ku sangka ternyata kamu sangat mesum begini!" Imbuh Rena kemudian.
"Boleh juga ucapanmu. Mesum ya? Hem bagaimana kalau nanti malam aku mesumin kamu?" godanya.
Mendengar hal itu Rena bergidik ngeri, wajahnya merona malu. Lalu menggeleng. "eh tidak-tidak," jawabnya dengan cepat.
"Kenapa? Kita kan suami istri, bukankah-"
"Aku tau, tapi jangan sekarang. Setidaknya fokuskan dulu kesembuhan Misel," ujar Rena.
Alby menghela nafasnya, lalu melepaskan kedua tangannya dadi pinggang Rena. "Baiklah. Ya sudah kamu keluar, masih ada kelas kan?"
Rena mengangguk, "Abang mau pulang?"
Alby tersenyum, "belum, aku masih ada urusan nanti di luar. Nanti telpon aja kalau mau minta jemput!"
"Aku naik taksi saja."
"Ya udah terserah kamu," jawab Alby pasrah.
Rena mengangguk dan keluar dari ruangan Alby.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 217 Episodes
Comments
💦💦 Istrinya Yayang 💦💦
nah hukumannya enak-enak kan😂
2022-08-15
0
Wati_esha
Jangan suka berkelit, Rena. Ntar nyesel loh.
2022-08-15
1
Wati_esha
Hmm pepet terus Rena, Alby. Biar jinak.
2022-08-15
1