Siapa yang sakit sampai-sampai ambulance menjemput. Terlihat kalau Bu Hartanti yang dibawa kedalam ambulance. Roy bertanya ke anak kos ternyata Bu Hartanti kena serangan jantung karna dikabari kalau anak pertamanya kritis. Sontak kami semua kaget, Ana dan Roy pamit mau mengikuti kerumah sakit, sedangkan sisanya meneruskan pekerjaan.
"Mudahan Bu Hartanti baik-baik aja yaaa.." Ucap Kris khawatir.
"Iyaa.. kasihan Bu Hartanti, pasti sangat sedih" Ucapku menjawab.
"Hari ini ada jadwal meeting kan Ca?". Tanya Toby.
"Iyaa.. siang nanti di latar resto, yang meeting mengantikan Roy itu kamu sama Ambar yaa?" Seruku kepada Toby.
"Baiklah, print kan semua keperluan yaaa.. sama data-datanya udah di laptop kan?". Tanya Toby sambil bersiap mau mandi.
"Iyaa.. mandilah biar aku siapin". Jawabku.
"Eh .. kalian nih kok kek pasangan dah nikah aja". Seru Ambar sambil tertawa bahagia.
"Iyaa doain lancar yaaa... " Jawab Toby sambil tersenyum lebar.
"Dahlah woi sana kau mandi yaaa". Ucapku kesal.
Toby dan Ambar sudah berangkat, tinggal aku dan Kris dirumah ini. Kris ada di meja kerjanya dan aku sedang foto produk di studio.
"Bagus tuh Ca". Seru Kris tapi saat aku menoleh kebelakang tak ada siapapun. Aku pikir sepertinya halusinasi atau salah dengar. Ketika aku menghadap kamera lagi seperti ada seseorang dibelakangku. Saat aku coba matikan display kamera dan aku coba lihat pantulan kebelakang. Ku lihat Batara sedang ada di belakangku dengan tersenyum yang menurutku mengerikan. Sontak aku kaget dan langsung menghadap kebelakang ternyata tak ada siapapun.
"Emmmm..... Terima kasih Eyang, kakek, Bapak, Mas Ba.. tara.." Ucapku berusaha senormal mungkin menanggapi hal ini, sambil berusaha tersenyum tepat di posisi Batara yang tak terlihat dipandanganku. Aku berusaha tetap tenang dan fokus pada pekerjaanku, meski perasaanku tak tenang seakan-akan ada yang mengamatiku.
"Ca.. Aku mau beli gula dulu yaaa.. abis nih mau bikin susu". Teriak Kris berpamitan.
"Iyaa.. iya. hati-hati". Saut ku.
Entah bagaimana setelah selesai memotret dan memilihnya di PC. Perasaanku seperti ada yang melihat.
"Apakah kamu tertarik dengan photography?" Celetuk ku bagaikan orang gila yang berbicara sendiri. Langsung di saut oleh Adora yang mengeong. Dalam hati mungkin mereka penasaran karna jaman dulu mungkin dengan lukisan. Tak lama Kris kembali dengan gulanya.
"Ca.. kamu mau susu gak?" Kata Kris menawari.
"iiiii... mauuuukkk". Ucapku dengan suara manja, agar aku tidak tegang.
Lalu kami membicarakan tempat baru yang akan menjadi kantor kami, Kris bilang kalau Toby sudah menyiapkannya sudah lama hanya saja baru jadi dan baru siap, pas sekali dengan kejadian ini. Padahal Toby mempercepat yang seharusnya tahun depan bisa ditempati karna ini semua jadi dipercepat. Aku kaget karna Toby gaperna cerita hal ini.
"Halo..." Kataku mengangkat telfon dari Roy.
"Ca... Bu Hartanti kritis, doakan beliau bisa melewati ini semua yaaa". Ucap Roy mengabari.
"Iyaaa.. Bu Hartanti semoga kuat dan mampu melewati serangan jantung ini. Lalu bagaimana anaknya yang bernama Teguh itu". Aku bertanya penasaran.
"Beliau sudah sadarkan diri tapi masih sangat lemas, tak tega jika menceritakan keadaan Ibunya". Kata Roy sembari mengakhiri telfon karna Roy mau membeli makan untuk laras dan Sekar yang sangat shock dan ketakutan.
Malam sudah tiba sedangkan Toby dan Ambar masih di jalan menuju basecamp. Kris banyak yang harus dia kerjakan sama juga sepertiku. Lalu aku mengajak Kris untuk mencari nasi goreng keluar. Kami pun keluar dan mencari abang nasi goreng di jalan bertemu Toby dan Ambar, lalu kami makan bersama.
