Beberapa hari ini aku izin untuk WFH karna aku sakit. Entah mengapa badan rasanya lemas tak berdaya, maagku juga kambuh, vertigo tiba-tiba. Aku hanya baring dan duduk di kasur, kerjapun liat laptop rasanya dah mual. Bapak menyuruhku untuk sesekali berjemur matahari. Padahal aku sudah ke dokter tapi obat-obat terasa hanya berpengaruh sebentar.
Sesekali Toby dan Kris menyempatkan menjenguk meski mereka sangat sibuk dan memintaku untuk istirahat total karna kerjaanku akan di backup anak-anak lain.
"Ca.. cepet sembuh lah yaaa". Kata Kris sambil memelukku erat, seakan pertanda kalau situasi di kantor sedang tidak baik-baik saja.
"Gimana keadaan kantor?". Tanyaku menatap mereka berdua.
"Baik aja kok, aman". Jawab singkat Toby seakan ingin menyudahi percakapan ini, dia hanya bisa mengomel, bawain makanan, dan segala ngedumelnya tentang kesehatanku.
Saat mereka pamit untuk pulang, Kris berbisik padaku.
"Ca.. situasi kami semua sedang di terror, kantor sedang gak baik. sebisa mungkin kami gak kekantor sering, makan kucing kami titipkan ke mbak Laras. kamu tenang aja, diem-diem aja dulu nanti kalau ada waktu aku kabari lagi". Ucap Kris mengkode kalau ini rahasia, karna anak-anak lain gamau hal ini membuatku makin sakit.
Aku hanya mengangguk mengerti. Mereka berdua pulang dan aku di rumah sendirian sambil bertanya-tanya sebenar nya kenapa ini terjadi, apa yang salah dari mana hal ini bisa menjati terror bagi kami semua. Harusnya mbak Laras tau, bu Hartanti juga tau tapi mereka sama sekali gak berbicara apapun, ini benar-benar aneh dan memuakkan.
Badanku langsung semakin lemas memikirkan itu semua. Aku kembali ke kamar dan minum obat. Karna efek obat aku tertidur tanpa sadar sampai magrib sedangkan lampu belum dinyalakan. Aku bangun dan menyalakan semua lampu yang ada dirumah. Tapi ada yang ganjal lampu teras mati hidup mati hidup terus, apakah lampunya perlu di ganti tapi pikirku nunggu bapak saja toh sebentar lagi bapak datang. Aku ke kamar mandi bersih-bersih badan dan berganti pakaian, karna sudah malam aku gak mandi. Ada suara pagar terbuka aku pikir itu bapak, aku keluar dan ternyata yang datang adalah Roy meski samar karna lampu nyala dan hidup ada seseorang di belakangnya.
"Ca .. aku mampir bawain bubur kacang ijo dan ronde nih, ayok makan bareng". Ucap Roy sambil memperlihatkan kantong kresek di tangganya. Aku hanya terbelalak kaget dan hanya diam membeku.
"Halo.. Ca? kenapa? ayok masuk". Seru Roy sambil berjalan melewatiku dan masuk rumah, sedangkan aku masih di posisi yang sama menghadap kearah yang sama, sampai akhirnya Roy menarikku karna aku tak mendengar panggilan Roy sama sekali.
"Roy... kamu sendirian aja?". Kataku dengan suara yang bergetar.
"Iyalah, aku habis dari survey terus lewat sini". Kata Roy berlalu ke dapur mengambil mangkok dan sendok.
Aku hanya membeku ditempat aku duduk sambil mencari hpku dan WhatsApp group aku telfon disana sampai semuanya angkat, aku hadapkan kamera tepat ke depan pintu rumahku, meski mereka tidak nampak apapun tapi disini.. disini aku melihat wanita itu dengan opacity yang kecil. meski samar dan makin horor karna lampu yang mati hidup. Hanya Ana dan Toby yang menyadarinya dan meminta semuanya datang kerumahku.
"Kenapa ca ?" tanya Roy santai.
"Roy kamu ga ngerasain ada yang aneh selama ini?". Tanyaku berusaha tegas dan berani akan ini semua.
"Yaa.. badanku yang gampang capek dan berat. Kadang kepalaku sakit juga". Jawab Roy sambil memakan ronde.
"Roy.. sepertinya ada yang menunggumu didepan pintu". Kataku sambil mengarah ke pintu.
