Ana tiba-tiba berteriak dan bergeming dengan tubuh tak bergerak sama sekali. Sesekali menatap dengan tajam dengan kepala yang miring seakan-akan gerakanya bagaikan menari. Semua kaget karna Ana seperti itu.
"Semuanya tenang, Ana mempersilahkan sendiri agar menjadi media untuk berkomunikasi". Ucap Pak Darso.
"Sebaiknya keluarga yang masih hidup mendekat ke Ana". Kata Ibunya Ana.
Bu Hartanti, Laras dan Sekar mendekat menyalami dan meminta maaf. Ana hanya tersenyum sambil menangis membuat suasana terasa kelam.
"Kamu itu sudah di kasih enak, malah gak nurutttttt." Ucap Ana, entah siapa yang merasuki, suara parau yang melengking.
"Iyaa... maafkan saya eyang, saya tidak mampu tinggal disini karna serasa suami saya masih di sini yang seharusnya sudah di surga kenapa saya setiap hari melihat kebiasaanya" Jawab Bu Hartanti.
"Lancangggg ... Kamu yaaa.. Sudah di beri kenikmataan hidup yang baik malah di sia-siakan seperti ini". Jawab Eyang yang ada di dalam tubuh Ana.
"Eyang, ini bukan jaman Eyang. Makasi banyak atas privilege yang Eyang dan keluarga berikan tapi Ibu saya menderita disini sampai sakit dan kurus seperti ini. Eyang kalau sudah tiada ikhlaskan orang yang masih hidup, bukan ikut campur seperti ini". Jawab Laras dengan amarah.
"Apa katamu?! berani sekali kamu". Jawab Eyang lalu meneteskan air mata dan seperti Ana kejang-kejang.
Sulit sekali perbincangan ini sangat susah menemukan jalan tengah sampai-sampai Ghendis datang membela Laras dan keluarganya, mereka bernegosiasi dengan ketat. Sampai tergoncang dan porak poranda isi rumah entah angin dari mana. Sedangkan kami diminta Pak Darso agar berdoa saja agar hal ini lancar. Seakan berperang dengan sengit dengan keadaan sekitar yang dalam rumah berasa ada guntur dan badai angin.
Tiba-tiba entah ini aku saja atau semua mengalaminya, kami masuk ke dalam rumah yang berisikan keluarga Bu Hartanti lengkap. Seolah flashback kehidupan-kehidupan mereka. Sangat bahagia dan serba kecukupan bahkan sampai akhir ternyata Ayah dari Laras di makamkan di halaman belakang yang saat ini ada gajebonya. Kehidupan Bu Hartanti paska ditinggal suaminya seakan mendiang suaminya selalu ada disekitar rumah dengan kegiatan yang sama semasa hidup, bahkan Bu Hartanti takut harus dikamar dengan mendiang suaminya, saat Teguh anak pertama Bu Hartanti di bawa kerumah ini, suasana menjadi semakin kacau, semakin sakit hingga masuk rumah sakit. Sejak itu Bu Hartanti memutuskan menempati rumah sebelah dan menyewakanya tanpa izin kepada para sesepuh rumah itu. Sedangkan Laras pun juga tidak nyaman tinggal disini karna susah membedakan mana yang nyata dan ghaib. Sekar tidak bisa melihat tapi mempunyai intuisi yang kuat, dan lebih memilih menjauh dari rumah ini. Bu Hartanti juga sakit melihat anak pertamanya sakit dan ditinggalkan keluarga kecilnya merasa bersalah karna keluarga bu Hartanti yang baru tidak menyukai anak pertamanya dan Teguh lebih banyak tinggal dengan Neneknya.
Padahal Laras dan Sekar menerima Teguh dengan baik tapi keluarganya tidak suka. Laras tidak menyukai aturan-aturan yang aneh. Tinggal di kuburan keluarga juga aneh, Laras meminta tidak meneruskan tradisi itu.
Akhirnya Laras dan Sekar mengalah, akan tetap tinggal dirumah ini, asal para leluhur tidak ikut campur dengan kehidupanya, kalau bisa ikhlaskan dan pulanglah keatas. Cukup percayakan bisnis keluarga dan kehidupan pribadi kepada yang menjalani hidup. Karna Laras menyadari jika sedari kecil sudah diajari oleh aturan-aturan keluarga yang tidak relevan di jaman ini. Ana sebagai mediator kini di sembuhkan oleh Ibunya dan kembali menjadi Ana.
"Terima kasih, kepada kalian semua sudah membantu cucu-cucuku". Ucap Gendhis yang bersuara tanpa ada wujud. Karna Gendhis satu-satunya manusia berhati lembut dan penyabar serta pengertian setelah meninggal menetap dirumah ini dan mampu menampakkan diri dengan jelas sebagai manusia.
"Iya Nek, Nenek pulanglah, kami disini akan baik-baik saja. Terima kasih sudah membela dan melindungi kami selama ini". Ucap Laras sambil menangis.
"Nak, banyak yang tidak terima dengan keputusanmu, di lemari perabotan ada buku pohon silsilah keluarga, carilah dan buat semua mengerti dan menjalani hidup dengan damai". Kata Gendhis.
