Kami semua kaget dengan perkataan bu Siska, sontak kami menoleh ke belakang dan tidak ada siapapun, kecuali Ana dan Toby yang terbelalak kaget melihat sekitar. Entah mengapa aura bu Siska terasa seram dan dingin sampai membuat bulukuduk berdiri, apalagi senyumnya yang lebar dengan mata yang besar itu mengingatkanku akan wanita itu. Entah ini perasaanku saja atau memang bu Siska bukan bu Siska. Suasana ruang meeting yang sengaja di gelapkan untuk melihat preview animasi ini tiba-tibab lampunya nyala dan mati dengan cepat. Ananta langsung berlari membuka pintu tapi tak bisa dibuka, membuka jendelapun susah. Bu Siska tiba-tiba tertawa terbahak-bahak dengan muka yang sangat menyeramkan. Kami semua panik dan berteriak mencoba keluar dari ruangan ini dan Toby meminta kami semua tenang dan berdoa, lalu Toby menatap bu Siska dengan dekat dan di pegang tangganya bagian nadi, semakin meronta-ronta teriakan bu Siska dan langsung pingsan. Seketika itu juga pintu terbuka.
Kami keluar dan membawa bu Siska ke sofa depan disadarkan dari pingsannya. Kami semua ngos-ngosan bahkan berkeringat karna rumah ini serasa sangat panas. Entah apa yanh terjadi tapi mataku berkunang-kunang dan mual sekali.
"Semuanya tetap tenang, sadarkan diri dan minumlah". Kata Toby memperingatkan.
"Iya.. Tapi ada apa ini bang?". Ucap Ananta bertanya.
"Bu Siska sepertinya lemah atau pernah kebuka mata batinnya, jadi barusan tadi bukan bu Siska. Tapi sosok yang ada dirumah ini". Jawab Toby.
"Apa?? Bu Siska kerasukan? jadi tadi? tadi itu.. emm huh". Ucap Ananta shock dengan situasi ini.
"Emm aku pernah dengar bu Siska waktu kecil pernah melihat yang aneh-aneh dan sering sakit". Kata Isabel.
"Jadi bener. Bu Siska energinya lemah makanya bisa dimasukin". Ucap Ana, sambil memegangi kepalanya dengan raut wajah penuh emosi.
Setelah Bu Siska sadar, bu Siska bercerita kalau dia sudah merasa kunang-kunang masuk di rumah ini, setelah lampu di matikan dan melihat review animasinya. Bu Siska mulai merasakan sesak napas dan merasakan hawa lain satu-satu berdatangan. Bahkan ia melihat banyak sekali sosok manusia yang menyerupai kami. Ketika selesai Bu Siska waktunya menyampaikan pendapat seketika itu juga bu Siska ada disana tapi bukan berada di masa sekarang, tapi seperti masa lalu dan ada di galeri seni dengan banyak lukisan yang cantik dengan orang-orang yang datang melihat. Bangun-bangun bu Siska sudah di sofa ini.
Bu Siska juga bercerita kalau sepertinya mereka yaitu penunggu rumah ini tidak suka, jika rumahnya ditinggalin orang lain yang bukan keluarganya. Mereka mesara kami tidak permisi dulu padahal pemilik rumah ini yang mengkontrakkan rumahnya. Bu Siska meminta kepada kami agar berbicara kepada yang punya rumah, agar penunggu rumah ini tidak salah paham, meski niat kami baik belum tentu baik baik penunggu rumah ini.
Setelah kejadian barusan Bu Siska suka dengan animasinya dan meminta segera diurus untuk hal lainnya, dan pamit pulang. Sebelum pamit pulang Bu Siska memotret setiap ruangan di bawah, yang katanya akan diperlihatkan oleh Eyangnya yang indigo. Karna selama ini Bu Siska juga indigo tapi ditutup oleh Eyangnya karna sering sakit. Kami meminta pertolongan Bu Siska untuk menemukan jawaban demi jawaban akan kejadian-kejadian yang membingungkan ini.
"Kalian baik-baik saja disini, isi basecamp ini selayaknya rumah. Perlakukan seperti rumah kalian sendiri. Jika di ganggu cuekin aja dulu. Jangan takut". Pesan dari bu Siska sebelum pergi meningalkan besecamp.
Ananta dan Isabel nampak cukup shock karna mereka sama sekali tidak pernah merasakan ini semua. Aku meminta mereka pulang saja, karna aku berencana bersih-bersih rumah ini, karna sudah lama tidak di bersihkan. Mungkin itu juga penyebab mereka marah karna rumahnya kotor.
"Dah yuk.. bersih-bersih rumah. Semuanya dibersihkan, jangan ada debu nempel". Kataku sembari memberikan alat bebersih.
"Yauda, aku bersihkan halaman. Ana bersih dapur dan kamar mandi bawah sama tempat kucing yaa.. sama Kris. terus ruang tamu sama ruang meeting dan produksi Ambar. Aca sama Roy di lantai atas". Ucap Toby bersemangat membagi.
Kami semua langsung membersihkan sesuai bagian masing-masing. Roy menyapu dan mengepel lantai atas. Aku menata dan mengelap satu-satu semua buku di ruag baca. Terdengar suara musik dari lantai bawah yang cukup keras hingga lantai atas kedengeran.
