Saat membuka pintu gerbang, Ana menutup kedua telinganya dengan rapat.
"Kenapa Na?". Ucap Ambar penasaran.
"Emmm... Gapapa, kek ada lebah mendengung dikuping". Kata Ana terbata-bata.
Tatapan mata Toby tajam melihat kesekeliling, seakan ada sesuatu. Namun hanya aku yang menyadarinya. Tapi yaitulah toby seakan punya indra keenam.
Bu Hartanti menyuruh kami semua untuk masuk kerumah bangunan lama yang cukup bersih dan terawat. Menurutku rumah ini cocok untuk dijadikan kantor dengan halaman yang luas dan bagian atas untuk kami beristirahat.
dibagian kiri halaman untuk parkir, dan bagian kanan halaman taman bebatuan dan banyak tanaman yang terawat, seperti bunga mawar putih, anggrek, melati dan bunga sepatu.
"Wahhh, wangi dan segarnya tamannya bu". Ucapku terkesima.
"Iya nak, ibu suka berkebun untuk mengisi waktu luang". Kata beliau lembut.
"pantas aja banyak lebah mencari bunga". Celetuk ambar.
"Iya nak, tatanan taman ini sudah seperti ini sejak suami masih kecil, karna mbah buyut suka rumahnya harum dan hijau".
"Tapi kenapa bu Hartanti tidak tinggal dirumah ini, kan lebih besar dari pada rumah sebelah". Kata Toby penasaran.
"Dulu ibu dan suami, Laras dan Sekar tinggal disini, semenjak bapaknya anak-anak meninggal jadi kami bangun rumah yang lebih sederhana disebelah, karna dulu sepanjang jalan ini tanahnya milik mbah buyut, sebelum dibeli pemilik perumahan ini". Penjelasan bu Hartanti.
Kami semua mengangguk mengerti. Lalu bu Hartanti mengajak kami semua masuk kedalam rumah. Rumah ini tampak rapi dan bersih, aku yang alergi debu gak bersin-bersin. Padahal warna tembok yang kusam, perabotan lama yang usianya mungkin lebih tua dari umurku serasa tak pernah diperbarui.
Kami berkeliling melihat ruangan-ruangan dirumah ini. Aku menyukainya karna akan nyaman jika bekerja dengan banyak cahaya masuk kedalam rumah, Kecuali bagian dapur yang tak ada jendela besar agar sirkulasi udara masuk.
Bagian belakang rumah cukup luas tapi tidak seluas halaman depan, anehnya jika pemilik rumah ini menyukai tanaman kenapa halaman belakang ini tidak begitu terawat. Rasanya ingin bertanya tapi sungkan melihat ibu Hartanti yang mungkin berusia 55 tahun, dengan tubuh kurus dan rambut putih yang selalu dicepol, merasa capek berjalan.
"Nak, kalian liat keatas saja. Ibu tak kuat naik tangga kayu itu, meski terlihat rapuh tapi itu kayu jati. Ibu tunggu di kursi teras". Ucap bu Hartanti.
Kemudia kami semua naik keatas untuk melihat-lihat. Ketika naik tangga yang kami temui sebelah kanan ada ruangan baca dengan banyak sekali buku. Aku bersin-bersin karna Toby membuka buku itu yang katanya bukunya mungkin berusia puluhan tahun. Sebelah kiri ruangan kosong yang berisikan lemari besar berisi pajangan-pajangan tua.
lalu ada sekitar 4 kamar dan 1 kamar mandi, dan lorong lebar antara kamar ini dipakai sebagai ruang tv. Lantai atas sangat dipenuhi cahaya karna jendelanya besar dan ada balkon yang cukup luas untuk bersantai atau membaca buku.
Setiap ruangan kamar memiliki jendela yang cantik, ada kamar ke 4 yang cukup lembab mungkin karna matahari tak masuk sampai sana.
"Ruanganya enak ya, tinggal tambahkan wifi setelah kerja, naik keatas nonton drama. Rasanya nikmat". Ucapku membayangkan.
"Iya sih, tapi apa rumah ini tidak terlalu besar ? dan mungkin akan banyak ruangan tidak terpakai. Kita kan harus cari yang cukup saja". Kata Ana menjawab.
"Kalau harganya ga cocok ya ga cocoklah, kalo masalah ruanganan ga kepake menurutku kepake, kita perlu ruangan meeting sendiri, studio sendiri, produksi sendiri, bahkan gudang sendiri". Kata Ambar.
"Iya iya si perhitungan, iyain aja deh". Kata Toby meledek.