"Baik Nek, Laras akan memajang dan selalu mengingat sampai keturunan selanjutnya jika itu membuat para leluhur tenang dengan selalu diingat". Tegas Laras.
Perpisahan dengan keluarga terdekat sudah usai, membuat Laras, Sekar serta bu Hartanti menangis tersedu-sedu.
"Kami minta maaf ya nak, sepertinya rumah ini tidak bisa dipakai kantor lagi. Kami akan memajang lukisan-lukisan peninggalan dan perabotan lagi. Sesuai kemauan sesepuh". Ucap Bu Hartanti kepada kami.
"Baik Bu, Ibu tenang saja. Kami akan membantu membersihkan rumah sembari kami berkemas dan mencari kantor baru". Ucapkku sambil memeluk Bu Hartanti karna merasa iba dan sedih akan kisahnya.
"Iya nak, terima kasih banyak ya nak. Maafkan keluarga Ibu. Padahal rumah ini sudah hidup dengan bunga-bunga yang terawat serta ikan dan juga kucing". Kata Bu Hartanti.
Bu Hartanti pamit pulang dengan kedua anaknya, tapi yang masih terdiam adalah kedua anak kos yang kaget ternyata Gendhis temannya yang baik dan keibuan itu adalah makhluk ghaib. Mereka di antar pulang dan dituntun oleh Ana dan Ambar karna masih shock dan takut kembali ke kosan. Tapi Bu Hartanti bilang kalau Bu Gendhis kan baik menjaga jadi tak perlu ditakuti, Ibu sudah kembali kepada sang kuasa. Akhirnya mereka sedikit tenang.
Toby dan Roy ngobrol dengan Pak Darso, Keluarga Roy pulang Bapakku dan Ibu Ana juga. Sedangkan aku dan Kris membersihkan makanan di karpet dan mencuci piring dan gelas kotor di dapur. Malam ini setelah kejadian barusan dapur tak lagi aneh, hawanya juga terang bahkan merasa sangat enteng. Tapi mungkin saja mereka tidak menampakkan eksistensinya dan hanya mengawasi kami.
Setelah membereskan semuanya, kami kembali kedepan dan ternyata bapak-bapak sudah pulang. Kami untuk yang terakhir berencana menginap di basecamp sebelum besok membereskan barang-barang kami yang entah mau di kemanakan karna belum mempunyai kantor baru. Ana sudah izin Bu Hartanti kalau akan menginap dan diizinkan, disuruh santai saja dulu tak perlu terburu-buru sampai akhirnya menemukan kantor baru. Bu Hartanti tidak memberikan waktu jadi berlama-lama tidak masalah. Hanya saja kami sudah tidak enak dan gak nyaman. Bu Hartanti juga mengembalikan uang dengan full tapi Ambar menolak, uang itu gaboleh full harus di potong sesuai hari dimana kami menempati rumah ini.
"Lebih baik kita tidur, karna lelah sekali badanku dan juga macan itu menatap kita secara iba mungkin beliau kasihan". Kata Ana sambil menatap halaman depan.
"Macan apa Na maksudmu?" Tanya Roy.
"Macan penjaga rumah ini, bersemayam didepan dan dialah yang paling awal menyambut kedatangan kita". Kata Ana sembari menutup pintu.
Kami semua tidur ke kamar masing-masing. Meski susah tidur karna takut ada hal aneh lagi, aku turun kebawah memanggil para kucing untuk tidur di kamarku. Karna mereka harus ikut pindah karna aku menyukai mereka dan sudah menyayanginya. Tak lama aku tertiduran dengan nyenyak tapi aku bermimpi ada anak kecil yang menangis karna kucingnya akan dibawa pergi, apakah itu pertanda kalau aku harus melepaskan Adora dan Niko untuk tinggal disini.
Aku turun dan kaget semua orang ternyata sudah di bawah dan bekerja. Ana dan Kris memasak untuk sarapan.
"Ca, biarkan para kucing tetap tinggal disini yaaa.." Ucap Toby menatapku dengan sedih.
"Kenapa? padahal aku belum ceritakan mimpiku". Jawabku sedih sambil menatap kucing-kucing.
"Aku akan mengadopsi kucing untukmu, kapan-kapan kita kerumah kucing yaa". Kata Toby sembari mengelus kepalaku.
Dan aku mengiyakan tanpa membantah, harusnya aku membantah karna aku selalu kesal dengan perhatian Toby, kali ini aku harus membuka diri dan tidak kaku lagi. Roy memanggil kami untuk kedapur makan bersama karna kali ini Ana dan Kris memasak pepes ikan dan sambal penyetan yang enak. Kami semua makan dan merasa lega bahkan keadaan ini membuatku trauma setelah masuk ke rumah ini di jaman lampau, Ana mengingatkan agar tidak perlu merasa begitu, karna mereka baik sebenarnya hanya saja tidak terima dengan prilaku keturunannya yang tidak sesuai dengan mereka. Mereka sangat baik dan menjamu dengan baik bahkan bisa melepaskan Roy tanpa dendam itu luar biasa.
Setelah selesai makan, dan bersih-bersih dan juga lanjut bekerja dengan tenang, kami terkaget ada suara sirine ambulance dan kami terkaget ternyata itu berhenti di depan rumah Laras.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 227 Episodes
Comments