Pagi itu tepat sampai kantor, panas gerimis. Pintu tertutup rupa-rupanya masih dikunci. Ku ketok-ketok tak kunjung ada yang membukakan. Ku coba telfon berkali-kali tak ada yang angkat. Ada apa ini bukankah anak-anak menginap. Ku coba gedor-gedor pintu sambil teriak-teriak memanggil, cukup lama kami menunggu, sampai akhirnya Toby membuka pintu dan dibelakangnya teman-teman lain berlarian. Kami lihat keadaan basecamp sudah kalang kabut, bunga berserakan, wallpaper lepas, kursi jatuh dan banyak lagi. Mereka semua masih shock dan terdiam diteras rumah.
Aku bertanya-tanya ada apa tapi tak ada yang menjawab. Aku masuk menelusuri segala ruang dan lantai atas sangat berantakan. Entah mengapa tanah dihalaman bisa masuk dirumah, daun-daun berserakan. Ada apa ini sebenernya.
Ku coba menenangkan mereka semua, memberikan air hangat dan membiarkan mereka diluar. Sementara aku dan Kris membuka semua jendela, menyapu, mengepel, pokoknya membersihkan semuanya. Sangat lama kami bersih-bersih karna memang rumah ini sangat kacau. Apakah ada pencuri tapi terlihat barang-barang kami masih lengkap.
Ana tiba-tiba teriak meminta jaket dan selimut, mukanya pucat dan dia menggigil kedinginan, tapi dia berkeringan. Aku menyarankan langsung dibawa kedokter saja, tapi Toby hanya membawanya kekamar dan memberikannya semua selimut dan memberikan teh hangat. Kami semua berkumpul di kamar sambil menemani Ana.
" Sebenernya ada apa ini? apa yang terjadi?" Kataku memulai pembicaraan.
" Untung kamu dateng, kalo gak kami serasa gak bisa keluar dari sini". Jawab Ambar dengan wajah ketakutan.
" Semalam kami packing sambil mendengarkan lagu yang keras biar suasana tuh idup dan bikin semangat. Tapi Ana histeris karna didapur katanya tangannya bengkok, ketika kami samperin tanganya normal aja. Lalu Ana tiba-tiba ketawa gitu serem banget". Seru Roy menjelaskan.
" Ana mungkin kecapean, Ana kan banyak diem dan ngelamun. Sepertinya penghuni ini suka sama Ana karna Ana auranya mungkin cocok sama mereka". Ucap Toby menerangkan.
" Lalu kenapa rumah ini seperti ada pencuri saja, porak poranda semua kursi jatuh, wallpaper seperti ada yang ngerusak". Tanya ku penasaran.
" Tapi kok bisa Ana kek gitu sih". Tanyaku lagi merasa aneh dengan ini semua, kenapa bisa aku juga melihat sosok yang tersenyum lebar.
" Semalam itu anginnya kencang, kami malam lupa gak nutup pintu kaca itu, jadi semuanya masuk. Kalu wallpaper itu karna ada rembesan air hujan di ruang tamu jadi wallpaper itu mau copot sebentar eh tapi gak bisa". Jawab Ambar.
" Kok kek gak masuk akal ya". Seru ku tidak percaya.
" Emang seperti itu ca, terus kami tuh seakan di kunciin di dalem rumah tau gak. Makanya kami shock setelah keluar tadi". Imbuh Roy menjelaskan.
" Lalu Ana nih bagaimana?. Biar aku telfon Ibunya Ana biar kesini ya". Kata ku sambil menelpon Ibunya Ana.
Tak lama Ibu Ana datang dan memasangkan gelang kepada Ana, katanya itu gelang pelindung. Ibu Ana menceritakan kalau Ana ngelamun bisa saja Ana menjadi lemah, karna rumah ini cukup lama di diami oleh yang punya.
" Nduk, Le.. kalian jangan sering-sering nginep sini, kalau nginep minta ditemani oleh yang punya saja". Kata Ibu Ana memberikan nasihat.
" Tapi itu enggak mungkin bu, kami gamau merepotkan". Jawab ku.
" Yaa kalau gitu kalian tuh sebisanya ngobrol sama rumah ini. Minta izin kalau kalian ga ada maksud apapun". Ucap Ibu Ana sambil oles minyak kayu putih ke Ana agar tubuhnya hangat.
