Hari yang dinanti telah tiba. Saatnya kami bergegas untuk mendatangi rumah terakhir.
Aku menelepon Roy karena ingin mengambil rak lemari untuk kamera, karena sudah memesannya dan hanya dia yang bisa dimintain tolong untuk mengambil dan merangkainya.
"Ambil dulu, keburu ujan." Kataku meminta.
"Hujan apaan dah, gak ujan ini oi. Santai aja kali. Eh jam berapa kerumah terakhir?." Ucap Roy yang selalu santai dan tenang.
"Jam 11 siang, kumpul dirumahku. Ah mending ambil deh."
"Tenanglah santai yoo mennn."
Dan pada akhirnya aku dan Kris mengambil sendiri karna Roy tidur lagi.
Sebenarnya bisa diantar oleh kurir, tetapi mengingat bendahara kita, nona Ambar yang sangat hemat, jadi harus diambil sendiri.
Karna kami para wanita yang ambil, ketika motor oleng kena lubang jalan yang cukup dalam seketika jatuh. Untung saja rakitan lemari ini aman, tapi tidak dengan kami berdua.
"Kris, maaf. Aku tak tahu genangan air itu ternyata lubang dalam. Kau tak apa kan?". Ucapku khawatir.
"Kakiku sakit tertimpa motor, sepertinya bengkak ca". Rintih Kris kesakitan.
"Kita ke rumah sakit aja, dadaku sakit terbentur, tapi sepertinya bukan hal serius".
Tetapi Kris tak mau ke rumah sakit, jadi kami memilih pulang dengan pelan-pelan. Di jalan Kris over thinking takut jika ada apa-apa atau ini pertanda gak baik dan aku hanya bisa menenangkan kalau ini musibah yang tidak berkaitan apa pun.
Sesampainya di rumah, teman-teman sudah berkumpul dan heboh melihat kami berantakan.
"Kalian kenapa? jatuh di mana? maafkan aku gara-gara aku suruh hemat, ini seharusnya Roy yang ambil". kata Ambar dengan suara keras.
"Kami baik-baik saja, hanya memar mungkin Kris yang sedikit shock." Kataku menimpali.
"Sorry girls, aku ketiduran, aku aja dibangunin Ana tadi". Kata Roy meminta maaf.
Kami berdua mengobati dengan obat oles yang ada dan teman-teman yang meributkan hal ini. Toby merasa ini ganjal, tapi ia hanya bercanda agar suasana tetap kondusif, mengingat Kris yang panikan.
Kami semua bingung apakah harus membatalkan janji dengan bu Hartanti, tapi jika dibatalkan entah kapan lagi kami bisa kerumah terakhir dan segera memutuskan menempati rumah yang mana.
Sedangkan rumah yang akan menjadi kantor dan basecamp itu harus segera ada, karna client tidak akan percaya bekerja sama jika kami tak memiliki kantor.
"Jadi.. gimana? apakah kita tetap lanjut jalan? aku takut hari ini ujan". kata Ambar.
"Ada baiknya kita tunda saja, aku akan telepon bu Hartanti." Balas Ana.
"Gabisa gitu dong, janji ya janji". Kataku tegas.
"Aku takut kakiku makin sakit jika dipaksa jalan, karna aku menyukai rumah itu. Aku yakin akan rumah itu, mending kalian aja yang liat, aku mau baring aja". Ucap Kris sambil memegang kakinya yang membiru.
"Kamu yakin?". Kata Ana mengernyit.
"Dahlah, berangkat aja yang penting tuh cocok sama uang kita. Ngerti gak!". Kata Ambar kesal.
Alhasil kami berlima tanpa Kris berangkat kerumah ibu Hartanti. Ditenggah jalan hujan datangb hanya aku dan Toby yang lupa tak bawa mantel dan kami berdua memutuskan untuk berteduh dan mengabari teman yang lain agar langsung saja ke lokasinya.
Di warung kecil kami berdua berhenti, menunggu hujan sambil memesan kopi dan gorengan. Hujan angin dan sangat dingin membuatku pusing dan masuk angin.
"Di antara semua rumah, kamu srek yang mana Ca?". Kata Toby memulai pembicaraan di tengah bising suara hujan.
"Entahlah, yang mana pun asalkan cocok harga karnakan modal kita ga banyak". Kataku sambil menyeduh kopi.
"Sebenernya aku merasa ada yang aneh dengan rumah terakhir, seperti ada hawa kelam yang menyelimuti". Ucap Toby serius.
"Hah? benarkah? tapikan setiap rumah selalu ada penghuninya dari alam lain, sedangkan kita butuh rumah yang nyaman untuk kita produktif".
"Iyasih, apa aku harus beli rumah yang bisa kita tinggali bersama dan bersebelahan dengan kantor?". Ucap Toby dengan mata tajam.
"Kitakan mau ngontrak dulu setaun, emang kau mau pake uang siapa".
"Ya aku akan membeli rumah untuk mahar menikahimu Ca". Toby berkata tetapi tak menatap mataku, aku tau dia sedang tidak bercanda, tapi Toby adalah Toby yang pandai berkamuflase antara bercanda dan serius.
"Ah becanda mulu ya kau yaaaaa". Kataku sambil menarik jaketnya.
Lalu Toby melepas jaketnya dan diberikan padaku memaksaku untuk memakainya karna dia tau aku kedinginan.
"Gausa by pake aja jaketmu".
"Pake aja bentar, aku tau kamu kentut kedinginan". Katanya sambil mengejek.
Toby selalu seperti itu humoris dan pencair suasana. Tak lama Ana menelepon memberi kabar kalau mereka semua sudah sampai di depan gerbang rumah, terlebih sudah tidak hujan di daerah sana. Aku menyuruh mereka menemui bu Hartanti di sebelah rumah itu dan menunggu kami berdua.
Hujan tak lagi deras, bersisakan gerimis kecil. Aku dan Toby bergegas kerumah bu Hartanti.
saat semua sudah berkumpul di rumah bu Hartanti yang terpisah dengan rumah yang akan kami sewa, kami dijamu dengan teh melati hangat dan risol yang sangat enak menurutku. Tapi Roy kembali pulang karna Kris telfon katanya dia deman dan takut sendirian.
Setelah berbincang santai dan awan sudah terang, bu Hartanti mengambil kunci rumah sebelah untuk kami lihat.
Ketika gerbang kayu kuno itu di buka ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 227 Episodes
Comments
Adel Aris
iya seru banget
2024-01-12
0
akukuning
penasaran selanjutnya apa
2022-07-30
1