Setelah itu kami turun, Ana hanya diam saja padahal biasanya dia cukup aktif menyuarakan hal-hal apa saja. Kami menemui bu Hartanti dan menanyakan harga sewa untuk 1 tahun.
"Nak, begini kalau sewa 1 tahun akan lebih mahal dari pada 2 tahun jadi apa kalian tidak sekalian saja?". Kata bu Hartanti.
"Memang berapa bu?". Ucap Ambar menanyakan.
"Kalau 1 tahun 8 juta dan 2 tahun 13 juta nak".
"Wah, bu Hartanti tidak salah? rumah yang sebelumnya kami survey saja 1 tahun 13 juta". Kata Ambar tak percaya.
"Iya nak, gini.. Ibu sudah tua rumah ibu saja lantai atas ibu kos-koskan. Jadi ya sekalian amal biar rumahnya terawat juga kalau ada yang menempati".
"Busetdah, kapan lagi kita dapet jackpot guys". Kata Ambar senang.
"Seperti itu kah bu? kalau begitu kami pulang dulu, nanti kami kabari setelah berunding". Kataku.
Lalu kami pulang dan kembali kerumahku. Disana ada Kris dan Roy yang lagi makan. Rasanya lelah sekali tapi ketika sampai rumah rasanya lebih tenang.
"Bagaimana geng rumahnya?". Tanya Roy.
"Bagus dan harganya mantab". Jawab Ambar.
"Aku ke kamar mandi dulu ya". Kata Ana cepat-cepat masuk kedalam.
Lalu kami berunding dan Toby merasa heran kenapa rumah itu besar dan terbilang murah. Tapi banyak yang setuju dan senang dengan rumah itu. Maka kami semua putuskan untuk menyewanya selama 2 tahun.
Ana hanya diam, ketika ditanya katanya lagi awal haid jadi dia gak mood untuk berkomunikasi. Lalu Ambar menelepon bu Hartanti mengabarkan kalau kami akan menempati rumah itu minggu depan.
Lalu teman-teman pulang kerumahnya masing-masing dan menyiapkan sesuai keperluan job desk masing-masing.
Saat malam Ana WhatsApp aku dan bilang katanya Ibunya Ana akan memasak untuk selamatan penempatan rumah dan penguburan jimat. Tapi aku menolak memasang jimat atau apalah itu. Tetapi ibu Ana ingin memasang untuk keselamatan bersama. Tetap aku menolaknya kita harus percayakan keselamatan pada yang Maha Esa bukan jimat. Sepertinya Ana marah, karena WhatsApp ku hanya dibaca saja.
Tak lama ada telfon masuk dari nomor tak dikenal tapi aku tak menggubrisnya. Lalu ada bapak mengetuk kamarku, aku membuka pintu dan bertanya ada apa. Bapak marah karena ada darah dikamar mandi beliau berpikir bahwa aku tidak bersih menyiram closet, namun aku tidak haid, apa ini darah Ana?. Kemudian aku bergegas untuk membersihkan kamar mandi dengan menyikatnya malam-malam. Saat aku keluar kamar mandi aku mencium bau bunga melati, tetapi aku tidak punya melati. Lalu aku tanyakan pada bapak apakah bapak mencium bau melati namun bapak menjawab tidak, bapak hanya mencium bau kopi, karena bapak sedang menyeduh kopi. kemudian aku beranjak ke kamar untuk tidur tetapi aku tidak bisa tidur dan aku menelpon Toby.
"By kau udah tidur?". Ucapku bertanya.
"Belum, kenapa kangen ya. Baru ditinggal sebentar". Kata Toby dengan suara manja dan meledek.
"Enak aja, mau tanya sesuatu". Jawabku ketus.
"Iya kenapa?".
"Ana tadi pulang baik-baik aja kan? apa nyeri haidnya dahsyat ya, soalnya habis dari kamar mandi bercaknya masih ada".
"Ana baik-baik aja tuh, menurutku sih tadi ada tabrakan energi".
"Bisa ceritain nggak detailnya kaya apa".
"Jadi menurutku sihhh...!".
Sayangnya aku tertidur mendengar cerita Toby, saat aku bangun aku lupa kalau semalam telfon Toby dan pagi ku cek hp ternyata telfon nya masih nyambung.
Dasar Toby.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 227 Episodes
Comments
나의 햇살
kalau rumahnya besar tapi berharga murah, maka jangan langsung diambil bisa jadi ada sesuatu disitu
2022-12-03
2