" Memangnya ada apa bu sama rumah ini". Kata Ambar bertanya.
" Nanti saja kalau ada waktu ya, sekarang mau rawat Ana dirumah dulu. Kalian hati-hati karna kalian gak sendirian disini tapi rame". Ucap Ibu Ana menegaskan.
Hari ini seakan basecamp redup karna tak ada matahari, jadi dingin dan sedikit waspada. Aku mencoba untuk gak ambil pusing dan gak percaya, tapi semalampun aku merasa di hantui. Disudut ekor mataku seperti melihat anak kecil berlarian, sekitar 4tahun dengan bedak putih yang cukup banyak. Seperti habis mandi dan main-main berlarian. Tapi ketika aku nengok gak ada siapapun. Aku mulai gak fokus dan merasa sangat lemas.
" Guys, kita makan bakso malang yuk, tolong WhatsAppin". Seruku berusaha mencairkan suasana.
" Ide bagus tuh. Aku chat dulu bapaknya". Kata Ambar bersemangat.
" Aku kebelet boker tapi aku takut.." Ucap Kris sambil memegangi perutnya.
" Gausa takut, ini kan siang". Ucap Toby menenangkan.
Pak bakso sudah datang, kami bergegas memesan dan makan. Rasanya enak dan lega karna gak lemes lagi.
" Kalian aman aja kan dirumah tua ini". Tanya pak bakso.
" Emang kenapa pak?". Tanyaku penasaran.
" Yaa ini kan rumah tua, saya jualan bakso aja turun temurun, kata bapak saya rumah ini rumah yang paling tua se kompleks, bahkan banyak tanah disini yang dibeli dari pemilik rumah ini". Jawab pak bakso.
" Rumah ini pun turun temurun ya pak". Kata Toby bertanya.
" Iya mas. Orang kaya banget pada masanya". Ucap pak bakso.
Pak bakso bercerita, dulu waktu kecil pernah main kesini, karna bapak pemilik rumah ini ada acara yang menyuruh bapak dari pak bakso membuatkan bakso yang banyak sekali. Hari itu pak bakso senang, selain dia mendapat banyak baju dan mainan bekas anak pemilik rumah, dia juga bisa makan makanan enak yang lain. Katanya pemilik rumah ini sangat baik, menyediakan semua anak cucunya tanah masing-masing. Bahkan banyak yang masih tinggal bersama, karna suka keramaian.
Setelah selesai makan, kami lanjut packing dan kirim, Roy, Kris dan Ambar yang pergi. Lalu aku nyamperin Toby dan menceritakan semua yang terjadi semalam. Raut wajah Toby berubah menjadi khawatir, Toby hanya bercerita ada yang gak beres dengan rumah ini, kemungkinan mereka suka dengan salah satu energi dari kami. Sontak aku kaget karna aku merasa ada seseorang dibelakangku karna Toby pun seperti matanya melihat ke arah belakangku.
" Apa itu tadi". Kataku kaget, langsung meringding.
" Bukan apa-apa kok". Jawab Toby berusaha tenang.
Aku marah saat itu sama Toby karna Toby ga jujur padaku. Aku seakan melihat penampakan-penamkan wanita lah, anak kecillah. Aku sangat marah, gak mungkin aku gila atau halusinasi. Jelas-jelas aku ngeliat tapi dibantah terus sama Toby.
Aku beranjak pergi mau kerumah sebelah tapi di halangi oleh Toby sampai memohon jangan aku ke rumah Bu Hartanti. Toby meminta waktu untuk menceritakan semuanya, karna Toby juga sedang menelaah dengan yang ia alami. Aku hanya diam serasa sangat marah sampai ubun-ubun. Apa sebenarnya yang di sembunyikan sampai seperti ini. Ana jadi sakit , aku yang gak peka sampai harus di senyumi makhluk lain. Gak habis pikir ini semua terjadi, padahal mau kerja dengan normal.
" Caa.. Pulang yuk". Kata Toby mengajak pulang.
" Pulang aja sono sendiri, Aku masih sibuk". Jawabku ketus.
" Yaudah aku tunggu diatas ya, mau ngegame". Ucap Toby dengan nada tenang.
