Malam terasa semakin kelam, Aku seperti masuk ke dalam portal yang warnanya biru dan merah, banyak kabut dan asap, sangat dingin dan tak nampak apapun. Baru tersadar kalau aku sampai di gerbang kayu basecamp setelah gerbang itu terbuka. Nampak tidak asing tapi juga nampak begitu asing. Tone warna suasana tiba-tiba berubah dalam pandanganku. Seperti masuk di era 60an, rumah yang klasik dengan orang-orang yang berbaju ala 60an. Ketika ku sapa tak ada yang peduli seakan aku tak terlihat mata mereka.
Aku masuk ke dalam rumah yang indah dengan banyak ornamen kayu serta hiasan berbagai macam patung, serta ukiran-ukiran yang sangat cantik sekali. Aroma kayu yang sangat enak, mungkin aroma ini sekarang menjadi parfum yang enak. Halaman depan sangat asri banyak bunga-bunga sangat harum, di ruang tamu juga ada bunga-bunga dan dedaunan yang paling jadi pusat perhatian adalah foto keluarga dengan konsep vintage atau memang aku yang sedang masuk ke masa lalu.
Foto Bapak dan Ibu serta lima orang anaknya yang remaja dan ada yang masih kecil, dengan pakaian 60an yang cantik dan klasik. Saat masuk keruang tengah nan luas ini dinding nya batu bata merah dengan banyak lukisan dari kecil sampai ukuran besar menghiasi dinding ini. Serasa masuk kedalam musium, karna banyak juga patung kayu serta guci-guci yang besar dan mentereng, mungkin jika dijual akan sangat mahal. Meja dan kursinya pun sangat artistik bahkan ruangan ini serasa dingin dan nyaman dengan jendela yang tinggi cahaya langsung menerangi ruangan ini. Tampak disamping ada pohon mangga yang besar dan berbuah banyak, nampak juga anak kecil bermain dibawah pohon itu. Rumah ini sangat ramai, banyak sekali orang disini seakan sangat sesak dan samar. Dapur yang luas dan cantik, meja makan bundar dengan kramik yang dingin. Rumah ini jauh dari kata menyeramkan, bahkan sangat asri dan berseni.
Aku menaiki tangga kayu yang masih kokoh, lantai atas sama persis seperti di basecamp. Ada perpustakaan dan juga kamar-kamar dan banyak tanaman serta lukisan-lukisan. Sepertinya orang yang punya rumah ini dulu sangat kaya. Aku melihat wanita remaja sedang duduk dikursi sambil membaca buku, mengenakan dress bunga dan rambut di kepang dua, sangat cantik dan anggun. Berkulit sawo matang, bermata tegas. Adapun lelaki yang sedang melukis disuatu ruang, mungkin ini studionya, tapi tak ada ruangan ini di basecamp. Ada banyak orang hilir mudik mengambang. Membuatku pusing dan pingsan, ketika bangun aku ada di kamar Aca.
Itulah cerita mimpi Ana setelah kerasukan kemarin. Cerita ini langsung didengar oleh bu Hartanti dan Laras, karna kami sedang berada dirumah beliau meminta penjelasan apa yang sebenarnya terjadi.
Namun Bu Hartanti hanya terdiam dan melamun tak menjawab apapun dan tak bereaksi apapun. Laras pun kaget mendengar semua cerita dari kami.
"Kalian pulang aja dulu, aku obrolin sama ibu dulu. Nanti kalau sudah aku kabari yaaa.. sekarang kalian pulang aja". Kata Laras seakan mengusir kami.
"Baik mbak, maaf ya mbak jika kami menganggu waktunya, kami hanya merasa tidak nyaman akan ini semua". Jawab Toby dan melihat kami seakan menyuruh kami berdiri dan beranjak pulang.
Di mobil Roy, Ana marah-marah karna tak terima dengan tanggapan bu Hartanti yang terkesan tak peduli dan ada yang ditutupi. Karna aku masih kurang enak badan, rasanya ini sangat menguras tenagaku sampai mual. Kami semua memutuskan untuk mencari jalan lain, mungkin dengan bertanya ke para sepuh di kompleks itu. Tapi kami harus menunggu kabar Laras sesuai permintaanya, jika dia tak kunjung mengabari, maka kami harus mencari tahu dari orang lain.
Kami pulang kerumah masing-masing melanjutkan pekerjaan kami. Sampai akhirnya kami menemukan beberapa clue bagaikan puzzle yang harus di rangkai.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 227 Episodes
Comments