"Hah.. apa ga ada tuh". Ucap Roy santai dipikir aku bercanda.
Ini membuatku makin pusing dan lemas, aku sampai gak mood untuk makan kacang hijau ini. Aku menutup pintu depan rumah dengan keras, agar dia tau kalau dia gak diundang disini tapi gak lama pintu terbuka dan kaget ternyata Bapak yang datang. Ini membuatku jantungan.
"Kenapa kalian kaget gitu, bukanya bapak masuk dengan salam". Ucap Bapak bingung.
"Iya om, maaf gak denger". Kata Roy bingung juga, karna yang paling kaget disini aku.
"Pak, tolong bapak cek kenapa lampunya kedip-kedip gitu". Kataku meminta tolong.
"Iya nduk bentar bapak bersih-bersih dulu". Jawab Bapak.
Tak lama anak-anak yang lain datang dan berlari masuk ke rumah. Toby membantu bapak memasang lampu yang baru, sedangkan Ana tiba-tiba menangis makin lama tangisan itu berubah menjadi rintihan, badan Ana menjadi dingin dan kaku. Kami semua terbelalak kaget ketakutan apakah Ana kerasukan. Kris dan Ambar takut langsung lari ke kamarku. Aku masih memegangi Ana dan temen-temen lain. Bapak membacakan doa-doa, Ana melotot dan menyeringai, tatapan itu sangat menyeramkan. Teriakanya semakin kencang, diikuti dengan semua lampu dirumah yang berkedip-kedip. Hawa dingin menyeruak bau melati sangat tajam.
Bapak meminta kami membaca doa bersama-sama. Sampai akhirnya badan Ana tidak kaku lagi sepertinya dia sudah kembali ke dirinya semula. Ana bangun dan mual muntah-muntah. Aku mengikutinya dan dia ternyata muntah darah. Ku bawa dia kekamarku untuk istirahat, Kris dan Ambar masih ketakutan. Ku biarkan Ana tidur dulu didalam. Kami semua berembuk di ruang keluarga membahas kejadian barusan.
"Nduk, Le .. sebenernya ada apa to ini?". Kata Bapak bertanya.
"Kami juga gatau om, awalnya hanya penampakan samar, lama-lama ada gangguan kecil. sambil akhirnya mereka berani menampakkan diri bahkan merasuki". Ucap Toby sambil memegang kepala, seperti terbagi fokus nya.
"Kamu kalo tau apa-apa tuh baiknya jujur aja, biar kalian ini saling back up, saling jaga. Jangan ada yang ditutup-tutupi. Akibatnya bisa fatal le, Om tau kamu bisa lihat yang tak terlihat". Kata Bapak memberikan nasihat. Kami semua terdiam dan memikirkan kesalahan apa yang kami lakukan, apakah kami menganggu mereka sampai mereka menganggu kami.
Kami diminta Bapak untuk mencari tau penyebabnya semua ini, agar bisa menyelesaikan nya, agar semuanya bisa kembali seperti semula dan baik-baik saja. Selama kami diskusi dari awal pindah sampai hari ini belum mememukan benang merahnya. Sampai akhirnya Ana tiba-tiba datang menatap kami dengan tatapan yang itu bukan ana, sambil menyeringai senyum seperti setan. Kami semua terkejud, lalu Ana pingsan. Teman-teman semua nginep di rumahku, untuk saling menjaga dan mengingat.
Besok paginya Ana sudah merasa segar lagi lalu dia bercerita, kalau dia tidak merasa dirasuki tapi Ana malah pergi ke basecamp dan melihat keseharian mereka, katanya mereka itu ada banyak, sangat banyak tapi mereka semua keluarga. Karna itu termasuk clue dari Ana maka kami bersiap menemui bu Hartanti untuk menanyai perihal rumah itu dan menceritakan semua.
Toby pun jujur bahwa selama ini kita masing-masing ada yang mengikuti, menyerap energi kami bahkan ada yang mempunyai maksud buruk, perihal Roy katanya ada wanita yang sangat suka dengan Roy bahkan mencintai Roy dan izin ke keluarganya ingin membawa Roy ke keluarganya. Sedangakan wanita itu sudah lama mati serta keluarganya. Mendengar cerita itu Roy langsung ketakutan dan marah dengan Toby kenapa tidak cerita. Masih banyak rahasia dan keanehan tentang rumah itu. Kami akan mencari tau tentang semuanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 227 Episodes
Comments