Kami semua panik sampai-sampai Kris pingsan karna dia punya asma dan kambuh padahal dia sudah ada alat bantu pernapasan tapi setelah itu pingsan. Sangking panik dan kalut kami semua tidak bisa berpikir harus apa dan bagaimana ketika disambut oleh keluarga ghaib ini.
"Permisi Bapak, kami ada dimana yaa.. " Tanya Toby memulai pembicaraan, sedangkan Roy dan Ambar membaringkan Kris di sofa.
Tak ada jawaban dari Bapak tersebut, mereka berlima hanya tersenyum, sedangkan ruangan ini berubah menjadi ruangan sediakala rumah ini. Membuatku pusing seakan naik lift berkecepatan tinggi.
"Halo, Bapak Ibu, maaf jika kami lancang, kami sedang dimana ya?" Ucap Ana bertanya sekali lagi karna pertanyaan Toby tak dijawab.
Ibunya hanya menunduk sambil tersenyum dan mempersilahkan kami duduk di kursi bundar meja makan, sudah banyak hidangan yang terlihat sangat lezat, prasmanan indonesia. Kami semua mengikuti Ibu dan duduk kecuali Kris yang sedang pingsan. Kami duduk dan saling pandang, sedangkan Ana memberikan kode agar tidak makan apapun dari makanan yang disediakan.
"Nama saya Asmirah nak, ini suami saya namanya Pak Broto dan ini anak pertama saya Amini, anak kedua saya Batara dan ini anak ketiga saya Santi." Ucap bu Asmirah memperkenalkan keluarganya sembari tersenyum teduh, dengan rambut yang model half up middle part dan mengenakan rok panjang dan atasan putih serta wool yang diaplikasikan dalam bentuk syal.
Sedangkan pak Broto mengenakan sweater garis dan celana kain dengan warna sweater yang mencolok dan berambut klimis.
Amini berpakaian cantik ala retro dress bunga-bunga dan bandana kuning.
Batara dengan kemeja dan baju kodok terlihat sangat tampan dan yang terakhir Santi rambut panjang yang di kepang dua dengan dress pattern yang mencolok. Nampak sekali ini keluarga yang kaya dengan pakaian mereka dan rumah yang bagaikan galeri seni.
Kami semua masih shock dan terdiam.
"Perkenalkan diri kalian." Ucap Amini dengan nada yang sangat sopan dan halus.
"Emm.. Maaf emm iya nama saya Aca, ini Toby, Ana, Roy, Ambar dan yang pingsan Kris". Kataku sembari menunjuk dengan menyebutkan nama mereka.
"Oh.. Nama kamu Roy, saya menyukainya". Jawab Amini dengan senyum merekah dan pipi berwarna pink seakan benar-benar menyukai Roy.
"Mari kita makan dulu, ini semua hidangan di masak dengan cinta oleh istri saya". Ucap Pak Broto mempersilahkan makan.
"Tapi pak, ini kami dimana ya?". Seru Roy bertanya.
"Ini rumah kami. Kalian disini sebagai tamu, jika tak memakan hidangan dari kami, kalian tak akan bisa pulang. Menginaplah semalam". Ucap Pak Broto dengan tatapan tegas.
Kami takut akan terjadi hal-hal yang tidak baik, makanya kami semua makan masakan ibu Asmirah. Masakannya enak sekali dan kami tanpa sadar makan dengan lahap karna sangat enak. Tanpa sadar aku mengamati mereka makan dengan tenang tanpa suara, dan Amini yang menatap penuh cinta kepada Roy. Aku curiga mungkin hantu yang mengikuti Roy adalah Amini. Jika ini turunan awal dari keluarga bu Hartanti yang mana yang neneknya Laras ya.
"Maaf jika pertanyaan saya menganggu, siapa yang menjadi saudaranya Laras yaaa.." Ucapku memaksakan pertanyaan ini.
"Oh.. Laras adalah cicit dari Santi anak bungsuku". Jawab Bu Asmirah.
"Saat ini Santi masih muda yang kalian lihat, tapi ia memiliki cicit Laras dan Sekar yang cantik-cantik". Tambah Pak Broto.
"Sekali lagi maaf, kenapa kami diundang ke rumah ini ya". Ucapku bertanya lagi.