"Aku ada ide sebelum kita keluar dari basecamp". Ucapku kepada teman-teman.
"Apa Ca?" Tanya Ambar.
"Kita ngefoto keluarga Bu Hartanti dan meminta keluarga yang tak kasat mata itu ikut dibelakangnya untuk menjadi kenang-kenangan". Ucapku.
"Iya boleh tuh, ide bagus. Tapi bagaimana kabar Bu Hartanti". Kata Toby menanyakan.
"Beliau sedang kritis, doakan aja beliau bisa melewati ini semua". Kataku.
Kami makan dengan tenang dan kembali ke basecamp dan melihat Pak Widyo ada di depan mencari kami menanyakan kabar Bu Hartanti dan meminta alamat rumah sakitnya. Karna Pak Darso ingin menjenguk dan kami pun memberi tahu. Pak Widyo berpesan walaupun sudah diadakan pengajian, komunikasi dua dunia itu masih belum menemukan jalan terbaik kecuali Neng Laras dan Sekar tinggal kembali kerumah ini, jadi Pak Darso berpesan kalau harus tetap sopan dirumah ini. Kami mengiyakan dan pamit masuk kedalam untuk meneruskan pekerjaan kami. Sampai malam kami lembur, Roy dan Ana datang membawa makanan meminta kami agar makan malam bersama mereka sedangkan kami sudah cukup kenyang. Karna Roy memaksa akhirnya kami makan lagi dan Roy bercerita kasihan dengan Bu Hartanti dan ketiga anaknya. Ana mengingatkan agar tak bercerita hal itu disini. Kami pun makan dengan diam sampai akhirnya para kucing mengeong bertengkar entah bertengkar dengan siapa.
Lalu aku pamit pulang karna aku tak membawa pakaian ganti dan semuanya juga bersiap pulang. Sesampainya dirumah mau beranjak tidur aku mendapati chat di grup bahwa Bu Hartanti telah berpulang. Aku berlari ke Bapak untuk memberi tahu kabar duka ini. Aku sangat sedih Bu Hartanti telah tiada. Aku mendapatkan kabar jika besok pagi pemakamannya. Aku pikir di makamkan dirumah itu ternyata Laras meminta dimakamkan di makam umum.
Keesokan harinya di rumah duka.
"Mbak Laras, aku turut berduka. Beliau sangat baik sekali". Ucapku sambil memeluk Laras dan Sekar.
"Doakan Ibu tenang dan bahagia di surga yaaa". Ucap Laras dengan tegar seakan tau hal ini akan terjadi.
"Ibu sudah berusaha untuk sembuh, tapi Tuhan berencana lain. Ikhlaskan dan maafkan kesalahan Ibu yaaa". Kata Sekar sambil menangis tersedu-sedu.
Sholat jenazah dilaksanakan di rumah Bu Hartanti bukan di basecamp dan di makam kan dipemakaman umum dekat dari kompleks.
Saat di makamkan seakan wajah Bu Hartanti bersih dan cerah, mungkin ini yang sudah lama Ibu tunggu. Sedangkan mas Teguh juga sudah sadar dan akan dibawa kerumah Laras agar tinggal bersama, Sekar juga akan pindah dari kontrakanya dan memilih berkumpul dengan saudaranya.
Laras meminta kami agar selalu datang pengajian sampai ketujuh hari, lalu jika ingin pindah atau menetap di basecamp di persilahkan. Tapi kami tahu diri kami tetap pindah dan berjanji membantu merenovasi rumah.
"Ibu sudah pulang dek?". Ucap Mas Teguh dikursi roda sambil menangis.
"Iya mas, kita bertiga saling jaga yaaa. Itu pesan Ibu". Jawab Laras.
Mas Teguh masih meratapi kepergian Ibunya dan berjanji akan sembuh agar bisa menjaga kedua adeknya.
"Aku sudah ada kantor baru dan selesai direnovasi, kita pindahkan barang-barang kesana ya". Ucap Toby.
Dalam 2 hari kami mampu memindah semua barang kami, dan tetap kesana sampai tujuh harian Ibu.
Aku tergaket ketika mengetahui bahwa surat kantor baru ini atas namaku. Ulah siapa ini?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 227 Episodes
Comments
talia
kaget, bu hartanti napa meninggal
2022-09-10
1