Dalam hati aku sangat gondok sama Toby. Harusnya kalau tau dan merasa sesuatu tuh di clear in kenapa sih. Aku lanjut mengerjakan kerjaanku. Karna ada janji dengan animator aku meminta mereka untuk datang ke basecamp saja. Sambil nunggu mereka aku keatas dan mencari Toby, tapi dia gak ada. Kucari seluruh rumahpun gak ada. Apa Toby pulang ya, ternyata motornya juga gak ada. Aku menyadari kalau aku sendirian di basecamp, hawa ketakutan muncul tapi aku berpikir aku akan baik-baik saja. Aku di teras depan sambil ngefoto-fotoin bunga-bunga untuk bikin story instagram.
Tak lama animatorku datang berdua, Isabel dan Ananta. Sepasang suami istri yang baru menikah, cinta lokasi di sebuah projek. Aku suka dengan mereka berdua karna sangat sweet. Mereka takjub dengan basecamp kami, mereka suka dan terasa sangat homy.
" Ca. Asik nih kalau kami berdua ngerjain di basecamp ini. Mungkin jadinya lebih cepat atau bahkan terinspirasi". Kata Ananta kagum.
" Hah? Kalian suka? ya gapapa ngerjain di sini aja kalau nyaman, biar rame kantornya". Jawabku mengiyakan senang.
Kami diskusi tentang proyek animasi ini, larut dengan obrolan sambil pesan pizza sampai tak ada yang sadar sudah malam. Mereka berdua pamit pulang, aku pun juga bersiap pulang. Menunggu ojol yang jemput karna aku gak bawa motor. Aku juga gatau keadaan anak-anak karna batraiku tinggal dikit hanya cukup untuk pesan ojol. Tapi si abang ojol nih nampak keliling-keliling aja dikomplek berasa gak nemuin rumah ini. Lalu aku telfon abang nya dan aku pandu langsung.
" Neng, kok saya seakan masuk portal ya sebelum eneng telfon. berasa gak sampai-sampai. Banyak orang dijalanan rumah-rumah seperti terbengkalai daerah sini". Kata abang ojol dengan suara bergetar.
" Perasaan abang aja kali, orang saya liat di aplikasi si abang muter-muter sini aja cari jalannya". Jawab ku.
" Lah ini neng tadi kek jalan ini tuh pohon besar nih tadi gak ada jalan menuju rumah eneng. Ini ni saya disini tadi bingung". Kata abang ojol meyakinkan sambil menunjukkan letak jalan nya dan pohon besarnya.
" Abang ngantuk kali bang. Orang jalanan terang gini ada pohon dari mana". Jawabku sambil menelaah. Apa ini bagian dari terror rumah itu.
Di jalan abang nya diam saja dan melaju cepat karna aku ingin segera sampai rumah. Saat di rumah anak-anak semua kumpul diteras rumah, ah sepertinya bapak belum pulang, makanya mereka disitu.
" Astaga caaa. Kemana aja sih dihubungi susah betulllll". Kata Toby khawatir.
" Ya dari basecamplah". Jawabku santai.
" Aku tadi uda ngajak kamu pulang, aku seriusan ngegonceng dan liat kamu masuk rumah. Kok bisa Bapak telfon aku katanya kamu gak ada di rumah". Kata Toby dengan nada tinggi.
" Loh, katamu nunggu aku kerja dulu diatas sambil main game, pas aku cek gaak ada". Jawab ku keheranan.
Kami semua saling memandang bingung apa yang terjadi. Jadi siapa yang dibawa Toby pulang, dan mereka katanya balik ke basecamp tapi tak ada orang. Padahal jelas-jelas gak ada yang ke basecamp. Aku hanya bertiga dengan Ananta dan Isabel. Lalu ku telfon merekapun katanya gaada siapapun yang datang.
Ini semua membuat kami bertanya-tanya. Dan yang aku sadari aku bersyukur Ananta dan Isabel adalah sosok asli. Bukan sosok lain. Satu-satu kami pun cerita ada pengalaman apa saja selama bekerja dirumah itu dan sosok apa saja yang kami lihat. Ini benar-benar aneh dan diluar nalar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 227 Episodes
Comments