"Karna saya menyukai Roy, dan meminta Bapak untuk menikahkan saya". Jawab dari Amini yang membuat Roy tersedak dan ketakutan. Sedangkan Amini hanya tertawa dengan nyaring ditengah kesunyian ini membuat bulu kudukku makin merinding.
Aku menyenggol kaki Toby agar Toby menjawab hal ini. Karna muka kami semua sudah cukup pucat.
"Bukankah Amini sudah menikah dan mempunyai keturunan?" Tanya Toby.
"Yaa.. Anak dan cucuku sangat tampan cantik dan kaya raya, mempunyai rumah dimana-mana tapi tetap tinggal dirumah ini untuk menghormati Eyangnya. Beda dengan Santi yang keturunanya malah lancang dan sembrono". Jawab Amini dengan nada menyindir seakan marah.
"Tapi kenapa dengan Roy?". Tanya ku sekali lagi.
"Roy mirip sekali dengan mantan kekasihku yang tak jadi kunikahi karna dia mencintai wanita lain. Setelah aku ikuti Roy ternyata Roy adalah turunan dari mantan kekasihku, Salim".
Roy terbelalak kaget karna nama belakang keluarga Roy adalah Salim.
"Maafkan kakek saya ya Amini, tapi saya mohon jangan ganggu saya. Ikhlaskan saja". Kata Roy memohon.
"Hahahaha... Kamu ketakutan? Agus salim tak pernah takut apapun, bahkan mengkhianatiku dengan beraninya, Bapak saja hampir menembaknya karna berani menyakiti anaknya. Saya sudah ikhlas Roy, kamu tenang saja, hanya saja rasa rindu nostalgia kisah lama itu saya menyukainya". Jawab Amini dengan nada yang lembut dan menyeramkan.
Pak Broto menceritakan kisahnya membangun rumah ini susah payah di jaman Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Pak Broto adalah seorang pelukis jalanan biasa, namanya menjadi besar saat ada orang asing membeli 1 lukisannya yaitu lukisan bergambar situasi pasar tradisional. Orang asing tersebut menceritakanya kepada saudagar kaya ataupun teman-temannya bahwa lukisan beliau serasa hidup dan menenangkan hati. Saat di pasar pula Pak Broto bertemu istrinya yang sedang barter barang dengan pedagang. Di situlah cinta tumbuh lalu Pak Broto melukisnya dan melamarnya menggunakan lukisan tersebut. Bu Asmirah sangat senang dan kagum lalu tak lama beliau menikah dan tinggal rumah orangtua Pak Broto, tapi Ibu pak Broto sebenarnya tidak menyukai Asmirah karna pasti merendahkan Pak Broto yang miskin sedangkan Asmirah memiliki keturunan dari Belanda yang begitu cantik dan fashionable di masa itu. Tapi Bu Asmirah sangat percaya dan menemani Pak Broto sampai sukses dan pelukis terkenal bisa dibilang Bu Asmirah lah bagian marketing nya.
Ketika Bu Asmirah hamil, Pak Broto lukisannya makin di kenal dan dijual keluar negeri, itu membuat pundi-pundi uang masuk dan berencana membangun rumah hasil dari melukis sedangkan Bu Asmirah pandai menjahit dan pecinta fashion Bu Asmirah membuat pakaian sendiri lalu dijual yang sangat laku pada masa itu. Beliau berdua mampu membangun rumah dan membeli tanah yang lebar untuk masa depan mereka beserta keturunannya.
Mendirikan rumah yang megah pada masa itu, bagaikan galeri seni lukisan dan juga pakaian. Banyak sekali orang asing yang turut bekerja sama dengan membuat perjanjian bahwa kerja sama ini akan ada turun temurun agar para keturunannya tetap bahagia dan tau sejarah dari keluarganya. Amini mewarisi jiwa desainer pakaian, Batara mewarisi darah seni dan pandai melukis bahkan membuat gucci yang sangat cantik dan mahal. Sedangkan Santi pandai bernegosiasi dialah yang memamerkan kerajinan seni keluarganya.
Sampai akhirnya Bapak berpesan bahwa, siapapun yang pergi dahulu rumah terakhirnya adalah tetap dirumah ini.
Yang berarti rumah ini adalah....
Kuburan??
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 227 Episodes
Comments