Baru ku sadar jika buku-buku ini berusia puluhan tahun dan sangat ringkih, ada buku yang baru juga. Aroma kertas nya sangat enak dan tiba-tiba hujan turun membuat suasana makin syahdu. Lemari-lemari juga aku bersihkan, perabotan-perabotan dalam lemari juga, karna tak dikunci ketika dibuka benar-benar aroma kayu yang sangat khas entah apa ini tidak bisa mendeskripsikan.
"Ca.. aku gak bersihin kamar cewek yaa, gak masuk aku". Ucap Roy.
"Iya, entar biar aku aja. Kamu kamar mandi aja". Jawabku sambil mengelap dan ketika itu aku menemukan lukisan dibelakang lemari. Sambil bersin-bersin aku coba ambil lukisan itu.
"Haciiih.. hacih.. emm Roy coba tolong ambilkan sesuatu dibelakang lemari". Kataku kepada Roy sambil bersin-bersin padahal aku sudah memakai masker karna alergi debu.
"Apaan Caaa.. minggir cobak". Ucap Roy menyuruhku minggir.
Roy mencoba mengeser lemari sedikit ternyata tidak bisa karna sangat berat, lalu aku mengambil kain agar bisa licin saat digeser lemarinya. Ketika sama-sama mencoba mengeser akhirnya bisa digeser. Ketika dilihat ternyata lukisan yang berisikan keluarga ada 5 orang yaitu bapak ibu dan ketiga anaknya. Sedang duduk dan bermain di bawah pohon mangga. Lukisan ini sangat cantik dengan warna yang cantik pula.
"Wah keren nih, kita pasang aja di tempat kerja bawah biar makin estetik ruanganya". Kata Roy sambil turun dan memasangkan lukisan itu.
"Eh Roy... Roy woi tunggu". Aku yang mengejar Roy dari belakang tersadar jika lemari barusan tergeser ketempat semula dengan sendirinya.
Roy memasang lukisan itu tepat diruang kerja yang sudah ada pakunya jadi tinggal gantung aja, Anak-anak yang lain gaada yang tau karna mereka sibuk masing-masing. Aku membisikkan kepada Roy kalau lemari perabot kembali seperti semula sendiri, Roy mengernyit dan kembali ke atas dan memang benar-benar kembali lurus tidak tergeser seperti sedia kala.
"Apa-apaan ni Ca?". Ucap Roy bingung.
"Aku juga gapaham sih". Kataku juga bingung.
"Ingat kata bu Siska, kita gausa takut. Aku lanjut beresin kamar mandi kamu kamar cewe yaa". Kata Roy sembari berjalan ke kamar mandi dan mencari sikat.
Aku membereskan kamarku lebih dulu lalu ke kamar satunya lagi, mengelap jendela dan aku seakan melamun karna hawa dingin yang semerbak dan enak entah bagaimana aku hanyut sampai ada suara Ana berteriak dari bawah. Aku dan Roy bergegas turun dan Ana sudah dalam mode stress dan shock karna wajahnya tidak karuan.
"Ini aku dimana?". Ucap Ana berteriak kencang.
"Na.. kamu kenapa? ini di basecamp". Jawab Kris sambil memeluk Ana.
"Apa-apaan ini? membingungkan sekali. Kenapa lukisan ini ada didunia kita hah!". Kata Ana dengan nada tinggi terasa sangat marah.
"hmm kamu tau lukisan ini?". Ucapkku bertanya.
"Ini lukisan yang punya rumah ini, di pasang tepat disini dalam mimpiku, kenapa disini pun dia ada?". Jawab Ana heran.
"Tadi aku dan Roy menemukanya Na. terus Roy inisiatif dipajang disini biar estetik". Jawabku.
"Estetik apa bangsat!! kalian ini gak punya otak? ini tuh lukisan sakral, dah tau kita diganggu pemilik rumah ini. Masih bisa kalian pasang beginian hah?". Jawab Ana sangat marah dan meledak-ledak.
"Apa-apaan kau na? salah emang disini? ingat kita gabole kalah dan takut sama mereka". Ucap Roy terpancing amarah.
"Sudahlah.. Biarkan lukisan ini disini, toh mereka ga sengaja nemu. Lukisanya juga indah". Kata Kris menengahi.
"Kalian gak tau? liat baik-baik siapa cewe ini. Hah? liat!!". Kata Ana sambil menunjuk-nunjuk.
"Emm kalau dilihat-lihat mirip mbak Laras ya". Kataku dengan nada normal agar tak ada pertengkaran.
"Yaiyalah, orang satu keturunan. Amati baik-baik tuh". Ucap Ana.
"Eh.. tapi ada tulisan nih, apa bacanya yaa.. " Kata Toby berusaha membaca tulisan yang tidak terbaca.
Lalu Ana memotret lukisan tersebut dan dikirimkanya ke Laras agar dia cepat merespon. Laras langsung telfon dan telfon tak tersambung karna ketika itu juga sinyal hilang, ruangan menjadi gelap seakan sudah malam. Pintu-pintu terkunci sendiri. Kamipun berteriak kaget dan mencari jalan keluar, tak ada jalan keluar. Karna kami ditelan rumah ini kembali ke tahun dimana rumah ini dengan 1 keluarga berisikan 5 anggota keluarga menyapa kami dan menjamu kami dengan tatapan misterius.
Apakah benar kami flashback atau kami dibawa kedunia mereka?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 227 Episodes
Comments